Berkebun sampai ke Bulan

PLANET Bumi pada abad ke-29 rusak parah, bagaikan tempat sampah raksasa. Tanaman gagal tumbuh. Bumi tak bisa dihuni manusia. Mereka terpaksa mengungsi ke dalam pesawat antariksa, sambil mencari planet lain atau satelit alami untuk dijadikan rumah baru. Tempat itu mesti menunjukkan tanda kehidupan, misalnya terdapat tanaman.

Cerita futuristis itu tergambar dalam film animasi berjudul “WALL-E” yang dibuat tahun 2008. Menurutmu, mungkinkah kisah itu menjadi nyata?

Kamu bisa menghitung kemungkinannya mulai dari rumahmu sendiri. Berapa banyak sampah anorganik yang dibuang oleh keluargamu setiap harinya? Sampah anorganik, misalnya plastik, sulit membusuk, sehingga selama puluhan sampai ratusan tahun akan tetap sama seperti saat kamu membuangnya. Berbeda dari sampah dapur, misalnya batang sayuran yang tak terpakai atau sisa makanan yang tidak habis, yang kamu buang ke dalam komposter. Sampah organik lekas membusuk dan dapat menggemburkan tanah.

Tambahkan sampah anorganik dari rumahmu dengan yang dari semua tetanggamu. Lalu, tambahkan terus hingga seluruh tempat di kotamu. Alangkah tingginya timbunan sampah anorganik itu! Tidak heran ada foto-foto hewan laut yang dalam perutnya berisi sampah plastik. Kasihan, ya.

Apabila tidak kita pelihara baik-baik, Bumi bisa menjadi seperti dalam film “WALL-E”, yaitu kaya sampah dan miskin tanaman. Oleh karenanya, kita harus mengurangi sampah plastik dan bercocok tanam sebanyak mungkin.

Kaya tanaman

Menurut film “WALL-E”, salah satu petunjuk apakah suatu tempat dapat dihuni manusia adalah jika di situ tanaman dapat tumbuh. Untuk memeriksanya, ada robot bernama EVE. WALL-E sendiri adalah robot pengelola sampah. WALL-E tak sengaja menemukan tunas tanaman yang selamat setelah terjebak di dalam kulkas. EVE buru-buru menyimpannya ke dalam tubuhnya. Meski tampak rapuh, sebatang tunas itu menjadi petunjuk penting masih ada harapan Bumi pulih sebagai rumah manusia.

Astronaut have found a young plant on Mars, Vector Illustration Art.

Banyak dari kita menganggap tanaman itu hal biasa saja karena mudah kita temukan di mana-mana: halaman rumah, sawah, kebun, dan hutan. Malah, salah satu hutan hujan tropika terbesar ada di Indonesia. Pepohonan hutan ibarat paru-paru Bumi karena menyerap karbondioksida yang beracun bagi manusia, dan melepaskan oksigen yang dibutuhkan manusia untuk bernapas. Tentu, pohon di luar hutan berfotosintesis juga, hanya saja jumlah oksigen yang dihasilkan lebih sedikit.

Juara penghasil oksigen memang bukan hutan. Ingatkah kamu siapa penghasil oksigen terbanyak? Ya, fitoplankton di laut. Bagaimanapun juga, kerusakan hutan tetap mendatangkan bencana bagi manusia. Karena, selain menghasilkan oksigen, hutan memberi banyak hal lain, di antaranya obat-obatan, menahan longsor, dan menyimpan air hujan di dalam tanahnya. Jika hutan semakin sempit, bahan baku obat berkurang, sering terjadi longsor, dan air bersih langka.

Deforestasi atau penebangan hutan dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya akan pemukiman, peternakan, dan perkebunan. Meskipun perkebunan masih berisi banyak pohon, tapi tidak selebat dan serindang hutan.

Deforestasi dapat dilawan dengan reforestasi, yaitu penanaman hutan kembali. Meskipun reforestasi lebih sedikit daripada deforestasi, tetap harus dilakukan. Tapi, orang kota, yang jauh dari hutan, bisa melakukan apa, ya, sebagai penghijauan?

Berkebun di kota

Jika kamu perhatikan, selama pandemi COVID-19 ini semakin banyak orang melakukan pertanian urban. Pertanian urban adalah usaha yang dilakukan penduduk kota untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangannya dari tanaman yang dirawat sendiri. Tanaman yang ditumbuhkan mulai dari empon-empon, sayuran, buah-buahan, hingga padi.

Meskipun sinar matahari berlimpah di kota, namun tanahnya tidak segembur di desa, dan air yang diperlukan tanaman juga tidak banyak tersedia. Tiga hal ini paling penting untuk tumbuhnya tanaman. Jadi, memang tidak semudah di desa untuk bercocok tanam di kota.

Toh, tanaman sangat banyak jenisnya, dan beberapa sanggup bertahan hidup di tempat ekstrem. Dalam hawa dingin membeku kawasan tundra, lumut tumbuh dengan baik, hingga disebut sebagai tumbuhan perintis. Di bawah terik surya sahara kaktus berjaya. Apalagi di daerah tropis yang hangat seperti di sini! Sekitar setengah dari 300.000 spesies tanaman bisa ditemukan di dalam hutan hujan tropika. 

Setelah memilih tanaman yang cocok untuk perkotaan, kita menentukan cara bercocok tanam sesuai lahan yang tersedia. Vertikultur bisa kita gunakan di tempat sempit, atau hidroponik di tempat yang jarang tanah subur.

Menghijaukan antariksa

Jangankan di perkotaan yang masih di Bumi, saat ini manusia sudah mencoba bercocok tanam di Bulan! Para ahli astrobotani dari berbagai negara berlomba menumbuhkan bibit tanaman yang mereka bawa ke antariksa, hingga ke Bulan. Selain agar para antariksawan dapat memanen langsung makanannya, tanaman itu juga bisa membantu mereka lebih santai.

Astronaut raises his arms in victory at having discovered a small bush vegetation growing on a red alien planet.

Jenis tanaman yang dipilih para astronaut untuk ditumbuhkan di luar angkasa dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tanaman percobaan (kapas, arabidopsis, dan lain-lain), tanaman pangan (sawi, kubis, gandum, padi, dan sebagainya), serta tanaman hias (bunga zinia dan bunga matahari). Berbagai tanaman ini dapat tumbuh dalam stasiun antariksa seperti ISS, pesawat antariksa seperti Apollo 14, atau wahana pendarat seperti Chang’e 4.

Benih-benih bawaan wahana pendarat Chang’e 4 memang tidak ditanam langsung di permukaan Bulan. Bibit kapas, kentang, dan tanaman lain itu disemai dalam suatu wadah yang dinamakan “biosfer mini”. Percobaan itu belum sukses karena setelah bersemi sesaat, tak lama kemudian kecambah kapas mati karena kedinginan. Namun, para peneliti tidak menyerah dan akan terus bereksperimen menghijaukan Bulan.

Nah, seandainya boleh memilih, tanaman apa yang ingin kautanam di Bulan? Mengapa kamu memilih tanaman itu?


Dian Vita Ellyati, Penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Juli 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s