Tak Sia-sia

Yulia Loekito

Ada banyak orang di dunia ini yang hidup hanya ikut saja arus gerakan yang mendorongnya ke kanan atau ke kiri karena hal itu paling mudah dilakukan dan tidak memerlukan banyak tenaga. Keberanian untuk menentukan sikap dan tidak mengikuti arus adalah modal utama untuk menjadi seimbang. Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh mana kamu bisa bergerak untuk tidak malah menjadi penyebab ketidakseimbangan baru.”  (BB Triatmoko, Antara Kabut dan Tanah Basah, 2005)

BARU-BARU ini seorang penatua dari tempat ibadah memberi nasihat pada seorang anak. Isi nasihatnya standar: “Rajin belajar dan rajin berdoa.” Rajin belajar biasanya berhubungan dengan masa depan. Kalau dipanjangkan, rajin belajar itu supaya pintar, sekolah tinggi, dan mendapat pekerjaan bagus, supaya masa depan kelak bahagia. Rajin berdoa biasanya berhubungan dengan kesalehan, jauh dari dosa dan api neraka. Demikianlah arus kehidupan—umumnya urban—mengalir. 

Arus itu menarik manusia-manusia untuk hanyut dengan dalih agar tak celaka. Manusia berpedoman nasihat dan mengikuti arus tanpa memperhatikan ke mana arahnya. Umumnya dengan pola: sekolah, bekerja, berkeluarga, mengumpulkan uang, punya rumah, punya kendaraan, menikahkan anak, dan menjadi tua. Kejanggalan-kejanggalan muncul dalam berjalannya pola. Bekerja bisa dianggap sarana mengumpulkan rezeki material semata. Proses pengenalan dan penemuan diri seringnya terabaikan bahkan terlupakan, berakibat hidup sia-sia belaka disadari menjelang sakratul maut. Tak heran Rama Bargawa, brahmana yang dipilih Dewabrata menjadi gurunya, berkomentar tajam tentang Bupati Danureja yang culas: “’Percuma kamu lakukan itu. Orang-orang seperti bupati itu adalah orang-orang yang sudah membusuk dari dalam. Kalau tanaman sudah membusuk, tidak ada gunanya diberi pupuk atau diairi lagi. Satu-satunya cara adalah mencabut sampai akarnya dan dibuang.’” 

Manusia hidup mengikuti arus berisiko pula mengabaikan hal-hal sederhana, hal-hal kecil menurut pemahaman kolektif. Hal-hal tak menunjang kesejahteraan hidup secara material, kenaikan jabatan, atau pencapaian keluarga biasanya dianggap remeh. Memasak, mencuci baju, atau membuatkan segelas teh untuk anak-anak di rumah seringnya dianggap kegiatan tak terlalu berguna dibanding menyelesaikan pekerjaan di kantor atau membuat karya untuk dipublikasikan. Untuk anak-anak, orangtua mengutamakan sekolah, belajar pelajaran sekolah, atau ilmu pengetahuan. Kesadaran anak-anak untuk ikut menjaga kebersihan rumah, memperhatikan lingkungan, memperhatikan cicak makan laron, sering dinomor sekiankan setelah PR, tugas, atau ulangan dari sekolah. Ah! Maukah kita mengakui kalau kita memang hanyut terbawa arus? Seberapa banyak dan dalam manusia memiliki kesadaran? 

Untuk anak-anak, orangtua mengutamakan sekolah, belajar pelajaran sekolah, atau ilmu pengetahuan. Kesadaran anak-anak untuk ikut menjaga kebersihan rumah, memperhatikan lingkungan, memperhatikan cicak makan laron, sering dinomorsekiankan setelah PR, tugas, atau ulangan dari sekolah. Ah! Maukah kita mengakui kalau kita memang hanyut terbawa arus? Seberapa banyak dan dalam manusia memiliki kesadaran?

Pengenalan dan penemuan diri, kesadaran, perutusan ditemukan bukan dalam balutan agama. Berbagai macam keutamaan dapat diserap dari berbagai macam sari-sari ajaran. Kisah Dewabrata diambil dari epos pewayangan dengan latar belakang Hindu, dalam buku ini justru dituturkan dalam balutan ajaran Budhisme. Penuturnya sendiri berlatar belakang Nasrani. Kemudian ditemukan hal-hal sederhana yang justru dalam arus hidup sehari-hari luput dari penghayatan manusia-manusia beriman. Kita serap: “Di dalam kehidupan ini sebuah jiwa hanya perlu untuk belajar mengenal siapa dirinya sesungguhnya, dan dengan itu menemukan untuk apa dia hadir pada tempat dan waktu tertentu ini ….  Beberapa tahun berlalu tanpa terasa. Selama itu Dewabrata berlatih untuk mengenali siapa dirinya sesungguhnya. Dia berdamai dengan masa lalunya. Dia menerima kelemahan dan keterbatasan dalam dirinya.” 

Tak diceritakan Dewabrata menapaki jenjang karirnya untuk jadi Raja Astinapura, tapi pengembaraannya menemukan bunga utpala biru perlambang cinta. Kehidupan tak sejalan dengan arus hidup manusia pada umumnya, tak ditemui kemapanan jasmani di sana, justru kesulitan-kesulitan dan duka. Segala macam kewajaran dipertanyakan. Selain para rohaniwan atau filsuf atau bahkan orang-orang dengan nasib yang dianggap buruk berbalut nestapa, seberapa banyak dari kita hidup di masa kini, secara sadar mencoba menemukan diri dan mencari tahu untuk apa kita ada hari ini? Sungguhkah rajin belajar dan rajin berdoa itu rumus yang paling tepat? 

Salah satu kisah dalam buku Doa Sang Katak 1 (Anthony de Mello, SJ, 1990) bercerita tentang seorang ahli bedah di Wina yang mengajari mahasiswanya dua hal penting: bebas rasa muak dan kemampuan mengamati. Si ahli bedah mencelupkan jari ke dalam cairan memuakkan dan menjilatnya. Para mahasiswa mengikutinya. Paragraf terakhir kisah berisi komentar si ahli bedah: “’Saudara-saudara kuucapkan selamat, karena lulus ujian pertama. Tetapi sayang, belum yang kedua, sebab tidak satu pun dari kalian memperhatikan, bahwa jari yang kujilat tadi bukan jari yang kumasukkan dalam cairan.’” Kebanyakan, manusia-manusia memang tak punya maksud-maksud buruk pada awalnya. Namun, belenggu arus yang mengikatnya sering juga bisa mengurangi kemampuan mereka mengamati, sehingga waton anut grubyuk tanpa banyak pikir. Pikiran juga banyak terpusat pada “hal-hal besar” yang semu dibanding hal-hal sederhana tapi nyata. 

Kebanyakan, manusia-manusia memang tak punya maksud-maksud buruk pada awalnya. Namun, belenggu arus yang mengikatnya sering juga bisa mengurangi kemampuan mereka mengamati, sehingga waton anut grubyuk tanpa banyak pikir. Pikiran juga banyak terpusat pada “hal-hal besar” yang semu dibanding hal-hal sederhana tapi nyata.

Ah! Kita semua mengambang di aliran yang sama. Hanya saja kita boleh memilih mau hanyut ikut arus begitu saja atau tidak. Tak ada salahnya, tak ada ruginya setiap waktu kita menepi untuk duduk sejenak, mengamati, melakukan hal-hal sederhana dengan penuh ikhlas dan gembira, sehingga ketika arus jadi deras karena banjir bandang kita tidak kebingungan lalu hanyut. Dengan begitu, perjalanan ini tidak sia-sia bila kelak telah mencapai ujungnya. 


Yulia Loekito, Penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s