Pasar Malam Berkitab

Bandung Mawardi

DI kampung-kampung, lama tiada pasar malam. Kampung-kampung tetap kebagian malam tapi keramaian itu dirindukan saja. Sekian permainan dan orang-orang berjualan makanan di satu tempat dalam terang dan beragam musik dinantikan saja tahun-tahun mendatang. Dunia belum baik-baik saja. Pasar malam masih cerita di kepala, belum memicu kedatangan orang-orang: berkerumun.

Kampung-kampung mau ramai memang membutuhkan pasar malam. Sejak puluhan atau seabad silam, pasar malam memberi hiburan-hiburan bagi keluarga. Pasar saat langit tanpa matahari meringis. Orang-orang mengira tak kepanasan. Di pasar malam, mereka makin tertarik dengan lampu-lampu. Konon, terang itu menjadikan pasar malam dinantikan di kampung dan kota.

Keluarga meninggalkan rumah membawa duit. Di pasar malam, duit digunakan membeli tiket permainan dan jajan. Kesadaran menikmati pasar malam mengartikan uang tergantikan tawa, kenikmatan, kebersamaan, dan kenangan. Di situ, orang-orang berjalan sambil tarik-ulur keinginan. Seribu godaan di pasar malam. Bapak-ibu tak cermat bisa bangkrut. Anak-anak dibiarkan menginginkan segala pasti menjadi raja dan ratu semalaman. Pasar malam itu kesenangan-kesenangan, sebelum orang berhitung duit, dan lelah.

Pada abad XXI, pasar malam masih memikat orang-orang berkumpul dan merasa ramai. Kampung dan kota bosan bila sepi-sepi saja. Pasar malam berisik kadang membedakan dari keseharian repetitif. Pasar malam membuat boros tapi pemerolehan pengalaman diperlukan orang-orang. Kampung malam tak selalu gengsi atau kepicisan mencipta hiburan.

Pada masa 1950-an, terbit buku berjudul Terus dan Tjepat: Wanita di Kota. Buku digunakan dalam pemberantasan buta huruf. Cerita-cerita sederhana disampaikan untuk dipelajari bagi orang-orang mulai bisa membaca dan menulis. Buku diterbitkan JB Wolters, memuat sekian cerita dan gambar-gambar apik.

Di halaman 20-24, ada cerita berjudul “Pasar Malam”. Kita membaca untuk mengerti kegirangan orang-orang ke pasar malam berlatar “imajinasi” sosial dan kultural masa 1950-an. Dua keluarga pergi ke pasar malam naik mobil pinjaman kantor. Kegembiraan ingin diraih: “Dimuka pintu masuk kelapangan tempat mengadakan pasar malam itu bukan kepalang ramainja. Pada tempat masuk itu didirikan suatu pintu gerbang jang besar. Pintu gerbang itu diterangi oleh berbagai-bagai lampu jang berwarna dan dihiasi dengan daun-daunan, bunga-bungaan dan bendera-bendera. Semuanja sangat menggembirakan hati.” Makna terpenting pasar malam adalah kegembiraan!

Gambaran pasar malam, tak jauh berbeda dengan masa sekarang: “Jang menjenangkan hari Aisah pada pasar malam ialah aneka ragamnja. Ada petak-petak tempat mengadakan seteleng. Petak-petak lain memberikan kesempatan untuk bersuka ria dan achirnja ada pula petak-petak tempat makan dan minum enak-enak.” Petak-petak meminta duit. Pengunjung harus berpikir serius untuk memberikan duit atau sabar dengan melihat saja.

Buku itu dimaksudkan mendukung pemberantasan buta huruf di seantero Indonesia. Cerita mengenai pasar malam mengikutkan perdagangan buku. Lumrah dan berpengaruh bagi pembaca agar suka buku: “Petak jang berikut menundjukkan beratus-ratus kitab jang berisi tjeritera dan gambar-gambar jang bagus. Ingin benarlah Aisah dan tetangganja melihatnja dengan djelas-djelas. Kitab-kitab itu boleh dipegang untuk melihat-lihatnja. Harganja tertulis pada tiap-tiap kitab. Buku-buku tidak mahal harganja. Aisah dan tetangganja membeli beberapa buah kitab jang bagus.” Kita memiliki ingatan kecil bahwa berkunjung ke pasar malam menemui kitab-kitab. 

Cerita sederhana dari masa lalu. Kini, kita merindu ada pasar malam lagi di kampung dan kota. Permainan dan makanan pasti ada. Kita mustahil menemukan ada pedagang buku atau kitab di pasar malam. Zaman ingin ramai dan berkerumun belum memerlukan buku-buku. Duit mendingan untuk permainan-permainan, tak lupa digunakan untuk makanan dan minuman. Duit pun digunakan membeli busana, benda kerajinan, mainan, atau perhiasan di pasar malam. Pasar malam berduit, tak lagi berkitab. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s