Ceritaku di Sekolah

Delila Aloedya

TEMAN-TEMANKU yang asyik, nakal, dan jahil membuatku menjadi anak yang asyik dan ceria. Aku memang anak yang pendiam di hari-hari pertamaku bersekolah di SD Djama’atul Ichwan Program Utama. Saat itu, aku berpikir pelajarannya akan susah. Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami sedikit demi sedikit.

Di kelas 1, aku mempunyai banyak cerita yang lucu dan aneh, misalnya rasa suka antara cewek dan cowok. Ada anak pintar di kelasku yang selalu mendapat peringkat pertama saat testing. Dia bernama Nabila. Karena dia pintar dan cantik, semua cowok di kelas 1 suka Nabila. Hadeh! Anak-anak pasti juga pernah mengalami “teman-temanan” atau pilih-pilih teman. Aku dan teman-temanku juga begitu. Aku masih mengingat itu karena lucu saja ha ha ha. Jangan ditiru ya he he he.

Kenaikan kelas 2 … Aku dan teman-teman sangat nantikannya. Kami merasa sudah jadi kakak kelas. Namun, aku merasa pelajaran Matematika semakin susah. Meski begitu, tetap banyak serunya. Aku suka banget kelas 2 karena banyak adik kelas yang menyapa, “Mbak Delila!” atau “Hai, Mbak!’’ Aku gemes, apalagi yang memanggil cewek-cewek. Aku sudah merasa menjadi kakak kelas yang baik.

Aku suka banget kelas 2 karena banyak adik kelas yang menyapa, “Mbak Delila!” atau, “Hai, Mbak!” Aku gemes, apalgi yang memanggil cewek-cewek. Aku sudah merasa menjadi kakak kelas yang baik.

Ada juga agenda outing class ke Taman Balekambang, Solo. Seru banget! Kita diajak melihat hewan-hewan buas, seperti buaya, biawak, ular, dan lain-lain.  Di Balekambang juga ada tempat penangkaran burung unta, ayam, angsa, dan masih banyak lagi. Anak-anak diajak memancing ikan, tapi memancingnya dengan cara berenang. Ikannya masih kecil. Pokoknya lucu banget.

Di kelas 3, kami mempunyai guru yang cantik dan baik bernama Bu Desi. Kami juga piknik ke Yogyakarta, beda ya sama outing class. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Desa Gerabah atau Desa Kasongan. Di sana, anak-anak diajak membuat gerabah. Kami juga jalan-jalan keliling desa. Selanjutnya, kami mengunjungi Monjali atau Monumen Jogya Kembali. Kami salat dulu, lalu menonton semacam film pahlawan. Kami melihat barang antik dan pahlawan-pahlawan. Kok dari tadi membahas pahlawan dan barang antik sih? Jadi, Monumen Jogya Kembali adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kalau kalian ke Yogyakarta, jangan lupa mampir. Di sana seru sekali.

Aku mulai takut di kelas 4 karena pelajarannya akan susah, tapi ternyata enggak terlalu susah kok. Di kelas 4, ada sedih dan senang. Karena pandemi Covid-19 mulai menyebar di Solo, sekolah diliburkan. Setiap hari, aku bangun pagi dan mandi, makan, zoom sekolah, dan ngerjain tugas sekolah. Terasa bosan karena belajar sendiri. Sepi tidak ada teman. Rasanya ingin kembali ke sekolah dan bertemu teman-teman. Aku merasa aneh tidak bercerita dan berbicara secara langsung seperti biasanya di sekolah. Aku kangen dan rindu sekali dengan teman dan sekolah.

Sepi tidak ada teman. Rasanya ingin kembali ke sekolah dan berteu teman-teman. Aku merasa aneh tidak bercerita dan berbicara secara langsung seperti biasanya di sekolah. Aku kangen dan rindu sekali dengan teman dan sekolah.

Saat kelas 5, kami masih belajar di rumah dan belajar daring. Bedanya, kami juga belajar di rumah teman seperti kerja kelompok. Namun, belajar di rumah teman ini hanya sementara saja. Selanjutnya, kami masuk sekolah atau sekolah daring lagi. Aku sempat masuk sekolah karena ada latihan menjadi MC di sebuah acara sekolah. Karena kerja kerasku juga belajar, aku khotmil juz 30. Alhamdulillah! Sejak kelas 4, aku sudah berusaha menghafal. Acara dilakukan langsung, tidak lewat Zoom. Saat itu masih waspada Covid-19. Tidak boleh ada berkerumun, jadi acaranya tidak di hotel tapi di hutan. Kok di hutan? Begini, lokasinya ada di Karanganyar. Di jalan menuju Tawangmangu, ada hutan milik UMS (Universitas Sebelas Maret). Di sana sangat menyenangkan dan aku sangat bahagia. Apalagi, hawanya dingin.

Sekarang aku kelas 6. Kami sudah masuk sekolah lagi. Bedanya, kelas 6 tidak berlangsung full day karena wabah. Kami ke sekolah mengenakan masker, tidak boleh berbicara dengan teman, tidak banyak bermain seperti dulu. Di kelas 6 harus sangat serius dan fokus karena mengejar materi. Apalagi mau lulus SD, harus serius dan rajin belajar agar lulus dengan nilai yang memuaskan dan bisa masuk ke SMP favorit. Tujuanku sih mau melanjutkan ke MTsN 1 Surakarta. Aku harus rajin belajar karena ada ujian masuk dan banyak saingan.

Masalah pelajaran pun cukup berat. Kami mengulang pelajaran dari kelas 1. Apalagi Matematika, pelajaran yang biasanya dibenci banyak orang. Aku lumayan suka Matematika karena itu ilmu yang bermanfaat sampai kita dewasa. Di kelas 6, aku masih pernah mengikuti lomba pidato tapi kalah. Aku juga mengikuti lomba pidato saat kelas 3 dan kelas 4. Aku kalah, tapi tetap semangat dan tidak berkecil hati.

Begitulah pengalamanku dari kelas 1 sampai kelas 6 yang seru dan menyenangkan. Walau pelajaran susah, tapi harus tetap semangat. Terima kasih.


Delila Aloedya, suka mendengar musik dan makan gudeg, tinggal di Solo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s