Guru

Setyaningsih

TIGA puisi guru dimuat di majalah Ceria, 1-15 Mei 1986. Puisi tampak bersambung dengan slogan majalah: Cerita, Ilmu, & Akhlak. Persepsi tokoh guru tentu dibentuk oleh sekolah. Negara mengutus guru untuk menjadi “orangtua kedua” setelah ibu dan bapak di rumah. Puisi-puisi guru yang ditulis anak tidak terlalu mengalami banyak perubahan berarti terutama dalam kebahasaan. Guru diingat karena berjasa dan diucapi terima kasih pada akhirnya.

Begini puisi “Guruku” oleh Tien Amriyah (SD Brebes VIII, Brebes), Kukenang jasamu/ kuingat nasehatmu/ kubayangkan senyummu/ kurenungkan bentakanmu/ Guruku…./ kini kita telah berpisah/ tapi aku tetap ingat padamu/ dan maaf/ aku hanya dapat mengucap/ dan berdoa/ terimakasih/ lindungilah Guruku, ya Tuhan. Puisi nyaris tidak memiliki cerita, kecuali kesimpulan atas kenangan. Nasihat, senyum, dan bentakan dianggap cukup untuk diwartakan kepada pembawa. Peristiwa apa pun yang dikisarinya, cukup menjadi hak milik penulis.

Ada guru yang disukai karena cara mengajar asyik, baik saat menjelaskan, suka memberi kuis yang menantang. Murid mengingat cara guru bicara, berjalan, memberi renungan di upacara. Benda-benda yang melekat pada sosok guru juga diingat; pena di saku, jam tangan, sepeda onthel, sepatu, tas, atau kacamata. Namun, hal-hal ini jarang masuk puisi. Puisi lebih merekam apa yang tidak terlihat dibanding apa yang terlihat. Guru berarti sifat, bukan sikap tubuh atau kebendaan.

Seperti ini puisi “Guru” garapan Rokhinah (Kelas VI SDN Gondang II Cepiring, Kendal), Hembusan angin di pagi hari/ menambah kesejukan di hari ini/ bersama kau berangkat/ mengabdi/ pada negeri kelahiran ini/ Hati tulus, ikhlas dan suci/ walau hujan deras mengalir/ walau panas membakar tubuh/ semua menambah tekadmu/ Dirimu adalah insan yang/ terpuji/ dalam ketulusan hati/ dan kau adalah pahlawan/ tanpa tersemat tanda jasa/ dan tetap kukenang dalam/ hidupku.

Guru itu tulus, ikhlas, suci, punya tekad, dan terpuji. Sifat-sifat yang menegaskan pernyataan “kau adalah pahlawan”. Puisi masih belum ada cerita meski dalam kenangan penulis banyak cerita berguru dan bersekolah. Guru mungkin lupa mengajari anak merasa bebas mengungkap cerita.

Aku teringat anak-anak dan seorang guru perempuan bernama Bu Oishi dalam novel Dua Belas Pasang Mata (Sakae Tsuboi, 2013). Di suatu desa nelayan pada 1928, bahkan Bu Oishi menjadi cerita bagi penduduk desa karena ia berani naik sepeda. “Dunia benar-benar sudah berubah. Guru perempuan naik sepeda! Bisa-bisa dia dianggap kelewat modern.” Bagi anak-anak, Bu Oishi mengisi kebahagiaan di tengah kemiskinan dan tata hidup mengunggulkan anak laki-laki. Ia mengajak anak-anak bernyanyi, berjalan di pantai, makan mi, piknik, dan berfoto. Ketika Bu Oishi tidak muncul di sekolah karena sakit, anak-anak bertekad berjalan berkilo-kilo menuju rumahnya. Sandal jerami anak-anak itu sampai putus. Anak-anak berani memiliki impian karena Bu Oishi.

Bagi anak-anak, Bu Oishi mengisi kebahagiaan di tengah kemiskinan dan tata hidup mengunggulkan anak laki-laki. Ia mengajak anak-anak bernyanyi, berjalan di pantai, makan mi, piknik, dan berfoto.

Guru menjadikan seseorang sebagai murid yang mengingat banyak hal. Suatu saat, bergiliran murid itu akan menjadi guru. Murid selalu ingat guru meski guru tidak lagi dimiliki karena batas ruang, waktu, dan sikap. Murid memang tidak selamanya bisa menjadi murid. Ia menjadi guru dengan tetap belajar seperti murid. 


Setyaningsih, kritikus sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s