Novel dan Nostalgia Bahasa

Yulia Loekito

BARU-BARU ini, Randu (10 tahun) nyerocos terus ngajak ngobrol tentang istilah-istilah ajaib—bagi telinga mamanya—yang baru ia pelajari. 

“Mah, tau nggak apa itu GG?” 

“Hah! Apa itu?” 

“GG itu artinya good game. Itu buat nyindir antargamer gitu, lho. Kalau mau memuji gamer lain itu bilangnya GGWP,  good game well played, ” begitu jelasnya panjang lebar berapi-api. Randu mengungkapkan betapa senangnya ia bisa paham arti istilah-istilah yang sering digunakan para gamer itu. 

Walah, mama melongo takjub sekaligus berusaha mencerna. Mama sudah agak terbiasa dengan istilah pro, yang berarti sudah jago mainnya atau noob, yang berarti masih amatiran. Istilah-istilah itu sering dipakai Randu dan anak-anak lain waktu ngobrol tentang game daring. Tapi, GG dan GGWP itu sama sekali baru. Kira-kira proses serupa dirasakan mama beberapa tahun lalu saat menerima kata-kata kepo, baper, dan sejenisnya. Sampai akhirnya cukup fasih menggunakannya saat ngobrol dengan yang lebih muda. 

Eh! Tapi, mama sering keceplosan ngomong kata-kata yang igunakan genarasi 90-an: kece, mejeng, atau ngeceng. Kalau sudah begitu, giliran Randu atau teman-teman yang lebih muda bengong dan minta penjelasan. Di saat-saat seperti itu pecahlah tawa dengan komentar standar: “Nah, ketahuan umurnya, kan!” Bahasa bisa jadi penanda generasi-generasi. 

Kita jadi kangen saat membaca novel berjudul Vanya Kenduri Karet (1994) gubahan Hilman dan A Mahendra. Vanya  tak sepopuler Lupus atau Olga tapi tak kalah gokil dan bikin ngakak. Sayang sekali, kalau buku Vanya belum pernah terbaca. Buku patut masuk daftar nostalgia bermakna pencipta senyum dan gelak tawa. Generasi 90-an pasti cengar-cengir senang waktu membaca kata-kata dalam novel. Kita nikmati: “’Kamu, Dan? Mau bela-belain ke Taman Lalu Lintas buat ngecengin bayi?’ tanya Vanya terbelalak.” Dan ini: “Setelah itu Dani sibuk memberikan pengumuman ke seluruh anak kos mengenai rencana ngeceng massal di Taman Lalu Lintas. Tentu saja cewek-cewek centil itu langsung berteriak-teriak histeris kayak mau jumpak Michael Jackon.” 

Hari ini kita lebih sering mendengar kata nongkrong atau nongki dibanding ngeceng atau mejeng. Juga kata imut atau kiyowo—dari bahasa Korea—lebih sering terdengar daripada centil. Ah! Begitu dinamisnya bahasa, selain penanda, bahasa juga bisa jadi jembatan nostalgia yang magis. Oh, lha! Tentu bukan cuma itu. Bahasa tentu sangat bisa jadi tombol mesin waktu melacak sejarah. Kita simak lagi kutipan seolah ringan dari Vanya: “Tiba-tiba matanya berbinar-binar gembira setelah meneliti kalimat yang dibuat Vanya ternyata nggak diberi titik. Mulailah dia berkhotbah panjang-lebar mengenai titik. Yus Badudu aja lewat!” 

Aha! Yus Badudu disebut dalam novel. Kita jadi ingat betapa besarnya kiprah JS Badudu dalam sejarah bahasa Indoesia. Dalam majalah Intisari terbitan 1980-an, JS Badudu tak pernah absen menulis rubrik Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Selain bicara soal kosakata, kalimat yang benar, JS Badudu juga menulis tentang asal-usul kata serta pendapatmya tentang itu. Kita serap tulisannya pada majalah Intisari terbitan Juni 1985: “Bahasa Indonesia dewasa ini tidak lagi sama benar dengan bahasa Melayu asalnya. Banyak perubahan yang terjadi di dalam bahasa itu dibandingkan dengan bahasa asalnya. Jika diteliti kamus bahasa Indonesia yang ada dewasa ini kemudia kita hitung berapa jumlah kata yang asli Melayu dan berapa jumlah kata yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing, mungkin kita akan terkejut bila mengetahui bahwa jumlahnya mungkin sudah berbanding 1:1 dan jumlah kata yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa  asing makin lama akan bertambah besar, sedangkan dari bahasa Melayu boleh dikatakan tidak bertambah lagi.”  Wuih! Ya, memang benar begitu. Setidaknya, hari ini kita menjadi saksi betapa kosakata dan pemakaiannya berkembang begitu rupa dengan berbagai macam konsekuensi dan kerumitannya. Kita tak menyangka satu kalimat tentang Yus Badudu dalam novel Vanya bisa jadi pemantik berbagai pemikiran, kesadaran tentang dinamika bahasa, juga nostalgianya. 

Hanyut dibawa nostalgia oleh tulisan Hilman dan A Mahendra dalam Vanya, kita jadi tergoda menilik buku Generasi 90-an susunan Marchella FP ( 2015). Dalam buku yang memang dibuat untuk tujuan nostalgia kaum 90-an itu kita juga menemukan nostalgia bahasa. Kita baca: “Di era ini banyak tercipta bahasa dan becandaan yang sering dipake buat komunikasi sehari-hari, mungkin beberapanya sisa bawaan generasi 80-an. Misalnya aja yang diselip huruf ‘OK’ semacem Bokap, Nyokap, Boil, Spokat, dkk.” Juga ada ada daftar pendek Singkatan dan Becandaan 90-an  yang bikin generasi 90-an pembaca Lupus, Olga, dan Vanya senyam-senyum nggak karuan. “Dapat salam dari Eda …! Eca siapa?! E … ca … pedeh …’” atau “’Ah dasar Bimoli’ (Bibir Monyong 5 centi).” 

“Hayo, Randu! Mama juga lumayan ‘kan! Walaupun baru berkenalan dengan GG, GGWP juga OP (Over Power), koleksi kosakata mama lebih bervariasi dari kosakata gamer-mu.” Kalau mama bilang begini, mungkin Randu hanya akan mengangkat alis sebentar, lalu berlalu pergi sambil bilang, “Ah, Mama ini ….”   


Yulia Loekito, penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s