Bersalaman Tanda Tanya

Marhamah

SEJAK dulu, kalimat berakhir tanda tanya punya masalah. Kalimat-kalimat dengan tanda tanya terdengar keras, lembut, datar, kasar, atau sopan meminta jawaban. Orang-orang pintar suka bertanya. Orang-orang bertanya itu cerdas dan membuka masalah. 

Murid-murid di sekolah menghindari jawaban. Ujian berlimpah kalimat tanya menguras daya dan tenaga murid berpikir merasa sengsara. Apalagi jika jawaban terduga salah. Apakah, kenapa, mengapa, dan bagaimana bergantian memodelkan kalimat-kalimat meminta, menuntut, menuduh, dan menduga. Kita menghadapi cobaan dalam permintaan, tuntutan, dan tuduhan berhadapan dengan kalimat.

Kalimat membikin dongkol jelas punya jawaban, tetap ditanyakan. Kadang kita menelisik kedalaman pertanyaan dimaksudkan meminta jawaban. Bisa saja kalimat  sebenarnya sedang menyangkut persetujuan. Kalimat-kalimat tanya sedang membangun ruang persidangannya sendiri. Kita terjebak dalam sangkaan dan sanggahan. Pelan-pelan hanyut dalam anggukan-anggukan. Martabat kalimat sedang dipertaruhkan di persidangan kalimat tanya. 

Begitu banyak kalimat tanya, begitu pula cara menanggapinya. Cara sangat menggelitik dengan membaca Pippi si Kaus Panjang. Anak yang hidup seorang diri teranggap jauh dari kewajaran bagi orang sekitar. Orang-orang berkehendak kuat agar Pippi tinggal di panti asuhan. Terjadi sidang tanya di Pondok Serbaneka tempat Pippi tinggal. Pertanyaan meluncur oleh dua orang polisi. 

“Apa katamu? Jadi soal itu sudah beres?” tanya salah seorang polisi. 

“Di mana letak panti asuhan anak-anak itu?”

“Di sini,” kata Pippi bangga. “Aku ini kan anak-anak. Dan aku mengurus diriku sendiri, lagi. Lagi pula, panti itu artinya rumah. Betul, kan? Jadi, rumahku ini bisa dibilang panti asuhan anak-anak, karena di sini aku mengurus diriku sendiri.” 

Nalar mengusulkan jawaban Pippi membikin jengkel para polisi. Pippi dikejar hingga ke atap dan pohon. Ternilai berlebihan sikapnya, dua polisi dilempar Pippi hingga keluar pagar. Duh! Akibat pertanyaan membikin sakit-sakit di badan polisi. 

Kita terpahamkan perubahan bermusabab pertanyaan-pertanyaan dari orang berpikir. Pikiran membuat orang merenung dan mempertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan itu banyak muncul di novel berjudul Kooong gubahan Iwan Simatupang. Membaca pertanyaan ternyata harus pelan-pelan, tidak grusa-grusu dan ditimang-timang. Kalau tidak begitu, geger tanda tanya menghebohkan orang sedesa. 

Permenungan itu bertanya pada diri. Dalam kekacauan yang terjadi di desanya, Pak Sastro memutuskan pergi. Keputusan hasil permenungan agar beban sedihnya tak ikut ditanggung orang sekitar. Pak Sastro memutuskan untuk melakukan pencarian perkututnya dan keluar dari desa. Dalam perjalanan, orang-orang ditemui Pak Sastro ditanyai perkutut. Perkutut biasa yang selalu ditanyakan Pak Sastro membuat orang yang ditemuinya bertanya balik: “Tidak ada kooongnya? Kalau begitu perkutut bisu. Perkutut gule! Orang sinting! Ha! Ha! Ha!”

Pak Sastro sedih, termenung, dan bertanya: “Kenapa mereka anggap dia sinting? Karena dia telah memelihara perkutut yang biasa saja? Adakah milik kita di rumah istimewa semua? Takkah ada di antaranya kursi tua yang sudah reot, rotannya bolong di sana-sini? Takkah ada di antara anak-anak kita seorang dua anak yang biasa saja, tak punya keistimewaan apa-apa, di sekolah jadi murid biasa dengan angka rata-rata 5 atau 6? Apakah anak-anak seperti ini harus kita cekik lehernya, kita buang ke dalam WC?” 

Banjir pertanyaan Pak Sastro mengusik kita yang sedang membaca. Anggapan telanjur dipaku pada yang tidak biasa: cerdas, bagus, istimewa, bernilai, dan beralasan. Kita sejak lahir tak biasa menganggap biasa yang biasa. Orang terdorong biasa meremehkan yang biasa. Kita hilang rasa pada yang biasa. 

Kita biasa melihat matahari terbit di timur saat pagi hari. Bersamanya, Bumi menggeliat. Tanaman senam. Burung bercicit. Kupu-kupu terbang riang. Kita sibuk dengan diri: menyiapkan kebutuhan hari itu, mandi, berak, makan dan hanyut dengan hari. Matahari tak mengesankan kita terbiasa mengalami hari. Kita lupa bertegur sapa dengannya di awal tadi. Tiba saat matahari sedang cuti, mendung tebal menutupinya, kita menjadi-jadi bertanya. Pertanyaan dimulai dengan sorot sinis mata kepada langit: “Kok mendung?”, “Bagaimana kalau hujan?”, “Oh, bagaimana jemuranku?”, “Kenapa aku jadi males kalau mendung begini?” Kejadian tak biasa membikin kita gila tanda tanya.

Mungkin sudah jadi pekerjaan otak manusia, kesan terikat dengan penilaian dan anggapan. Sesuatu yang biasa terduga lebih mudah terlupakan. Kita kaget dengan orang memilih hal-hal biasa. Kekagetan itu bersalaman tanda tanya. 


Marhamah, penulis tinggal di Pasuruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s