Daun, Oh, Daun

Ada apa dengan dedaunan? Tanaman hias jenis daun senantiasa ramai dibicarakan, terutama oleh mereka yang hobi berkebun. Pernah gelombang cinta yang diburu orang. Jauh sebelumnya, rumah dianggap keren kalau punya rumpun kuping gajah. Sekarang, jendela putri jadi primadona. Namanya juga “jendela”, jadi daunnya bolong-bolong seperti lubang jendela.

Katanya, rumah semakin cantik apabila ada tanaman hiasnya. Bukan cuma oleh bunga seperti mawar, melati, kemuning, dan lain-lain, tapi juga tanaman daun seperti sudah disebutkan. Tanaman bunga memang cantik bentuknya, menarik warnanya, juga harum baunya, sehingga pantas dijadikan hiasan rumah. Sedangkan daun, apa bagusnya, ‘kan bentuk serta warnanya begitu-begitu saja, juga tidak harum?

Daun mudah kita temukan di mana-mana asal ada tanaman. Saking banyaknya, kita jadi terbiasa. Sepertinya, tak ada yang istimewa dengan daun. Malah, ibu sering kesal karena daun-daun kering yang rontok dari pohon besar membuat halaman kotor. Padahal, setiap helai daun punya ceritanya sendiri sejak tumbuh, berbakti, hingga mengering dan gugur, kembali ke tanah untuk menyuburkannya.

Bagaimana cara daun berbakti? Selain bisa dimakan mentah sebagai lalap atau dimasak sebagai sayur, tanaman hijau memulihkan mata yang capek akibat lama membaca buku atau menatap layar gawai. Warna hijau dedaunan yang dilihat dari kejauhan membuat mata nyaman dan relaks.

Kamu juga mengenal fotosintesis. Untuk hidup, tanaman “memasak” sendiri makanannya. Yang bertugas adalah daun berklorofil atau mengandung zat hijau daun. Fotosintesis mengubah air dan karbon dioksida dengan bantuan sinar matahari, menjadi karbohidrat dan oksigen. Makhluk hidup seperti hewan dan manusia bernapas mengembuskan karbon dioksida dan menghirup oksigen. Jadi, daun hijau penting.

Warna-warni daun

Tanaman daun bukan cuma penting, tapi juga pantas menjadi tanaman hias. Coba perhatikan bentuk daun gelombang cinta dan jendela putri, unik bukan? Pinggiran gelombang cinta meliuk-liuk naik turun bagaikan gelombang laut. Jendela putri yang bolong-bolong mengingatkan kita pada lubang jendela yang di baliknya ada seorang putri bersembunyi. Pantas saja tanaman daun berbentuk unik digemari pekebun.

Bukan cuma bunga yang berwarna-warni. Tanaman daun juga banyak warnanya. Apakah kamu pernah melihat keladi hias, puring, pucuk merah, atau miana ungu/iler? Tanaman-tanaman ini warna daunnya bervariasi, bukan hanya hijau, tapi juga kuning, jingga, merah, dan ungu, tak kalah cantik dari warna-warni bunga.

Sinar matahari memancar dalam berbagai warna atau panjang gelombang. Ketika tanaman mandi sinar matahari, klorofil menyerap cahaya biru dan merah, sambil memantulkan cahaya hijau. Cahaya yang dipantulkan klorofil ini ditangkap mata. Dengan cara serupa, pigmen selain klorofil “mewarnai” daun, yaitu antosianin dan karotenoid. Antosianin menyerap warna lain dan memantulkan warna merah dan ungu, sedangkan karotenoid memantulkan warna kuning dan jingga.

Daun berfotosintesis melalui klorofilnya. Energi dari cahaya yang diserap klorofil digunakan untuk fotosintesis. Lantas, apakah puring, miana, dan tanaman lain yang tidak berwarna hijau, masih bisa melakukan fotosintesis? Bisa, karena meskipun terlihat ungu atau kuning, daun-daun itu tetap punya klorofil walau tidak dominan.

Pigmen adalah zat warna makhluk hidup. Warna kulit manusia yang berbeda-beda dipengaruhi oleh pigmen melanin yang berwarna gelap (cokelat tua atau hitam), selain paparan sinar matahari (lingkungan). Orang yang kekurangan pigmen disebut albino. Ia terlihat bulai, atau putih seluruh tubuh dan rambutnya. Istilah “bule” berasal dari sini.

Pada tanaman pangan, bulai berarti penyakit yang harus dibasmi. Penyakit bulai berciri daun muda yang bergaris-garis kuning pucat atau putih, yang menyebar ke seluruh daun. Penyakit bulai menyerang tanaman padi, jagung, sorgum, dan sebagainya. 

Berbeda dari penyakit bulai pada tanaman pangan, albinisme pada tanaman hias justru disukai.

Daun tanpa warna

Albinisme, atau ketidakmampuan tubuh membentuk pigmen, dapat terjadi pada tanaman, hewan, dan manusia. Kamu mungkin pernah melihat ular albino di kebun binatang, atau tikus putih di laboratorium biologi. Ini contoh albinisme pada hewan.

Pada tanaman, albinisme memunculkan perbedaan warna daun dari warna asli. Ada yang jadi putih seluruhnya, ada pula yang hanya sebagian saja atau parsial, misalnya di pinggir, belang (separuh hijau dan separuh putih), atau bercak putih. Variasi warna daun hijau ke”bule-bule”an ini disebut variegata.

 Dahulu, albinisme tanaman dianggap penyakit, misalnya akibat tanah yang kekurangan unsur hara (vitamin dan mineral) atau infeksi virus. Tanaman albino seluruhnya tidak berfotosintesis, sehingga bergantung pada yang lain untuk tetap hidup. Namun sekarang, albinisme parsial pada tanaman akan dirawat, bahkan sengaja diperbanyak melalui teknik canggih.

Variegata bisa ditemukan pada tanaman srirejeki, kalatea, dan monstera. Dalam biologi, spesies punya nama latin yang disebut binomial nomenklatur, yaitu penamaan dua kata. Gunanya untuk membantu ilmuwan meneliti spesies yang sudah diberi bermacam-macam nama lokal. Jendela putri bernama latin Monstera adansonii. Selain Monstera adansonii, ada kerabatnya yang juga terkenal, yaitu monstera besar atau Monstera deliciosa.

Wajar saja jendela putri variegata dan monstera besar variegata menjadi tanaman hias favorit. Sudah bentuknya unik, variasi warna daunnya juga menarik. Karena variegata jarang muncul alami, ia jadi langka. Beberapa orang memakai cara instan untuk sengaja memunculkan variasi warna, yaitu menyuntikkan zat tertentu. Cara ini akan ketahuan ketika muncul daun baru yang berwarna normal, tanpa variasi.

Selain variegata, ada jenis tanaman yang selalu dihargai tinggi, yaitu bonsai.

Bonsai yang aduhai

Bonsai ditumbuhkan dari benih biasa, lalu oleh seniman bonsai diberi perlakuan khusus sepanjang pertumbuhannya. Perlakuan khusus ini misalnya pemangkasan, pengurangan akar, perontokan daun, dan sebagainya. Tujuannya untuk menghasilkan pohon kecil yang meniru bentuk dan gaya pohon dewasa berukuran normal.

Istilah bonsai berasal dari Jepang, yang sebenarnya mengambil dari tradisi Cina yaitu penjing atau penzai. Di sini kita bisa melihat bonsai beringin dan cemara udang. Perawatan bertahun-tahun akan menghasilkan bonsai yang indah dan bernilai tinggi. 

Sekarang, kamu bisa nimbrung kalau ibu dan ayah sedang berdiskusi untuk memilih tanaman hias! Dan kalau masih ingin tahu lebih banyak tentang tumbuh-tumbuhan, kamu bisa mempelajari botani. 


Dian Vita Ellyati, penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi November 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s