Forensik, Sains untuk Polisi

KAMU sering, dong, bertemu polisi di jalan. Mereka bertugas mengatur lalu lintas agar tidak sampai terjadi kemacetan atau kecelakaan. Polisi semacam ini disebut polisi lalu lintas atau polantas. Namun, polisi bukan cuma bertugas di jalan. Ada juga polisi dengan keahlian membongkar kriminalitas, namanya reserse atau detektif. Tidak mudah mengenali reserse karena mereka jarang mengenakan seragam polisi.

Reserse menggunakan berbagai cara untuk menemukan pelaku kejahatan (kriminal). Setelah ditemukan, pelaku ini akan diganjar hukuman yang setimpal oleh hakim di pengadilan agar jera dan tidak mengulangi perbuatan jahatnya. Tugas reserse tidak mudah, karena jarang sekali pelaku kejahatan mengaku bersalah begitu saja. Itulah mengapa reserse sulit kamu kenali, karena dalam melakukan tugasnya mereka kadang-kadang mesti menyamar menjadi orang biasa.

Pionir forensik

Zaman dulu, sulit bagi penegak hukum untuk memecahkan misteri kejahatan secara meyakinkan. Apabila bukti tidak ditemukan, atau bukti-bukti yang ditemukan di lokasi kejadian lemah, bisa saja kejahatan itu tak terpecahkan selamanya. Artinya, si pelaku lolos dan tidak mendapat hukuman.

Sebaliknya, mungkin saja seseorang dipaksa mengaku bersalah, meskipun buktinya tidak kuat. Jika ternyata kemudian dia terbukti tidak bersalah, artinya mereka sudah menghukum orang yang keliru! Tidak adil, ‘kan?

Sebagai usaha mengurangi ketidakadilan, pada abad ke-13, persisnya periode Song Selatan, seorang hakim sekaligus ahli kedokteran forensik dari Cina bernama Song Ci menulis buku panduan berjudul “Xi Yuan Ji Lu”, artinya “Membasuh Kesalahan”. Buku ini dianggap sebagai buku forensik pertama di dunia.

Ia menyusun panduan untuk koroner melakukan pemeriksaan pada jasad yang diduga mati secara tidak wajar. Dengan prinsip ilmiah, Song Ci menjelaskan langkah-langkah autopsi (bedah mayat) hingga koroner dapat menentukan sebab kematian, apakah karena sakit, kecelakaan, atau yang lain. 

Kriminalitas bukan hanya yang menyebabkan kematian seseorang. Ada banyak tindak kejahatan, misalnya perampokan, pemalsuan, penipuan, pembakaran, perusakan, pengeboman, hingga kejahatan siber atau dunia maya. Meskipun tidak selalu menimbulkan korban jiwa, kerugian lain tetap diperhitungkan.

Aksi reserse

Begitu kriminalitas terjadi, tim detektif segera menuju ke Tempat Kejadian Perkara, atau TKP. Mereka harus menjaga TKP persis seperti saat kejadian berlangsung agar bukti-bukti tidak berubah atau rusak. Artinya, mereka harus melarang siapa pun memasuki TKP tanpa izin, sebelum pengumpulan bukti selesai.

Tim detektif melakukan olah TKP, yaitu mengidentifikasi setiap benda yang ada di situ. Mereka mencari bukti sekecil apa pun sesuai “Prinsip Pertukaran Locard”, yaitu: Setiap kontak meninggalkan jejak. Maksudnya, setiap kita menyentuh benda atau orang lain dengan maksud apa pun, pasti akan ada jejak kita tertinggal di benda atau orang itu. Jejak bisa berupa sidik jari, jejak kaki, rontokan rambut, patahan kuku, tetesan darah, sobekan baju, dan sebagainya. Inilah yang dicari detektif.

Bukti-bukti dari TKP dibawa dan diteliti di dalam laboratorium forensik. Hasilnya akan memberi tahu mereka jumlah pelaku, cara mereka masuk lokasi kejahatan, kejadian di TKP, golongan darah pelaku dan korban, benda yang digunakan untuk melakukan kejahatan, sidik jari pelaku, tinggi badan pelaku, dan jumlah kerugian.

Nah, di dalam laboratorium inilah giliran tim ilmuwan beraksi! Tanpa mereka, kriminalitas mungkin tak terpecahkan karena sang pelaku bisa meloloskan diri akibat kurang bukti. Tentu ahli kedokteran seperti Song Ci sangat membantu. Selain kedokteran, ilmu pengetahuan apa lagi, ya, yang juga berperan? 

Petunjuk penting dari sains

Kriminalitas berupa peracunan pasti membutuhkan pemeriksaan oleh ahli kimia. Uji toksisitas dalam sampel makanan atau minuman dapat memberi tahu kita jenis racun yang digunakan, apakah arsenik atau sianida. Kebakaran yang disengaja juga bisa dipecahkan kasusnya oleh ahli kimia. Melalui uji ilmiah ia bisa menentukan bahan kimia yang digunakan kriminal.

Kriminalitas pada masa teknologi canggih saat ini terjadi bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya atau digital. Kamu mungkin pernah membaca kasus pembobolan kartu kredit atau pemalsuan identitas di media sosial untuk melakukan kejahatan. Nah, pelaku kejahatan ini tentunya pintar dalam bidang ilmu komputer. Untuk membongkar kasusnya, polisi memerlukan bantuan ahli dalam bidang itu juga.

Menurut polisi, jumlah kejahatan siber terus bertambah. Setiap orang mahir menggunakan aplikasi yang ada di internet. Tidak semuanya bertujuan baik. Apabila seseorang punya maksud jahat, dia akan menggunakan kemampuannya ini untuk menguntungkan dirinya sendiri dengan merugikan orang lain. Forensik digital pun mesti mengejar kemampuan kriminal digital.

Ilmu sosial pembongkar misteri

Sementara kimia memberi tahu kita jenis racun yang digunakan dalam kejahatan, ada ilmu selain sains yang memberi petunjuk tambahan. Dari rekaman kamera pemantau (CCTV) terlihat tersangka menunjukkan perilaku tertentu yang berbeda dari orang lain.

Ilmu yang mempelajari perilaku manusia sangat membantu detektif dalam menemukan kriminal. Ya, psikologi. Psikolog dapat mengetahui alasan seseorang berbuat jahat, atau apakah seseorang berbohong atau tidak saat menjawab pertanyaan.

Selain gerak-gerik dan kebiasaan kriminal, bahasa yang digunakan juga dapat mengungkap misteri kejahatan. Ahli bahasa yang dapat membantu detektif adalah yang menguasai bidang hukum. Dia mesti cermat menentukan apakah perkataan atau tulisan seseorang dapat mendorong tindak kejahatan. 

Masih banyak ilmu lain yang membantu polisi memberantas kriminalitas. Penggunaan berbagai bidang ilmu dalam rangkaian proses penegakan hukum ini yang disebut forensik. Jika kamu senang pelajaran sains dan juga mengidolakan Imung si detektif cilik, Sherlock Holmes, atau detektif Conan, sepertinya kamu cocok bekerja sebagai ilmuwan forensik!


Dian Vita Ellyati, penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi September 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

One thought on “Forensik, Sains untuk Polisi

  1. weh tulisannya bagus ini…

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Postdoc Researcher in Atmospheric Sciences Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s