Jaket, Jaket, Jaket

Kartika Wijayanti

JAKET, benda yang harus saya punya! Saya punya alergi terhadap sinar matahari. Begitu kena panas, kulit saya akan bintik-bintik seperti terbakar dan gatal. Maka, saya wajib memakai jaket. Jaket juga berfungsi untuk menutup tubuh bagian atas saya dari pandangan orang. Saya tidak suka. Saya termasuk aliran rapat menutup aurat. Kalau perlu, semua dikrukupi. 

Menggali memori mengenai jaket-jaket yang saya pakai sejak SMA, terentang jelas betapa jaket saya terkait erat dengan perekonomian, khususnya perekonomian keluarga. 

Jaket saya yang paling memorable sewaktu SMA adalah jaket Suzuki. Itu jaket pemberian bapak. Bapak diberi oleh orang yang membeli motor Suzuki. Jaket berwarna cokelat tua di bagian tubuh dan warna cokelat muda di bagian lengan. Lalu, ada tulisan Suzuki di belakang. Warna putih. Apakah bagus? Tentu saja tidak. Dilihat sekilas saja saya langsung tidak suka. Bukan tipe jaket yang akan saya beli kalau saya punya uang sendiri. Tetapi, yang ada hanya itu. Saya membutuhkannya. Saya terima dan pakai. 

Jaket itu menemani saya selama tiga tahun saat SMA. Meski buruk rupa, jaket itu memberikan perlindungan kepada saya sebagaimana mestinya. Ia melindungi kulit saya dari sinar matahari. Yang paling penting, ia memberikan perlindungan kepada saya dari tatapan orang terhadap tubuh saya yang memang gemuk, khususnya ketika saya berada di dalam bus. Dengan memakai jaket itu, saya memang jadi seperti lemper, tidak berbentuk sama sekali tapi saya selamat. 

Lini masa jaket saya selanjutnya adalah jaket semasa kuliah. Saya kuliah sekitar awal milenium baru. Masa itu masa yang luar biasa menyenangkan, membingungkan: masa ketika saya melihat banyak hal dan memasukkan banyak nilai dan gaya berpakaian yang hype waktu itu.  Pilihan jaket saya waktu kuliah adalah jaket kain semacam anak-anak aktivis kampus. Wajar kalau saya lihat dari kacamata saya saat ini, 2021. Waktu itu euforia reformasi. Mahasiswa berjaya, Soeharto tumbang. Superhero! Pahlawan! 

Jaket yang booming waktu itu adalah jaket kain model baju safari dengan dua saku di depan lalu dengan banyak emblem. Biasanya bendera merah putih. Warna yang sering dipakai adalah hijau army dan hitam. Pokoknya kalau sudah pakai, keren banget. Lalu, saya mengadopsi itu. Pilihan baju saya waktu itu hampir tidak ada perempuannya sama sekali. Jeans, kaos hitam, sandal gunung, dan ransel besar. Untuk saya, waktu itu saya ingin menunjukkan bahwa saya tidak mau tunduk kepada aturan. Saya mau menunjukkan bahwa saya juga mahasiswa yang menjadi pahlawan. Meski tidak langsung, tetapi saya bangga banget.

Tahun-tahun berlalu, sejak saya selesai kuliah. Pilihan jaket saya pun berganti. Saya tidak lagi suka jaket ala aktivis mahasiswa seperti itu. Selera saya berubah karena mungkin pertemuan dengan banyak orang dengan berbagai macam selera dan pandangan mengubah banyak hal dalam diri saya. Mungkin saya menemukan bahwa saya bergerak ke arah yang lebih dewasa secara pemikiran. Mungkin saya tidak lagi memedulikan citra dari yang ditampilkan oleh pakaian. Mungkin saya sudah menemukan diri saya dan menemukan siapa saya seiring dengan bertambah panjangnya perjalanan yang saya tempuh. 

Di era ini, ada tiga jaket epic yang menjadi andalan saya. Satu jaket berwarna hijau army yang saya beli di Matahari Galeria Mall seharga Rp 150.000, di boks diskonan. Satu jaket berwarna merah merek Nevada masih keluaran Matahari seharga di bawah Rp 100.000, masih di boks diskonan. Sebagai anak muda yang masih kere zaman segitu, mendapatkan diskonan di Matahari adalah berkah tujuh turunan yang tidak terhingga. Jaket ketiga adalah jaket berwarna cokelat milo dengan hoodie. Jaket merek Hugo Boss ini hadiah seorang sahabat yang sudah berpulang. Jaket cokelat ini adalah goodie bag dari Berlinale Film Festival 2008, tempat sahabat saya diundang menjadi salah satu pesertanya. 

Ketiga jaket ini adalah jaket kesayangan saya. Dari segi bahan, ketiganya sangat enak jatuhnya di kulit dan tubuh. Memeluk tubuh saya dengan pas. Tidak kebesaran dan tidak kekecilan. Saya merasa sangat menyatu dengan mereka bertiga. Ketiganya menemani saya ke mana pergi. Bekerja, jalan kaki, main, pacaran, dan bersepeda (pada era ini saya bersepeda ke tempat kerja) sungguh sangat menyenangkan dengan adanya mereka bertiga. 

Jaket hijau army saya memiliki potongan sederhana. Dengan zipper sampai ke bawah dagu dengan kerah tegak, saku di kedua sisi pinggang, dan kerutan di bagian pinggang. Ketika bertemu pertama kali dengannya di boks, saya langsung jatuh cinta dan berkata dalam hati, ini aku banget. Saya suka sekali dengan detailnya yang bersih dan sederhana. Itu saya banget. Dan warnanya juga saya suka sekali, hijau army. Warna yang gagah dan ketika memakainya saya merasa sangat berwibawa.

Jaket army seperti ini sepertinya memang terinspirasi dari jaket seragam tentara. Awalnya adalah jaket tentara angkatan darat Amerika M-65 yang kemudian menjadi ikon fashion karena kesan dan citra gagah yang ditampilkannya. 

Sebenarnya, hal ini lucu karena tentara militer juga polisi sering dituding sebagai antagonis di berbagai teks, seperti misalnya di dalam Eka Kurniawan (Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas). Polisi ditampilkan sebagai penyebab dari impotennya Arjo Kawir karena dia dipaksa melihat dua polisi yang memperkosa seorang perempuan gila bernama Rona Merah. Militer yang sering ditampilkan di dalam cerita-cerita berlatar G 30 S PKI. Meski selalu ditampilkan sebagai antagonis, militer dan polisi juga ditampilkan sebagai pahlawan di berbagai film, khususnya film Hollywood.

Sebutlah film yang sangat ikonik di era 1990-an, Speed (1993), yang dibintangi oleh Keanu Reeves dan Sandra Bullock yang akhirnya mempopulerkan seragam pasukan khusus LAPD (Los Angeles Police Department) lengkap dengan potongan rambut cepak crew cut a la polisi atau Iko Uwais di dalam The Raid (2011). Seragam militer dan polisi pada akhirnya dibongkar citranya dari antagonis menjadi pahlawan melalui film-film populer itu. Seragam yang memiliki kesan kaku dan kejam digeser menjadi citra gagah, pelindung, dan pahlawan. Manusia di alam bawah sadarnya tampaknya memang memasukkan ikon semacam militer dan polisi, mungkin masih tetap mendambakan dalam bentuk yang lain. Lebih tepatnya, manusia membutuhkan pahlawan.

Melalui budaya populer, jaket dan seragam militer diproduksi ulang menjadi semacam counter culture dari apa yang sudah ada.  Dan, hal itu berhasil. Jaket army dan pernak-perniknya sekarang sudah menjadi ikon fashion dan street style andalan banyak orang, termasuk saya.  

Jaket Nevada merah saya memiliki garis yang sederhana, berbahan katun dan sangat nyaman dipakai. Zipper lurus ke atas sampai bawah dagu. Dua saku di pinggang. Simple. Bersih. Simplicity is the best. 

Jenis jaket seperti milik saya ini termasuk ke dalam variasi varsity jacket. Sejarah panjang varsity jacket dimulai dari tim baseball Harvard sekitar 1865. Jaket tersebut merupakan simbol identitas tim baseball. Ciri khas jaket varsity adalah huruf yang dibordir di bagian dada kiri. Jaket ini juga merupakan simbol prestise karena bisa masuk ke dalam suatu tim olahraga tertentu di kampus, yang tentu saja tidak sembarang mahasiswa bisa masuk ke dalam tim tersebut. Ketika sudah memakai jaket tersebut, itu berarti ia hendak menunjukkan kelas dan derajatnya di lingkungan pergaulan kampus. Dan biasanya, para anggota tim olahraga tersebut akan meminjamkan jaketnya kepada pacarnya. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana derajat dan kepopuleran gadis yang bisa menjadi pacar salah satu anggota tim olahraga kampus dan memakai jaket kebanggaan tim pacarnya? Wow banget pastinya. 

Pada suatu masa, jaket varsity diadopsi oleh kebudayaan modern menjadi salah satu bagian dari fashion dan item yang harus dimiliki oleh anak muda untuk tampil keren. Jaket ini juga sering muncul dalam film-film remaja Amerika dan menjadi salah satu ikon fashion. 

Salah satu film remaja yang populer masa 1980-an adalah The Breakfast Club (1985). Salah satu karakter yang ada di dalam film ini, Andrew Clark (diperankan oleh Emilio Estevez), adalah seorang atlet basket sekolah dan merupakan siswa yang populer. Dalam film ini, Andrew memakai jaket varsity biru dengan bordir di dada kirinya. 

Jaket ini kemudian muncul dan berkembang dengan berbagai macam variasi, dengan zipper sampai di bawah leher atau dengan hoodie. Termasuk salah satu variasinya adalah jaket ketiga saya. Jaket ini berwarna cokelat “milo”, keluaran Hugo Boss, dan merupakan hadiah seorang sahabat yang sudah lama berpulang. Selain nilai historis dan kenangannya untuk saya,  jaket ini memang menjadi kesayangan. Saya memakainya ke mana saja. Berjalan kaki, bersepeda, dolan, dan berangkat kerja. 

Jaket ini sangat nyaman digunakan dan sangat menunjang penampilan. Terlepas dari mereknya Hugo Boss yang memang jaminan mutu untuk setiap produk yang mereka keluarkan, jaket varsity ini memberikan kesan kasual, muda, dan penuh dengan energi. Ditambah lagi padanan tepat untuk jaket ini adalah kaos, jeans, dan sneakers. Semakin kuat kesan muda dan penuh energi itu. Saya merasakan benar energi itu. Lumayanlah, saya jadi bisa mengirit muka lima hingga enam tahun! 


Kartika Wijayanti, penulis suka sekali memakai jaket dan sneakers, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s