Terduduk di Salon

Marhamah Aljufri

URUSAN pembangunan membuat macet di jalan. Bapak dan ibu mengantar anak sekolah dan orang berangkat pagi hari menyiapkan bekal dan sabar. Konon, menggali tanah digalakkan di pinggiran jalan demi kemajuan. Galian memakan waktu berhari-hari bahkan minggu-minggu sebab ada batu, akar, pipa pecah, hujan, dan bekuan uang. Galian lancar, orang senang, pekerja riang.

Kita ingin tertawa dan bernostalgia dengan kata galian di iklan. Selain galian membikin macet dan menaikkan tensi darah di jalan, kita ingat toko-toko jamu memasang gambar berjudul galian. Macam-macam galian bersoal jamu: galian putri, galian singset, galian rapet, galian montok, dan galian parem. Galian berkhasiat jamu selalu bagi perempuan.

Dipikir-pikir, kata galian putri beraroma bahasa Jawa. Judul iklan “Djamu Galian Putri” tertulis di atas sebuah gambar perempuan (Minggu Pagi, 3 November 1957). Kita terheran-heran, jamu bersanding perempuan bukan pribumi. Perempuan berambut gaya Barat melirik manja tersenyum pada kita. Oh! Senyum dan tatapan sungguh mempesona. Kita kesulitan menangkap kebiasaan perempuan minum jamu bukan pribumi.

Usaha iklan setelah gambar terasa hambar. Permainan berlanjut pada kata-kata: “Untuk gadis dan perempuan muda guna menjegarkan badan, menghilangkan kelesuan, melangsingkan tubuh, membikin paras muka bersinar terang, awet muda dan memeliharakan kecantikan badan.” Jamu digadang untuk para putri agar cantik, segar, tak lesu, langsing, muka bersinar, awet muda, dan terpelihara. Kata putri alami tak lagi milik anak perempuan raja. Jamu teruntuk gadis dan perempuan muda, tua tidak termasuk. 

Iklan menulis huruf dalam ejaan lampau: tj untuk c, dj untuk j, j untuk y. Kelampauan itu dari Iboe di Surabaja. Ibu memang sosok selalu ingat anak perempuan dan memberi jamu. Anak perempuan kenal betul jamu masih pahit. Minum jamu diikuti tarikan mulut meringis dan serapah pahit.

Dunia jamu kian ditinggal gadis. Gadis-gadis masuk salon aestetik tak meringis pahit. Mereka percaya salon mengubah rupa dan badan dengan teknologi. Teknologi tak usah ditelan. Diusap-usap dan berkilauan jadinya kulit. Gadis-gadis terduduk antre di salon. Mereka meninggalkan rayuan galian.


Marhamah Aljufri, penulis tinggal di Pasuruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s