Keluarga Krakatau yang Aktif

Tahukah kamu, beberapa gunung mempunyai “anak”, misalnya Kelud dan Krakatau. Apa sebenarnya anak gunung api ini, dan bagaimana kelahirannya? Untuk mencari tahu, kita jalan-jalan ke Cagar Alam Krakatau, yuk!

Anak Krakatau

Jika kamu mencari Gunung Krakatau di peta, mungkin akan melewatkannya karena terlihat sangat kecil. Pencarianmu mesti mengarah ke Selat Sunda, di antara Pulau Sumatra dan Jawa, untuk menemukannya. Meskipun kecil di peta, letusannya pernah memuramkan seisi Bumi!

Gunung Krakatau tidak selamanya seperti yang terlihat sekarang ini. Dulu dia dikenal dengan nama Batuwara, atau Krakatau Purba, yang tingginya 2.000 meter. Gunung Batuwara meletus pada tahun 535 M dan diduga mengakibatkan perubahan iklim global.

Setelah Batuwara menghancurkan dirinya sendiri dengan letusan dahsyat, lahir tiga gunung api, yaitu Krakatau, Danan, dan Perbuwatan di Kepulauan Krakatau. Tahun 1883 ketiga gunung ini meletus, menimbulkan tsunami setinggi 30 meter. Bencana ini memakan korban lebih dari 36.000 jiwa penduduk di pantai sekitar.

Letusan ini juga menghancurkan Gunung Danan dan Perbuwatan, serta memancung puncak Gunung Krakatau. Saking besar akibatnya, ilmuwan mencatat fenomena ini sebagai salah satu letusan gunung api terbesar sepanjang masa. Debu vulkanisnya mewarnai langit hingga kemerahan selama beberapa waktu.

Di tengah kehancuran tiga gunung itu, muncul kaldera atau kawah gunung yang sangat besar. Di sekitar kaldera lahirlah gunung baru, yang kemudian diberi nama Anak Krakatau. Ilmuwan mencatat kelahiran Anak Krakatau dari dalam laut pada tahun 1927. Perlu dua tahun untuk Anak Krakatau muncul dari permukaan laut. Sejak tahun 1929 Anak Krakatau bisa diamati langsung.

Pertumbuhan Anak Krakatau

Sejak kelahirannya hingga hari ini, Anak Krakatau terus bertumbuh. Ilmuwan menyebutnya sebagai fase konstruksi, yaitu gunung sedang membangun tubuhnya hingga besar. Ilmuwan meneliti Anak Krakatau bertambah tinggi sekitar 4 meter per tahun. Bongsor, ya! Coba bandingkan dengan pertumbuhanmu, berapa sentimeter setiap tahunnya tinggi badanmu bertambah?

Sepanjang masa pertumbuhanmu, pernahkan berat badanmu berkurang? Ya, kalau sakit parah, berat badan kita biasanya berkurang. Anak Krakatau juga pernah mengalami berkurangnya tinggi tubuh, bahkan sampai ratusan meter! Misalnya, setelah meletus pada Desember 2018, Anak Krakatau yang tadinya mencapai tinggi 338 meter, menjadi tinggal 110 meter. Berkurangnya tinggi ini akibat banyaknya material yang dikeluarkan Anak Krakatau selama letusan.

Seperti ibunya, Anak Krakatau juga aktif. Sepanjang tahun 1992 hingga 2001 hampir setiap hari ia meletus. Material padat berupa pasir, batuan, dan leleran lava yang dikeluarkan terus menumpuk dan menjadikannya semakin besar dan tinggi. Letusan 2018 yang memangkas tinggi Anak Krakatau, juga mengakibatkan tsunami seperti yang terjadi pada tahun 1883. Bencana ini memakan korban jiwa sebanyak 437 orang. Apakah Anak Krakatau meletus sepanjang tahun 2021 ini? Kamu cari tahu sendiri, ya!

sumber foto: https://img.antaranews.com/cache/730×487/2018/07/antarafoto-letusan4-anak-krakatau-200718-els-4.jpg

Hingga sekarang, Anak Krakatau terus mengeluarkan letusan stromboli. Letusan ini dianggap ringan, namun berlangsung terus-menerus. Karena kepulan asap dan pijaran lavanya yang bagaikan air mancur, letusan-letusan ini menarik perhatian banyak orang, baik untuk diteliti atau diabadikan sebagai foto.

Kekayaan hayati Krakatau

Telah 138 tahun berlalu sejak letusan terakhir Krakatau yang menghancurkan itu. Anak Krakatau lahir empat puluh empat tahun kemudian, dan hingga sekarang terus meletus. Meski demikian, ada saja hewan dan tumbuhan yang hidup di lingkungan seperti itu, misalnya burung, mamalia, dan reptil, juga cemara dan ketapang. Keunikan ini menjadikan Anak Krakatau dan sekitarnya sebagai laboratorium alam.

Cagar Alam Krakatau meliputi Gunung Krakatau Purba, Pulau Panjang, Pulau Sertung, serta Gunung Anak Krakatau. Lokasinya berada di Kepulauan Krakatau, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Sumatra. Jika tertarik pada biologi, geologi, atau vulkanologi, kamu pasti menyukai tempat ini!

Jurnal sebagai mesin waktu

Dari mana kita tahu riwayat Keluarga Krakatau berabad lalu, padahal orang-orang pada masa itu sudah tak ada lagi sekarang?

Para ilmuwan menggunakan berbagai cara untuk menguak rahasia alam. Salah satunya dengan membaca catatan atau jurnal dari berbagai masa. Catatan tentang Krakatau tertulis, mulai di “Pustaka Raja Purwa” oleh Raden Ngabehi Rangga Warsita, hingga jurnal-jurnal oleh para peneliti asal Inggris dan Belanda. Sampai sekarang ilmuwan terus memantau aktivitas Anak Krakatau dan gunung api aktif lainnya. Maukah kamu bergabung dengan para vulkanolog ini?


Dian Vita Ellyati, Penikmat sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Februari 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya untuk menyesuaikan informasi terbaru.

One thought on “Keluarga Krakatau yang Aktif

  1. keren

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Research Assistant in Atmospheric Sciences Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s