Bertualang Bersama Wallace

Bertualang Bersama Wallace

PERNAHKAH kamu mendapat suvenir berupa gantungan kunci atau hiasan dinding berupa kupu-kupu yang diawetkan? Hewan itu asli, dan diawetkan hingga tidak membusuk. Contoh hewan atau tumbuhan semacam ini dinamakan spesimen.

Sudah lama orang Eropa penasaran pada alam tropis. Dulu teknologi belum secanggih sekarang, bepergian antarbenua tidak mudah. Mereka terpesona keanekaragaman flora fauna di hutan hujan, bahkan rela membeli dan mengoleksi spesimennya.

Spesimen itu lalu menjadi bahan penelitian. Ilmuwan meneliti mengapa jenis hewan atau tanaman tertentu hanya ada di tempat tertentu, dan tidak ditemukan di tempat lain. Ilmu ini disebut biogeografi, gabungan biologi dan geografi, mempelajari penyebaran tumbuhan dan binatang di berbagai wilayah di muka Bumi.

Pionir biogeografi adalah Alfred Russel Wallace. Ia dikenal sebagai naturalis karena kecintaannya pada alam. Ia menulis buku berjudul The Malay Archipelago, yang diterjemahkan menjadi Kepulauan Nusantara. Ke dalam buku itu ia ceritakan perjalanannya ke hutan-hutan di negeri kita selama tahun 1854-1862. Buku ini terus dibaca orang hingga sekarang.

Berburu burung sampai Kepulauan Aru

Alfred Russel Wallace lahir di Inggris pada 8 Januari 1823 sebagai anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Setelah lulus SMP pada umur 14 tahun, dia tidak meneruskan sekolah karena tak punya biaya, dan langsung bekerja. Saat bekerja menyurvei lahan bakal jalur kereta api, dia terpikat pada serangga di berbagai tempat yang didatanginya.

Wallace terus belajar secara autodidak. Selain melakukan survei, Wallace pernah menjadi guru. Sebagai guru dia mesti membaca banyak buku. Salah satu yang dibaca dan menginspirasinya adalah jurnal penelitian Charles Darwin selama ekspedisi.

Di perpustakaan kota, Wallace berkenalan dengan Henry Walter Bates, seorang kolektor kumbang. Berdua mereka melakukan perjalanan ke kawasan Amazon di negara Brazil tahun 1848-1852. Mereka membiayai sendiri ekspedisi itu dari hasil menjual spesimen.

Wallace melanjutkan ekspedisinya tanpa Bates. Tujuannya tetap hutan hujan, kali ini di Kepulauan Nusantara. Pulau-pulau besar ia datangi. Hutan belantara di pulau kecil tak ia lewatkan. Perjalanan darat dan air masa itu sangat sulit, belum lagi ancaman malaria! Dasar naturalis, petualangan delapan tahun itu bukan cuma ia nikmati, malah ia kisahkan secara memikat.

Salah satu kebanggaan Wallace adalah bisa menyaksikan berbagai spesies cenderawasih langsung di alamnya. Ia mengumpulkan spesimennya di Kepulauan Aru. Wallace menggambarkan cenderawasih sebagai “salah satu karya alam terindah”. Tak heran, keindahan bulu cenderawasih membuatnya dijuluki burung surgawi.

Garis Wallace

Wallace terkenal bukan hanya karena punya 125.000 spesimen. Selain mengumpulkan, dia membuat catatan terperinci tentang koleksinya. Untuk itu dia mesti punya daya observasi, atau kemampuan mengamati secara cermat. Dari observasi dan catatannya ini, dia mengerjakan dan menuliskan penelitian tentang biogeografi.

Wallace menuliskan bahwa ada semacam garis pembatas yang bisa kita tarik sepanjang Selat Makasar hingga Selat Lombok. Garis ini menunjukkan ada perbedaan jenis fauna di kedua sisinya. Misalnya di Pulau Lombok hidup kakatua, namun di Bali tidak ada. Sebaliknya di Bali hidup burung pelatuk, yang tak ditemukan di Lombok.

Oleh biolog bernama Thomas Henry Huxley, garis khayali ini dinamakan Garis Wallace. Garis Wallace ini lalu digunakan ilmuwan untuk mendalami biogeografi.

Wallace menjalin hubungan akrab dengan penduduk sekitar. Ia meminta mereka membantunya. Bukan cuma tentang keragaman hayati, Wallace juga mencatat kebiasaan penduduk. Ia menyusun kamus ringkas berbagai bahasa daerah untuk berkomunikasi.

Hutan hujan tropis adalah laboratorium alam yang mahaluas. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke sini. Bukan hanya ilmuwan tapi juga siswa-siswi sekolah yang berminat pada biologi dan geografi. Bagaimana dengan kamu, inginkah menapaki jejak petualangan Wallace?


Dian Vita Ellyati, penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Agustus 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

One thought on “Bertualang Bersama Wallace

  1. Keren tulisannya….

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Postdoc Research Associate I (Atmospheric Sciences) Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s