Robot Cerdas: Membantu atau Mengganggu?

ILMUWAN terus meneliti planet Mars. Padahal, manusia belum bisa tinggal di sana. lho. Lantas, bagaimana caranya? Insinyur memerintahkan wahana penjelajah berupa robot ke sana untuk membantu mereka. Setidaknya ada enam penjelajah, tapi tinggal tiga yang masih beroperasi, yaitu Curiosity, Perseverance, dan Zhurong. Dari Bumi, ilmuwan memberi tahu wahana penjelajah ini ke mana harus menjelajah, apa yang perlu difoto, dan batuan mana yang mesti diteliti.

Itulah enaknya punya robot! Di tempat ekstrem seperti antariksa atau laut dalam, kita bisa menyuruhnya untuk menyelidiki keadaan. Tidak seperti manusia yang perlu udara untuk bernapas, air bersih untuk minum, dan makanan untuk tenaga, robot hanya perlu listrik untuk bekerja. Asalkan ada baterai dan sumber energi, beres! Matahari termasuk bintang, jadi bisa berfungsi sebagai sumber energi untuk berbagai wahana atau robot yang diterbangkan ke angkasa.

Sebenarnya, robot tidak selamanya bekerja dengan tenaga listrik. Yah, setidaknya “nenek moyang” robot berfungsi secara mekanis oleh gerakan simultan banyak roda gir, seperti dalam jam analog. Namanya automaton.

Robot zaman old

Dibandingkan robot modern, automaton jadi seperti boneka saja. Boneka mirip manusia yang bisa otomatis melakukan gerakan-gerakan tertentu, misalnya menulis atau menggambar. Tidak terlalu jauh dari arti robot, yaitu peralatan mesin yang secara otomatis mengerjakan atau membuat sesuatu. Kalau pernah membaca buku The Invention of Hugo Cabret atau menonton filmnya yang berjudul “Hugo”, kamu tentu mengerti.

Automaton memang kuno. Sudah berabad lalu dipikirkan dan dibuat. Pada tahun 1206 insinyur asa; Arab, Al-Jazari, menerbitkan buku “Pengetahuan Ilmu Mekanik”. Salah satu yang dijelaskannya adalah roda gigi yang digunakan dalam jam dan automaton. Tanpa dimulai dari automaton, manusia tak mungkin berimajinasi tentang robot canggih.

Dalam bahasa Cekoslowakia, robot artinya pekerja kasar atau buruh. Istilah ini dipopulerkan dalam naskah drama oleh penulisnya, Karel Čapek, pada 1920. Selanjutnya robot dirancang untuk mengerjakan tugas berat dan berulang tanpa henti di dunia industri untuk membuat barang.

Jika robot mampu mengerjakan banyak tugas yang meringankan kita, mengapa malah dianggap mengancam manusia?

Robot cerdas dan hukum robotika

Sejak 2016 Curiosity tak harus menunggu instruksi dari Bumi, karena ke dalamnya sudah diinstal perangkat lunak kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence). Ia jadi bisa memutuskan sendiri ke mana dan batuan apa yang akan diteliti. Curiosity berkembang dari robot otomatis menjadi robot otonom, alias ilmuwan itu sendiri!

Untuk membuat robot perlu banyak keahlian, bukan cuma insinyur mesin, elektro, dan informatika, tapi juga ahli bahasa dan psikologi. Robot cerdas semakin banyak. Sophia dan Bina48 punya ekspresi wajah manusia saat bercakap-cakap dan bercanda. Yuki adalah robot pertama yang menjadi asisten dosen di Jerman. Robot sudah tak lagi hanya melakukan tugas kasar, tapi juga bisa mengajar. Apakah masih ada yang tak bisa dilakukan robot?

Untuk mencegah robot cerdas melakukan perusakan, seorang penulis fiksi ilmiah, Isaac Asimov, menyusun Hukum Robotika, yaitu:

Hukum Ke-1 Robot tidak boleh melukai manusia, atau, dengan berdiam diri, membiarkan manusia menjadi celaka.

Hukum Ke-2 Robot harus mematuhi perintah yang diberikan oleh manusia, kecuali bila perintah tersebut bertentangan dengan Hukum Ke-1.

Hukum Ke-3 Robot harus melindungi dirinya sendiri, asalkan perlindungan ini tidak bertentangan dengan Hukum Ke-1 atau Hukum Ke-2.

Hukum ke-0 Robot tidak boleh mencelakai umat manusia, atau, dengan berdiam diri, membiarkan manusia melakukan perusakan.

Melampaui robot

Robot bisa menggantikan semua fungsi manusia. Benarkah? Tentu tidak. Banyak sisi manusia yang tidak bisa ditiru robot. Apakah itu?

Robot tidak punya emosi. Mereka tidak bisa merasa kehilangan atau kasihan. Kreativitas robot amat sangat terbatas, tergantung pada manusia yang membuatnya. Misalnya, mereka tidak bisa berimajinasi atau mengarang di luar dari bahan yang disimpan ke dalam memorinya. Sedangkan manusia punya sumber tidak terbatas untuk ini.

Jadi, carilah kemampuan yang tak dimiliki robot dan teruslah melatih kemampuan ini, ya!


Dian Vita Ellyati, penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Juli 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s