Kita dan Kampung Bertiang

Margarita Riana

TIANG-TIANG masuk kampung. Tiang hitam kecil ditanam. Kabel-kabel hitam direnggangkan dan dipasang serapi mungkin dari satu tiang ke tiang yang lain. Bukan tiang listrik. Tiang ini berukuran lebih kecil diameternya dari tiang listrik. Biasanya berwarna hitam. Inilah tiang kabel telepon. Kabel-kabel telepon diganti dan diperbaharui. Kabel yang menghubungkan kota-kota di dunia. Kabel yang membawa keajaiban. Kata-kata tersusun dalam kalimat tersampaikan dalam hitungan menit bahkan detik. 

Tiang besi berdiri tegak di sepanjang gang di Kampung Sayidan berusaha serapat mungkin dengan tiang listrik besar. Tiang hitam isyaratkan kemajuan dan modernitas di kampung. Kampung tengah kota tidak boleh tertinggal. Pemasangan cepat dilakukan. Penggantian kabel telepon dilakukan dengan cepat disertai pemasangan boks kecil putih yang bisa menyampaikan gelombang sering disebut modem. Kampung wisata yang modern tercipta. 

Tiang listrik besar tidak lagi sendiri. Tengoklah ke atas saat ada di gang selebar 1,5 m. Indahnya langit biru di siang hari dihiasi garis-garis hitam. Ya, itulah kabel penambah hiruk pikuk langit. Bermacam-macam kabel rupanya. Kabel-kabel saling bertumpuk dan menyilang. Kabel-kabel saling berpegangan erat satu sama lain enggan jatuh terkulai di atas konblok gang.

Orang-orang beraktivitas seperti biasa. Tiang itu dirasa tidak terlalu mengganggu. Orang naik motor dengan mudah tanpa mengenai tiang, tanpa menabraknya. Tiang tempat kabel yang membawa kecanggihan. Pengurus kampung memasang beberapa modem untuk hotspot. Kotak itu ada di tempat-tempat strategis di mana orang-orang berkumpul dengan bebas dan mudah, seperti di pos ronda dan di depan balai kampung.

Jaringan internet rupanya menjadi salah satu kebutuhan saat ini. Himbauan pemerintah untuk bekerja dan belajar dari rumah memaksa semua orang untuk bekerja dengan sambungan internet ini. Bolehkah sekarang menyebut jika sekarang jaringan internet menjadi kebutuhan primer? Untuk menggunakan jaringan ini pastilah membutuhkan ponsel, laptop, atau alat-alat modern lainnya.

Kita ingat reenungan: “Yang sebenarnya tidak membutuhkannya adalah orang-orang yang merasa kesepian. Mereka merasa terasing kalau sendirian dan merasa perlu bicara sama seseorang. Yang lain lagi adalah mereka yang ingin pamer bahwa mereka diperlukan sekali, apalagi dalam hal bisnis.” (Myra Sidharta, Seribu Senyum dan Setetes Air Mata, 2015) 

Myra Sidharta menuliskan kalimat-kalimat tentang orang-orang yang tidak membutuhkan ponsel dalam esainya berjudul “Cara Terbaik Menggunakan Ponsel”, yang ditulis sekitar rentang waktu tahun 1982-2011. Di awal esai, Myra mengajak kita berpikir siapa saja manusia di Bumi ini yang membutuhkan ponsel. Dia bahkan menggunakan tulisan seorang penulis terkenal, Umberto Eco, yang menyebutkan bahwa ada lima macam orang yang memakai ponsel. Tiga yang betul-betul memerlukannya (orang cacat yang perlu bantuan dokter, orang profesional yang serius dan dapat dihubungi dalam keadaan darurat, dan orang-orang yang berselingkuh supaya bisa bikin janji rahasia) dan dua lagi yang tidak memerlukan.

Era ini menjadikan semua orang memerlukan ponsel. Orang yang tidak membutuhkannya, seperti orang yang kesepian dan orang yang ingin pamer, berpeluang sangat besar menjadi orang paling sering menggunakannya. Pada 2021, ponsel tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi tetapi juga alat mengajar, belajar, berdoa, dan alat pamer. Orang-orang memegang ponsel di mana-mana.

Rasa takut sendiri. Rasa takut tidak diakui. Mengunggah setiap detail kehidupan. Mengunggah pencapaian. Ponsel era 2021 disebut posel pintar. Pintar untuk membuat banyak orang diam menatap ponsel. Ponsel pintar dilengkapi dengan kepintaran mengakses jaringan internet. Jaringan yang menghubungkan seluruh dunia dengan hanya menggunakan jari-jari

Internet diakses dengan mudah dengan adanya hotspot. Pemasangan yang tepat di era orang bekerja dan bersekolah dari rumah. Orang-orang mulai berkumpul agar terhubung dengan jaringan nirkabel ini. Tugas-tugas sekolah dapat dengan mudah diunduh. Anak dan orang tua berkumpul untuk mengerjakan tugas. Semakin lama, anak-anak berkumpul dengan teman sebayanya. Tanpa orang tua.

Tawa lebih nyaring terdengar. Umpatan-umpatan terlontar tanpa pengawasan. Masing-masing anak memegang gawai. Sibuk memencet gawai dan berceloteh tentang permainan. Anak-anak bermain bersama dengan duduk tanpa tatap muka di tempat-tempat dengan hotspot itu. Anak-anak lelah duduk bermain.

Tak ada lagi tawa di lapangan badminton kampung. Lebih menarik rupanya berada di pos dan bermain permainan online. Tak ada orang tua yang sibuk berteriak memberi nasihat: Bicara yang sopan! Jangan main sepeda seenaknya di gang! Lihat anak-anak kecil! Ayo yang baik sama adik-adik yang lebih kecil! Lebih tenang pastinya. Tapi, kita malah tambah pikiran antara yang lalu dengan sekarang yang bertiang. 


Margarita Riana, penulis tinggal di Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s