Gubuk Reyot dan Bajak di Langit

MUSIM hujan sedang berlangsung. Hawa jadi sejuk. Awan mendung sering menggantung dan membuat suasana murung. Tapi, malam menjelang, hujan pun berhenti, langit tampak lebih bersih seperti baru dipel. Bintang-bintang bermunculan bagaikan butiran permata hiasan selimut raksasa.

istockphoto-1321804610-612×612

Bintang-bintang bertaburan tak beraturan. Tapi, dengan imajinasi, kita bisa membuat gambar dari ketidakteraturan ini. Nenek moyang kita telah melakukannya. Mereka menarik garis khayalan dari satu titik terang ke titik terang lain di dekatnya, bisa ke arah mana pun. Garis demi garis ini membentuk sebuah gambar, misalnya gubuk reyot, atau alat pembajak sawah.

Gambar khayali dari sekumpulan titik bintang disebut rasi atau konstelasi. Tentu setiap orang bisa membuat gambar apa saja sesuai imajinasinya. Namun begitu, ada 88 rasi modern dalam daftar yang disusun Persatuan Astronomi Internasional atau IAU. Crux dan Orion adalah dua rasi yang ada dalam daftar ini.

Gubuk reyot di selatan

Pernahkah kamu penasaran, bagaimana orang menentukan arah sebelum kompas ditemukan? Padahal manusia sudah bepergian jauh. Apa yang mereka gunakan sebagai alat navigasi selama perjalanan di darat atau laut? Atau, apa yang harus kau lakukan jika kompasmu rusak? Tenang, asalkan langit cerah, bintang-bintang akan memandumu!

Pada bulan-bulan tertentu, kamu mudah menemukan rasi Crux, atau Salib Selatan. Kakek dan nenekmu mengenalnya sebagai Gubuk Péncéng (gubuk miring) atau Lumbung, karena bentuknya bisa diimajinasikan seperti itu juga. Ada yang menyebutnya rasi Layang-layang atau Ikan Pari. Begitulah, imajinasi orang-orang pada suatu rasi memang berbeda-beda.

Setelah menemukan rasi ini, tarik sumbu panjangnya hingga horizon, nah di situlah kira-kira arah selatan. Arah mata angin yang lain tinggal mengikuti saja, bukan? Rasi Salib Selatan terdiri dari empat bintang utama, yaitu Acrux, Becrux atau Mimosa, Gacrux, dan Delta Crucis. Selain terkenal sebagai petunjuk arah, Salib Selatan juga rasi terkecil dalam daftar IAU. Nenek moyang kita menggunakannya sebagai penanda musim kemarau, karena terlihat jelas sepanjang bulan April hingga Agustus.  

Sebetulnya malam ini pun kita bisa melihatnya kalau tidak mendung atau hujan, tapi baru setelah tengah malam. Jadi, rasi apa dong yang bisa kita lihat sebelum berangkat tidur malam ini?

Waluku berarti waktunya menanam

Ayo kita buru Orion Sang Pemburu! Pada bulan Desember kamu bisa berburu rasi ini mulai pukul tujuh malam di arah timur. Rasi ini mudah ditemukan berkat tiga bintang terang di bagian sabuk Orion, berturut-turut dari yang paling atas: Mintaka, Alnilam, dan Alnitak. Tiga bintang terang lain adalah Rigel, Betelgeuse, dan Bellatrix.     

Orang Jawa mengenal rasi ini dengan nama Waluku, yaitu alat tradisional untuk membajak sawah. Kamu mungkin tidak mengenal waluku, karena sekarang sudah jarang digunakan. Petani mengamati terbitnya rasi Waluku di langit sebagai penanda masuknya musim tanam. Sedangkan pelaut menggunakannya dalam navigasi untuk menggambarkan garis khayali barat-timur.

Masih banyak lagi yang bisa kamu amati di langit malam yang cerah, misalnya rasi Scorpio (Kala Sungsang/Kalajengking/Klopo Doyong/Banyak Angrem), rasi Centaurus (Wulanjar Ngirim), gugus bintang Pleiades (Lintang Kartika) di rasi Taurus (Minda), dan sebagainya. Kamu bisa mengunduh dan menginstal perangkat lunak Stellarium yang tersedia gratis di internet sebagai panduan.

Nah, apabila kamu mau membuat sendiri gambar khayali dari titik-titik terang di angkasa, jangan sampai keliru mengira planet sebagai bintang ya! Karena jika dilihat dengan mata telanjang (tanpa alat bantu seperti teleskop atau binokular) keduanya mirip. Perhatikan, jika titik terang itu tidak berkelap-kelip, maka itu planet. Gambarmu akan kacau kalau sampai menyertakan planet, karena planet bergerak lebih cepat daripada bintang.

Seandainya Natal tahun ini kamu memasang bintang di puncak pohon terang, sudah tahu dong arti bintang untuk manusia. Oh ya, tahukah kamu bintang apa yang paling dekat dari Bumi?


Dian Vita Ellyati, Penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Desember 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s