Pada Mulanya Nama

Yuni Ananindra

Senin, Selasa, Rabu, Kamis

Jumat, Sabtu, Minggu

Itu nama-nama hari

Senin sekolah lekas pintar

Anak yang pemalas tidak naik kelas

DI tahun-tahun silam ketika kepingan CD masih ramai dijual di toko atau emperan pasar, lagu riang ciptaan Pak Kasur itu bisa terdengar di rumah-rumah sebagai “teman” anak sebelum menuju besar. Tak baru lagi bahwa lagu kerap dimanfaatkan oleh anak-anak dan bahkan orang dewasa untuk sarana belajar. Mengenal nama menjadi salah satu pintu manusia untuk belajar mengenali dunia. Itu “sapi”. Itu “langit”. Itu “meja”.  Itu “nasi”.  Sebelum takdirnya turun ke Bumi tiba, Nabi Adam juga telah punya riwayat pengetahuan tentang nama-nama benda. Sebuah hal yang pada akhirnya membuat para malaikat tunduk hormat kepadanya.

Ketika manusia-manusia asing punya kebutuhan untuk saling bersinggung hidup, identitas adalah barang utama yang perlu diketahui satu sama lain. Tak kenal maka tak sayang. Pepatah itu gambaran bahwa identitas yang dibawa manusia akan memengaruhi cara manusia lain (bahkan juga diri sendiri) untuk berinteraksi. Anak-anak sekolah di level dasar biasanya diajari materi perkenalan. Nama adalah identitas pertama yang disebutkan, barulah disusul dengan yang lain-lain semisal usia atau alamat tinggal.

Kadang, nama dianggap sebagai jalan keluar. Dunia transportasi kita punya noda dan berharap bisa dibersihkan dengan nama. Bus-bus besar bertrayek jauh pernah punya kisah penggantian nama diri, semacam ruwatan, berharap kesialan-kesialan yang kerap mendatangi sudi minggat dan citra menjadi bersih. Sayangnya, apa yang sudah dilakukan tak terlalu membawa perubahan ke arah yang diinginkan. Akar masalah yang sebenarnya tidak terletak di dalam nama. 

Belum lama ini Gunawan Maryanto berpulang. Selain bergelut di dunia film dan teater, ia juga dikenal sebagai seorang penulis. Kepada kita, ia meninggalkan kumpulan puisi dengan judul Kembang Sepasang (2017). Jika membaca, kita bisa menemukan beberapa puisinya mengandung nama, baik sebagai judul ataupun di dalam tubuh puisi. Bait dalam puisi berjudul “Windradi” terbaca: sebut aku batu/ sebab aku tahu/ tak ada lagi suaraku/ tak kubagi cintaku/ bahkan kepadamu. Bagi sebagian orang, nama ini belum pernah mampir di ingatan, kalah populer dibandingkan dengan nama-nama keluarga Pandawa. Windradi adalah bidadari kayangan. Sebagai bidadari, ia cantik. Ia akhirnya berjodoh dengan Resi Gotama dan  berketurunan Dewi Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa. Selain Windradi, nama-nama tokoh wayang yang lain dalam buku Kembang Sepasang, misalnya, si kembar Nakula-Sadewa, Kunti, Arjuna, Anjani, Amba, Supraba, Sumbadra, Surtikanti, dan Setyawati. 

Dalam dunia wayang, tokoh-tokoh lumrah punya nama lain. Windradi kadang disebut sebagai Dewi Indradi. Kedua anaknya yang laki-laki, Guwarsi dan Guwarsa juga punya nama lain, Subali dan Sugriwa. Anak-anak SD di Jawa pernah pening akibat diminta mengerjakan soal-soal terkait tokoh pewayangan. Mereka mungkin sempat bingung membedakan siapa itu Bima, Bimasena, Werkudara, Bratasena, Bayusuta, yang ternyata adalah satu sosok yang sama. Kesulitan menghafal nama-nama itu kadang belum cukup. Anak-anak masih harus menghafal nama gaman (senjata) atau silsilah keluarga.

Nama tak hanya rumit di kenyataan. Selain dalam dunia wayang, dalam novel pun para penulis  sering serius memikirkan nama tokoh ceritanya, seserius memberikan nama kepada anak. Pemilihan nama tokoh kadang ingin disesuaikan dengan karakter atau suasana yang hendak dibangun, atau paling tidak, nama itu ingin melekat kuat di benak pembaca karena meninggalkan kesan khas. Sabda Armandio menulis novel berjudul Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya (2015). “Kamu” yang biasanya dipakai sebagai kata ganti persona itu digunakan sebagai nama tokoh cerita. Si tokoh aku dan Kamu punya teman bernama Permen. “Nama asli atau bukan, aku tidak tahu. Sampai saat ini, aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang bernama ‘Permen’.” Begitu reaksi tokoh aku. Nama juga akan memengaruhi asosiasi ketika (pertama) tahu atau berinteraksi. “Permen gadis yang manis, ini agak aneh, maksudku adakah permen yang tidak manis? Akan tetapi, begitulah kenyataannya. Wajahnya tirus dan tidak dirias.” Di bab selanjutnya diceritakan bahwa aku dan teman-temannya pergi bersama. Pembaca tidak lagi dihadapkan dengan nama orang yang kurang lazim, melainkan pada nama jalan yang berasa biasa saja. “Kamu memarkir mobil di depan sebuah restoran vegetarian di Jalan Surya Kencana.” 

Nama jalan bisa meminjam apa saja: bisa nama pahlawan, tokoh, kota, tanaman, dan sebagainya. Oktober lalu mulai terjadi perdebatan mengenai nama sebuah ruas jalan di Jakarta. Nama jalan kali ini adalah urusan diplomatik Indonesia dengan negara lain. Pemberian nama jalan menggunakan nama tokoh ini jadi berita nasional dan mendapatkan tanggapan yang beragam. Masyarakat Indonesia tak semuanya sepakat. Mereka yang menolak, menganggap bahwa tokoh yang hendak dipakai sebagai nama jalan itu punya riwayat buruk dan semestinya tak pantas diabadikan menjadi nama jalan. Bagi yang setuju, mereka mendudukkan masalah penamaan ini secara berbeda.

Nama bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia terikat dengan cara pandang manusia terhadap kehidupan sosialnya. Setelah hidup sekian tahun, manusia  akan punya akal sosial sebagai efek pergaulannya dengan dunia luar. Nama-nama yang dikenal kadang tak lagi sekadar kata. Sekian orang akan bisa menandai bahwa nama-nama mengandung petunjuk. Karena itulah nama-nama mungkin berganti.  Nama-nama bisa diciptakan sesuai kepentingan dan keadaan yang dihadapi. 


Yuni Ananindra, penulis tinggal di Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s