Ibu Menamakan Momo

 Kartika Wijayanti

Momo: Kisah ajaib mengenai gerombolan pencuri waktu dan seorang anak kecil, yang mengembalikan waktu yang hilang dicuri kepada umat manusia. Sebuah roman dongeng.

Yang bisa dilakukan Momo kecil dengan lebih baik dibandingkan siapa pun adalah: mendengarkan. Itu bukan sesuatu yang istimewa, begitu mungkin pendapat para pembaca, semua orang bisa mendengarkan. 

Tetapi pendapat itu keliru. Hanya sedikit orang yang sanggup mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dan kemampuan Momo mendengarkan benar-benar tanpa tandingan. 

(Michael Ende, Momo, 2005) 

MOMO, Momo, Momo. Tujuh tahun lalu, nama itu saya ucapkan berulang-ulang. Berulang-ulang saya buka buku itu. Saya baca larik-larik yang ada di dalamnya. Sesekali, saya tercenung. Lalu, saya memandang gadis kecil yang tertidur di samping saya ini. Momo, begitu akhirnya saya memanggil gadis kecil itu. Tujuh tahun lalu, saya memutuskan untuk memanggil gadis kecil itu dengan Momo karena saya terpesona dengan Momo si gadis kecil di dalam cerita yang ditulis oleh Michael Ende, yang berjudul sama dengan nama karakter cerita.

Momo kecil dalam cerita itu berjuang mengembalikan waktu yang dicuri oleh gerombolan Tuan Kelabu. Ia dibantu oleh teman-temannya dan seekor kura-kura untuk melawan gerombolan Tuan Kelabu. Perjuangan gadis kecil itu yang membuatnya terkagum-kagum dan terpesona dan memutuskan untuk memakai nama gadis kecil itu untuk gadis kecil yang ia lahirkan. 

Nama adalah sebuah harapan. Nama, pengharapan akan masa depan, baik bagi si bocah ataupun untuk orangtuanya. Doa orangtua ada di sepanjang langkah anak. Iwan Fals dalam lagunya Galang Rambu Anarki menuliskan: Galang Rambu Anarki…/ cepatlah besar matahariku/ menangis yang keras janganlah ragu/ tinjulah congkaknya dunia, buah hatiku/ doa kami di nadimu. 

Doa orangtua ada dalam nama yang diberikan untuk anak. Tidak ada orangtua yang berharap hal yang buruk untuk anaknya. Demikian pula dengan saya. Saya berharap gadis kecil ini, Momo, mampu bertumbuh menjadi gadis kecil pemberani seperti Momo dalam novel. Saya berharap Momo kelak mampu menjadi manusia dewasa yang bijaksana, welas asih, dan migunani tumraping liyan. Terlalu berlebihankah harapannya? Terlalu muluk-mulukkah? Bukankah doa seorang ibu adalah sesuatu yang sangat mulia? 

Kadang saya ragu, apakah saya sudah memberikan nama yang tepat untuk gadis kecil itu. Bagaimana jika suatu saat nanti, Momo bertanya kepada saya mengapa ia diberi nama Momo? Sebenarnya sudah, ketika ia menginjak usia lima tahun. Mengapa bukan nama lainnya seperti Endang, Retno, Santi, atau Linda? Mengapa bukan nama yang umum seperti teman-teman bermainnya? Ia ingin namanya Eli. Lalu, ketika saya bilang Eli itu nama mamut di film Ice Age 2, ia baru diam. Ibu menang! 

Saya kemudian teringat kisah dalam novel The Namesake (Jhumpa Lahiri, 2003) dan film yang berjudul sama yang disutradarai oleh Mira Nair (2006). Gogol, seorang laki-laki diaspora India di Amerika Serikat. Ia dilahirkan dari pasangan suami istri dari keluarga Bengali, Ashoke dan Ashima yang pindah dari Kalkuta ke New York dan menetap di sana. Persoalan muncul ketika akhirnya Gogol mempertanyakan mengapa ia diberi nama Gogol oleh ayahnya. Menurut Gogol, namanya itu adalah nama yang tidak umum, dan ia malu dengan nama itu. 

Ashoke menjelaskan bahwa Gogol adalah nama yang diambil dari Nikolai Gogol, penulis Rusia. Dan secara pribadi, Ashoke berhutang budi pada Nikolai Gogol secara tidak langsung. Semasa masih di Kalkuta, Ashoke mengalami kecelakaan dan saat itu lembaran dari kumpulan Nikolai Gogol-lah yang menyelamatkannya. Ia menggunakan lembaran kertas itu untuk menarik perhatian para penolong karena ia sudah tidak mampu lagi bergerak karena mengalami kecelakaan parah. 

Singkat cerita, ia menamai anak pertamanya dengan Gogol dan nama itu yang melekat seumur hidup Gogol dan membentuk identitasnya. Persoalan identitas dan budaya kemudian muncul di sana. 

Apalah arti sebuah nama? Mengapa perlu repot-repot dan ribet untuk dipikirkan? Toh, hanya nama? Mungkin bagi sebagian besar orang memang kenapa sih harus repot? Tetapi, bagi sebagian besar yang lain nama itu representasi doa dan harapan. Pemilihan nama diyakini sebagai penggambaran yang dalam atas representasi diri seseorang dan membentuk identitasnya (Moordiati, Saat Orang Jawa Memberi Nama: Studi Nama di Tahun 1950 – 2000, 2015). 

Untuk saya, nama itu sangat penting. Nama itu harus bermakna dalam dan merupakan representasi diri si empunya nama. Itu eksistensi diri! Untuk itulah, saya memilih nama yang bermakna untuk gadis kecil saya. Supaya representasi nama yang disandangnya juga melekat dan menjadi merasuk ke dalam dirinya. 

Citra diri Momo dalam novel adalah pemberani, periang, sangat suka berteman, jujur, adil, penuh belas kasih dan representasi segala karakter baik itulah yang ingin saya tanamkan dan masukkan ke dalam diri Momo. Wujud doa, harapan, dan identitas.   

Pada masyarakat Jawa tempo dulu, kelahiran dan pemberian nama seorang bayi disertai juga dengan slametan brokohan (Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, 1994). Dan, keluarga Jawa pada zaman dulu, khususnya pada keluarga petani, biasanya memberikan nama yang singkat pada anaknya. Pendek saja cukup. Ora apik yen jeneng kedhuwuren! Bikin sakit, nggak kuat nanti anaknya. Nanti harus diruwat, diubah namanya. 

Menurut studi Moordiati, dalam dua puluh terakhir, gelombang perubahan dalam pemberian nama dalam masyarakat Jawa semakin kentara. Banyak anak dari etnis Jawa yang tidak lagi memakai nama bernuansa Jawa tetapi lebih mengikuti tren yang ada. 

Sekarang memang tidak akan ditemukan lagi nama anak Jawa dengan nama Ponidi, Sariyem, Wakijan, Legimin yang merujuk kepada nama-nama hari pasaran di penanggalan Jawa. Orangtua saya contohnya, tidak menamai saya dengan nama Legiyah meski saya lahir di Selasa Legi. Saya yakin orang tua saya tidak tega menamai saya dengan nama itu. Untuk masyarakat petani zaman dulu mungkin nama itu cukup diterima dan sesuai dengan golongan sosialnya. Tetapi, di era saya lahir di 1980an, agaknya orangtua memiliki harapan lebih kepada anaknya. 

Pun di era milenial sekarang ini, dengan banyaknya pengaruh kebudayaan di luar budaya Jawa dan Indonesia, nama menjadi semakin berkembang. Semakin modern dan semakin keren, mungkin tetapi memang nilai kejawaannya semakin meluntur. 

Sampai di sini saya tercenung, mengerutkan kening dan berpikir. Lalu bagaimana dengan anak saya ini? Namanya Momo, bukan nama yang mencerminkan nama Jawa atau Indonesia. Lebih berkesan sebagai nama Jepang. Itupun nama panggilan, nama aslinya ada lagi dan kisahnya jauh lebih panjang. Mungkin lain kali saya akan tuliskan. 

Saya kemudian teringat Gogol. Akankah Momo juga menolak namanya? Sejauh yang saya tanamkan kepada Momo sampai sekarang, dia bisa menerima (dengan logika anak-anak, tentunya) mengenai nama panggilannya itu. Entah, jika kelak dewasa nanti. Saya harus bersiap untuk itu. Tapi, tetap saja saya bahagia memberikan nama Momo kepadanya.  


Kartika Wijayanti, Ibu dengan 3 anak (Momo, Ponyo, dan Tae). Bergabung di Kaum Senin. Tinggal di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s