Di Balik Senyum Ibu

Yulia Loekito

 Dalam linimasa dan sosial media kita melihat potret ibu dan bayi-bayi. Potret mengabarkan kelahiran, potret bisa juga memamerkan. Kadang kematian bayi-bayi yang gugur dalam kandungan juga diumumkan. Di sana kita juga tak jarang menyaksikan unggahan-unggahan foto tumbuh kembang anak-anak. Kebanyakan foto-foto dihiasi senyum atau tawa, walau ada pula unggahan-unggahan foto menunjukkan perjuangan keluarga dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Ibu-ibu dalam potret masa kini biasanya tersenyum. Berbeda dengan foto-foto dari masa lalu, kita jarang menemukan senyum.

Kita penasaran apa yang terjadi di balik foto-foto ibu penuh senyuman. Sandra Palupi dalam buku Serapah Ibu—Kumpulan Cerpen dan Puisi (2011) menggubah satu puisi menjawab penasaran. Kita serap: Belum selesai, masa nifas/butuh berhelai asa nafas/biar senyum ini panjang/dan selalu lapang/demi jaga anugerah/kedatangan bayi merah. Puisi tampak berkisah tentang bahagia ibu baru menimang bayi merah. Puisi bisa jadi jawaban terbentuknya senyum-senyum dalam foto. Tapi kita juga menyerap sebait beban dalam kalimat-kalimat. Kita tambah penasaran.

 Pada suatu masa aku pernah menggendong bayiku dengan muram, sangat muram walau aku mengunggah foto penuh senyum dan kalimat indah di linimasa. Ibu menjalani hari-hari tersiksa, pikiran penuh monster ketakutan yang punya kemampuan jadi raksasa hanya dengan satu pemicu kecil saja, seperti gagal membuat bubur untuk bayi. Bubur gosong bisa jadi sumber air mata yang tumpah ruah tak berkesudahan. Ibu terbelenggu perasaan-perasaan aneh tak masuk di akal.

Kita melanjutkan membaca puisi berjudul “Perempuan Bergelar Ibu”: Temani aku/kau yang memilih terpisah ranjang/karena tangisnya rusak mimpi-mimpi panjang/ dan segala gerak buatmu menceracau/Belai, jiwaku belailah/Daya dilubangi lelah, dihantui takut akan lalai. Baris-baris kalimat menyiratkan bahagia mulai surut, diganti lelah dan takut. Memang begitulah keadaan banyak ibu di balik potret-potret penuh senyum. Sekonyong-konyong peran baru tersemat padanya dengan berbagai tuntutan. Tuntutan bisa berasal dari luar dirinya, bisa pula dari dalam dirinya sendiri. Ibu-ibu berbekal macam-macam pengetahuan justru tak luput perkara tuntut-menuntut dari dalam diri.

Tuntutan bisa berasal dari luar dirinya, bisa pula dari dalam dirinya sendiri. Ibu-ibu berbekal macam-macam pengetahuan justru tak luput perkara tuntut-menuntut dari dalam diri.

Di sisi yang lain, pengetahuan bisa membuat ibu mengantisipasi banyak hal. Hal-hal buruk yang tak diharapkan tentunya. Pemahaman bisa jadi dorongan atau justru jadi pemicu kekhawatiran. Kita buka buku Misteri Jiwa dan Perilaku tulisan Inu Wicaksana (2018). Buku bercerita tentang sketsa kasus-kasus psikiatri. Orang-orang dengan gangguan jiwa. Di sana kita menemukan penjelasan-penjelasan tentang ibu. Kita simak, “Pemuda itu, sebagai anak bungsu, harus tumbuh sendiri karena bapaknya, yang bekerja sebagai sopir, jarang berada di rumah. Banyaknya stressor kehidupan yang harus dihadapi sendiri menjadi pencetus timbulnya gangguan jiwa berat. Setiap kali mondok di RSJ, pemuda itu terkenang dengan perhatian dan kasih sayang ibunya yang tak cukup didapatkannya. Namun, masa-masa bersama ibu menjadi kenangan indah baginya.” Peran ibu diterangkan dalam banyak literatur itu sentral, sangat penting. Perempuan bisa menganggapnya anugerah atau beban, bahkan pada saat bersamaan.

Kita baca kelanjutan penjelasan tentang hubungan si pemuda penderita gangguan jiwa berat dengan figur ibu. “Kasih sayang dengan figur ibu, basic trust, kemudian terputus lima tahun, sambung lagi beberapa tahun. Pada saat dia membutuhkan pujian, dukungan, perhatian untuk berkembang, kasih sayang itu hilang lagi. Jadilah ia seperti ini.” Di luar kuasanya, ibu dalam sketsa yang harus pergi ke luar negeri untuk bekerja menghidupi keluarga, menjadi sebab-musabab si anak terguncang jiwanya kelak di masa remajanya. Ibu beruntung tak harus menyaksikannya karena sudah tutup usia. Oh!

Kita lanjut membaca deret-deret puisi Sandra Palupi. Gelar ini sungguh berbeban/Ibu yang keibuan/Begitu tegar dan kukuh/asing dan membunuh/Tak mampu kukejar pagi/yang pergi/Tak mampu kutolak petang/yang datang/Aduh. Bagi beberapa orang gelar ibu mendatangkan beban, bisa jadi teramat berat. Memojokkannya dalam hari-hari muram alih-alih hari-hari penuh syukur dan suka cita akibat berkat kedatangan bayi. Decak heran barangkali cibiran mungkin saja ditelannya mentah-mentah dengan label tak mampu mengelola kondisi emosionalnya. Tapi Sandra Palupi tak mencibir. Kita baca baris akhir puisinya. Berhadapan dengan waktu/nyatanya aku/sekedar manusia. Kewajaran sebagai manusia lemah diakui Sandra Palupi dalam puisi, menjadi silih akan beban-beban terangkut oleh gelar Ibu.

Kesan berbeda kita maknai ketika mendengar lagu Bunda-nya Melly Goeslow. Lagu sangat enak di telinga bercerita tentang Ibu dari sudut pandang anak. Kata mereka diriku s’lalu dimanja/Kata mereka diriku slalu ditimang/Nada nada yang indah/S’lalu terurai darinya/Tangisan nakal dari bibirku/Takkan jadi deritanya/Tangan halus dan suci/T’lah mengangkat diri ini/Jiwa raga dan seluruh hidup/Rela dia berikan. Ibu tergambar sempurna, kuat juga suci. Lagu seperti potret ibu-ibu tersenyum, sementara di balik itu, sesungguhnya Ibu hanya berusaha bertahan, belajar menjadi lebih baik, dan menerima berbagai kelemahan-kelemahan diri. Barangkali dari situlah kekuatan itu didapatnya.


Yulia Loekito, pecinta buku anak.

http://lialoeferns.blogspot.co.id/

One thought on “Di Balik Senyum Ibu

  1. bagus juga ni tulisannya.

    XOXO Bayu Risanto, S.J. Ph.D Research Assistant in Atmospheric Sciences Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s