Lautku Sayang, Lautku Malang

LUASNYA wilayah perairan Indonesia membuat negara lain iri dan ingin ikut memilikinya. Memang, ada apa, sih, di dalam laut, paling-paling ikan, rumput laut, dan air asin yang banyaaak, ‘kan? Ada-ada saja …

Begitulah kalau kita hidup dalam tumpukan harta. Nilainya yang tinggi jadi biasa bagi kita. Sedangkan mereka yang tak memilikinya, heran melihat kita membiarkan kekayaan itu. Mulai dari sumber makanan, hingga sumber energi seperti minyak dan gas, ada di laut. Belum lagi oksigen untuk kita bernapas. Kata ilmuwan, dibandingkan pohon di hutan, plankton di laut menghasilkan oksigen lebih banyak. 

Planet biru

Bumi dikenal juga sebagai planet biru. Warna biru di Bumi adalah air yang menutupi 70% permukaannya. Wilayah basah ini didominasi lima samudra, yakni Pasifik, Atlantik, Hindia, Antartika, dan Arktik. Sedangkan laut, yang lebih kecil daripada samudra, jumlahnya 100 lebih, menurut Organisasi Hidrografi Internasional.

Indonesia punya setidaknya lebih dari sepuluh laut. Perairannya yang nyaris ⅔ dari seluruh wilayahnya membuat Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Tahukah kamu nama laut di dekat tempat tinggalmu?

Tak aneh, nenek moyang kita maju dalam teknologi perkapalan. Mereka membuat kapal bercadik yang digunakan untuk berdagang hingga ke benua lain. Kita bisa melihat buktinya di relief Candi Borobudur yang didirikan pada abad ke-8. Kamu pun bisa naik kapal kayu nan megah ketika KRI Dewaruci (3 tiang 16 layar) atau KRI Bima Suci (3 tiang 26 layar) kebetulan bersandar di pelabuhan kotamu. 

Selain penjelajah samudra, penduduk maritim mahir menyelam. Untuk menangkap ikan, orang-orang suku Bajo sanggup menyelam tanpa alat bantu selama 13 menit! Kamu jangan coba-coba menirunya, ya.

Semakin dalam laut, suhu bertambah dingin dan tekanan semakin besar. Sepertinya tak ada makhluk hidup di lingkungan seekstrem laut dalam. Namun, ternyata dasar laut mirip daratan, punya gunung api tinggi dan jurang dalam.

Di dasar Laut Sangihe yang dalamnya mencapai 5.100 meter, menjulang Gunung Kawio Barat hingga 3.500 meter. Ini lebih tinggi daripada Gunung Merapi. Gunung api dalam laut menghangatkan sekitarnya sehingga makhluk dapat hidup, seperti bintang laut, udang, lobster, gurita, ikan, dan terumbu karang.

Palung, atau jurang laut, juga menjadi rumah bagi sebagian makhluk. Palung Mariana adalah tempat paling dalam di Bumi dengan kedalaman 11 kilometer dari muka laut. Di situlah hidup mikroba. Untuk menyelidiki tempat ekstrem ini, saintis mengirimkan wahana tanpa awak. Mirip “rover” yang dikirim ke Mars, ya? Masih ada 95% bagian laut yang belum kita jelajahi. Jika kamu tertarik menguak rahasianya, menjadi aquanaut sama kerennya dengan astronaut.

Plankton yang usil ada dalam film Spongebob. Padahal, plankton berguna. Plankton adalah hewan dan tanaman yang sangat kecil yang hanyut di laut. Hewan plankton disebut zooplankton, sedangkan tanaman plankton namanya fitoplankton. Melalui proses fotosintesis, fitoplankton menghasilkan oksigen terbanyak di Bumi. 

Rumah, bukan tempat sampah!

Sayangnya, keindahan dan manfaat itu tak bisa kita jaga. Indonesia adalah penghasil sampah terbesar di lautan. Parahnya, sampah itu dari bahan yang sulit terurai, atau butuh waktu sangat lama untuk membusuk, misalnya plastik. Meskipun telah membuang sampah di tempat sampah, tapi kita toh tidak tahu ke mana sampah itu berakhir, bukan? 

Mau tak mau, kita harus mengurangi sampah anorganik supaya tidak terus mencemari sumber oksigen yang sangat kita perlukan. Sampah itu juga meracuni makhluk hidup yang berumah di laut. Pernahkah kamu membaca berita tentang ikan yang terdampar di pantai dengan sampah plastik dalam perutnya? Ada juga foto seekor kuda laut yang buntutnya menggenggam korek kuping. Ini adalah teriakan minta tolong dari laut. Maukah kamu menolongnya?

Bila bepergian, bawalah selalu wadah tahan lama sebagai ganti bungkus plastik atau stirofoam. Karena, seperti dikatakan peneliti oseanografi bernama Sylvia Earle, “Tidak ada biru, tidak akan ada hijau. Tanpa air, tak akan ada kehidupan.”


Dian Vita Ellyati, penyuka sains.

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Februari 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s