Balapan ke Bulan

Saat malam terang bulan, purnama seperti memanggil-manggil kita untuk keluar rumah. Menyenangkan ya, bermain atau berjalan-jalan di bawah indahnya bulan purnama!

Satu wajah Bulan

Cahaya keperakan Bulan memukau seniman. Mereka mengabadikannya dalam cerita, lagu, dan lukisan. Setiap kelompok masyarakat punya mitos tentang Dewi Bulan.

Saat melihat Bulan, kita suka membayangkan apa yang tergambar pada wajahnya itu. Ada yang menggambarkan seekor kelinci, atau seorang ibu menimang putranya. Bisakah kau menemukan gambaran ini pada Bulan, atau kau punya imajinasi sendiri?

Bukan hanya seniman, ilmuwan pun berimajinasi dengan Bulan. Bahkan, mereka meluncurkan pesawat antariksa, yang berawak maupun tidak, untuk meneliti dan menjelajahinya.

Sebagai benda berbentuk bola, Bulan punya banyak sisi atau muka. Dan seperti benda langit lain, Bulan berotasi, yaitu berputar pada sumbunya. Dengan begini, seharusnya muka Bulan yang kita lihat akan berganti-ganti. Namun, ternyata tidak demikian.

Mengapa dari Bumi kita melihat hanya satu sisi Bulan? Ini karena waktu yang diperlukan Bulan untuk melakukan satu kali rotasi, sama lamanya dengan satu kali revolusinya, yaitu sekitar 27 hari. Revolusi Bulan adalah perjalanan Bulan mengelilingi Bumi.

Ada apakah di sisi Bulan di balik sana, yang tak bisa kita lihat dari Bumi? Ilmuwan penasaran pada bagian yang disebut dengan sisi jauh, atau sisi gelap, Bulan ini.

Menjelajahi sisi gelap Bulan

Sebenarnya sisi jauh Bulan sudah difoto pertama kali tahun 1959 oleh wahana Luna 3. Meskipun hasilnya kurang bagus, toh ilmuwan jadi tahu sisi jauh Bulan berbeda dengan sisi dekatnya, dengan lebih sedikit mare. Manusia pertama yang melihat langsung sisi jauh Bulan adalah para astronaut yang menumpang wahana Apollo 8 tahun 1968. Setahun berikutnya manusia berhasil berjalan di Bulan.

Berbagai misi penjelajahan Bulan menghasilkan peta yang semakin lengkap dan jelas. Peta ini membantu ilmuwan meneliti Bulan lebih cermat. Bukan cuma permukaan, bagian dalam Bulan juga dipelajari. Bagian ini bisa terlihat dengan gelombang selain cahaya tampak, misalnya Sinar-X.

Saat meneliti benda langit, ilmuwan ingin tahu, adakah kandungan airnya? Ada tidaknya air dapat menunjukkan apakah kehidupan dapat berlangsung. Untuk itu pula ilmuwan mempelajari ciri-ciri bahan penyusun Bulan, juga proses terbentuknya. Bidang sains yang mempelajari ini adalah geologi, astronomi, dan biologi.

Ilmuwan tidak bisa berangkat sendiri ke Bulan. Mereka perlu insinyur untuk membangun wahana antariksa yang bisa mengangkut mereka ke sana. Wahana juga butuh pilot dan teknisi untuk mengendalikan dan mengarahkannya ke tujuan. Pendukung lain memantau wahana dari stasiun pengamatan di Bumi. Maukah kau menjadi anggota tim ini?

Ilmuwan tidak bisa berangkat sendiri ke Bulan. Mereka perlu insinyur untuk membangun wahana antariksa yang bisa mengangkut mereka ke sana. Wahana juga butuh pilot dan teknisi untuk mengendalikan dan mengarahkannya ke tujuan. Pendukung lain memantau wahana dari stasiun pengamatan di Bumi. Maukah kau menjadi anggota tim ini?

Sisi jauh Bulan menyimpan misteri. Belum ada wahana dan manusia mendarat di sini karena komunikasi dengan Bumi akan sulit dilakukan. Hingga awal tahun 2019 pada tanggal 3 Januari, wahana pendarat tanpa awak Chang’e 4 dan penjelajahnya yang bernama Yutu 2 berhasil mendarat.

Setelah tiga tahun,  Yutu 2 sudah  menjelajahi Bulan sejauh lebih dari 1.000 meter.  Yutu 2 juga telah mengirimkan gambar dan data batuan Bulan yang menarik perhatian ilmuwan. Mereka berharap dapat memecahkan misteri tumbukan awal batuan angkasa yang terjadi di Bulan.

Setelah Bulan, ke mana lagi?

Belum tuntas Bulan diteliti, Mars sudah diincar ilmuwan. Mereka berlomba lebih dulu sampai di sana. Iya, mirip kamu dan teman-teman balapan sepeda. Setiap hal baru yang ditemukan ilmuwan akan membuka pintu pengembangan sains dan teknologi berikutnya. Dengan cara ini, sains dan teknologi berkembang dan saling mempengaruhi.

Nah, sekarang, tahukah kamu siapa sebenarnya Chang’e dan Yutu yang namanya dipinjam untuk wahana pendarat dan penjelajah Bulan ini?


Dian Vita Ellyati, Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Maret 2019. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s