Rantai Penanda Harmoni Alam

KEBANYAKAN kita makan nasi sebagai sumber energi untuk beraktivitas. Bagaimana perjalanan nasi itu sampai ke piringmu? Tentu ibu menanak beras yang dibeli di pasar. Penjual di pasar membelinya dari petani melalui pedagang. Nah, petani bekerja keras menanam, menjaga, dan memanen padi.

Selama petani menjaga tanaman padi bertumbuh tinggi, ada saja hama yang mengganggu. Salah satunya tikus. Untuk membasmi tikus, petani punya pilihan yaitu menggunakan racun buatan atau pemangsa alami. Dulu sawah adalah juga rumah bagi ular. Ular memangsa tikus sebagai makanannya. Dengan begitu tanaman padi dapat terus tumbuh hingga siap dipanen.

Siapa makan apa

Setiap makhluk hidup perlu makan. Makanan yang masuk ke dalam tubuh diolah menjadi tenaga. Tanpa tenaga, kita tak bisa mengerjakan apa-apa. Ingatkah kamu saat sakit dan tidak berselera makan? Badanmu lemah, bermain saja tidak sanggup.

Di alam, banyak hewan seperti harimau, hiu, dan elang, mendapatkan energinya dengan memangsa hewan lain. Ada juga hewan yang makan tumbuh-tumbuhan saja, seperti sapi, duyung, dan kakaktua. Adakah hewan yang bukan cuma makan tumbuhan, tapi juga hewan lain? Ada, misalnya babi, lumba-lumba, dan kasuari.

Kalau kita lihat di sawah, tikus mendapatkan energinya dari makan daun padi, lalu ular mendapatkan energinya dari tikus yang dimangsanya, dan elang mendapatkan energinya dengan makan ular tangkapannya. Secara sederhana kita bisa melihat ada aliran energi dari daun hingga elang. Aliran energi melalui proses makan dan dimakan ini disebut rantai makanan atau jaring-jaring makanan.

Rantai makanan berlangsung bukan hanya di sawah, tapi di semua tempat, seperti laut, danau, hutan, rawa-rawa, bahkan di sekitar rumahmu! Coba perhatikan hewan-hewan di dekatmu: jentik-jentik, nyamuk, lalat, laba-laba, cacing, ikan cupang, cecak, tokek, katak, burung, kucing, anjing, dan sebagainya. Bisakah kamu menemukan rantai makanan di antara hewan-hewan ini?

Ketika katak lenyap

Jumlah masing-masing jenis hewan dan tumbuhan mesti seimbang. Jika salah satu jenis kurang atau kebanyakan, maka alam akan terganggu. Contohnya ketika hama tikus menyerbu padi di sawah. Lalu, apakah banyaknya ular di pemukiman juga akibat dari ketidakseimbangan ini?

Kalau petani gagal panen padi, kita memang tidak sampai kelaparan, karena ada pilihan lain seperti jagung, gandum, dan sebagainya. Tentu saja petani padi yang rugi. Bagaimanapun juga, serbuan tikus itu karena mungkin jumlah pemangsa alaminya terlalu sedikit. Banyak orang memburu ular untuk dijadikan peliharaan atau obat.

Berkurangnya jumlah satu spesies adalah bencana. Apalagi jika sampai punah! Adakah? Ya, ada. Manusia bukan satu-satunya penyebab langsung hilangnya satu spesies. Perubahan alami di alam juga bisa jadi penyebab kepunahan. Menurut biolog, kita sudah kehilangan 90 spesies katak dan bangkong akibat jamur.

Di sini pun ada hewan-hewan yang sedang terancam punah. Ini biasanya karena kita gusur rumah mereka untuk dijadikan perkebunan atau pemukiman. Bisa juga kita tangkapi mereka untuk dijadikan makanan atau peliharaan. Beberapa hewan tersebut adalah elang jawa, badak jawa, orangutan sumatra, harimau sumatra, dan penyu laut.

Mungkin manusia tidak langsung merasakan akibat dari satu spesies yang terancam punah. Namun, rantai makanan yang terganggu di suatu tempat, pada saatnya nanti akan mempengaruhi juga keseimbangan di tempat lain.

Sebelum terlambat, ayo kita menahan diri untuk tidak serakah menggunakan sumber daya alam. Manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain, yang sama-sama membutuhkan tempat dan makanan sebagai sumber energi. Setiap jenis tumbuhan dan hewan merupakan sumber energi bagi yang lain. Oleh karena itu kita harus menghargai setiap kehidupan.


Dian Vita Ellyati, penyuka sains

Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi April 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

One thought on “Rantai Penanda Harmoni Alam

  1. Keren….

    Bayu Risanto, S.J. Ph.D Postdoc Research Associate I (Atmospheric Sciences) Department of Hydrology and Atmospheric Sciences 1133 E James E. Rogers Way The University of Arizona Tucson, AZ 85721 U.S.A.

    Residence: Vatican Observatory Jesuit Community 2017 E. Lee Street Tucson AZ 85719 U.S.A.

    *Bernardus Valles, Colles Benedictus amavit, Oppida Franciscus, Magnas Ignatius urbes*.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s