Yang Membaca

Yunie Sutanto

PADA 1940, terbit buku tentang membaca.  Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan PT Indonesia Publishing, 2007. Gus Dur menuliskan kata pengantar dari buku tersebut. Buku berjudul How To Read A  Book: The Classical Guide to Intelligent Reading susunan Mortimer J. Adler dan Charles van Doren menjadi buku yang kita diperlukan karena memampukan kita mendalami berbagai masalah secara berimbang, demikian penjelasan Gus Dur. 

Mengapa seorang pembaca kelas berat macam Gus Dur bisa merekomendasikan sebuah buku tentang membaca terbitan tahun 1940? Buku lawas masihkah relevan? Kita dibawa untuk bertanya-tanya apa isi buku tersebut. Kita bisa saja berpikiran buku tersebut sejenis buku babon tentang membaca. Tentunya bukan tentang cara mengajar mengeja untuk anak prasekolah. Mungkinkah dalam buku tersimpan jurus sakti, bagaimana cara membaca yang baik dan benar? Rasa heran bertambah karena buku dilaporkan terus bertahan di puncak tangga buku laris nasional di Amerika Serikat selama lebih dari setahun sejak pertama kali diterbitkan. Buku pun terus dicetak ulang hingga hari ini dalam berbagai bentuk cetakan dan diterjemahkan dalam pelbagai bahasa. 

Jika kita berpikiran memberantas buta huruf itu bisa mengentaskan kebodohan, pandangan ini sepertinya hanya seperempat benar. Banyak pelajar yang cakap mengeja dan membaca dengan fasih tetapi (ternyata) gagal memaknainya. Jim Trelease dalam The Read-Aloud Handbook (2017) menuliskan bahwa membaca adalah jantungnya pendidikan. Pengetahuan dari hampir semua mata pelajaran di sekolah mengalir dari membaca. Masalahnya, sekalipun seseorang mungkin tahu cara teknis membaca, tapi apakah ia sudah membaca dengan baik dan benar? Pengetahuan tidak berbanding lurus dengan pemahaman. Banyak siswa mengalami kesulitan belajar di sekolah dasar dan menengah karena mereka tidak bisa menangkap intisari sebuah tulisan. Murid harus mampu membaca soal cerita dalam pelajaran matematika untuk bisa memahaminya, kemudian menganalisis dan mengerjakannya. Ada banyak tahapan membaca yang harus dikuasai di sini.

Menurut Adler dan Van Doren, ada empat level membaca: membaca dasar, membaca inspeksional, membaca analitis, dan membaca sintopikal.  Jika melihat kasus siswa yang berkesulitan belajar, umumnya mereka bisa membaca tahap dasar tapi level membacanya  berhenti di tahap membaca inspeksional saja. Diperlukan tahap analitis untuk sampai pada memaknai bacaan. Keterampilan membaca analitis inilah yang harus diasah agar pemahaman kita bisa meningkat dari buku-buku yang dibaca. Tentunya kita sering mendengar celetukan: “Sudah lupa karena ilmunya sudah dibalikin ke gurunya.” Itu canda para siswa seusai ujian jika ditanya perihal materi ujian bersangkutan. Memang demikianlah, jika kita membaca hanya demi lulus ujian. Kita rugi besar karena kehilangan kesempatan memaknai lebih dalam dan kehilangan kenikmatan dari membaca itu sendiri. 

Membaca yang baik bukanlah pembaca pasif yang sekadar menikmati saja sebuah buku. Tidak ada yang salah dengan menikmati sebuah buku fiksi untuk tujuan hiburan. Namun untuk mendapatkan pemahaman dari buku-buku yang kita baca, butuh upaya lebih. Terbaca dalam halaman 421, Adler dan Van Doren menuliskan: “Membaca dengan baik, yang berarti membaca secara aktif, bukan hanya berguna dalam membaca, ia juga bukan sekadar cara meningkatkan pekerjaan atau karier kita. Ia juga berfungsi menjaga pikiran kita tetap hidup dan bertumbuh!” Pikiran yang terus membaca dan terus belajar ternyata memperpanjang usia. Rasa tak berdaya yang kerap menjadi sumber stres para pensiunan dan kaum lanjut usia ternyata tidak menyerang mereka yang terus belajar sepanjang hidup. Orang-orang terus belajar ini membaca dan bertumbuh dalam pikiran mereka. Semangat hidup untuk membaca dan mempelajari hal-hal baru membuat mereka tetap menemukan arti hidup di usia yang tak lagi produktif. Jim Trelease pun menuliskan dalam The Read-Aloud Handbook: “Membaca adalah sabuk umur panjang…. Para peneliti Alzheimer menemukan sesuatu yang mereka sebut efek kekebalan tubuh dari pengalaman membaca sejak kecil dan pengembangan kosakata.” Ternyata, rahasia berumur panjang itu tak jauh dan tak mahal. Hanya sejauh buku!

Ternyata, rahasia berumur panjang itu tak jauh dan tak mahal. Hanya sejauh buku!

Membaca adalah sebuah aktivitas sehingga rasanya mustahil bagi seorang pembaca untuk tidak aktif menggunakan mata dan pikirannya. Sesungguhnya membaca pasif itu tidak mungkin terjadi. Yang ada hanyalah si pembaca saja yang kurang aktif dalam membaca. Semakin baik seseorang membaca, ia akan lebih menuntut kepada dirinya sendiri dan kepada teks yang ia baca. Ia akan semakin meningkat dalam pemahamannya akan konteks bacaan dan semakin bisa merelasikan dengan berbagai hal yang sudah ia ketahui. Sebuah buku menjadi keharusan untuk termiliki di rak jika buku itu menimbulkan keinginan pembaca untuk terus kembali mengunjunginya. Buku susunan Adler dan Van Doren ini merupakan salah satu  buku yang membuat kaum pembaca akan terus bertanya.


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s