Masa Lalu, Tragedi …

Yunie Sutanto

Kembali kepada Kapiten Nie Hoe Kong yang bernasib malang. Sebetulnya Nie Hoe Kong menjadi beken dalam sejarah kapiten Cina di Batavia justru karena kejadian “pembantaian Cina” tersebut. Pemerintahan VOC menganggap Nie Hoe Kong bertanggung jawab atas kejadian yang menghebohkan seantero negeri. (B Hoetink, Nie Hoe Kong: Kapiten Tionghoa di Betawie dalem Tahon 1740,  2007)

BUKU ini membawa pembaca melintas masa ke Batavia abad ke-18. Di halaman 11, terlihat dua buah gambar yang bisa membawa pembaca melintas masa. Gambar di bagian atas tampak pemandangan dari laut kota Batavia pada 1726, beberapa tahun sebelum terjadinya peristiwa berdarah Oktober 1740. Gunung Gede dan Gunung Salak terlihat jelas dari pelabuhan dengan mata telanjang menyerupai gambar latar kota Batavia. 

Foto amatir dari kamera HP  yang diunggah seorang netizen di Jakarta juga menampilkan dua gunung ini, masih terlihat berdiri menjadi latar belakang kota Jakarta. Masih bisa dilihat dengan mata telanjang walau harus dari ketinggian, itu di wilayah Jakarta Pusat. Jika dari pelabuhan, niscaya dua gunung tak tampak, tertutup gedung-gedung tinggi yang sudah memenuhi Jakarta. Foto beredar di grup-grup WA warga penghuni apartemen. Foto diambil dari ketinggian lantai 20 balkon apartemen di area Kemayoran yang menghadap ke selatan. Dua gunung ini tetap agung berdiri, seolah menjadi saksi bisu yang terus menyaksikan perkembangan kota yang Jakarta dari abad ke abad. 

Gambar di bagian bawah melukiskan kehidupan masyarakat Cina di Batavia pada abad ke-18 . Buku kecil ini diterjemahkan dari artikel berbahasa Belanda ke dalam bahasa Melayu oleh Liem Koen Hian untuk membeberkan peristiwa 1740. Pembaca diajak memiliki pengalaman membaca sebuah buku dalam ejaan kuno yang (ternyata!) memiliki kenikmatannya tersendiri. 

Jabatan kapiten bukanlah jabatan enteng. Souw Beng Kong, yang dikenal sebagai orang Cina pertama di Batavia yang beroleh gelar Kapiten Cina, contohnya. Berkat kemampuan gaulnya, ia menjadi sahabat baik Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Makamnya di Gang Taruna, Kampung Mangga Dua pun masih dijadikan tempat ziarah hingga hari ini. Syarat menjadi kapiten adalah serupa dengan syarat menjadi wedana pada abad ke-18 yakni harus kuat secara materi, bisa bergaul multikultural dan memiliki latar belakang keluarga yang disegani golongannya. 

Phoa Beng Goan, kapiten kedua Tionghoa pun tercatat sebagai pembangun sodetan kali Ciliwung yang hingga kini masih terlihat ada di Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Jabatan kapiten teranggap bergengsi sebagai kepala golongannya. Setiap golongan memiliki kapitennya masing-masing. Cara ini memang salah satu bagian dari dijalankannya politik divide et impera oleh Belanda. Masa itu penduduk Batavia dikelompok-kelompokkan menurut ras dan golongannya. Ada kapiten mewakili suku Arab, pribumi dan Portugis. Tempat bermukim pun diatur sesuai golongannya oleh pemerintah Belanda. Tak heran jika hingga kini masih tersisa jejak peninggalannya berupa Kampung Arab di kawasan Condet dan Kampung Portugis di kawasan Tugu. Pecinan ada di kawasan Glodok dan Mangga Dua. Cara memecah-mecah rakyat jajahan ini terbukti ampuh bagi penjajah. 

Tak heran jika hingga kini masih tersisa jejak peninggalannya berupa Kampung Arab di kawasan Condet dan Kampung Portugis di kawasan Tugu. Pecinan ada di kawasan Glodok dan Mangga Dua. Cara memecah-mecah rakyat jajahan ini terbukti ampuh bagi penjajah.

Di antara 21 kapiten yang pernah menjabat di Batavia, nasib Nie Hoe Kong paling tragis. Tragedi kerusuhan dan pembantaian berdarah orang Cina di bulan Oktober 1740 terjadi di masa jabatannya. Ia pun dianggap bertanggung jawab sebagai kepala suku dari orang Cina. Nie Hoe Kong adalah putra sulung Letnan Ni Locko. Ia dilahirkan di Betawi sekitar tahun 1710, menjadikannya sebagai seorang peranakan Tionghoa di Nusantara. Ia menduduki jabatan kapiten, 11 September 1736, hanya empat tahun sebelum peristiwa pembantaian.  

Adanya pertemuan gelap para pemberontak di ladang miliknya di daerah Bekasi serta keterlibatan kakak iparnya dalam pemberontakan yang coba dilakukan para kaum Tionghoa memberatkan tuduhan padanya. Padahal, yuridiksinya sebagai opsir Tionghoa hanya dalam tembok kota, bukan di luar tembok kota. Jika para pemberontak Tionghoa tinggal di luar tembok kota, tentunya bukan berada dalam wewenang sang kapiten. Nie Hoe Kong dan para Tionghoa yang dibantai di dalam tembok kota menjadi tumbal amarah khalayak. Ibarat peribahasa yang mengatakan karena nila setitik maka rusak susu sebelanga. Ulah beberapa penjahat Tionghoa membuat semua warga Tionghoa terkena dampaknya. 

Meski Nie Hoe Kong ditangkap dan disiksa berat, ia tetap menolak mengaku terlibat dalam perkara tersebut. B Hoetink, penulis artilel yang dibukukan ini, memang pernah bertugas sebagai pejabat Kompeni yang menangani urusan Cina di Hindia Belanda. Hoetink menuliskan betapa pengadilan atas Nie Hoe Kong berjalan amat bertele-tele. Tiga tahun persidangan barulah keputusan pengadilan keluar. Terbaca di halaman viii bahwa pada 22 Mei 1744, ia dijatuhi hukuman buang (deportasi) ke Sri Langka. Hukuman buang selama 25 tahun tersebut dianggap sangat terhina bagi seorang mantan kapiten. Harta yang disita darinya pun dikembalikan setelah dikurangi ongkos pengadilan sebesar 16,000 real. 

Keberatan diajukan oleh Nie Hoe Kong didengarkan dan hukuman buang pun dipindah ke Ambon. Anak dan istrinya diperbolehkan ikut ke Ambon. Banyak pula orang Tionghoa yang rela ikut bersamanya dalam pembuangan ke Ambon. Pada tanggal 12 Februari 1745, dengan kapal “de Pallas” mereka berangkat menuju pembuangan. Tak lama dalam pembuangan, tepatnya 25 Desember 1746, Nie Hoe Kong meninggal. Tidak jelas dimana letak makamnya ataukah abunya hingga hari ini.


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s