Terpikat Tomat

Lyly Freshty

BARU-BARU ini, anakku bilang kalau ingin memasak sendiri makanan bernama fritata tomat. Dia mau mengeksekusi resep sesuai termuat pada suatu buku. Sembari berkata penuh semangat: “Kita kan punya tomat banyak? Besok aku masakkan ini, ya?” Dia menunjuk dua halaman penuh warna bertuliskan resep makanan beserta gambar hasil masakan berjudul fritata tomat. Sejurus kemudian, dia berkomentar agak retorik kalau menu tersebut mudah dimasak. Sebab, sebetulnya bukankah sama saja dengan menu telur dadar tomat yang “biasa” kami buat. Penekanan pada kata “biasa” terasa perlu, maksudnya sebagai sesuatu yang memang sering hadir di meja makan kami. Bocah tujuh tahun yang sedang bersemangat menjajal resep ini sudah acap memasakkannya untuk seluruh keluarga.

Namun, kali ini, sematan nama fritata agaknya membuatnya terpikat. Meski setelah menekuri resep tertulis ternyata fritata itu sebelas dua belas dengan telur dadar. Sepertinya ada kesan kalau fritata merupakan menu baru yang belum pernah dicoba. Namanya saja jelas terasa asing baginya, bukan khas Indonesia. Apalagi ada banyak bahan-bahan tambahan selain tomat, seperti kentang, keju, susu, daun bawang, yang sifatnya sebetulnya optional saja, boleh disertakan boleh tidak. Aku mengangguk mengiyakan keheranannya dan menjelaskan kalau fritata dan telur dadar itu pada prinsip dasarnya sama-sama telur kocok. Fritata sebutan telur kocok goreng dalam bahasa Italia. Lalu, demi menyambut antusiasme bocah hendak turun ke dapur, aku pun mempersilakan keinginannya dengan bantuan minimal sekadar memastikan ketersediaan bahan-bahan yang diperlukan.

Kembali pada niat awal bocah ingin membuat fritata tomat. Ada akal begitu rupanya dia baru saja membolak-balik halaman buku berjudul Tomat untuk Anak  susunan Diana Damayanti, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2013. Kebetulan anakku itu sudah lancar membaca sendiri sekarang. Di tengah gerimis sore, melihat-lihat halaman memuat gambar-gambar masakan menggiurkan agaknya mendatangkan kehangatan tersendiri. Sebabnya, foto ilustrasi resep masakan terpampang di buku seolah tersaji setelah baru saja dimasak. Tampilan masih tertata rapi dan utuh di atas tatakan makanan memang sungguh mengundang khayal dan selera. Seketika hasrat ingin menikmati masakan muncul, demikian juga semangat memasak tiba-tiba bangkit. Apalagi bahan-bahan dan menunya adalah tomat yang merupakan kesukaannya sendiri. Tak ada lagi yang perlu ditunggu selain laksanakan!

Buku itu, sampulnya saja memang sudah menarik mata yang melihatnya, apalagi bagi anak-anak yang menyukai warna-warni meriah. Sampul bergambar buah tomat utuh, merah, dan besar, dengan latar hijau segar. Tanpa pandai membaca, anak yang melihatnya mengerti itu buku tentang tomat. Melihat anakku memegangi buku itu, terkenang kembali pada ajang tukar buku bekas baca yang diadakan oleh salah satu perpustakaan privat di Surabaya sekitar dua tahun lalu. Acara begini selalu mengundang antusiasme menukar buku-buku lama yang sudah bosan dibaca atau sudah enggan dibaca ulang dengan buku-buku lain. Meskipun hasil tukar buku bekas, rasanya seolah beroleh buku-buku baru. Terasa baru bukan karena masih rapi jali keluaran toko, melainkan sebab belum pernah terbaca sebelumnya.

Bocahku terpikat sampul buku dan ilustrasi isi penuh warna dari halaman depan hingga belakang. Namanya buku bekas tanpa segel, dia jadi bisa bebas menikmati dahulu lembaran demi lembaran buku dan menilainya sesuai kesan pribadi sebelum memutuskan memiliki. Terlebih, banyak foto contoh hasil resep masakan berbahan tomat yang membuat air liur ingin menetes dan hati menjadi riang memandangnya. Terlebih, anakku penyuka tomat dan makanan apa saja yang ada tomatnya asalkan tidak terlalu pedas. Tak heran, dia langsung tertarik ingin membacanya.

Aku jadi memeriksa buku itu sebelum betul-betul membawanya pulang. Di tengah-tengah gambar tomat besar pada muka buku terbaca judul Tomat untuk Anak. Lalu di pojok sampul tertera cuplikan tema membocorkan isi buku: “50 Fakta Tomat, 10 Ide Kreatif & 25 Resep Tomat untuk Anak”. Aku langsung paham kalau buku bertemakan tomat ini berusaha mengenalkan tomat melalui aneka macam informasi spektakuler seputar tomat dan pelbagai aktivitas terkait kreasi tangan serta masak-memasak. Kegiatannya tipikal yang disukai anak-anak. Tak heran anakku langsung antusias membaca-baca sendiri bahkan sebelum buku dibawa ke rumah.

Aku bayangkan, kalau anak yang belum pandai membaca pun, jika menyukai tomat, bakal langsung minta dibacakan buku ini. Lalu, kalau anak tidak suka tomat atau sama sekali tidak tertarik dengan tomat, bagaimana? Ada dua kemungkinan, buku ini bisa jadi menarik perhatian mereka untuk membaca hal-hal berhubungan dengan tomat atau malah berespon datar-datar saja. Dalam kata pengantar dan sinopsis, buku termaksud untuk membuat anak yang tidak suka tomat menjadi tertarik dan suka makan tomat dengan dampingan orang tua. Sebetulnya buku ini salah dari sekian judul dari buku serial bertujuan mengenalkan buah dan sayuran pada anak dengan alur penulisan yang sama. Seri lainnya ada tentang brokoli, wortel, paprika, bayam, labu kuning, apel, pisang, pepaya, alpukat, buah naga, dan stroberi. Pilihan-pilihan tema jatuh pada sayur dan buah yang tampaknya sering tidak disukai anak-anak. Anak susah makan sayur dan buah seperti sudah keluhan umum orang tua sehingga buku berharap sebagai solusi cerdas untuk membantu orang tua mengenalkannya melalui sajian informasi dan kegiatan menarik yang bisa dilakukan bersama anak.

Pengenalan bermula dari suguhan fakta-fakta unik terkait buah dan sayur yang sedang dibahas. Fakta-fakta tentang tomat ditampilkan dalam grafis kotak-kotak berupa potongan-potongan informasi tak lebih dari satu paragraf. Di bagian akhir buku, tertera sumber-sumber daring penyusun informasi dan inspirasi kegiatan yang menjadi tema buku ini. Mendapati wikipedia sebagai sumber tulisan sebetulnya membuat buku terkesan receh. Namun, barangkali, untuk pembaca anak di era digital tulen yang menjadi salah satu sasaran buku ini, membaca membaca intisari informasi tentang tomat dari buku tentu lebih seru dan tidak biasa. Tentu mudah saja mengajak anak-anak mencari informasi tentang tomat atau ide kreasi maupun resep makanan berbahan tomat di mesin pencari, tapi semuanya masih harus dicari yang berarti menambah waktu anak begawai. 

Berbeda dengan informasi dan ide kegiatan yang sudah dikemas dalam bentuk buku, terutama anak-anak, mereka akan beroleh pengalaman membaca kapan saja senang dan butuh sekaligus melatih fokus membaca dari buku. Kalau ada kesempatan untuk anak dan orang tua supaya sejenak beraktivitas nongawai, buku begini bisa jadi rujukan alternatif. Lumayan anak jadi mengerti kalau informasi dan ide-ide kegiatan pengisi senggang tak hanya ada di mesin pencari, melainkan bisa ditemukan dalam buku.

Dulu ketika dibacakan fakta-fakta seputar tomat dari buku ini, anakku hanya ber oh-oh ria. Lalu, sudah! Sepertinya cukup sekadar sebagai pengetahuan umum saja yang terserah mau diingat-ingat atau dilupakan begitu saja. Tak sedikit pun ada keheranan maupun ketakjuban saat mengetahui bahwa tomat bukan tanaman asli Indonesia melainkan “tumbuhan tomat berasal dari Amerika Selatan.. dan tersebar ke seluruh dunia atas jasa bangsa Spanyol.” 

Dia hanya plongo-plongo sesaat ketika disampaikan “pertama kali ditemukan tomat dianggap sebagai tanaman beracun dan atas jasa Colonel Robert Gibbon Johnson yang nekad mengkonsumsinya untuk pertama kalinya dan ternyata dia baik-baik saja hingga kita semua bisa menikmatinya sebagai sumber pangan sehat yang kaya nutrisi hingga sekarang: “Apakah kamu tahu varietas tomat itu puluhan ribu, orang pertama yang membuat sup tomat dan menuliskannya di buku resep, kalau warna tomat tak hanya merah dan hijau, dan kalau tomat itu sebetulnya golongan buah bukan sayur?” Semua informasi terkait itu ada dalam buku.

Anakku sudah pernah mempraktikkan sendiri beberapa ide kreasinya secara mandiri. Memang betul bisa dikerjakan mandiri karena bahan-bahannya mudah didapat di sekitar rumah. Anak bisa memilih mau membuat boneka jari berbentuk tomat, gantungan nama bermotif tomat, pigura foto, atau tatakan gelas berbentuk tomat, dan lain-lain. Misalnya, anakku sudah pernah membuat puzzle bergambar tomat. Kegiatan itu hanya membutuhkan polyfoam dan cat sebagai pewarna serta kemauan untuk berkreasi. Tak ada polyfoam, anak bisa berinisiatif menggantinya dengan kertas kardus bekas apa saja, melukis tomat secara bebas, lalu memotong gambar menjadi sembilan atau bahkan dua belas keping puzzle. Membuat sesuatu yang berguna berbasis ide tomat pun jadi.

Buat anak penyuka tomat, buku seperti ini sangat menyenangkan untuk dibaca-baca di kala senggang. Jelas tujuannya bukan seperti maksud tertulis di dalam buku yang menyatakan buku tentang tomat untuk memantik anak, yang pada umumnya dianggap sulit menikmati buah atau sayur seperti tomat, supaya suka makan tomat. Menurutku anak yang telanjur tidak suka tomat belum tentu tertarik membaca buku ini dengan sendirinya. Sehingga, memang tetap dibutuhkan peran aktif orang tua agar anak tertarik dengan tomat dan pada akhirnya suka makan tomat seperti terharapkan oleh penulis. 

Orangtua bisa membacakan, bisa melakukan kreasi bersama atau masak bareng anak. Demi anak segera menyukai makan tomat. Sebab, tomat itu bagus untuk kesehatan seperti tertulis sebagai informasi dalam buku, tomat sarat kandungan likopen, vitamin A, vitamin, C, dan potasium. Harap tomat dimasak untuk meminimalkan kandungan racun pada tomat hijau mentah. Tomat masak lebih kaya gizi dan gizinya lebih mudah diserap tubuh. Demikian hasil membaca informasi di dalam buku. Satu-satunya dampak nyata setelah membaca informasi tersebut, anakku tetap suka melalab tomat, tapi ikut memutuskan memilih tomat merah yang masak yang paling bagus untuk dilalap saat belanja di tukang sayur.


Lyly Freshty, penulis tinggal di Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s