Akrab Bencana

Dian Vita Ellyati

“Halo, namaku Dian. Aku tinggal di Jalur Cincin Api Pasifik dengan 129 gunung api aktif.”

Cincin Api terdengar keren sebagai alamat rumah, ya, apalagi jika dilanjutkan, “Tepatnya di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia di selatan, lempeng Pasifik di timur, dan lempeng Eurasia di sisi utara.” Negeri kepulauan kita punya garis pantai terpanjang kedua di dunia. Hutan kita pun termasuk sebagai paru-paru Bumi.

Luar biasa kekayaan alam yang kita tempati. Banyak ilmuwan mengerjakan studi di sini. Mereka meneliti gunung api, mencari spesies “baru” di dalam laut, membuat obat dari tanaman hutan, dan sebagainya. Negeri kita adalah laboratorium sains raksasa. Di dalamnya ada berbagai objek yang menarik untuk dipelajari.

Bencana di rumah kita

Alam nan pemurah ini kadang-kadang menunjukkan fenomena yang bisa membawa kerugian nyawa dan harta benda. Karena merugikan manusia, maka disebut bencana alam. Gunung meletus, banjir, gempa bumi, tsunami, dan kebakaran hutan adalah di antaranya. Mungkin tak ada satu pun orang Indonesia yang belum pernah mengalami bencana alam.

Misalnya, ibu penulis yang saat kecil mengungsi akibat gunung Kelud meletus tahun 1951. Penulis sendiri pernah merasakan hujan abu vulkanis dari letusan gunung yang sama pada 2014. Abu vulkanis Kelud tertiup angin hingga mencapai Surabaya, bahkan Yogyakarta. Padahal, gunung ini terletak di perbatasan Kediri, Blitar, dan Malang!

Pada tahun 2018, saudara-saudara kita di Lombok mengalami gempa bumi yang menghancurkan banyak rumah. Tsunami pernah menerjang kawasan pantai di Aceh pada 2004 dan di Palu pada 2018. Kebakaran hutan beberapa kali terjadi di Sumatra dan Kalimantan. Baru bulan lalu di kota Batu terjadi banjir bandang. Bulan ini gunung Semeru mengeluarkan guguran awan panas yang menghancurkan banyak desa di Lumajang. Nah, bencana alam apa yang kamu sendiri pernah alami?

Meramal bencana

Beberapa bencana alam bisa diramalkan secara ilmiah, misalnya letusan gunung berapi. Gunung api yang aktif berada pada kondisi: Normal, Waspada, Siaga, atau Awas. Vulkanolog dapat menentukan status gunung dari perubahan aktivitasnya. Penduduk sekitar akan menjauh sementara waktu setelah ada peringatan berdasarkan status ini.

vectorstock.com

Salah satu penyebab tsunami adalah gempa di bawah laut. Di pantai-pantai yang memungkinkan terjadi tsunami dipasang sistem peringatan dini. Sensor pada sistem ini mendeteksi getaran gempa yang bergerak lebih cepat daripada gelombang tsunami, dan seketika itu juga memberikan peringatan pada penduduk untuk mengungsi.

Gempa sendiri adalah bencana yang hingga sekarang belum bisa diramalkan. Baru setelah terjadi, ilmuwan dapat memberi tahu kita penyebabnya, apakah gerakan magma ataukah tumbukan lempeng Bumi, dan menentukan kekuatan gempa dalam Skala Richter (SR). Para peneliti terus memutar otak agar gempa juga bisa diprediksi.

Siaga bencana

Seperti kamu harus menjaga kebersihan rumah, demikian pula kita mesti merawat alam sebagai bagian dari kehidupan kita. Mengurangi penggunaan plastik (sedotan, sendok, piring, gelas sekali pakai, juga kresek) tampak sepele, tapi membantu kelestarian alam. Sampah plastik bisa sampai ke laut dan membahayakan makhluk hidup di dalamnya.

Tidak membuang sampah ke sungai agar alirannya lancar dapat mencegah banjir. Dan, meskipun tidak tinggal di hutan, kamu bisa mencegah kebakaran hutan. Saat berkemah di sekitar hutan lindung, selain membuang semua sampah di tempatnya, kamu juga mesti mematikan benar-benar sisa api unggun.

Selain bencana yang bisa dicegah, seperti banjir atau kebakaran, ada bencana yang memang mesti terjadi, misalnya letusan gunung api, gempa bumi, atau tsunami. Kita tetap berusaha untuk mencegah jatuhnya banyak korban, misalnya dengan memilih tempat tinggal yang cukup jauh dari daerah yang pernah diterjang bencana. Tempat-tempat yang lumayan sering mengalami bencana alam disebut KRB atau Kawasan Rawan Bencana. Ada tempat-tempat yang rawan gempa, rawan banjir, rawan tsunami, rawan gunung api, dan seterusnya.

Tugasmu sekarang mencari tahu potensi bencana alam di dekatmu. Apakah lingkungan tempat tinggalmu termasuk kawasan rawan bencana? Bencana alam apa yang pernah terjadi di sekitarmu dalam sepuluh tahun terakhir? Bagaimana mengatasinya? Kamu harus serius mengikuti latihan menghadapi bencana. Untuk mencari tahu lokasi dan cara menangani bencana kamu bisa mengunjungi situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana https://bnpb.go.id/siaga-bencana.

Tetap waspada, ya!


Dian Vita Ellyati, Penyuka sains, tinggal di Surabaya

Red.: Naskah ini pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Januari 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya untuk menyesuaikan informasi terbaru.

One thought on “Akrab Bencana

  1. Ini tulisan bagus amat… aku suka. Ini mengingatkanku akan majalah “Siswa” pada era 80an- 90-an…. majalah sains untuk anak-anak. Dulu waktu SD, aku berlangganan…. tulisannya persis kayak gini.

    XOXO Bayu Risanto, S.J. Ph.D Research Assistant in Atmospheric Sciences Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s