Semua Ibu Harus Bisa Memasak?

Iin Nuraini

SIAPA bilang semua ibu bisa memasak. Bagiku, memasak itu kegiatan yang luar biasa mengerikan. Kegiatan yang kulakoni dengan was-was dan mengakhirinya dengan penuh penyesalan. Dapur seperti medan perang bagiku.

Sejak kecil masakan mbah-uti  (nenek) selalu mengisi meja makan rumahku. Bapak dan Ibu sibuk, tak sempat memasak untuk anak-anak. Untuk sarapan, telur dadar menjadi andalanku dan kakak-kakak.

Kemampuan memasak ibuku itu ternyata juga payah. Lebih enak masakan Bapak. “Gen” ibu yang gak bisa masak itu menurun padaku. Sesekali, jika ingin sayur kesukaannya, Bapak pasti mengajak aku ikut meracik bumbu. Sayur kesukaan bapak adalah sayur bobor plus sambel terasi. Jadi, untuk masalah sambal-menyambal aku sudah terbiasa. Tapi entah kenapa, setiap masak sayur, rasanya gak ngalor-gak ngidul.  Padahal bumbu yang kusiapkan sudah lengkap-kap.

Jadi, untuk masalah sambal-menyambal aku sudah terbiasa. Tapi entah kenapa, setiap masak sayur, rasanya gak ngalor gak ngidul. Padahal bumbu yang kusiapkan sudah lengkap-kap.

Setelah menikah, uthek-uthek di dapur itu sering lebih membuatku trauma daripada sakitnya melahirkan ketiga anakku. Ketika awal menikah, memasak seperti kewajiban bagiku. Tapi, setiap kali melihat masakanku yang tersaji di meja tidak tersentuh, hati ini rasanya sakit luar biasa. Karena ibu mertuaku pandai memasak, aku jadi mengerti bahwa masakanku tak ada rasanya. Dan benar, kekecewaan demi kekecewaan menjadikanku berucap janji bahwa aku tak akan mau lagi memasak di rumah. Selamanya.

Namun herannya, aku justru sangat suka melihat tayangan TV tentang masak-memasak. Entah Master Chef atau petualangan si Gundul. Bahkan di Youtube tak jarang aku mencari menu-menu yang belum pernah aku lihat cara membuatnya.

Kedua anakku yang SMP ternyata suka masak-memasak. Mereka mencari-cari menu masakan di Youtube. Setiap kali Ramadhan tiba, mereka gemar mencoba resep masakan baru yang simple dan menarik. Maka, kalau malam hari terdengar suara kluthak-kluthek, itu sudah pasti anak-anakku yang sedang sibuk di dapur. Biasanya, ketika aku masih di kantor, mereka akan berpesan kepadaku membelikan bahan-bahan masakan untuk dimasak saat buka atau malam hari.

Suatu kali, aku mengambil buku Bondang Winarno di rak untuk pesanan seorang pelanggan. Spontan anak sulungku bilang, “Buuuuk … Jangan dijual. Sayang … ‘Kan buku itu cocok untuk Ibuk yang gak bisa memasak”. Mak jleb rasanya di hati. Dan aku mengiyakan anakku dengan senyum getir.

Akhirnya, buku tebal itu tak jadi aku jual. Kusimpan sendiri dan kadang kubuka halaman demi halaman karena mungkin suatu saat nanti aku punya wangsit sampai bisa memasak persis seperti di menu itu.

Dan ternyata, semangat dan imajinasi memasak di dapur itu hanya bertahan sesaat karena paling pol aku akan memasakkan nasi goreng simpel tanpa kecap kesukaan ala anakku bungsu. Hanya nasi, bumbu seadanya dan telur. Menu nasi yang paling ia doyani meski kadang ia akan berteriak, “Ibuk….lidahku terbakar, lidahku terbakar”.

“Loh…kan enggak pedes, Dek”

“Endak ….tapinya, ini-ini asiiinnn banget”

Ya, begitulah kemudian aku akan menyalahkan garam itu yang tak mau merata dan cuma terasa di satu tempat saja.

“Apa yang salah dengan tanganku?” Dan kakak langsung menyambar dengan komentarnya yang memotivasiku, “Ibuk … Menyerah saja!”

Hikmah di balik itu semua, anak-anakku tidak rewel perihal makanan. Mereka bisa mandiri dan tidak tergantung dengan Ibunya. Suami juga paham sekali dan tidak pernah mempermasalahkan perihal masakan. Yang penting di rumah tidak kehabisan beras dan telur saja semua sudah cukup. Dan, nasehat yang paling bijak untuk anak muda pra-nikah adalah pelajaran memasak dahulu. Yang lain, urusan belakangan. Tangan dan lidah harus dilatih terlebih dahulu dan dibiasakan. Tak apa jika tak bisa memasak, asal jangan kebangetan.


Iin Nuraini, guru dan koki wanna be, tinggal di Pajang.

One thought on “Semua Ibu Harus Bisa Memasak?

  1. ya memang benar, gak bisa masak itu bisa sangat menyakitkan. Turut perihatin dengan penulis. Untung aku dulu dididik keras oleh ibuku belanja dan masak di dapur, meski aku ini laki-laki sejati. Sekarang memasak menjadi “me time” dan melepas lelah dari kerja coding sebagai modeler cuaca dan iklim.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s