Permen di Film dan Gulali di Kenangan 

Indri K.

DI Kompas 11 Oktober 2021, kita membaca berita berjudul “Drama Korea dan Diaspora Produk Indonesia”.  Berita membahas sebuah produk Indonesia justru melakukan promosi melalui drama produksi Korea Selatan. Memang tak dipungkiri, Korea Selatan berhasil menguasai  dunia lewat dunia hiburan. Mulai grup K-Pop hingga drama Korea. Ekspansi mereka semakin sukses akibat meningkatnya film-film yang dipasarkan lewat layanan streaming di masa pandemi. Penonton tidak perlu lagi membeli DVD atau berlangganan televisi kabel yang jam-jam menontonnya tidak fleksibel. Asal ada jaringan internet, segala macam hiburan dapat dihadirkan lewat gawai ataupun televisi pintar.

Tingginya pasar juga diiringi semakin kencangnya mereka memproduksi drama. Bila dihitung kasar, dalam setahun mereka bisa memproduksi sekitar 60-70 judul drama, tidak termasuk produksi film layar lebar. Netflix merupakan salah satu layanan streaming yang membuat “drakor” semakin mengglobal. Beberapa “drakor” dan film Korea berhasil menduduki 10 besar peringkat dunia, yang tercatat sekitar 190 negara. Meski untuk drakor, tidak semua negara ber-Netflix membeli hak tayangnya.  Salah satu perusahaan di Indonesia, PT Mayora Indah Tbk., melihat peluang ini dengan memasarkan produk permen kopi mereka, Kopiko. Beberapa  judul drama yang pernah menampilkan iklan Kopiko: Vincenzo, Mine dan Hometown Cha Cha Cha.  

Artikel menambahkan, promosi sejenis ini disebut sebagai ekonomi kreatif: “… sebenarnya sektor ekonomi kreatif telah tumbuh cukup lama. Namun, baru sekitar lima tahun terakhir pelaku industri makanan-minuman memanfaatkannya untuk meningkatkan pasar di dalam dan luar negeri.”  Salah satu kreativitasnya dengan cara menampilkan produk yang dipromosikan lewat PPL (iklan yang sengaja ditampilkan dalam sebuah adegan, biasanya tidak terlalu mencolok). Adegan biasa hanya berlangsung beberapa detik, ditambah sedikit dialog dari aktor. Misal: “Hmm… setelah memakan permen ini  aku langsung merasa segar.” atau “Kita sudah tidak sempat ngopi, coba ini saja.” Kalimat diucapkan sambil menyodorkan sebungkus permen Kopiko kepada rekannya. 

Meski hanya ditampilkan beberapa detik, harga yang ditawarkan termasuk  fantastis. Untuk 4 kali kemunculan dalam sebuah serial drama popular, butuh menganggarkan dana sekitar lima miliar rupiah. Jika harga sebungkus Kopiko kemasan blister sekitar dua puluh lima ribu rupiah maka bisa dihitung berapa bungkus yang dibutuhkan agar sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Bagi perusahaan pengiklan, bisa saja hal ini lebih menguntungkan karena saat penonton memutar kembali adegan drama tersebut maka produk mereka juga turut ditampilkan ulang. Berbeda dengan mempromosikan suatu produk lewat tayangan televisi konvensional, iklan ditampilkan terpisah dari film utama dan tidak dapat diputar ulang.  

Lagi-lagi, Korea kembali mempopulerkan dan membuat sejenis permen jadul mereka mendunia lewat tayangan “drakor” berjudul Squid Game yang merupakan produksi Netflix. Dalam drama, Dalgona dijadikan sebagai salah satu subjek permainan yang menentukan hidup mati pesertanya. Peserta diharuskan memotong Dalgona sesuai bentuk yang mereka pilih dengan sebatang jarum. Ada empat pilihan bentuk potongan: lingkaran, segitiga, bintang, dan payung. Para penonton di luar Korea turut penasaran, membuat mereka mencari resep dan berusaha membuat Dalgona-nya sendiri. 

Kita dapat membacanya di Kompas edisi 29 Oktober 2021, “Adalah Dalgona atau ppopgi, permen Korea berbahan dasar gula dan soda kue yang dibuat pasca-Perang Korea (1950-1953). Waktu itu, permen yang dijajakan di kaki lima ini merupakan jajanan alternatif bagi anak-anak yang sebelumnya terbiasa mendapatkan permen cokelat dari tentara Amerika.” Kekuatan ekonomi kreatif mereka, tidak hanya berhasil memviralkan suatu adegan drama tapi juga menghidupkan kembali kenangan akan sebuah jajanan yang mungkin sudah banyak dilupakan masyarakat. Dalgona membuktikan lewat pemikiran dan penyajian yang kreatif sebuah produk klasik bisa kembali dihadirkan, tanpa kehilangan sejarah dan esensi yang menopangnya.

Sebenarnya tak jauh berbeda dengan Dalgona, anak-anak SD pada masa 1980-an juga akrab dengan jajanan kaki lima yang sama-sama berbahan dasar gula. Kita menyebutnya, gulali.  Biasanya, bapak penjual gulali memakai kotakan kayu yang dipikul. Di dalam kotakan, terdapat loyang berisi adonan gulali berwarna merah yang dipanasi. Tujuan pemanasan supaya adonan tersebut dapat dibentuk sesuai kreativitas bapak penjual. Harga sebatang gulali bentuk sederhana masih sekitar dua puluh lima rupiah. Biasa, saat membeli, pelangganlah yang memilih bentuk cetakan yang mereka inginkan. Cetakan dibuat dari kayu yang diukir hingga bermotif menyerupai bunga atau bola. Cara kerjanya mirip  stempel segel, bulatan adonan yang masih hangat dipencet ke cetakan hingga motif yang ada pada cetakan tercetak di gulali, kemudian diberi tusuk bambu agar dapat dipegang seperti permen loli. 

Gulali berongga juga bisa dihasilkan dengan cetakan yang berpasangan, seperti berbentuk jagung. Adonan yang masih hangat diletakan di dalam cetakan berpasangan yang ditangkupkan. Adonan tadi diberi selang untuk tiupan masuknya udara sehingga adonan bisa mengembang dan tepiannya tercetak bentuk sesuai cetakan. Tanpa cetakan, penjual dapat membentuk burung yang bisa ditiup, berbunyi seperti peluit. Rongga “peluit” dibuat dari kawat yang dipanaskan. Penjual dapat membentuk pita yang indah. Tentu saja bentuk gulali sangat bergantung dari ide dan kreativitas tangan sang penjual.  

Munculnya permen-permen modern dalam kemasan tentu saja punya andil mendepak gulali dari jajanan kaki lima. Ditambah, proses pembuatan gulali dinilai kurang higienis karena langsung menggunakan tangan dari penjual, menyebabkan permen ini semakin terlupakan. Meski sudah tergolong langka, kita terkadang masih bisa menemukan dijual di tempat keramaian. Namun dalam kondisi sudah berbentuk dan terbungkus.  Penyajian siap saji seperti ini tentu saja mengurangi keunikannya yang pada mulanya merupakan sebuah atraksi dari penjualnya. Kita boleh berharap, mungkin saja suatu saat ada pihak yang dapat kembali menaikan derajat gulali “jadul”lewat ekonomi kreatif. 

Permen memang tergolong produk kecil, sepele dan harganya relatif murah. Namun siapa sangka, dengan penggarapan yang tepat dan dikemas dengan apik, permen dapat mendunia yang turut menopang tradisi dan sejarah.  


Indri K., penulis tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s