Makanan Kota vs Makanan Desa

Indri Kristanti

DI kota, makanan terbiasa mendatangi pembeli. Paling banyak menjajakan dengan gerobak yang didorong manusia penjual, meski ada juga yang mengendarai sepeda ataupun sepeda motor. Sebagai penanda dan tetenger jenis makanan yang dijajakan, bunyi-bunyi dihasilkan dari piranti yang berbeda.

Suara wajan besar dipukul susuk itu martabak asin.

Pukulan wajan kecil itu nasi goreng babat.

Kentongan dipukul itu mie Surabaya.

Ketukan sendok di mangkok itu soto ayam di pagi hari.

Suara tinggi seperti peluit, dihasilkan dari uap yang melewati cerobong bambu itu putu bumbung.

Penjual berteriak “Ngiiiin!” itu buah potong sedang lewat.

Sekarang, aneka rekaman suara dan lagu dijadikan pengganti suara, agar penjual tak perlu kehabisan suara karena terus menerus berteriak. Dari rekaman yang terdengar sudah dapat dipastikan jenis makanan yang dijual “Sari Roti. Roti Sari Roti.”, “Susu murni Nasional.”,”Tahu bulat, digoreng di mobil, lima ratusan, halal.”, “Gungdog. Jagung digodog.”

Manusia kota termanjakan, tanpa perlu melintas pagar,  aneka makanan langsung mendatangi hanya dengan lambaian tangan atau seruan “Mas!” Kebiasaan terus berlanjut, kemudahan demi kemudahan mewarnai kehidupan manusia kota yang sebagian besar juga penghuni kantoran. Dengan bantuan gawai, aplikasi memuat ratusan menu makanan dan minuman dari berbagai tempat. Penjual makanan tak perlu menyewa ruko di lokasi strategis. Bertempat di pelosok kampung pun tak masalah, pengemudi bisa mencari lewat posisi titik yang tertanda pada peta aplikasi. Menu-menu dipesan dan langsung dibayar melalui aplikasi. Dalam waktu singkat, abang ojek sudah nongol di depan pintu sambil membawakan makanan yang terpesan sesuai aplikasi. Kemudahan melahirkan kecanduan. Kepraktisan dan kecepatan menjadi alasan untuk terus-menerus menggunakan aplikasi. Godaan-godaan promo dan harga diskon sayang bila tidak digunakan. Alhasil, dipesanlah menu tiga kali sehari lewat aplikasi. Kebutuhan makan tiap hari sudah terpenuhi, dapur dan memasak tak lagi jadi urgensi. Tapi kompor tetap saja tetap dibutuhkan untuk menghangatkan makanan dan pada tanggal-tanggal tua, memasak telor dan Indomie.

Manusia kota itu sibuk urus ini dan itu, sibuk mencari uang demi cicilan itu dan ini. Memasak itu ribet dan buang waktu. Orang kota pilih makan yang gampang dan cepat. Makanan cepat saji jelas jadi pilihan. Berbagai gerai makanan cepat saji lokal dan internasional menjamur di mana-mana. Menghadirkan sensasi rasa yang hampir sama, daging-daging berbalur tepung krispi dengan saus beda-beda rasa. Harga murah berarti ukuran daging kecil, tepungnya yang tebal. Harga mahal berarti sebaliknya, daging tebal dengan tepung tipis-tipis. Makanan cepat saji dikemas dalam kotak-kotak yang menarik, dilabeli aneka slogan mengundang. Agar makanan terasa lebih nikmat dan mengurangi sedikit perasaan berdosa karena tidak sempat memasak.

Perilaku membeli dan mengkonsumsi makanan matangan menentukan peralatan di rumah. Lemari es dan kompor, terkadang juga microwave jadi piranti yang wajib ada di tiap rumah. Alih-alih menyimpan sayur segar, lemari es penting untuk menyimpan masakan matang yang tidak tuntas dimakan, guna dipanaskan kembali esok hari. Sisa makanan eman kalau terbuang begitu saja. Kesegaran dan kesehatan tidak lagi menjadi prioritas, yang penting ada makanan masuk perut meski sudah berkali-kali dipanaskan.

Makanan di desa boleh dikatakan lebih segar dan sehat. Teringat pengalaman menginap di sebuah desa di Kulon Progo,  Yogyakarta. Desa masih dibilang jauh dari hingar bingar kota. Rumah masih berlantai tanah dan berdinding gedhek. Tuan rumah menyajikan berbagai menu sederhana bagi tamu. Meski hanya sayur sederhana, makanan terasa sangat segar dan nikmat.  Masakan dimasak dan disajikan pada hari yang sama karena rumah tidak berlemari es.  Menu tersaji, tiada hari tanpa olahan tempe dan tahu, entah dibacem atau digoreng atau dipindang. Beberapa sayur langsung dipanen dari halaman belakang rumah. Terdapat pohon-pohon singkong juga labu siam.  Buah labu siam langsung dipetik dari pohon, untuk posisi tinggi, nyonya pemilik rumah melemparkan sebuah batu tepat mengenai sasaran. Labu siam terjatuh dan langsung diolah menjadi masakan sayur yang lezat. Di samping rumah terdapat juga kambing dan ayam di kandang. Menu olahan ayam tersaji dari ayam yang mereka ternak sendiri. Tentu saja hanya di hari tertentu mereka akan menyembelih ayam yang sudah mereka rawat sekian lama. 

Di samping rumah terdapat juga kambing dan ayam di kandang. Menu olahan ayam tersaji dari ayam yang mereka ternak sendiri. Tentu saja hanya di hari tertentu mereka akan menyembelih ayam yang sudah mereka tawat sekian lama.

Dulu, gaya hidup kota belum mencemari desa. Alam sangat berperan dalam penyediaan makanan desa. Manusia desa mempelajari alam bertujuan menyimpan hasil bumi sehingga bisa diolah di kemudian hari.  Kita dapat membaca dalam Jawa Pos, 25 Juli 2021, menceritakan masyarakat Suku Dawan yang hidup di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara di  Nusa Tenggara Timur (NTT). Suku Dawan yang bermukim sangat lekat dengan tumbuh-tumbuhan, air, tanah, dan hutan. Mereka menyimpan hasil panen dalam sebuah rumah yang disebut uem bubu. “Uem bubu adalah rumah berbentuk bulat dengan atap kerucut. Atapnya terbuat dari alang-alang. Di loteng rumah, bahan-bahan pangan disimpan.”  Uem bubu itu lumbung penyimpan bahan memasak.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lumbung adalah tempat menyimpan hasil pertanian (umumnya padi), berbentuk rumah panggung dan berdinding anyaman bambu. Jadi melumbung dapat diartikan menyimpan hasil panen di dalam lumbung. Makanan tradisional yang mereka panen dari sekitar rumah kemudian disimpan di lumbung membuat kehidupan tidak tergantung kepada beras. Pembuatan makanan tradisional jauh lebih mudah dan bahannya mudah didapat. “Kacang, ubi, singkong, dan jagung tumbuh di sekitar rumah. Ada di kebun. Ada di hutan.”

Tradisi melumbung tidak hanya ditemukan pada Suku Dawan. “Setiap daerah di Indonesia dikenal melumbung. Tradisi yang juga menjadi cara untuk mempertahankan kesediaan pangan itu bisa dilakukan secara pribadi atau kelompok.” Bertukar-tukaran bahan alam dengan masyarakat sekitar menjadikan makanan lebih beragam. Bagi Suku Minang, lumbung tak ayal menjadi status sosial menunjukkan prestise, dibangun di halaman depan rumah gadang. Lain halnya, dengan masyarakat Karo, Sumatera Utara, menjadikan lumbung sebagai tempat kumpul-kumpul dan mengawasi bahan pangan simpanan bersama-sama. Lumbung itu bicara kekeluargaan dan kebersamaan.

Bagi Suku Minang, lumbung tak ayal menjadi status sosial menunjukkan prestise, dibangun di halaman depan rumah gadang. Lain halnya dengan masyarakat Karo, Sumatera Utara, menjadikan lumbung sebagai tempat kumpul-kumpul dan mengawasi bahan pangan simpanan bersama-sama. Lumbung itu bicara kekeluargaan dan kebersamaan.

Sayang, industrialisasi dan modernisasi ala kota jelas melunturkan tradisi melumbung di desa. Makanan instan dan cepat saji turut merambah desa-desa yang berdekatan dengan kota. Makin berkurang dan mahalnya lahan, turut mengikis ketersediaan lahan untuk pembangunan lumbung. Orang desa tidak mau dikata sebagai wong ‘ndeso. Melumbung dikatai sebagai tradisi usang dan ketinggalan jaman. Pembangunan rumah berdinding bata dan beton jelas tak terelakkan. Lahan-lahan perkebunan dan pertanian turut dikorbankan, lebih menghasilkan bila  dijual kepada pengembang untuk dijadikan hunian. Manusia desa pun turut tampil modern dengan  membeli lemari es dan microwave, tak ada lagi urgensi menyimpan makanan di lumbung. Kian hari manusia kota dan manusia desa semakin tak terbedakan. Mempunyai cara hidup yang sama dan makanan yang sama. Keseragaman menjadi buah kemajuan atau kemunduran?


Indri Kristanti, penulis, tinggal di Kudus

One thought on “Makanan Kota vs Makanan Desa

  1. Bagus juga nih tulisan. Di Jepang juga masih ada orang jualan mie ramen yang dieder pakai gerobak… ada suara khas-nya juga. Lihat video ni https://www.youtube.com/watch?v=JqCz5u4U9M4

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Research Assistant in Atmospheric Sciences Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s