Hiburan di Keseharian

Arif Rohman

DI pagi hari, kita mulai menjalani rutinitas. Bagi saya, pagi hari berarti bersiap mengurus anak pergi sekolah dan berangkat bekerja. Sore hari pulang dan biasanya mulai menikmati hiburan. Hiburan saya berupa menonton film atau mendengarkan musik. Sesekali hiburannya berupa membaca buku.

Buku sudah menjadi hiburan saya sejak duduk di bangku sekolah, tepatnya ketika SMA. Saat keseharian jauh dari rumah, tinggal di pesantren yang minim hiburan: tidak ada televisi dan belum memiliki ponsel yang bisa memutar musik atau radio. 

Perkenalan dengan perpustakaan membawa saya menekuni hari demi hari dengan meminjam buku. Mulai dari membaca buku motivasi, novel, cerita horor, hingga kliping koran berupa komik dari terbitan hari Minggu. 

Setelahnya bisa menikmati hiburan berupa mendengarkan musik yang disukai atau menonton film yang digemari. Hari-hari dipenuhi hiburan berupa tontonan yang memanjakan mata dan telinga. Berkembangnya situs Youtube, membuat hiburan ini terus bertahan. Hingga beberapa hari ini, hiburan berupa tontonan masih mendominasi.

Perlahan hiburan ini menjadi pertanyaan saya. Apakah ini sudah sesuai? Apakah ini tidak mengganggu keseimbangan hidup? 

Coba kita bayangkan perkembangan teknologi informasi saat ini. Pagi hari buka ponsel pintar, geser layar ke kiri, seketika muncul rekomendasi berita terkini. Biasanya muncul sesuai dengan apa yang sering kita lihat. Algoritma, itulah sebutan cara kerja informasi yang muncul di layar kita. 

Misal, hari ini kita buka situs komik online. Ketika nanti buka Youtube, di beranda kita disuguhi video yang membahas komik. Jika kita suka menonton video dinosaurus, saat membuka Youtube, di beranda kita langsung disuguhi beragam video tentang dinosaurus. Begitupun jika kita suka menonton Squid Game. Tayangan serupa akan lebih sering muncul di layar kita.

Menonaktifkan pemberitahuan atau notifikasi adalah jalan yang perlu ditempuh. Saya semakin menyadarinya setelah menonton film The Social Dilema. Film yang menyorot cara kerja algoritma di sosial media, yang tidak hanya membuat kita senang berlama-lama menonton layar ponsel. Pun, secara tidak langsung mengendalikan perilaku kita.

Media sosial yang kita kira gratis sebenarnya kita bayar dengan perhatian kita. Inilah satu penyebab munculnya ungkapan: teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Masing-masing dari kita jadi sibuk dengan layar ponsel.

Media sosial yang kita kira gratis sebenarnya kita bayar dengan perhatian kita.

Belakangan, hiburan saya masih menonton video selain film, ada update video dari beberapa Youtuber. Saya juga sedang mendalami terkait keterampilan menggambar. Menonton Live Instagram tentang cara berjualan gambar di situs POD, membangun karir sebagai pekerja lepas, dan membaca buku terkait dalam bahasa Inggris yang saya baca dengan Google Translate.

Perhatian yang tertuju ke tayangan di layar ponsel akhirnya kembali ke buku fisik. Saya memesan buku The Art of The Good Life karya Rolf Dobelli, Cetakan Ketiga (KPG, 2021) dan Belajar Tanpa Batas karya Inge Tumiwa (Kawan Pustaka, 2021).

Buku Rolf Dobelli saya baca setelah mencicipi versi bahasa Inggrisnya terlebih dulu, mengingat bahasannya saya suka, saya pun membeli versi bahasa Indonesianya. Membaca lewat Google Translate sebenarnya tidak selalu menyusahkan atau mbingungi. Tergantung penulisnya kebanyakan memakai metafora atau tidak, misalnya buku Lisa Congdon, Find Your Artistic Voice.

Buku Belajar Tanpa Batas, saya baca karena membahas pendidikan di rumah, buku ditulis tidak dengan niatan agar anak harus sekolah di rumah. Mengingat judul buku Inge Tumiwa yang sebelumnya: Unschooling. Buku Belajar Tanpa Batas mencoba memberi pemahaman agar kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, dan membebani anak dengan ekspektasi orangtua yang berlebihan.

Dari buku Rolf Dobelli, saya mulai menyadari perkembangan teknologi tidak hanya membawa kemudahan saja. Ada konsekuensi, ada akibat buruknya. Ia mencontohkan hadirnya Email yang mengurangi peran pengiriman pesan lewat kurir pos. 

Kita mulanya merasa beruntung dengan hadirnya Email, karena memudahkan pengiriman pesan atau potret keadaan terbaru dengan bantuan internet. Seketika terkirim, seketika berkemungkinan terbaca. Tapi, kita sebetulnya perlu menyadari, dampak di balik mudahnya pesan yang terkirim itu, ada ribuan pesan di Email yang muncul setiap harinya, entah pemberitahuan dari Facebook, iklan dari situs tertentu, atau spam yang tidak perlu. Kita jadi memerlukan waktu untuk memerhatikan segala jenis pesan yang masuk, agar bisa mengelompokkan itu termasuk pesan penting atau perlu dihapus.

Uniknya, dalam biologi, hal semacam ini juga ada, misalnya burung yang memiliki bulu-bulu yang indah. Mereka akan mudah mendapatkan pasangan, sekaligus mudah dimangsa oleh predator karena mencolok. Contoh ini membuat saya merasa perlu keseimbangan dalam berteknologi. 

Sudah setahun ini saya matikan semua notifikasi di ponsel, termasuk Whatsapp. Saya belakangan merasa kelelahan dan tidak fokus karena Youtube dan fitur internet secara keseluruhan. Saat saya mencari ebook satu judul di situs buku online berbahasa Inggris misalnya, saya seringnya malah tertarik mengunduh buku sejenis sampai belasan judul. Dari kebutuhan satu judul dengan ukuran file kira-kira 5 Mb misalnya, praktiknya membuat saya mengunduh belasan buku yang jika ditotal ukuran file-nya sampai ratusan Mb. 

Di laptop jika kebiasaan download ini digabung dengan ukuran file film atau video yang saya ambil dari internet lainnya. Membuat memori laptop cepat berubah warna jadi merah, alias penuh, dan dampak lanjutannya mengurangi kinerja laptop. Kemudahan dari laptop pun memiliki dampak buruk sebagaimana Email, atau burung dengan bulu yang indah. 

Saat ini saya perlu mengurangi berinteraksi dengan teknologi. Lebih tepatnya mengurangi perhatian terhadap notifikasi atau video rekomendasi yang muncul di beranda saat berselancar dengan internet.

Buku yang juga saya baca diberi judul Sejak (Bilik Literasi, 2021). Buku ini ditulis oleh delapan ibu yang sebagian besar mendidik anaknya di rumah atau homeschooling. Bahasannya tentang keseharian ibu-ibu. Di pengantar, kita membaca penulis dalam buku ini semula sering belajar setiap Selasa sore. Melihat profil penulis yang domisilinya berbeda-beda, kemungkinan kumpulan tulisan ini hasil dari kelas online. 

Buku ini saya baca di sela menunggu motor di bengkel. Membaca “obrolan” dalam bentuk tulisan memang lebih cocok untuk saya. “Obrolan” tidak perlu langsung ditanggapi. Waktu menunggu yang biasanya digunakan untuk bengong, ketika digunakan untuk membaca, membuat saya memikirkan kehidupan ibu rumah tangga yang berbeda dengan lingkungan saya. 

Hampir setiap pagi, ada ibu-ibu berkumpul di teras rumah tetangga, menunggu tukang belanja sayuran keliling lewat sambil mengobrol. Entah ngrasani orang atau tidak, kegiatan semacam itu lumrah. Mungkin membahas tingkah lucu anaknya di rumah, atau nakalnya anak yang sedang bertumbuh, atau kelakuan tetangga yang menarik perhatian. 

Ibu-ibu berkumpul untuk menulis itu langka. Meski buku ini tidak memberi pembahasan yang seragam, keragaman tema dalam buku ini saya anggap wujud apresiasi untuk ibu-ibu yang mau meluangkan waktu menulis.

Ini ibu (Yayasan Sami Sami Suningsih: 2021), merupakan buku ketiga yang saya khatamkan. Isi buku ini hampir mirip buku Sejak, hanya saja kesannya lebih rapi dan tertata. Keseharian ibu rumah tangga, apa yang mereka pikirkan dan lakukan jadi tema tulisan di buku ini. Buku keempat berjudul  Air Mata Sang Pohon Purba gubahan Bu Kasur dan Naning Pranoto berisi kumpulan cerita dari berbagai negara. Bu Kasur, pencipta lagu, ini ternyata menulis buku anak. Buku hadir secara serius karena melibatkan lembaga kebudayaan dari negara lain, seperti Thailand, Turki, Brazil, Denmark, Australia, Korea, Prancis, Jepang, Malaysia, Rusia, hingga Belanda. Buku terbit berulang kali. Saya ini membaca cetakan kelima, tahun 2011.

Buku kelima berjudul Kuasa Guru Pertama (Bukukatta, 2020) beirisi kumpulan tulisan dari guru-guru. Para guru dari berbagai sekolah berkumpul dan menuliskan kisah pertama kali mengajar. Buku dibuat atas kerja sama PBSI FKIP UMS. 

Jika dikaitkan dengan hiburan, membaca buku bagi saya bisa dibilang hiburan. Dan buku adalah hiburan yang tidak agresif. Tidak seagresif Youtube misalnya. Jika kita menonton video di Youtube, setelah satu video usai kita disuguhi video lain yang tak kalah menarik. Para Youtuber memang “dikondisikan” oleh sistem algoritma agar membuat thumbnail yang clickbait, sederhananya mengharuskan membuat sampul video yang memikat penonton, syukur-syukur jika judul bisa sesuai isi video. 

Hari ini kita mulai akrab dengan hal semacam itu. Entah itu pemberian judul berita atau video, kita digiring agar terus-terusan terpaku. Seperti kalimat dalam ketikan Ms Word 2013 ketika dibuka dengan Ms Word 2007, tak ada lagi spasi antara kata yang kita ketik. Waktu jeda dari hiburan satu ke hiburan lainnya semakin berkurang. Barangkali, hiburan yang saya butuhkan hari ini bukanlah tontonan yang menarik saja, tapi bacaan yang memberi jeda dan minim notifikasi. 


Arif Rohman, penulis tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s