Terdengar dan Terbaca

Margarita Riana

Mama, papa, kusuka baca

Beri aku buku

K-a-n-i-s-i-u-s-k-u

Mari membaca buku Kanisiusku

TERNGIANG terus lagu ini, yang dinyanyikan dengan irama lagu Bingo. Terpukau saat itu. Iramanya pas di telingaku. Lagu dinyanyikan di awal, saat istirahat, jeda acara, dan di akhir acara Pekan Kitab Suci di Kanisius. Kebun lapang penuh pohon, rumput, banyaknya kakak-kakak pembina sekolah Minggu dengan senyumnya, dan banyak juga anak-anak dari berbagai perkumpulan sekolah Minggu membuat acara itu tidak terlupakan. 

Ternyata, lagu itu sangat membekas. Keinginan mulai muncul untuk membeli buku sendiri. Lebih tepatnya membeli buku di toko buku Kanisius. Tetapi saat itu, keinginan membeli buku langsung menguap. Aku tidak mengantongi cukup uang dan orangtua tidak mengantarku mengikuti acara itu. Tidak ada buku untuk dibaca berulang kali. Tidak ada buku untuk dicoret-coret. Tidak ada buku untuk dipamerkan. 

Setelah acara itu, aku bertekad mengumpulkan uang untuk membeli buku di Kanisius. Buku yang pertama aku beli adalah seri buku mewarnai kisah kitab suci. Bangga bisa membelinya. Sebab, jarak yang jauh dan banyak buku berharga mahal di kantong anak SD saat itu, aku tidak membeli buku dari Kanisius. Itu tidak berarti urusan perbukuan Kanisius berhenti.

Di gereja ada sebuah toko dan di situlah aku menemukan buku-buku Kanisius. Walaupun aku tidak memiliki uang untuk membeli buku Kanisius, aku tetap membaca buku Kanisius. Sombong sekali rasanya bisa membaca buku di toko. Membuat buku-buku lecek dibolak-balik.

Efek lagu itu tidak berhenti di situ. Aku menjadi ketagihan mengikuti aneka kegiatan di gereja. Keinginan menjadi pengajar sekolah Minggu di gereja mulai tumbuh. Seiring aku bertambah besar dan mulai bekerja suatu ketidaksengajaan atau mungkin memang dijerumuskan ke dalam lingkaran Kanisius. Akhirnya, aku menjadi bagian dari Kanisus. Keinginan menjadi guru sekolah Minggu tetap ada dan semakin terlihat peluangnya. Memantaskan diri aku mencari aneka buku di Kanisius sebagai referensi.

Ternyata, Kanisius membuat sebuah perangkat mengajar sekolah Minggu, “Seri Emmanuel”, yang berisi lengkap dengan buku-buku cara mengajar, materi pembelajaran, aneka buku cerita, poster, boneka, dan 

tiruan alat-alat dalam doa di gereja. Cara Kanisius membungkusnya dengan kotak kardus coklat menjadikannya terkesan serius dan eksklusif. Belum lagi, cara pengajaran dengan mengadaptasi metode pengajaran bahasa Inggris dalam paket media pengajaran Early Bird dan Little Early Bird penerbit Finken Verlag Jerman dan di Indonesia hak edar dan terbit dipegang oleh Kanisius yang menjadikannya lebih menarik.

Hakku mendapat potongan harga sebagai salah satu bagian dari Kanisius harus kugunakan. “Lumayan harga lebih murah,” pikirku. Aku membeli paket ini berharap semua teman di segala usia akan mampu menggunakannya. Dugaan ini salah. Ibu-ibu pengajar menganggap ini terlalu ribet karena harus membaca penjelasan panjang dan memahaminya. Lebih mudah untuk mengajarkan segala materinya secara terpisah. Memilih tema sendiri atau nanti bisa disesuaikan dengan bacaaan kitab suci. Memilih lagu yang enak didengar dan mudah dihafalkan. Mencari kegiatan yang berhubungan dengan kerajinan tangan secara online. Lebih mudah dan praktis alasannya.

Aku tidak lagi berusaha meyakinkan orang lain untuk memakainya. Aku simpan semua itu di rak buku. Sesekali aku buka bersama anak-anak. Boneka-boneka tangan sheepo dan dovy sering kami mainkan. 


Margarita Riana, Penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s