Berkenalan dengan Majalah Sahabat

Setyaningsih

MASA kanak merayakan persahabat dengan majalah. Majalah berkumpul di sudut rumah sebagai kawan, dinantikan kehadiran tiap edisi, dipertukarkan humor atau ceritanya antar teman. Ada perawatan ingatan atas tokoh, pembabakan peristiwa, kuis, atau rubrik dan penulis kesayangan. Barangkali hingga dewasa, pembayangkan huruf-huruf yang membawa berkelana pada pembentukan mentalitas, religiusitas, intelektualitas tidak kabur dan terkubur.

Pada tahun 80-an, anak-anak Indonesia terutama dari kalangan Muslim, dihibur oleh kehadiran majalah Sahabat yang digarap oleh Media Sahabat dengan pimpinan umum Ramlan Mardjoned dan pimpinan redaksi Johar Arifin. Majalah terbit atas rekomendasi Kementerian Agama Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam (1979). Penamaan majalah kemungkinan diambil dari cara menyebut orang-orang terdekat dan terpercaya Nabi Muhammad: para sahabat. Majalah sempat mengisi bacaan masa kanak meski sepertinya tidak setenar majalah anak yang ada saat itu, seperti Kuntjung, Kawanku, Bimba, Tomtom, Ananda, atau Bobo.

Keislaman majalah Sahabat tidak ditunjukkan secara akut. Bahkan di sampul depan tidak tertera keterangan pasti majalah memang diperuntukkan bagi kalangan Muslim. Keislaman ditunjukkan lewat sapaan “Assalamualaikum” dan awalan “Bismillah” di beberapa rubrik “Surat-surat Sahabat”. Di halaman lain, rubrik cerita bergambar “Keluarga Fajar”, cerita tentang pahlawan Islam, rubrik “Belajar Agama” dan “Bahasa Arab”, serta sajak-sajak religius cukup mewakili majalah merepresentasikan Islam. Cerita pendek lebih bertema umum seputar moralitas keseharian. Ilustrasi majalah pun tervisual selayaknya majalah umum tanpa perlu menghilangkan wajah seperti yang menggejala di bacaan-bacaan anak mutakhir.

Di Sahabat edisi 100 (30 Juni 1984), dimuat surat kiriman anak bernama U. Rusyad di SDN Kubangpari Banjarsari, Ciamis Selatan yang kegirangan berteman dengan Sahabat. Dia menulis, “Assalamu’alaikum, Oom Daktur yang ganteng! Majalah Sahabat, walaupun agar tersendat-sendat datangnya di rumahku, tapi aku dengan adik selalu berebutan kalau majalah tersebut sudah tiba di rumah. Sehingga kadang-kadang majalahnya menjadi sobek, aku tertarik dengan isi/ceritanya, sedang adikku senang dengan Keluarga Fajarnya.” Gara-gara rebutan inilah, Rusyad mengusulkan hal yang logis bagi dirinya, tapi belum tentu bagi pembaca lain, “Usul bagaimana kalau cerita keluarga Fajar ditiadakan dan ditambah dengan cerita-cerita yang menarik, masa aku harus selalu mengalah terus-terus kepada adikku. Sekian mohon Oom daktur memperhatikannya.” Wah, bagaimana Om Redaktur?

Pengalaman pertemuan seorang anak dengan bertemu Islam disajikan di Sahabat edisi no. 59. Anak perempuan berumur 9 tahun bernama Lina terpukau dengan Islam karena magis suara mengaji. Lina mengaku terpukau dengan Islam karena suara mengaji dari radio dan pergaulan dengan teman-teman di sekolah. Ibu Lina pun mengalami pengalaman spiritual saat mendengar azan. Di sini, bisa diduga suara (beragama) yang masih merdu dan lembut. Suara adalah perjumpaan religius, bukan menyulut sengketa seperti akhir-akhir ini saat azan masjid-masjid berlomba paling keras. Takbir justru menandai superioritas kelompok paling otoritatif membela Tuhan. Padahal, bukankah Tuhan Maha Mendengar.

Di sini, bisa diduga suara (beragama) yang masih merdu dan lembut. Suara adalah perjumpaan religius, bukan menyulut sengketa seperti akhir-akhir ini saat azan masjid-masjid berlomba paling keras. Takbir justru menandai superioritas kelompok paling otoritatif membela Tuhan. Padahal, bukankah Tuhan Maha Mendengar.

Puisi-puisi para penyair cilik di halaman Sahabat membawa paduan ketemaan religiusitas, keakuan, dan alam nan permai. Tema alam sepertinya belum menemukan keusangan sampai tahun 80-an saat Indonesia terus membangun dan lebih berorientasi ke kekotaan. Di Sahabat edisi 72 (15-31 Maret 1983), kita bisa menyimak puisi sederhana berjudul “Rumput-rumput” kiriman Faisal Barawas yang duduk di kelas 6 SD Irsyad Bogor. Puisi tidak memiliki pada tendensi prestasi atau kesalehan. Puisi cukup menjelmakan suatu yang sepele tapi sebenarnya penting bagi kita. Begini, Rumput-rumput hijau/ Membentang menyelimuti tanah/ Ketika kuhampiri/ Ia tersenyum ramah/ Dan menyuruhku duduk di atasnya.

Ajakan kepada kebaikan dan peribadatan pun menjadi puisi yang berpesan. Puisi garapan Yusrini, murid kelas 2 SDN I Muara Enim Sumbar, berjudul “Wahai Kawan” mengajak tidak melupakan salat. Meski baru kelas II, Yusrini tampaknya terpengaruh diksi guru agama atau orangtua yang agak terdengar galak dan seram. Yusrini sudah mafhum menggunakan istilah “tersiksa” dan “terkutuk”. Hal ini sangat lumrah mengingat pendidikan agama di masa kecil memang sangat ditentukan oleh orangtua atau guru. 

Beginilah bunyi puisi Yusrini, Marilah kita bersama-sama mengerjakan shalat/ Dan marilah kita bersama-sama/ menghindari perbuatan yang tidak baik./ Wahai kawan/ Gunakanlah hidupmu untuk kebaikan/ Jangan digunakan untuk kejahatan/ Wahai kawan/ Sorga tempat ummat yang beriman/ dan takwa kepada-Nya/ Dan api neraka tempat ummat/ tersiksa dan terkutuk. Sajak hadir sebagai ruang ekspresi pada keimanan.

Nasib majalah Sahabat tidak sampai berumur panjang, tapi majalah berhasil membawa misi literasi sekaligus berperan dalam pembentukan keagamaan diri. Demi merevolusi cara agama agar tidak radikal dan mengada-ada, anak-anak masih perlu halaman-halaman bacaan yang menyenangkan, tidak konservatif, toleran, dan lucu yang religius. 


Setyaningsih, kritikus sastra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s