Socrates Bertanya

Ahmad Kurnia Sidik 

LELAKI itu selalu mengenakan pakaian lusuh yang sama, hidungnya lebar dan pesek, bibirnya bundar tebal, perutnya buncit. Dia botak. Mata kepiting sama dengan matanya, mempunyai jarak lebar satu sama lain, mungkin itu juga yang membuatnya memiliki pandangan luas. Hobinya berjalan tanpa alas kaki sekaligus membuat orang kesal. Kesal karena mulutnya selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan, aneh pula!

Lelaki itu bernama Socrates (470-399 SM). Socrates adalah lelaki paling buruk rupa di Athena, tetapi sumbangsih dan namanya masih terkenang sampai sekarang. Dirinya digadang-gadang sebagai filsuf terbesar yang pernah ada. Itu semua bukan tanpa alasan. Dirinya berbeda daripada filsuf pendahulunya (Thales, Anaximender, Anaximenes, Permenides, Heraclitus, dan Democritos) yang wajahnya diarahkan ke langit. Mereka ingin menjabarkan kosmos dan menguak tabir-tabir misteri alam semesta. Socrates sebaliknya, ingin menurunkan wajahnya ke bumi, melihat depan-belakang, kanan-kiri, dan mulai bertanya tentang sekitarnya. 

Cara Socrates bertanya bisa kita temukan dalam buku The Socrates Express  garapan Eric Weiner, kebetulan sudah diterjemahan ke bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Qanita. Buku penuh pertanyaan “bagaimana” ini menghadirkan keintiman langka dari filsafat. Tak jarang filsafat membuat antipati pendengarnya karena dalam pencarian kebenaran melaluinya dianggap penuh dengan bualan bahasa yang melambung-lambung di awang-awang, rumit dan berbelit-belit pembahasannya, serta banyaknya nama orang-orang agung yang harus dihapalkan, tapi dari buku satu itu berbeda. 

Kita kembali ke filsuf besar dari Yunani kuno tadi. Dalam pikirannya, ia beranggapan bahwa kebenaran itu sekaligus sudah dan belum kita miliki. Apabila kita sudah memiliki sepenuhnya kebenaran, untuk apalagi kita mencarinya. Tetapi, apabila kita tidak memiliki sama sekali kebeneran itu, mustahil mencarinya, karena tidak ada gambaran sedikit pun tentang apa yang harus dicari. Oleh karena itu, menurut Socrates kita perlu berfilsafat (atau bertanya) untuk mencari kebenaran.

Pertanyaan, bagi Socrates, tak ubahnya seperti pisau bermata dua, sebagai pencari hakikat kebenaran di satu mata, juga impuls kesadaran masyarakat mulai dari Athena kuno hingga kini di mata lainnya. Pembesar-pembesar di Athena rasanya akan lebih memilih jalan lain dan berputar daripada harus bertemu Socrates di jalan yang sama. Sang jendral yang bertemu dengannya tidak bisa menjelaskan apa itu keberanian, si penyair kesulitan mendefisinkan apa itu puisi. 

Sekarang, bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai pembaca ataupun penulis seandainya bertemu Socrates yang bertanya “apa itu bacaan” atau “apa itu tulisan”. Kita mungkin dicecar lagi pertanyaan “untuk apa dan bagaimana melakukan semua itu”.

Dengan berbagai pertanyaan sederhana (dan tak jarang mencecar) tersebut, Socrates biasanya memulai percakapan, dirinya ditampilkan seolah sebagai manusia paling bodoh, namun, semakin dalam percakapan terjadi, menjadikan lawan bicaranyalah yang justru mengetahui bahwa ia tak tahu melebihi Socrates sendiri, Jostein Gaarder menamakan ini sebagai Ironi Socrates. Ia juga ketiban anugerah manusia paling bijaksana. Chaeropon, teman sekaligus murid Socrates suatu kali bertemu dengan peramal orakel di kota Delphi dan bertanya: “Adakah orang di Athena yang lebih bijaksana dari Socrates”? Jawabannya: “Tidak”. Socrates bijaksana karena mengetahui apa yang tidak ia ketahui. Dirinya menganggap bahwa ketidaktahuan terburuk itu ketidaktahuan yang menyamar sebagai pengetahuan.

Barangkali, untuk menemukan jawaban-jawaban ataupun informasi hari ini, kita terbantu oleh kecerdasan buatan. Dekatkan ponsel pintar dan berkata:

“Oke Google”

“Hai, ada yang bisa saya bantu”

“Apa itu pertanyaan”

“Anda lebih jago soal itu” pungkas Google dibarengi emotikon genit. Dan hening setelahnya.

“Definisi pertanyaan”

“Pertanyaan adalah sebuah ekspresi keingintahuan seseorang mengenai sebuah informasi yang dituangkan dalam sebuah kalimat tanya. Pertanyaan biasanya diakhiri dengan sebuah tanda tanya.”

Google di situ akurat. Tapi, apakah Socrates akan puas dengan jawaban seperti itu? Pertanyaan berjalan dua arah, mencari makna dan mengungkapkannya. Ketika kita melontarkan pertanyaan, di situ terselip luapan-luapan emosi diri karena rasa penasaran yang menjadi maksud kita bertanya. Sejurus dengan itu, menurut Poerwadarminta, makna adalah arti dan maksud. Maka, mungkin saja Socrates tak akan puas, ia ingin lebih luas bukan sekadar informasi tekstual ataupun arti, tapi makna.


Ahmad Kurnia Sidik, esais dan peresensi buku, tinggal di Solo 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s