Vaksin, Sedia Payung Sebelum Hujan

ADUH! Sedang enak-enaknya menyimak ibu guru membacakan cerita melalui layar komputer, eh mendadak komputer rusak. Bagaimana ini? Di tempat servis, teknisi bilang komputer itu terkena virus. 

Seperti makhluk hidup saja ya, komputer bisa kena virus. Tentu saja virusnya berbeda! Hanya istilahnya yang sama, karena mendatangkan akibat yang serupa, yaitu sakit atau rusak. Teknisi memperbaiki komputer untuk menghilangkan virus, ibarat tubuh kita yang diobati dokter agar sembuh.

Sebetulnya, secara alamiah tubuh kita sudah dilengkapi kekebalan untuk melawan benda asing yang coba-coba masuk, misalnya kuman. Kalau superhero kebal peluru, berarti peluru tak bisa melukai tubuhnya. Orang yang kebal kuman, artinya tubuhnya tak akan sakit meskipun diserang kuman. Kekebalan tubuh terhadap kuman dinamakan imunitas.

Kalau superhero kebal peluru, berarti peluru tak bisa melukai tubuhnya. Orang yang kebal kuman, artinya tubuhnya tak akan sakit meskipun diserang kuman. Kekebalan tubuh terhadap kuman dinamakan imunitas.

Kalau saat ini kamu merasa sehat, bukan berarti tak ada kuman menyerang tubuhmu! Bisa jadi, sekarang juga tubuhmu sedang bertempur mati-matian melawan bakteri atau virus, dan menang, makanya kamu baik-baik saja. 

Sayangnya, kadang-kadang imunitas alami belum cukup. Tubuh kita masih perlu bantuan dari luar karena ganasnya kuman. Kuman ganas menularkan penyakit secara cepat dan kuat. Agar tubuh kita kebal dari kuman ganas, kita bisa melatihnya. Caranya dengan imunisasi. Mirip komputermu yang diinstal antivirus oleh teknisi. Setelah punya antivirus, komputermu dapat mengenali ciri dan sifat virus-virus tertentu. Ketika diserang, komputer sudah tahu cara melumpuhkannya.

Vaksin, antivirus untuk makhluk hidup

Ada banyak antivirus untuk komputer, misalnya Avira, Norton, dan sebagainya. Masing-masing antivirus punya kekurangan dan kelebihan. Sekarang, coba tanya ibu atau ayahmu, antivirus apa saja yang sudah “diinstal” ke dalam tubuhmu? Tentu saja, maksudnya imunisasi!

Imunisasi diberikan sejak bayi. Imunisasi tertentu dapat mencegah penyakit tertentu. Untuk mencegah beberapa penyakit, perlu beberapa jenis imunisasi. Makanya, kita perlu berkali-kali imunisasi. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (disingkat PD3I) terutama tuberkulosis, difteri, tetanus, hepatitis B, pertusis, campak, polio, radang selaput otak, dan radang paru-paru. Nama imunisasinya mengikuti nama penyakitnya, misalnya Imunisasi Polio, Imunisasi Campak, Imunisasi Hepatitis B, dan Imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus).

Sedangkan untuk mencegah tuberkulosis, nama imunisasinya BCG, mengikuti nama penemu vaksinnya, yaitu Dokter Albert Calmette dan peneliti Camille Guérin. Vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) dibuat dari bakteri Mycobacterium bovis yang berkerabat dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab sakit tuberkulosis (Tbc atau Tb) pada manusia. Bakteri ini dilemahkan saat pembuatan vaksin. Setelah vaksin jadi, lalu dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan. Selain suntik, vaksinasi dilakukan dengan diteteskan ke dalam mulut, misalnya vaksin polio.

Vaksin adalah kuman (bakteri atau virus) yang dilemahkan atau dimatikan. Di dalam tubuh, vaksin mengajari tubuh untuk mengingat kuman ini dan cara melawannya. Cara tubuh melawan kuman dengan menghasilkan zat yang dinamakan antibodi. Setelah vaksinasi berhasil, tubuh kita kebal terhadap penyakit tertentu. Proses pembentukan antibodi sehingga tubuh kebal penyakit disebut imunisasi.

Mungkin kamu penasaran, ‘kan sekarang sudah tidak ada lagi orang sakit polio, kenapa mesti tetap imunisasi polio?

Ketika vaksin menang lawan virus

Benar, Indonesia eradikasi polio tahun 2014. Artinya, sejak itu tak ada orang di Indonesia terjangkit polio. Berkat program imunisasi, terbangunlah kekebalan kelompok terhadap polio. Namun, penularan virusnya masih bisa terjadi, yaitu jika ada orang yang sakit polio dari negara lain yang belum bebas polio, masuk ke Indonesia. Apabila kita lengah dan berhenti melakukan vaksinasi polio, kekebalan kelompok kita akan terancam karena rantai penularan mungkin muncul lagi.

Ada sih, imunisasi yang tidak diperlukan lagi, yaitu imunisasi cacar. Sejak tahun 1980 anak-anak Indonesia sudah tidak mendapatkan imunisasi cacar karena seluruh dunia dinyatakan bebas cacar. “Ah, tapi kemarin temanku masih ada yang kena cacar, tuh,” mungkin begitu katamu. Nah, jangan keliru, cacar yang sudah tidak ada lagi penderitanya adalah cacar nanah. Sedangkan penyakit cacar air masih ada dan terus tersedia vaksinnya.

Perlu waktu sekitar 180 tahun bagi dunia untuk bebas cacar sejak vaksinasinya pertama kali tahun 1800. Pada masa itu Indonesia belum lahir, masih berupa wilayah di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Atas perintah gubernur Thomas Stamford Raffles, vaksinasi cacar diadakan mulai tahun 1811 di Surabaya, Semarang, dan Batavia. Vaksinasi cacar kemudian diperluas hingga hampir seluruh pulau Jawa.

Vaksinasi cacar adalah kisah sukses penduduk bumi melawan virus Variola penyebab cacar. Siapa sangka, vaksinnya pertama kali dibuat dari virus cacar sapi!

Dari sapi untuk manusia

Sebagai dokter desa di Inggris, pada sekitar tahun 1796 Edward Jenner mengamati dan menduga bahwa pemerah susu yang tertular cacar sapi akan kebal cacar. Cacar sapi yang ditularkan dari sapi ke manusia ini tidak seganas cacar nanah atau cacar manusia. Jadi, mendingan sakit cacar sapi yang ringan, lalu kebal cacar, bukan?

Untuk membuktikan dugaannya, Jenner melakukan hal berikut: ia mengambil nanah dari luka infeksi pada penderita cacar sapi. Dengan nanah itu, ia menginfeksi seorang anak yang sehat. Si bocah tertular, dan menderita demam ringan dan bentol-bentol cacar sapi. Tak lama kemudian bocah itu sembuh. Tampaknya tubuhnya sudah mengenal virus cacar sapi. Kebetulan virus cacar sapi mirip virus cacar. Benar saja, ketika dua bulan berikutnya ia diberi nanah dari luka infeksi cacar, sistem imunitasnya bekerja dengan baik dan melawan virus itu sehingga ia tidak tertular.

Setelah menjelaskan dan membuktikan percobaannya di hadapan koleganya, Jenner diakui sebagai pelopor vaksinasi. Ia adalah pahlawan yang berhasil menyelamatkan jutaan manusia dari ancaman kematian yang dapat ditimbulkan oleh penyakit cacar. Edward Jenner saat ini dikenal sebagai bapak imunologi. Imunologi adalah ilmu yang mempelajari kekebalan tubuh dari infeksi dan penyakit.

Nah, vaksin sangat penting untuk kesehatan kita, ya, termasuk untuk melawan virus Covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini. Jika bisa memilih, mana yang akan kamu lakukan, mencegah atau mengobati penyakit? Mengapa?


Dian Vita Ellyati, Penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Oktober 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

One thought on “Vaksin, Sedia Payung Sebelum Hujan

  1. keren tulisannya!!

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Postdoc Researcher in Atmospheric Sciences Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s