Hadiah untuk Ilmuwan

SIAPA yang tidak suka mendapat hadiah? Sepertinya tidak ada, ya. Siapa pun senang hadiah. Hadiah membuat kita merasa diingat dan diapresiasi. Ketika diberikan atas prestasi kita, hadiah membuat kita semakin bersemangat. Bukannya kita berkarya hanya kalau ada hadiah, namun hadiah seperti bonus atas jerih payah kita.

Ilmuwan yang melakukan penelitian, seolah-olah tak ada suaranya. Penelitian sains jarang menjadi berita, mungkin karena berlangsung lama, rumit, dan belum tentu berhasil. Saintis sibuk bekerja di laboratorium atau lapangan, melakukan eksperimen, gagal, mencoba lagi, begitu seterusnya sampai berhasil.

Banyak orang atau sekelompok orang kaya memberikan penghargaan atau hadiah pada saintis yang berhasil. Hadiah dapat berupa piagam, medali, dan uang. Penghargaan ini umumnya dinamai sesuai pemberinya, misalnya Penghargaan Nobel.

Penghargaan Nobel terkenal karena hadiah uangnya yang sangat banyak, yaitu 10 ribu SEK (Swedia Krona) atau sekitar Rp 16 miliar untuk setiap pemenang. Selain untuk ilmuwan fisika, kimia, dan kedokteran (biologi), Nobel diberikan juga pada sastrawan, tokoh perdamaian, dan ahli ekonomi.

Siapa sih Nobel ini, mau-maunya memberikan kekayaannya sebanyak itu sebagai hadiah untuk orang lain yang tidak ia kenal?

Dari ilmuwan untuk ilmuwan

Alfred Nobel adalah ilmuwan, inventor, pengusaha, dan penyair asal Swedia. Ia mengikuti jejak ayahnya mengelola pabrik bahan peledak dan peralatan militer di Rusia. Ia belajar kimia dan melakukan eksperimen untuk menemukan bahan peledak yang terbaik, yaitu bisa dikendalikan dan berdaya ledak tinggi. Ia menemukan cara memadukan cairan nitrogliserin dengan pasir halus untuk dijadikan bahan peledak berbentuk pasta, yang kemudian dinamakan dinamit.

Penemuan ini, bersama detonator dan lain-lain, ia daftarkan patennya. Nobel juga mendirikan pabrik di 90 lokasi di 20 negara, antara lain Swedia, Jerman, Prancis, dan Italia. Dia sering bepergian ke pabrik-pabriknya, sampai-sampai dijuluki “Pengembara Paling Kaya di Eropa”.

Mungkin kamu penasaran, kenapa orang membuat peledak? Bukannya itu berbahaya bagi makhluk hidup?

Benar. Peledak berbahaya jika digunakan untuk mencelakai sesama. Di sisi lain, penemuan dinamit dan detonator menekan ongkos pekerjaan konstruksi, seperti membuka jalan kereta api, mengebor terowongan, dan membangun jembatan.

Benar. Peledak berbahaya jika digunakan untuk mencelakai sesama. Di sisi lain, penemuan dinamit dan detonator menekan ongkos pekerjaan konstruksi, seperti membuka jalan kereta api, mengebor terowongan, dan membangun jembatan.

Penyalahgunaan peledak untuk tujuan buruk sungguh terjadi, terutama dalam perang. Banyak orang tewas gara-gara ini. Nobel bukannya tak peduli. Ia gusar karenanya. Seorang sahabat dekatnya yang bernama Bertha von Suttner sangat kritis terhadap perlombaan senjata, dan aktif dalam gerakan perdamaian. Bertha menulis buku Letakkan Senjatamu. Pemikiran dan tindakan Bertha mempengaruhi Nobel.

Selain kimia dan fisika, Nobel juga mencintai sastra. Berkat pendidikan dasar terbaik yang diperolehnya secara privat, pada umur 17 tahun Nobel fasih berbahasa Swedia, Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman. Ia menulis puisi-puisinya sendiri.

Kecintaannya pada sains dan sastra, perhatiannya pada perdamaian, serta pilihannya untuk tidak menikah, mendorongnya untuk menyumbangkan kekayaannya demi membangun dunia yang lebih baik. Ia membuat wasiat. Lima tahun setelah Nobel meninggal di Italia pada 10 Desember 1896, terwujudlah keinginan terbesarnya, yaitu menghadiahi mereka yang telah memberikan kontribusi luar biasa pada umat manusia di bidang sains, sastra, dan perdamaian.

Penerima Hadiah Nobel

Tentu sudah sangat banyak ilmuwan, sastrawan, dan tokoh perdamaian yang menerima Hadiah Nobel. Penghargaan Nobel diberikan tahunan sejak 1901, kecuali tahun 1940, 1941, dan 1942 karena Perang Dunia II.

Apakah kamu pernah difoto rontgen karena sakit atau kecelakaan? Nah, penemu sinar-X atau sinar Rontgen ini adalah penerima pertama Hadiah Nobel bidang Fisika, yaitu Wilhelm Conrad Rontgen. Nobel Kimia diberikan pada Jacobus Henricus van’t Hoff atas kontribusinya dalam kimia termodinamik. Emil Adolf von Behring mendapat Nobel Kedokteran berkat pengobatan difteri. Nobel Sastra untuk Sully Prudhomme, dan Nobel Perdamaian untuk Henry Dunant atas jasanya dalam gerakan Palang Merah serta Frederic Passy atas gerakan perserikatan antarparlemen.

Masih ingat Bertha von Suttner sahabat Nobel? Ia mendapat Nobel Perdamaian tahun 1905. Ia menjadi perempuan kedua penerima Nobel, setelah Marie Curie.

Selain perempuan pertama, Marie Curie juga penerima Nobel untuk dua bidang berbeda. Ia berbagi Nobel Fisika tahun 1903 bersama suaminya Pierre Curie dan fisikawan Henri Becquerel. Mereka merintis teori “radioaktivitas”. Pada 1911 ia mendapat Nobel Kimia untuk penemuan unsur polonium dan radium.

Nobel untuk dua bidang berbeda juga diterima Linus Pauling, yaitu pada 1954 dalam Kimia dan dalam Perdamaian tahun 1962. Ada pula penerima Nobel dua kali dalam bidang yang sama, yaitu bidang Fisika, ilmuwan John Bardeen tahun 1956 untuk penemuan transistor dan 1972 untuk teori superkonduktivitas. Di bidang Kimia, yaitu Frederick Sanger tahun 1958 untuk struktur molekul insulin dan 1980 untuk pengurutan nukleotida virus.

Penerima Hadiah Nobel termuda adalah aktivis pendidikan Malala Yousafzai. Ia berasal dari Pakistan, dan menerima Nobel Perdamaian tahun 2014 pada umur 17 tahun.

Penerima Hadiah Nobel diumumkan setiap bulan Oktober. Seremoni penyerahannya pada haul Alfred Nobel yaitu 10 Desember. Acara ini diadakan megah dengan pesta makan malam dan konser musik. Tahukah kamu, siapa saja penerima Nobel tahun kemarin?

Kamukah penerima Nobel pertama dari Indonesia?

Belum ada orang Indonesia yang mendapat Hadiah Nobel. Namun, penerima Nobel Kedokteran tahun 1929, yaitu Christiaan Eijkman, ilmuwan Belanda, melakukan penelitiannya dengan mengambil sampel di sini. Waktu itu namanya masih Hindia Belanda, karena Indonesia belum lahir. Eijkman menemukan bahwa penyakit beri-beri bukan disebabkan bakteri, melainkan karena kekurangan vitamin B1 (tiamina).

Penerima Nobel Kedokteran tahun 1924 adalah ilmuwan Belanda bernama Willem Einthoven berkat penemuan elektrokardiogram (ECG atau EKG). Dengan EKG, dokter dapat memerika rekaman aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu. Einthoven lahir 21 Mei 1860 di Semarang, lalu kembali ke Belanda tahun 1870.

Lantas, bagaimana dengan ilmuwan Indonesia, siapa yang memberi mereka penghargaan seperti dilakukan Alfred Nobel?

Mereka yang berkarya luar biasa di bidang sains, teknologi, dan kebudayaan di Indonesia dapat diusulkan untuk menerima penghargaan Habibie Prize. Kamu tahu dong, siapa Pak Habibie? Nah, Habibie Prize ini diberikan kepada mereka yang berjasa dalam penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan kegiatan inovatif, serta bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.


Dian Vita Ellyati, Catatan: Naskah pernah dimuat di majalah “Utusan” edisi Desember 2020. Untuk Suningsih.net, naskah telah diedit seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s