Awas! Ada Asteroid Melintasi Bumi!

“LIHAT, ada bintang jatuh! Lekas ucapkan keinginanmu agar terkabul!”

Di tempat yang sedikit polusi cahayanya, banyak benda angkasa bisa kita lihat pada malam hari. Misalnya “bintang jatuh” dan “bintang berekor”. Tapi, sungguhkah bintang dapat jatuh? Benarkah bintang punya ekor?

Meteorit pemunah dinosaurus

Anggota Tata Surya bukan cuma 1 bintang (Matahari), 8 planet, dan 5 planet katai. Masih ada satelit yang mengikuti planet, yang berbeda jumlahnya untuk setiap planet. Kamu ingat ‘kan nama satelit alami Bumi? Benar sekali, Bulan adalah satelit alami Bumi. Coba kamu temukan nama satelit-satelit alami planet-planet dalam Tata Surya selain Bumi!

Selain bintang, planet, dan satelit, masih ada anggota lain Tata Surya yang dinamakan Benda Kecil Tata Surya. Asteroid dan komet termasuk di dalamnya.

Setiap anggota Tata Surya menyusuri lintasan masing-masing mengitari sang Surya di pusat. Kamu tahu, dong, Surya adalah nama lain Matahari. Di antara lintasan orbit Mars dan Jupiter, ada area Sabuk Asteroid. Sesuai namanya, ini rumah jutaan asteroid. Ceres tinggal di sini, namun karena ukurannya besar dibandingkan asteroid lain, ia dimasukkan dalam grup planet katai. Katai artinya kerdil. Maksudnya, Ceres tidak sebesar planet umumnya.

Kamu tahu, dong, Surya adalah nama lain Matahari. Di antara lintasan orbit Mars dan Jupiter, ada area Sabuk Asteroid. Sesuai namanya, ini rumah jutaan asteroid. Ceres tinggal di sini, namun karena ukurannya besar dibandingkan asteroid lain, ia dimasukkan dalam grup planet katai.

Asteroid terdiri dari batuan dan mineral sisa pembentukan Tata Surya pada saat kelahirannya. Sesekali asteroid-asteroid ini saling bertabrakan, dan ada bagian yang terlepas. Bagian kecil yang terlepas dari asteroid atau komet dinamakan meteoroid.

Kadang-kadang ada meteoroid meninggalkan rumahnya akibat gaya tarik Jupiter. Ia bergerak mendekati Matahari, dan mungkin melintas di dekat Bumi. Jika meteoroid tertangkap gaya tarik Bumi dan masuk ke atmosfernya, namanya meteor. Meteor yang bergerak sangat cepat di dalam atmosfer akan mengalami tekanan ram. Ia menyala terang sambil terbakar habis saat melintas dalam atmosfer. Ya, inilah “bintang jatuh”!

Ada meteor yang tidak habis terbakar di atmosfer saking besar ukurannya. Ia sampai ke permukaan Bumi dan membuat kawah raksasa. Batuannya yang masih bisa dilihat disebut meteorit.

Meskipun sangat jarang, ada juga meteorit berukuran sangat besar yang menyebabkan bencana global, yaitu kepunahan massal. Akibat tumbukannya pada muka Bumi 65 juta tahun lalu, meteorit menyebabkan perubahan iklim yang tidak bisa ditanggung oleh nyaris semua makhluk hidup saat itu, termasuk dinosaurus.

Akibat tumbukannya pada muka Bumi 65 juta tahun lalu, meteorit menyebabkan perubahan iklim yang tidak bisa ditanggung oleh nyaris semua makhluk hidup saat itu, termasuk dinosaurus.

Jangan panik, sekarang ilmuwan bisa menghitung gerakan berbagai benda langit, termasuk yang melintas di dekat Bumi. Astronom dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan dari sekitar dua belas ribu asteroid di dekat Bumi, seribu lima ratus di antaranya berpeluang menabrak Bumi.

Kita sedunia perlu bekerja sama saling melindungi dari ancaman benda antariksa. Untuk itu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 30 Juni sebagai Hari Asteroid. Salah seorang penggagasnya adalah Brian May, astrofisikawan yang juga gitaris band Queen.

Hujan, tapi bukan air

Selain Sabuk Asteroid, ada sabuk lain di sekitar dan melampaui orbit Pluto, namanya Sabuk Kuiper atau Sabuk Komet. Lebih jauh lagi dari Sabuk Kuiper, ada Awan Oort. Awan Oort menjadi batas terjauh pengaruh gaya tarik Matahari. Ilmuwan menduga Sabuk Kuiper dan Awan Oort yang kaya debu dan es adalah tempat lahir komet.

Empat planet kerdil, yaitu Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris ada di Sabuk Kuiper. Di sini lahir komet Halley dan komet-komet lain dengan periode pendek. Artinya komet mengitari Matahari satu kali selama kurang dari 200 tahun. Sedangkan komet periode panjang berasal dari Awan Oort, misalnya komet Gale dengan periode 958 tahun.

Komet terbentuk terutama oleh es. Namun, saat mendekati Matahari, panas menguapkan sebagian es dan menyisakan serpihan debu dan pasir di belakangnya. Inilah yang terlihat seperti ekor atau rambut komet yang terang dan bisa kita amati. Apabila kebetulan Bumi melewati bekas lintasannya, maka batuan dan debu ini berbondong-bondong memasuki atmosfer kita, dan kita bisa menyaksikan hujan meteor! 

Star shower taken in china

Kakek nenekmu mengenalnya sebagai “lintang kemukus”, dan kita menyebutnya “bintang berekor”. Sekarang kamu tahu, komet bukan bintang!


Dian Vita Ellyati, Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Oktober 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s