Pertanyaan: Awalnya dan Akhirnya

Joko Priyono

KEGIATAN bertanya itu bagian penting dalam kesejarahan umat manusia. Mereka tak mungkin dapat mengetahui dan memahami banyak hal tanpa dimulai dengan bertanya. Bertanya tak lain peristiwa mendasar bagi tiap orang akan rasa keingintahuan. 

Dahulu, di kegiatan-kegiatan bertajuk motivasi diri dalam seminar-seminar, pembicara sering mengetengahkan ungkapan-ungkapan untuk memancing peserta dalam memahami jati dirinya. Ungkapan itu biasanya berupa pertanyaan: “Siapakah saya?”

Pertanyaan mendasar dengan melahirkan kejutan demi kejutan untuk memahami seluk-beluk dalam diri. Orang-orang terbiasa melatih diri dengan bertanya tentu jauh lebih maju dan tertantang akan naluri pengetahuannya ketimbang tidak sama sekali. 

Anak-anak sedari masa asuhan orang tua, idealnya perlu dididik dengan berbagai pertanyaan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanya demi tanya menjadi sublimasi banyak hal pada rasa keingintahuan.

Setidaknya, hal itu menjadi bahasan juga oleh Andi Hakim Nasoetion dalam buku berjudul Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah Bagi Remaja (1992). Penjelasan tersampaikan sampai implikasi muncul saat naluri ingin tahu seorang anak tak mendapatkan porsi kesempatan. Kita mendapatkan penjelasannya: “Di satu pihak kalau rasa ingin tahu anak tidak tersalurkan dengan baik, ia mungkin akhirnya menjadi orang dewasa yang selalu menyusahkan orang lain.”

Pertanyaan kemudian menjadi perhatian khusus dalam aturan bahasa Indonesia. Kita membuka buku dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berjudul Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988). Kita mengerti ihwal pronomina penanya. Dijelaskan di halaman 184: “Dari segi maknanya, yang ditanyakan itu dapat mengenai (a) orang, (b) barang, atau (c) pilihan…. Di samping itu, ada kata penanya lain, yang, meskipun bukan pronomina, akan dibahas pada bagian ini juga. Kata-kata itu mempertanyakan (d) sebab, (e) waktu, (f) tempat, (g) cara, dan (h) jumlah, urutan.”

Dalam praktiknya, bahasa, interaksi, dan komunikasi di banyak ruang tak luput masalah. Di benak para penggenggam modernitas dengan kemajuan teknologi, masalah demi masalah kian rumit. Orang-orang memasuki gejala pada kemandekan dalam bertanya pada apa saja, sesuatu hal yang ada di lingkungannya. Situasi pelik tersebut kian waktu, kian menggeliat. Konon, banyak analisis menunjukkan bahwa kecenderungan saat ini adalah gandrung akan kediriannya, tanpa mempertimbangkan dengan sebuah pertanyaan dahulu.

Teknologi dalam arus dunia digital menjadi biang lahirnya ancaman kehidupan banyak orang. Pergaulan demi pergaulan orang dalam tiap komunitasnya terus memberikan dampak. F Budi Hardiman memberikan sebuah analogi dalam buku Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital (2021): “Telepon itu makin pintar, dan mungkin penggunanya makin enggan menggunakan pikirannya sendiri sampai menjadi pandir. Pulsa menjasi pulse, denyut, kehidupan seperti oksigen.” 

Ketimpangan itu muncul. Banyak orang mendapati sebuah hambatan di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu hal mendasar tentu saja adalah tradisi bernalar dalam menyikapi gejala demi gejala dalam hidup. Tak ketinggalan pula adalah bagaimana mereka juga berpotensi terhambatnya berpikir kreatif. Sejatinya banyak muatan pengetahuan bertebaran, tetapi dengan pola asuh, kebiasaan, dan habitus terjadi tak mendukung pada proses di sana. Kita tak bisa berharap banyak akan orang-orang gemar terus mencari dan mencari pada proses pergulatan berpengetahuan.

Di majalah Akutahu edisi November 1987, SC Utami Munandar menulis esai berjudul “Hambatan Berpikir Kreatif”. Ia menjelaskan pengertian berpikir kreatif sebagai suatu cara berpikir di mana seseorang mencoba menemukan hubungan-hubungan baru, untuk memperoleh jawaban-jawaban baru terhadap suatu masalah. Ia menekankan bahwa berpikir kreatif memberikan lebih dari satu jawaban terhadap suatu persoalan dan untuk itu diperlukan imajinasi.

Kita urungkan membahas lebih lanjut. Episode dalam wabah setidaknya menjadikan keterhambatan dalam ruang-ruang yang sejatinya untuk membangun tradisi bernalar, melatih imajinasi, dan sarana berpikir kreatif agaknya kelimpungan membendung pola besar yang berkembang. Pendidikan bermasalah mengibatkan lambatnya pada anak didik di tiap tingkatannya. Anak-anak sangat rentan. Orang tua telanjur frustrasi, membiarkan anak-anak berlama-lama dengan tiap gawai.

Kita belum tahu dan menemukan resep terbaik apa yang dapat digunakan. Situasi kompleksitas membayangi dalam tiap hari-hari. Ia bak hantu yang memberikan teror dan ketakutan bagi tiap orang, kendati tak sedikit dari mereka tidak merasa khawatir dan takut. Mungkin saja solusi terbaiknya adalah digalakkan kembali kegiatan demi kegiatan bertajuk motivasi bagi tiap orang supaya tergugah semangatnya dalam menjalankan hidupnya di hari-harinya dan mengembalikan laku akan hadirnya pertanyaan.

Toh, kenyataannya seperti itu, urusan pertanyaan demi pertanyaan lebih gandrung menjadi bahasan dalam acara seminar motivasi, bisnis, dan percintaaan. Ia justru jarang terjadi pada ruang kelas, kegiatan belajar, dan ruang pengetahuan lainnya. Andaikan terjadi keberadaan pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dalam ruang pengetahuan bisa saja kalah bermutu ketimbang pertanyaan hadir dalam ruangan seminar motivasi, bisnis, dan percintaan yang biasanya perlu menggocek uang tak sedikit itu.


Joko Priyono, penulis tinggal Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s