Sosok Ibu

Yunie Sutanto

SAMPUL buku nan unik menarik mata. Terlihat cahaya dari ambang jendela memasuki sebuah ruangan. Ada mainan kuda kayu di dekat jendela tersebut. Sepertinya ruangan ini adalah kamar anak. Terdapat sebuah stempel kehormatan di halaman kover buku yang semakin memantapkan hati untuk memiliki dan menikmati buku ini. Stempel kehormatan berisi keterangan bahwa buku kumpulan puisi Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi ini memenangi juara tiga dalam sayembara manuskrip buku puisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 2015. Kembali penikmat buku termanjakan matanya oleh berbagai tampilan gambar yang disajkan oleh sang desainer buku, Roy Wisnu.  Di halaman i nampak gambar bagian atas jendela kamar, lalu gambar laci dari jarak dekat di halaman 10 dan gambar sudut ruangan di halaman 45. Gambar-gambar ini disajikan bukan tanpa makna oleh Roy Wisnu. Secara visual inilah yang nampak dalam kemonotonan tugas sehari-hari seorang ibu yang seharian di rumah. Setiap sudut ruangan yang membisu tak bersuara menjadi teman setia sang ibu. Gambar-gambar ini berbicara mewakili rasa sepi yang menerpa keseharian ibu yang di rumah mengurusi anak-anaknya. Tanpa teman haha hihi, tanpa kehidupan sosial yang dulu dimiliki sebelum mempunyai anak. Rasa sepi terasa lebih menyakitkan jika hari-hari dilalui tanpa dukungan emosional dari orang-orang terdekat. Hanya tugas dan tanggung jawab mengurusi anak dan rumah tangga yang terus mendera tanpa pernah ada kata rehat. Menjadi ibu tanpa ada helper itu melelahkan secara holistik. Lelah fisik, lelah mental dan lelah emosional. 

Rasa sepi terasa lebih menyakitkan jika hari-hari dilalui tanpa dukungan emosional dari orang-orang terdekat. Hanya tugas dan taggung jawab mengurusi anak dan rumah tangga yang terus mendera tanpa pernah ada kata rehat. Menjadi ibu tanpa ada helper itu melelahkan secara holistik. Lelah fisik, lelah mental, dan lelah emosional.

Dalam bait pertama puisi berjudul “Dua Aku” terungkap manisnya kejutan saat menjadi seorang ibu: /Ketika kau keluar dari tubuhku/ada makhluk lain yang masuk menggantikanmu/aku, yang tak pernah orang kenal apalagi kau/aku, yang tak pernah aku kenal tapi menjadi aku karena kau/ (Cyntha Hariadi, 2016:71). Bait ini memberitakan dua pribadi yang terlahir! Bayi yang baru lahir itu dan si ibu baru. Saat si anak kelak berulangtahun, saat itu pulalah si ibu merayakan hari jadinya sebagai seorang ibu. “Selamat ulang tahun yang pertama, Nak”, demikian pengabadian momen ulang tahun dalam buku scrapbook. Ucapan yang sama tertera pula di kue ulang tahun. Tak lupa dibidik dalam foto dan kalimat yang sama menjadi unggahan takarir di media sosial. Dalam hati kecil si ibu, nuraninya pun memberi selamat pada dirinya. Selamat hari jadi sebagai ibu. Happy first year of motherhood. Setiap tahun lilin-lilin yang ditiup bertambah. Setiap tahun sang ibu pun makin bertumbuh dalam perjalanan sebagai ibu.

   /Besok pagi/wajah ini tidak akan sama lagi/ setiap pagi berpuluh-puluh tahun berikutnya/ wajah ini tidak akan sama dan ada lagi/. Demikian penggalan bait puisi berjudul “Wajah Ini” di halaman 73. Setiap hari anak-anak bertumbuh. Dengan kesadaran ini, sebetulnya tidak ada hari yang sama persis. Kasih Tuhan selalu baru setiap pagi, demikian pula perjalanan ibu dalam membesarkan anak-anaknya di rumah. Selalu baru setiap hari, tak pernah sama. Rasa monoton dari rutinitas  tergantikan sukacita merayakan setiap pencapaian-pencapain kecil yang teramati. Puputnya tali pusat. Celoteh pertama. Senyum pertama yang terbidik kamera. Langkah kaki pertama. Gigi pertama yang tumbuh. Gigi pertama yang tanggal. Haid pertama. Sang ibu pun bukan wanita yang sama lagi.  Dalam sekolah kehidupan, menjadi orang tua adalah sebuah kehormatan. Kurikulum menjadi orang tua mungkin saja berat dipelajari, seringkali sarat dengan ujian dadakan, namun anugerah besar-Nya menyertai para orang tua yang memilih untuk menjalankan perannya.

Menjadi ibu bukan akhir dari kehidupan seorang wanita. Menjadi ibu justru tahapan agung dalam kehidupan seorang wanita. Jangan memandang sebelah mata ibu yang mengasuh dan membesarkan anaknya di rumah. Wanita yang memilih melewatkan kesempatan-kesempatan berkarir di luar rumah bukanlah sedang menyia-nyiakan diri. Bukankah dengan berfunhgsinya peran ibu itu anak-anak akan terhindar dari miskin secara emosional. Kantong emosi anak-anak yang kekurangan kasih ibu itu kering dan kosong. Mereka mencari dan terus mencari pengganti kehampaan itu dalam hal-hal lain yang (sayangnya!) tak akan bisa menggantikan kehadiran ibu dalam masa tumbuh kembangnya. Tak usah heran jika anak-anak masa kini itu marak dengan masalah emosional di masa dewasanya kelak. Mengapa demikian? Tidak hadirnya sosok ibu yang mendulangkah? Ibu masa kini justru dituntut berlari dari kemonotonan mendulang kasih demi mendekap kehidupan karir. Jabatan di kantor yang sebetulnya bisa tergantikan orang lain menjadi pilihan demi kenyamanan finansial. Padahal posisinya sebagai ibu di hati anak-anak di rumah tak tergantikan. Teringat kaleng biskuit Kong Guan sebagai cermin realitas sosial. Jikalau sosok ayah dimaafkan karena menghilang dalam biskuit kaleng yang legendaris itu, semata karena memang adalah tugas “agung”nya untuk mencari nafkah, lantas apakah kaleng biskuit masa kini pun harus kehilangan sosok ibu? Seruan hati sepi para bocah kini ternyata tak cuma merindukan ketidakhadiran sosok ayah, namun bocah masa kini pun kehilangan sosok ibu. Where have all the fathers gone? Menjadi pertanyaan zaman lampau. Yang kekinian adalah: Where have all the mothers gone? Demi penghasilan dari dua kepala, pertanyaan ini pun terangkum apik: Where have all the parents gone?

Jangan kaget jika kita menuai generasi yang anti otoritas, sebab anak-anak terbiasa dibesarkan sejak dini tanpa sosok otoritas yang hadir!

Pikiran pun membayangkan potret sosial dalam imaji kaleng biskuit yang dimutahirkan mengikuti zaman. Dua anak yang sedang makan biskuit sembari ditemani gawai menjadi ikon biskuit kaleng itu jikalau hendak  menyuarakan potret keluarga masa kini. Gawai (sedihnya!) telah menjadi pendamping tumbuh kembang anak-anak generasi Z. Walau tak bisa dipungkiri bahwa anak-anak zaman now masih membutuhkan para ibu yang mendulang. Anak-anak butuh kehadiran sosok ibu mereka di tahun-tahun usia emas.  Mengutip Molly Wigard dalam Terapi Bagi Ibu Yang Sibuk: Cintailah anak-anakmu. Karena cintalah yang berarti dan bertahan lama. (Wigard,2004: 38). Menjadi ibu yang seharian mengurusi anak-anak dan keluarganya adalah kemewahan yang tak dimiliki banyak wanita. Bersyukurlah jika kenikmatan ini termiliki dalam genggamanmu. Rumahmu bukanlah penjara tubuhmu, berada di rumah bersama anak-anak adalah suatu kenikmatan dan anugerah. Setiap sudut rumah punya cerita kasih sayang yang terukir di hati anak-anak. Pertanyaannya adalah: Siapa yang sedang mengukir di hati anak-anak itu? Tulisan ini ditutup dengan mengutip Harold B Lee  bahwa The most important work you and I will ever do will be within the walls of our own homes. Kiranya keluarga-keluarga tak kehilangan sosok ibu yang mendulang, dan biarkan anak-anak itu berlari.


Yunie Sutanto, @agendaiburumahtangga @agendasekolahrumah

One thought on “Sosok Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s