Julie Perangi Epidemi

HORE! Sekolah tatap muka sudah mulai lagi. Senang, ya, bertemu dan bermain bersama teman-teman lagi. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan kesenangan seperti ini. Semua gara-gara Covid-19.

Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus korona. Wabah ini berawal pada tahun 2019. Virus ini dinamai korona, karena ketika para ilmuwan melihatnya di bawah mikroskop elektron, mereka teringat pada bentuk mahkota (korona) atau juga pada pinggiran matahari yang bercahaya.

Kamu masih ingat, bukan, makhluk mikroskopis yang dapat membuat kita sakit? Ya, di antaranya bakteri dan virus. Penyakit yang disebabkan oleh kuman disebut penyakit infeksius. Dengan begitu, Covid-19 termasuk infeksius. Selain penyakit infeksius, ada pula penyakit noninfeksius, misalnya penyakit jantung atau kanker.

Penyakit infeksius biasanya menular. Penyakit virus korona ditularkan melalui tetesan cairan yang dikeluarkan penderitanya ketika bernapas, batuk, atau bersin. Orang sehat yang tidak sengaja menghirup percikan dari orang yang sakit dapat tertular apabila kondisi tubuhnya sedang lemah. Kita bisa menjaga diri dari tertular dengan menjaga jarak dari siapa pun, karena kita tidak tahu siapakah yang sedang membawa virus ini di dalam tubuhnya.

Rumah sakit khusus penyakit infeksius

Beberapa kuman beserta perantaranya lebih menyukai tempat-tempat tertentu. Misalnya virus dengue yang dibawa oleh nyamuk. Iklim tropis berciri curah hujan tinggi yang sering menimbulkan genangan air seperti di negeri kita ini adalah kondisi favorit nyamuk. Jadi, dibandingkan di negara subtropis, penyakit demam berdarah diderita oleh lebih banyak orang di kawasan tropis. Demikian pula penduduk kawasan subtropis lebih sering diserang kuman yang suka udara dingin.

Untuk menangani penyakit infeksius yang khas seperti itu, setiap negara harus punya pusat penelitian. Beberapa tahun belakangan ini kamu mungkin sering mendengar nama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso. Tadinya rumah sakit ini didirikan untuk mengobati pasien wabah cacar. Kemudian rumah sakit ini dijadikan juga sebagai tempat penelitian penyakit infeksius dan penyakit menular di Indonesia.

Penyakit infeksius dan menular perlu diteliti agar kita mengetahui cara mencegah terjadinya, penularan, dan pengobatannya. Tahukah kamu, di Indonesia pernah terjadi epidemi apa saja selain cacar?

Wabah, epidemi, dan pandemi, apa sih bedanya? Apabila ada satu atau dua temanmu di sekolah izin sakit karena flu, ini masih wajar. Nah, kalau lebih dari sepuluh teman tertular, berarti wabah flu menyerang sekolahmu. Epidemi dan pandemi sama dengan wabah, namun terjadi di wilayah yang lebih luas, misalnya negara dan dunia. Covid-19 disebut pandemi karena nyaris di semua negara sudah ada orang yang tertular.

Untuk menangani wabah, apalagi pandemi, dokter perlu dibantu ahli epidemiologi.  Epidemiologi adalah ilmu tentang penyebaran penyakit menular pada manusia dan faktor yang dapat memengaruhi penyebaran itu.

Nah, sekarang kamu mungkin penasaran, siapa sih Sulianti Saroso yang namanya dijadikan sebagai nama rumah sakit ini?

Sosok dokter pejuang

Julie Sulianti Saroso adalah seorang dokter dan epidemiolog yang lahir di Bali tanggl 10 Mei 1917 dan meninggal 29 April 1991. Dia hidup pada masa sebelum dan setelah Indonesia merdeka. Menjadi dokter pada masa perang kemerdekaan membuat Julie merasa wajib membantu para pejuang di bidang obat-obatan dan dapur umum. Setelah Indonesia merdeka dia memperjuangkan kesehatan masyarakat, baik dalam hal penanganan penyakit menular, maupun kesehatan ibu dan anak.

Untuk memperdalam ilmu kedokterannya dia melanjutkan studi hingga ke Inggris dan Amerika. Berkat pengalaman dan pengetahuannya, dia menjadi anggota tim ahli penyakit menular dan kesehatan ibu dan anak dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB. Dia juga pernah menjadi Presiden Majelis Kesehatan Dunia. Semua jasanya ini, juga usahanya mewujudkan berdirinya rumah sakit penyakit infeksi di Indonesia, telah abadi sebagai nama rumah sakit.

Sekarang kamu tahu, rumah sakit bukan sekadar tempat menyembuhkan pasien, dan dokter bukan cuma mereka yang bertugas menyuntik dan menulis resep obat.


Dian Vita Ellyati, Penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Mei 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s