Ujung Waktu

Anggrahenny Putri

KELAHIRAN yang ditunggu-tunggu telah datang. Seorang bayi dilahirkan oleh ibunya. Kerabat bersuka cita. Terkirim ucapan selamat berbentuk tulisan melalui pesan singkat. Sementara, rumah tiba-tiba ribut suara bayi merah menangis. Tamu tak peduli kebutuhan ibu beristirahat, memulihkan diri usai bersalin. Saudari dari jauh bertamu membawa bungkusan kado besar tak terbungkus karena tak muat masuk tas plastik sekalipun. Ialah kakak dari sang ayah bayi. Sepasang suami istri pantas dipanggil pakdhe-budhe, mengingat garis keturunannya. Enggan menyandang gelar pak gedhe dan bu gedhe, mereka berdua memilih dipanggil ayah-bunda atau om-tante dengan alasan panggilan pak gedhe dan bu gedhe teruntuk ia yang tua seperti pakdhe-budhe kerabat lain. Tua bukan kebanggaan. Menolak tua!

Menganggap muda idaman. Renta menjadi ketakutan dan sungguh-sungguh tak ingin. Menjadikan penyebutan muda sebagai kata andalan bagi pengiklan. “Hai, sobat yang kece dan masih merasa jadi kawula muda, jangan ketinggalan dong…” seolah Chiki saat beriklan di majalah Hai, 14-20 April 1987, mengetahui jika semua orang ingin muda. Ajakannya pada kawula muda mengunyah chips, makanan ringan pada kebiasaan wajib bahagia. Ini ditunjukkan melalui seusai kalimat ajakan yang berlanjut: “Pastikan Ultra Chips mendampingimu di saat hura-hura, atau di saat santai kapan saja.” Muda artinya tentang kesenangan. Tak dapat hura-hura dan bersantai saat muda, sungguh nelangsa. Itulah mengapa kebanyakan orang ingin muda dan bersenang-senang. Tak siap menanggung beban menjadi menua itu kepastian kecuali dicegat kematian terlebih dahulu.

Kunci kehidupan bertujuan pada kebahagiaan. Bahagia yang didasari oleh kepemilikan. Mulai kepemilikan terhadap harta benda, kepemilikan terhadap manusia lain. Pasangan yang termiliki, sejumlah anak yang berhasil dikuasai. Kehilangan beda dan badan lain merupakan musibah besar. Tumpuan kebahagiaan terhadap barang dan wujud titipan dari-Nya. Mudah saja tercerabut saat Tuhan sedang menghendakinya. Kebahagiaan lalu bergeser maknanya, pada hal-hal kecil. Katanya, bahagia itu sederhana. Padahal kebahagian saat menerima gaji di awal bulan ada tenaga dan kepayahan sebulan sebelumnya. Saat menikmati masakan lezat menggugah selera ada tangan yang terpercik minyak. Kebahagiaan ibu yang anaknya bertambah berat badannya sebelumnya ada tangisan ibu yang kalut kesulitan menyusui anaknya yang masih baru lahir. Ada jerih payah. Selalu!

Nyatanya kesenangan memang perlu diusahakan, berbagai cara dilakukan. Terpantau pada kebutuhan akan kesenangan maka penjerat keuntungan sebesar-besarnya pun tak habis akal. Kemudahan diberikan. Berbagai alat, sistem dibuat untuk memudahkan manusia. Sedekat mungkin manusia di dekatkan dengan kebutuhannya. Serba mudah, serba gampang! Manusia tinggal bekerja dan bekerja. Membanting tulang dan melakukan apapun demi tercapainya kebahagiaan. Hingga akhirnya kebahagiaan melihat burung-burung terbang dan berkicau tak lagi terlihat indah, karena bahagia telah menjadi kebanggaan bolak balik dapat menaiki burung besi keliling negeri. Tempe gorengan ibu tak lagi menghangatkan hati dan menciptakan kenangan pada masa berkumpul dengan keluarga, melainkan kehangatan pada daging tebal yang dipanggil oleh seorang chef serta berfoto bersama kawan dan mendapatkan “like” pada status sosial medianya. Bukan lagi siapa, apa, dan bagaimana tapi berapa dan berapa.

Berusia muda maupun tua tak ada beda. Muda dan tua ingin berkecukupan. Sedangkan usia berujung waktu. Banyaknya usia terhitung dari tahun ke tahun, namun ketetapan berakhir di satuan, belasan atau puluh-puluh masih menjadi rahasia milik-Nya. Bahkan tubuhnya sendiri punya bukan miliknya sendiri. Lalai pada pertanyaan besar tujuan ia lahirkan lalu dimatikan. Semena-mena pada anugerah hidup bukanlah kebijaksanaan menempuh perjalanan ujung waktu.


Anggrahenny Putri, Penulis tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s