Tanah dan Luka

Taci

HUJAN turun membasahi tanah, tapi tanah tidak naik “membalas” hujan. 

Tanah bisa jadi hal yang paling ditakuti oleh orangtua, yang terlalu mengutamakan kebersihan. Eh, jangan ke situ! Kotor! Eh, nanti kamu jatuh ke tanah! 

Dan lain lain. 

Sejak kecil, aku anak yang “tidak dipedulikan” ketika jatuh. Aku senang karenannya. Pada saat masih kecil, aku jarang menangis karena jatuh. 

Dulu, pada umur 4-6 tahun, aku sempat tinggal di Wonogiri, dekat Solo. Aku punya seorang sahabat di sana. Namanya Hasna.  Kami sering bermain bersama tentunya. Rumahku dan rumahnya hanya dibatasi sebuah selokan kecil. Sehingga, satu langkah saja, tibalah aku di kebun milik kakeknya. 

Sebenarnya ada jalan lain, yaitu lewat gerbang. Tapi, aku maupun Hasna jarang menggunakan jalan tersebut. Pada suatu hari, tembok setinggi 1 meter lebih didirikan di antara selokan itu. Namun, itu tak pernah jadi masalah. Kami malah jadi punya tempat untuk penekan.

Sempat sekali ketika aku tidak mau tidur siang, aku memanjat tembok dan jatuh ke kebun milik kakek Hasna. Aku segera bangkit meringis menahan semua luka di tubuhku. Berlari keluar pagar dan pulang. Bagaimanapun tanah melukaiku, aku tidak pernah lebay menggunakan Hansaplast atau Betadine.

Taci, penulis tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s