Sains sebagai hobi: kenapa tidak?

APAKAH kamu masih ingat Alfred Russel Wallace si naturalis penggemar petualangan, yang kisahnya kita baca minggu lalu? Ya, dia bekerja dan mendapat uang dari menjual spesimen yang dikumpulkannya. Berkat kecintaannya pada sains, ia lalu meneliti keanekaragaman fauna di Nusantara. Tak ada yang membayar dia untuk penelitiannya ini. Oleh karenanya, ia dianggap sebagai ilmuwan amatir.

Ilmuwan amatir, atau saintis awam, mempelajari dan melakukan penelitian ilmiah secara mandiri, tanpa dibiayai oleh universitas atau kampus tempatnya bekerja. Ia melakukan studi tersebut semata-mata karena menyukainya. Apakah penelitian ilmuwan amatir ini ada gunanya untuk perkembangan sains?

Ilmuwan amatir dan penemuannya

Setelah meneliti keanekaragaman fauna, Wallace menemukan bahwa hewan-hewan tertentu hidup secara alami hanya di tempat-tempat tertentu pula. Teorinya ini membuatnya dikenal sebagai pionir biogeografi. Sekarang biogeografi adalah bagian dari ilmu biologi dan dipelajari ilmuwan profesional.

Gregor Johann Mendel akan kamu kenal saat belajar pewarisan sifat makhluk hidup pada keturunannya. Dia seorang imam Agustinian yang melakukan percobaan persilangan pada kacang ercis. Dia menemukan bahwa setiap keturunan mewarisi sifat dominan dari kedua orang tua atau induknya. Penemuan ini membuat Mendel dikenal sebagai bapak genetika modern.

Pada 16 Juli 1994 komet Shoemaker-Levy 9 menabrak planet Jupiter. Peristiwa ini menjadi pusat perhatian astronom sedunia karena jarang terjadi. Komet ini dinamakan sesuai penemunya, yaitu pasangan Gene dan Carolyn Shoemaker serta David H. Levy. Gene adalah seorang geolog, sedangkan Carolyn dan David ahli sastra Inggris. Mereka berburu komet sebagai hobi.

Ilmuwan amatir dapat menjadi ilmuwan profesional jika akhirnya ia mendapat bayaran dari mempelajari atau mengajarkan sains. Misalnya Clyde Tombaugh yang memulai sebagai astronom amatir, lalu meneruskan pendidikan dan pekerjaannya sebagai astronom profesional, dan menemukan planet minor Pluto.

Namun banyak pula ilmuwan amatir yang sepanjang hidupnya melakukan pengamatan burung atau planet sebagai kesenangan atau hobi. Mereka punya pekerjaan utama di bidang lain, misalnya informatika, sastra, dan sebagainya.

Komunitas ilmuwan amatir

Tidak semua ilmuwan profesional terkenal berkat penemuannya. Begitu juga ilmuwan amatir. Selain yang disebutkan di atas, masih sangat banyak ilmuwan amatir lain yang giat beraktivitas. Biasanya mereka berkomunikasi dengan ilmuwan profesional yang menginformasikan perkembangan sains terkini. Ilmuwan profesional juga memberi tahu objek apa saja yang bisa diamati pada waktu-waktu tertentu.

Coba perhatikan orang-orang di sekitarmu, jangan-jangan ada ilmuwan amatir di dekatmu! Dia bisa seorang tetangga yang mengisi waktu luang dengan melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan cara terbaik meramu jamu agar rasanya tidak terlalu pahit dan tetap berkhasiat. Dia mungkin oom atau tantemu yang rajin mengumpulkan berbagai daun untuk mengelompokkannya ke dalam pola bentuk tertentu.

Ilmuwan amatir sering mengadakan pengamatan bersama. Ini dilakukan misalnya oleh klub astronom amatir. Klub semacam ini ada di pelbagai kota, lho! Contohnya HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta), SAC (Surabaya Astronomy Club), dan JAC (Jogja Astro Club). Mereka rajin mengabadikan fenomena astronomi dan menyumbang dokumentasi untuk dunia astronomi profesional.

Yang tak kalah seru adalah yang dikerjakan ornitolog amatir. Mereka memanfaatkan teknologi gawai cerdas untuk menyumbangkan data burung setiap kali melakukan pengamatan. Dengan aplikasi burungnesia, para pengamat burung berharap dapat melengkapi Atlas Burung Indonesia yang akan berguna untuk ornitolog profesional.

Berbeda dari klub ilmuwan profesional, dalam klub saintis awam persyaratan keanggotaannya lebih bebas. Siapa pun, mulai dari anak sekolah hingga pensiunan, dapat menjadi anggotanya. Ilmuwan amatir yang lebih muda bisa punya pengetahuan lebih banyak daripada yang lebih tua. Menjadi saintis awam akan melatih cara berpikir ilmiah yang berguna dalam hidupmu sehari-hari. Tertarik?


Dian Vita Ellyati, penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi November 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

One thought on “Sains sebagai hobi: kenapa tidak?

  1. keren… keren….

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Postdoc Research Associate I (Atmospheric Sciences) Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s