Ibu, Anak, Arsitektur

Agita Y

“Pak Wijaya, arsitek itu sebenarnya siapa?” tanya Alvin penuh antusias.

“Alvin, arsitek adalah orang yang ahli dalam mendesain bangunan, interior, taman dan segala sesuatu yang terkait dengan dunia arsitektur,” jawab Pak Wijaya menerangkan.

“Arsitektur itu sendiri apa Dik Wijaya?” tanya ayah menimpali.

“Arsitektur adalah seni merancang bangunan. Dalam artian luas, arsitektur mencakup: merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari yang umum yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, lansekap/ taman hingga yang khusus yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk,” jawab Pak Wijaya.

DIALOG di atas merupakan pembicaraan antara 3 tokoh dalam cerita arsitektur anak berjudul Cita-citaku Menjadi Seorang Arsitek (2019) garapan Dwi Cahyo Putrarumawan. Mungkin ini semacam buku pengetahuan atau pengenalan profesi arsitek yang dibungkus dalam cerita. Sayangnya, jika dilihat gambar sampulnya “kurang anak-anak”. Padahal, tokoh utamanya anak kelas 5 SD bernama Alvin. Alvin dikisahkan punya minat dan bakat yang bagus untuk menjadi arsitek, terlihat dari kemampuan menggambar rumah yang diamati oleh ibu dan ayahnya sehingga ayah pun mengajak Alvin menemui Pak Wijaya: seorang kenalan ayah yang berprofesi sebagai arsitek agar Alvin bisa belajar langsung dari sumbernya. 

Percakapan awal yang saya pilih di atas mungkin bisa lebih diikuti oleh anak usia SD besar (4-6). Isi dalam novel pun bahasanya cukup rumit dan terlalu banyak data menurut saya meskipun maksudnya baik untuk pengenalan profesi. Maka, saya belum membacakan kisah tersebut kepada Gara, anak saya yang baru duduk di kelas 2 SD. Saat Gara suatu hari bertanya apa itu arsitek, saya hanya menjawab orang yang bisa atau punya pekerjaan mendesain dan merancang bangunan. 

Pertanyaan Gara tentang arsitek bukanlah pertanyaan tiba-tiba. Sebelumnya, saya sebagai ibunya yang lebih sering bersama dengannya cukup lama mengamati kesukaan Gara membuat rancangan rumah atau bangunan lainnya dari mainan-mainan yang dimilikinya. Mulai dari lego atau pasang-pasangan berbagai bentuk, balok-balok kayu natural maupun warna-warni dengan aneka bentuk, stik rangkai, dan mainan lainnya. Rancangan yang dibuatnya sering sangat imajinatif dan unik hingga saya sendiri sering terpana dengan karyanya. Dia juga sering bertanya, saya ingin dibuatkan bangunan apa. Lalu, saya sebutkan kamar tidur, perpustakaan, dan sebagainya. Kemudian Gara akan membuatkannya untuk saya dan meminta penilaian. Saya sulit menilai bagus atau tidak karena salah-salah kata nanti malah kontraproduktif. Biasanya saya spesifik menyebutkan saya suka bagian ini atau itu. Saya suka caranya memilih warna dan betapa idenya sangat kreatif untuk anak seusianya. Waktu itu usia Gara 5 tahunan saat mulai tertarik membuat bangunan. 

Saya membuat dokumentasi karyanya juga dalam bentuk foto dan video. Selain merancang dari mainannya, Gara juga sering membuat gambar rumah dan semacam peta atau denah. Saat usia TK, Gara juga sering minta dibuatkan labirin tantangan di kertas. 

Setelah saya mendalami apa yang saya amati, tiba-tiba saya teringat saudara sepupu jauh saya di Jakarta yang berprofesi sebagai arsitek profesional saat ini. Saya teringat waktu kecil kami bermain bersama. Sepupu saya suka bermain balok-balok kayu dan menggambar rumah juga. Saya sangat suka rancangannya karena unik bagi saya. Lalu, saya menarik benang merah: “Oh iya, kebiasaan di waktu kecil ternyata bisa menjadi petunjuk orang tua mengasah bakat dan minat anak.” Kenangan akan sepupu saya yang selalu menjadi juara kelas itu memberikan pencerahan atas apa yang harus saya lakukan. 

Maka saya mulai memperkenalkan istilah arsitek kepada Gara di usianya yang sudah 7 tahun ini. Dokumentasi tetap saya lakukan sambil memberikan dorongan semangat. Sebenarnya kadang kesal juga dengan sikap Gara, sebab waktu yang digunakan untuk membuat karya bangunannya bisa lama sekali, memakan waktu makan, waktu minum, dan waktu belajar hal lainnya. Gara terlalu asyik sehingga memaksa ibunya menjadi galak dan mengomel. Kadang harus mengambil sementara mainannya agar dia mau berhenti. Sebab, kesehatan fisik pun patut mendapat perhatian di usia pertumbuhannya. Jika dibiarkan, sampai tengah malam pun Gara kuat melakoninya. Gara paling fokus dan konsisten dalam kegiatan ini, tak seperti aktivitas lainnya.

Gara terlalu asyik sehingga memaksa ibunya menjadi galak dan mengomel. Kadang harus mengambil sementara mainannya agar dia mau berhenti. Sebab, kesehatan fisik pun patut mendapat perhatian di usia pertumbuhannya. Jika dibiarkan, sampai tengah malam pun Gara kuat melakoninya. Gara paling fokus dan konsisten dalam kegiatan ini, tak seperti aktivitas lainnya.

Karena saya ingin mendampingi Gara agar lebih terampil dan punya pengetahuan yang lebih baik seputar arsitektur (sebab saya sangat tidak paham), maka saya mencari berbagai informasi apakah ada sekolah atau kursus seputar arsitektur untuk anak: adakah buku-buku arsitektur khusus untuk anak. Saya akhirnya menemukan berbagai sumber. Ternyata sudah ada kursus arsitektur anak tapi bukan di Jogja. Lalu, buku-buku arsitektur untuk anak juga ada, saya dapat di salah satu lokapasar: Seri Arsitektur untuk Anak-Anak (1986) susunan Ir. Setyo Soetiadji. Saya lihat deskripsi dan foto produknya, sepertinya sangat menarik isinya. Saya merasa perlu membelinya, karena harganya pun tak terlalu mahal, sekitar 60 ribuan untuk dapat keenam bukunya.

Saya pun membeli buku itu. Memang lawas terlihat dari halaman kertasnya yang sudah berwarna kecoklatan di bagian pinggir dan mudah sobek jika tak hati-hati membuka halamannya. Namun setelah saya baca keseluruhan serinya, ternyata buku ini cukup ringan bahasanya untuk Gara, mudah dipahami dan seolah sang penulis sedang berbincang langsung dengan para pembaca cilik yang tertarik arsitektur. Saya belum menemukan buku tandingan untuk mengantar anak memahami arsitektur. Memang sudah ada buku anak yang berusaha mengenalkan profesi arsitek, namun penulisnya kemungkinan besar bukanlah arsitek. Sebut saja salah satu buku anak karya Stella Ernes yang berjudul Aku Ingin Menjadi Arsitek (2017). Dari segi isi dan ilustrasi, buku ini cukup lengkap dan mudah dipahami, membantu anak-anak untuk mengenal profesi arsitek. Ada lagi buku anak garapan Meilany berjudul Cita-Citaku Menjadi Arsitek (2009). Buku ini meskipun banyak gambar dan berwarna, tapi kalimatnya banyak dan huruf kecil-kecil, lebih sesuai untuk anak SD besar.

Setelah membaca dua buku seri, saya melihat ada perubahan dalam cara Gara membuat bangunan dengan legonya. Gara mulai mempraktikkan pembangunan bertahap, mulai dari membuat lantainya, memasang tiang penyangga baru meletakkan atap, persis seperti yang dituliskan di buku. Saya juga mengajak Gara melihat-lihat rumah di sekitar tempat tinggal kami di desa. Meskipun desa, tapi banyak rumah sudah modern seperti di kota. Kami berjalan-jalan sambil mengamati dan membandingkan, mengingat model atap yang sudah dijelaskan. 

Bermain lego, menggambar bangunan, belajar arsitektur sejak kecil, belajar budaya berkota, bukan semata-mata berharap anak saya menjadi arsitek masa depan. Tentu doa tetap dipanjatkan agar impian menjadi kenyataan. Namun, ada hal yang lebih penting dari itu. Ternyata kaitan dari semua pengetahuan ini nantinya dapat berguna saat anak-anak dewasa: menyadari sebuah masyarakat membangun kebersamaan. Anak-anak juga bisa menjadi lebih peka dan mempertanyakan sesuatu. Perubahan terjadi di kota dan timbul masalah yang menumpuk. Mereka tidak harus selalu menjadi arsitek dulu untuk paham.


Agita Y., Ibu menulis di Kaum Senin, tinggal di Jogjakar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s