Berani Sehat

Setyaningsih

KESEHATAN itu sebagian dari pengajaran. Majalah anak bulanan yang terbit di Ende, Flores, Kunang-kunang (Agustus, 1975), mewartakan “Cacing yang Berbahaya”. Cacing di tanah memberi gizi pada tetumbuhan, tapi cacing seukuran hanya 1 cm di usus manusia mampu menyerap gizi yang diperlukan tubuh. Redaksi memilih narasi daripada penjelasan kepada pembaca anak-anak, “Di halaman rumah di suatu kampung, anak-anak sedang bermain. Anak-anak ini tidak bersepatu. Mereka main dengan tanah. Anak-anak kecil merangkak di tanah. Bahkan, ada yang makan tanah. Di sana ada juga babi yang berkeliaran. Selain babi ada juga hewan lain: sapi, kambing. Anak-anak asyik bermain. Sebentar ibu memanggil mereka karena makanan sudah siap. Anak-anak makan dengan lahapnya. Mereka menyuap nasi dengan tangan. Tangan itu bekas main tanah dan tidak dicuci sebelum makan. Ada yang mencuci, tapi tidak bersih. Kotoran masih banyak di sela-sela kuku.”

Penggambaran situasi ini lekat dengan kebiasaan anak bermain di luar. Latar perdesaan menegaskan inilah wilayah paling rentan dan penting untuk melawan kekotoran sekaligus mendatangan modernitas yang salah satunya diwakili oleh kebersihan. Modernitas selalu mendukung kebersihan-kesehatan; sabun cuci tangan, pasta gigi, kebiasaan menggosok gigi, kamar mandi, sepatu, tenaga kesehatan, obat, makanan sehat. Hal ini searah dengan misi negara menyehatkan raga dan jiwa warga negaranya.

Modernitas harus membunuh cacing dalam tubuh, “Udin, Tika, Marno, Mia, dan kawan-kawan mereka tentu tidak senang bahwa banyak cacing hidup dalam usus mereka. Mereka pergi ke dokter, dan dokter memberi mereka obat cacing. Obat itu mereka minum. Sekarang cacing yang tidak senang. Obat itu membuat mereka mabuk mabuk dan akhirnya matilah mereka. Setelah cacing-cacing itu mati, anak-anak bertambah nafsu makannya.” Pencegahan dalam bentuk mengenakan alas kaki, buang air di kamar mandi, mencuci tangan dengan akurat, atau menjaga makanan dengan baik lebih diserukan daripada pengobatan.

Buku pelajaran juga mengisi hari-hari anak mengenal kebersihan demi kesehatan. Anjuran ini searah dengan kemerdekaan bangsa untuk bebas dari penyakit. Di buku bacaan bahasa Indonesia untuk murid kelas 3 sekolah rakyat berjudul Batjaan Bahasaku (1957) garapan S. Sastrawinata dan B.M. Nur terbitan W. Versluys N.V. Penulis mencontohkan efek jajan di warung. Orangtua sering menyebutnya jajan sembarangan. Diceritakan sepulang sekolah, Amir menjenguk Topo yang sakit. Dokter sudah datang mengobati. Amir juga bercerita di sekolah menjelaskan tentang lalat, binatang pembawa penyakit. Sakit membuat Topo bersikap, “Besok akan kubuat pemukul lalat, Mir. Dan aku tidak mau membeli penganan lagi diwarung jang kotor.”

Setelah kemerdekaan, sejumlah prakarsa dimulai untuk kesehatan masyarakat. Vivek Neelakantan membabar persoalan ini melalui buku Memelihara Jiwa-Raga Bangsa (2019). Infrastruktur kesehatan Indonesia antara tahun 1942-1949 memang hancur karena perang. Sebelumnya, pemerintah Jepang sangat menyadari kesehatan yang buruk, terutama di kalangan buruh Jawa, menggagalkan keberhasilan politik dan ekonomi membentuk “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya”. Seruan kesehatan begitu digalakkan oleh Kantor Pusat Kesehatan Masyarakat (Eiseikyokutyo). Salah satunya kampanye “Djawa Sehat” untuk mencegah penyakit endemik; malaria dan frambusia (patek).

Pemerintah bersama agenda memajukan bangsa selalu memerangi penyakit dan kekotoran. Kotor itu membahayakan meski tetap memberi semarak komersial pada salah satu produk deterjen. Anak-anak pasti menjadi sasaran. Berani kotor itu baik. Berani bersih itu lebih baik.


Setyaningsih, kritikus Sastra.

One thought on “Berani Sehat

  1. Iya juga… aku masih ingat saat SD tahun 90-an, aku masih cacingan dan diberi obat combantrine oleh ibu. hahahahahahha

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Research Assistant in Atmospheric Sciences Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s