Omah Kelinci

Roetji Noor Soepono

“RUCI, kamu lagi ngapain? Jangan hapenan terus!” Padahal baru 5 menit aku Youtube-an, sudah disuruh menutup hape dan makan. Menunya ayam lagi. Rasanya sudah lama tidak ganti lauk. Aku mulai makan tanpa nafsu. Sungguh menyiksa! Aku berharap suatu hari nanti, aku bisa makan sop kelinci, 

Sorenya, ibuku membuka hape sambil tiduran. Biasa, buka-buka Grabfood. Tapi, ujung-ujungnya nanti tetap makan di rumah. Makan makanan sejuta umat: ayam. Ketika aku juga ikut tiduran, kulihat sebuah resto bernama Omah Kelinci di Karanganyar. Ih, kelincinya imuuuuut bangeeeeet!” Ibuku juga gemas sama kelincinya. Kami sepakat menunggu bapak pulang kantor untuk mengantar kami.

Lalu, terdengar suara mobil. Tumben, jam 4 bapak udah pulang. Aku meraih baju dan celana yang cukup pantas, lalu naik ke mobil sambil senyum-senyum sendiri. Bapakku yang enggak tahu rencana kami bingung. Ibuku juga masuk mobil sambil cengar-cengir. Aku mengangkat alis dan ibuku menghitung sampai tiga menggunakan jari. Pada hitungan ketiga, kami bersama berteriak, “Paaaak, ayo ke Omah Kelinci!” Bapakku bingung, “Nanti kalau boleh ke sana, aku janji mau dicium/ dikumisi bapak selama seminggu lebih.” Bapak menuruti kehendak kami. Di tengah jalan dia bertanya, “Omah Kelinci itu di mana sih?”

“Di Desa Karang, Pak.” Bapak menanggapi, “Walah, ya ngapain ke desa karang sore-sore. Ke tempat lain saja!” Sedihnya mendengar bapakku enggak mau ke Omah Kelinci. Untuk kali pertama sesudah hampir sebulan, aku nangis. Ibu mengusulkan ke tempat lain. Kami menyeberang ring road. Kami ke rumah Mbak Jingga, temanku dan ibuku. Rumah kosong. Kami pulang dan niatnya mampir jajan di takoyaki Hiroshi. Apes, warungnya tutup. Habis akal, kami ke Tropis, Gagal lagi karena hujan dan rambut sekeriting bulu domba. Kami pun pergi ke warung andalan: Say Story. Terlalu ramai! Pikiran seperti asinan gosong. Kami pergi ke sate Madura. Syukurlah, warung buka. Kami pesan tiga, tapi entah kenapa enggak pesan lontong. Akhirnya, kami makan sate, bukan sop kelinci seperti yang aku damba-dambakan.

Esoknya, hari berlangsung biasa, kami makan gurami bakar. Esoknya lagi, rutinitas berjalan biasa, tapi aku dikasih tahu bapak kalau besok bakal ke Omah Kelinci. Aku enggak sabar. Satu menit seperti satu hari. Lama banget! Sorenya, aku menonton presentasi teman-teman Public Speaking CM Indonesia. Keren banget.

Foto: Pablo Martinez / unsplash.com

Hari yang kuharapkan tiba. Aku deg-degan mengawasi kendala di jalan. Seolah, jalan ingin membatalkan perjalanan kami; perbaikan jalan, hujan deras, macet, jalan tembusan, dompet ketinggalan, dan kerjaan bapak di kampus. Semua tidak menghalangi tekad rotan kami pergi ke Omah Kelinci. Sampai di sana, aku langsung beli tiket, wortel, dan topi kelinci. Kelincinya imut. Baru saja bangun, langsung aku kasih wortel. Dalam jarak terjangkau, aku tangkap kelincinya dan kugendong. Ketika asyik ngejar-ngejar kelinci hitam (yang sampai kami pulang tetap enggak tertangkap), makananku dateng. Aku makan sop kelinci. Dagingnya empuk banget dan juga kenyal-kenyil, tidak seperti daging ayam yang seret.


Roetji Noor Soepono, suka bereksperimen dan bermain.
Tinggal di Mojosongo, Solo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s