Ruang Anak Bajang (5)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan oleh Sindhunata di harian KOMPAS

Tujuh-episode kelima:

Sokawati melanjutkan ceritanya, bahwa setelah pertengkarannya dengan sang suami, masing-masing memberi nama pada putra kembar mereka. Swandagni memberi nama Sumantri pada si tampan, dan Sukrosono adalah nama dari Sokawati untuk anak raksasanya. Sokawati mengasuh dan menyusui Sumantri, seolah-olah mengasuh sepasang kembarnya. Ia percaya Sukrosono sintas sepanjang saudaranya selamat. Ia berpesan pada Sumantri agar menyayangi adiknya dan tidak malu akan wujud raksasanya. Setelah menyapih Sumantri, perasaan bersalah menderanya lagi. Suaminya, yang tak tega melihatnya, akhirnya mengakui kesalahannya. Menurut Sokawati, dosa mereka baru akan terampuni apabila kedua putra mereka bertemu. Untuk itu ia rela menjemput Sukrosono, bahkan dari alam kematiannya. Dengan perasaan bersalah dan tekad berjumpa Sukrosono, ia pun meninggalkan dunia. Benar saja, di alam penantian, ia mendapat restu para dewa untuk turun ke bumi menemui putranya. Kilas balik ini yang membuka cerita di bagian awal. Sukrosono memperkenalkan ibunya pada induk macan yang mengasuh dan menyusuinya seperti anak sendiri, bersama tiga anaknya yang lain. Dari induk macan juga ia tahu bagaimana ia dulu di hutan ditemukan olehnya dan dibawa ke sarangnya. Sokawati bercerita bagaimana ia makan pisang sekaligus buah dan kulitnya meskipun sepat, seolah-olah buah itu adalah Sumantri, dan kulitnya adalah Sukrosono. Dengan memakan keduanya berarti ia menerima semua putranya. Ia berpesan agar Sukrosono pergi menemui ayah dan kakaknya. Sukrosono juga mesti ke Gunung Taranggana Sekar untuk menemukan sesuatu yang akan membantu kakaknya kelak. Setelah itu, Sokawati kembali ke alam penantian, dan Sukrosono pun merana. Namun, melihat ketulusan keluarga hutan menghiburnya, ia senang dan bersemangat memulai pengembaraan. Seisi hutan mengantar keberangkatannya dengan meriah dan bekal pelajaran hidup. Kerelaan mereka, kendati sedih, membesarkan hati Sukrosono meninggalkan Jatirasa.

Sukrosono berangkat ke arah matahari terbit sesuai pesan ibunya. Dengan kemampuannya berbahasa binatang, ia mendapat pelajaran demi pelajaran sepanjang perjalanan. Yang pertama adalah tentang perasaan khawatir. Seekor gagak mencontohkan bagaimana ia merasa sudah mencegah langit runtuh dengan upayanya menyangga langit. Padahal, tanpa usahanya ini pun langit tetap di tempatnya. Pelajaran kedua dari seekor cataka yang percaya mendung menyimpan hujan. Dengan itu ia tabah menjalani deritanya demi datangnya kekasih. Pelajaran berikutnya oleh seekor bangau yang memberinya petunjuk untuk dapat terbang meskipun tanpa sayap, hanya dengan kakinya. Untuk itu, ia mesti memahami bagaimana langit dapat terbenam ke dalam bumi.

Tema: harapan, ketabahan, penantian, pengorbanan, kekhawatiran, kemustahilan

Karakter: Sokawati, Swandagni, Sumantri, Sukrosono, induk macan, penghuni hutan Jatirasa, seekor gagak, seekor cataka, seekor bangau

Lokasi peristiwa: Kompleks pertapaan Jatisrana, hutan Jatirasa, rute pengembaraan Sukrosono

Kutipan terpilih:

“Tak ada yang bisa mengalahkan harapan. Harapan bahkan bisa mengalahkan kematian atau ketiadaan.” (Eps. 29)

Pantaskah seorang pendeta membiarkan diri dikuasai oleh nafsunya? Semuanya ini jadi pembelaan diri, yang membuat ia enggan untuk menyesal dan mengaku bersalah. (Eps. 30)

Kesedihan itu adalah daya luar biasa, yang memaksanya untuk menyesali diri dan mengakui kesalahannya. (Eps 30)

“Ternyata bukan aku yang manusia yang kelihatannya lemah lembut, tapi alam yang buas dan liar inilah yang telah mengajarkan dan memberikan cinta padamu.” (Eps. 31)

Alam mengajarinya, bagaimana ia harus memberikan diri, bukan hanya menerima dan memperoleh. (Eps. 33)

Kalau seluruh alam adalah hidupmu, siapakah yang akan sanggup mengalahkan kamu? (Eps. 33)

Serela alam melepas kepergiaannya, Sukrosono pun merasa harus serela itu dalam memberikan diri dan hidupnya. (Eps. 33)

Janganlah ia terjebak oleh kekhawatiran. Belum tentu ada yang harus dikhawatirkan. Jika ada, itu adalah buah dari kekhawatiran yang diciptakannya sendiri. (Eps. 34)

Kejernihan genangan air seperti menyedot cakrawala langit ke dalamnya, sehingga di sana terlihat burung-burung bangau itu bagaikan terbang di langit, padahal kakinya jelas-jelas menginjak tanah. (Eps. 35)

Amsal:

Langit terang, markata, zamrud kehijau-hijauan bergemerlapan turun dari awan-awan, menghujankan harapan. (Eps. 29)

Sayup-sayup terdengar suara burung cengkilung, keluar dari cengkerung malam. (Eps. 29)

Dewi Sokawati memetikinya, dan merasa, ia seperti memetiki kesedihannya lagi. (Eps. 30)

Wajahnya melayu, seperti bunga wungu, yang jatuh dari pucuk candi, karena terjauh dari sapaan sinar matahari. (Eps. 30)

Dari langit turunlah hujan bunga tujuh warna. Bunga-bunga itu kemudian menjadi tangga. Dewi Sokawati merambati tangga bunga itu. Dan Dewi Sokawati pergi untuk selamanya. (Eps. 30)

“Karena kulitnya adalah kau, Sukrosono. Sedang buahnya adalah kakakmu, Sumantri. Pantas, waktu itu aku mengunyah buah dan kulitnya dengan nikmat, walau aku merasa, kulit itu sepat dan pahit rasanya.” (Eps. 31)

Mereka tahu kesedihan bunga tarahudan, yang kendati kemanisannya tak dihinggapi kumbang-kumbang di musim hujan. (Eps. 32)

Langit berselendangkan arak-arakan awan kehitam-hitaman, dan kelam pun menyelimuti bumi sekitar tak lama kemudian. (Eps. 34)

Harapan ternyata bisa mengurai hujan, mendung pun ditembusnya dengan panah kerinduan, dan air pun deras melimpah di tengah kekeringan. (Eps. 35)

Glosari: markata (marakata), (burung) cangkilung, cengkerung, ceplok-ceplok, (bunga) tarahudan, gandasuli, parijata

Episode 29: Bagi Sokawati, anaknya yang ia buang, hidup atau mati, tetap mesti dinamai sebagai lambang harapan. Suaminya gagal paham pada cara berpikirnya, dan memberi nama hanya pada anak mereka yang tampan, Sumantri. Sedangkan Sokawati memberi nama Sukrosono pada anak yang lain. Sokawati mengasuh Sumantri sambil membayangkan yang disusuinya adalah Sukrosono, yakin bahwa Sukrosono hidup selama Sumantri hidup. Sokawati berpesan pada Sukrosono agar bertahan dalam penantiannya. Ia juga menceritakan pada Sumantri bagaimana ia mempertahankan kembarannya, dan dengan suara cengkilung bepesan agar Sumantri menyayangi adiknya, serta tidak malu beradikkan raksasa.

Episode 30: Ketenangan Sumantri saat disusuinya dianggap Sokawati sebagai penerimaan atas pesan yang ia sampaikan. Betapapun bulan dan awan seakan tak merestui. Setelah menyapih Sumantri, Sokawati kembali didera perasaan bersalah karena usai mengandung Sukrosono, ia tak mau memeliharanya. Suaminya yang tadinya menolak kesalahan itu, akhirnya terbawa oleh kesedihan istrinya, dan mengakui kesalahannya sendiri. Sokawati merasa kesalahan mereka baru akan terampuni jika Sukrosono bertemu Sumantri. Suaminya lagi-lagi gagal paham, lebih-lebih Sokawati bermaksud menjemput Sukrosono dengan kematiannya. Demikian tuturan Sokawati pada Sukrosono.

Episode 31: Sokawati bersyukur Sukrosono mampu bertahan hidup. Sukrosono bahagia mengetahui dirinya bernama dan berjumpa sang ibu. Ia memperkenalkan ibunya pada induk macan yang mengasuh dan menyusuinya di hutan. Setelah mengerti bahasa binatang, induk macan memberitahunya bagaimana ia ditemukannya di hutan lalu dibawa ke sarangnya untuk disusui bersama ketiga anak bayinya. Sukrosono pun menjadi bagian hutan. Sokawati bercerita bagaimana ia makan buah pisang sekulit-kulitnya saat mengidam. Rasa manis buah melambangkan Sumantri dan kulitnya yang sepat adalah Sukrosono. Dengan menelan semua, ia menerima keduanya dan menolak untuk membuang yang berwujud raksasa.

Episode 32: Sukrosono senang mengetahui punya kakak kandung. Ibunya berpesan agar ia pergi menemui kakaknya dan tak berpisah lagi. Namun, sebelumnya Sukrosono mesti berbuat baik sepanjang pengembaraannya mencari kakak dan ayahnya, dan setelah bertemu mereka, ia masih harus ke Gunung Taranggana Sekar. Di situlah ia akan menemukan sesuatu untuk membantu kakaknya kelak. Usai menyampaikan pesannya, Sokawati kembali ke langit ke alam penantian, dan ditangisi Sukrosono. Sukrosono yang berduka dihibur oleh seisi hutan. Ia berusaha menikmati penghiburan itu.

Episode 33: Setelah Sukrosono terhibur, justru seisi hutan ganti bersedih karena akan dia tinggalkan untuk menemukan keluarganya yang masih ada. Para binatang dan tumbuhan membekalinya dengan pelbagai ilmu mempertahankan hidup di alam. Sukrosono merasakan bagaimana mereka semua mengisinya dengan daya hidup tak habis-habis, dan berterima kasih. Dengan arak-arakan meriah mereka mengantarnya hingga ke tepi hutan. Merasakan kerelaan induk macan saat melepasnya, ia berangkat dengan cinta.  

Episode 34: Sukrosono berangkat menuju arah matahari terbit mengikuti pesan ibunya. Meninggalkan hutan Jatirasa bagaikan menyambut kebebasan dan melupakan kegelapan. Pelajaran pertama didapatnya dari seekor gagak tentang perasaan khawatir. Gagak mengira dirinya telah mencegah langit runtuh dengan daya upayanya. Padahal langit toh baik-baik saja kendati ia hentikan ikhtiarnya. Pelajaran kedua dari seekor cataka tentang harapan. Cataka itu rela menjalani kesedihan di balik mendung demi datangnya kekasih (hujan).

Episode 35: Sukrosono sadar, betapapun berat, ia bertahan hidup di hutan karena di dalam mendung tersimpan hujan. Harapanlah yang membuatnya kuat. Turunnya hujan kemudian menggugah perasaannya untuk bergembira melanjutkan perjalanan, hingga berjumpa sekawanan bangau terbang. Ia mengandaikan punya sayap agar bisa terbang. Seekor bangau mengajarinya terbang dengan kaki. Petunjuk pertama adalah bayangan bangau yang sedang bermain di tengah genangan air hujan. Saat mengepakkan sayapnya, dalam bayangan itu mereka bagaikan terbang kendati kakinya menginjak bumi. Bangau itu memberitahu, ia juga bisa terbang dengan kakinya, setelah memahami bagaimana langit terbenam di bumi.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra, tinggal di Surabaya

Ruang Anak Bajang (4)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan oleh Sindhunata di harian KOMPAS

Tujuh-episode keempat:

Swandagni ngotot menolak anaknya yang raksasa, dan hanya mau menerima bayi yang berwujud manusia. Ia menganggap bayi buruk rupa itu adalah buah dari perbuatan nafsunya yang dirangsang oleh tindakan sang istri. Betapapun istrinya beralasan siapa tahu anak mereka yang rupawan justru yang terlahir dari nafsu, bukannya cinta. Ia menutup mata akan kenikmatan yang dirasakannya, dengan mengingkari buah kenikmatan itu, sekalipun istrinya mengingatkan bahwa sebagai manusia, tak mungkin mereka melepaskan nafsu dari cinta. Sokawati berangkat dari Jatisrana untuk membuang anaknya yang berupa raksasa atas perintah suaminya, namun tidak sebelum ia mengucap sumpah akan balasan yang bakal diterima Swandagni atas kekejamannya pada putra mereka itu. Sokawati meninggalkan putra kesayangannya di batas hutan Jatisrana dengan perasaan galau karena merasa di balik wujud raksasanya, sang putra menyimpan kebaikan manusiawi. Setelah susuan terakhir, ia menyiapkan alas tidur berupa dedaunan campaka untuk putranya. Ia rangkai campaka untuk dikenakan pada leher sang putra sebagai kenang-kenangan. Oleh kilatan cahaya, kalung campaka ini berubah menjadi butiran mutiara. Setibanya di pertapaan, Sokawati tak sanggup menghalau kesedihannya, hingga kepedihan ini mengantarkannya pada kehidupan selanjutnya.

Sokawati terjebak di pangrantunan (alam penantian), tak bisa langsung memasuki surga. Dengan restu dewa, ia dibolehkan turun ke dunia untuk menemui putra yang telah dibuangnya. Anaknya kini tinggal di hutan Jatirasa dan berkeluarga dengan binatang hutan. Kisah pun berlanjut seperti disampaikan di bagian awal, ketika raksasa bajang bertemu dengan seorang perempuan cantik yang memperkenalkan diri sebagai ibunya. Ibu dan anak itu pun memuaskan rindu. Sokawati tak henti meminta maaf pada anaknya atas perbuatannya yang memalukan. Raksasa bajang baru memahami makna kerinduan yang selama itu selalu menghantuinya. Setelah keduanya mandi di pancuran telaga Sulendra, yang mengingatkan Sokawati pada kenikmatannya mandi di pancuran Jatisrana saat melakoni mitoni, Sokawati menceritakan alasannya meninggalkan sang putra. Bagaimana Swandagni hanya mau mengakui anak mereka yang berwujud manusia, juga usahanya menghibur sang istri dengan mengingatkannya untuk merawat anak yang mereka pertahankan. Hingga Swandagni bermaksud memberi nama pada sang putra, yang hanya menimbulkan kegundahan Sokawati yang juga mau memberi nama pada putra yang lain yang berwujud raksasa dan telah mereka buang.

Tema: penolakan pada nasib buruk, pengingkaran buah kenikmatan, perasaan bersalah yang menggerogoti jiwa, kerinduan yang terbalas, apakah nafsu selamanya buruk?

Karakter: Begawan Swandagni, Dewi Sokawati, sepasang bayi kembar

Lokasi peristiwa: pertapaan Jatisrana, hutan Jatirasa, telaga Sulendra, pancuran di telaga

Kutipan terpilih:

“Begawan, engkau adalah manusia yang hanya mau merasakan nikmat, tapi tak mau menerima buah dari nikmat itu, setelah tahu buah itu tidaklah sebaik seperti kau harapkan. Kau laknatkan nikmat.” (Eps. 22)

Seperti halnya dulu dia tidak bisa menolak nafsu ketika memberinya gairah dan nikmat, sekarang pun dia tidak bisa menghindar ketika nafsu membakarnya dengan rasa benci dan marah. (Eps. 22)

“Hidup adalah hidup, betapapun tak berartinya hidup itu, seperti hidupku ini. Mungkin karena itu, aku yakin, anakku akan tetap hidup, karena yang kuberikan padanya adalah hidupku sendiri.” (Eps. 24)

“Alam tak pernah membuang, malah memelihara siapa yang disingkirkan oleh manusia yang kejam.” (Eps. 26)

“Apakah nafsu itu mesti jelek dan buruk, Anakku, jika dalam dirimu yang terlahir dari nafsuku itu tersimpan kecantikanku yang tak pernah aku punyai dalam kebaikan dan kesucianku?” (Eps. 27)

Melawan kesedihan itu sama saja dengan mengingkari dirinya sendiri. Kalau ia mau meniadakan kesedihan itu sekarang, ia juga harus meniadakan kebahagiaan yang pernah ia alami. (Eps. 28)

Amsal:

Kerinduan mereka berdua menjadi dua anak panah, yang satu dari kayu pohon nagasari, yang lain dari kayu pohon kaniri. Dua panah itu melesat tinggi. Dan angkasa penantian bertebaran dengan bunga-bunga mewangi. Dua anak panah itu beradu. Suaranya menggetarkan, dan cahaya pun berkilatan. (Eps. 26)

Glosari: (burung) engkuk, (burung) cataka, (burung) cikru, campakamala, pangrantunan, (tumbuhan) tarulata

Episode 22: Swandagni kukuh menolak salah seorang putra kembarnya yang berwujud raksasa. Bahkan, ia tuduh istrinya telah tunduk pada nafsu. Sebagai pendeta, ia merasa harusnya hanya melakukan perbuatan cinta, yang suci, bukan nafsu, yang penuh noda. Ia menyangkal argumen Sokawati bahwa selama masih beraga, mustahil mereka memisahkan nafsu dari cinta. Namun, ia juga tak bisa membantah bahwa putranya yang tampan mungkin juga terlahir dari nafsu. Ia ngotot anaknya yang jelek adalah buah perbuatan tercela, sehingga harus dibuang. Menahan marah dan kecewa, Sokawati mengucap sumpah suaminya kelak akan menuai perbuatannya.

Episode 23: Sokawati keluar dari Jatisrana sambil menggendong bayi raksasanya. Kesedihannya dikawani suara cucur. Wajah anaknya yang jelek datang dan menghilang, sebagaimana kuwung. Membayangkan anaknya yang segera ditinggalkannya seorang diri di hutan belantara segera akan menemui ajal, ia sekaligus juga merasakan kuatnya daya kehidupan. Ia menyusui anaknya pada saat-saat terakhir, dan merasa bulanlah yang menyusu padanya. Ini mengingatkannya akan kenikmatan saat ia bercinta dengan suaminya, juga kala ia mandi di pancuran bambu sambil mendekap buah kelapa bergambar Dewi Ratih.

Episode 24: Sokawati tak habis-habis menciumi putranya, yang lalu menangis bahagia. Tangis bahagia si bayi menggugah engkuk dari tidur sedihnya. Sokawati percaya air susunya memberi daya hidup. Semakin dalam hutan, Sokawati semakin pedih Sokawati, bagaikan cataka yang putus asa mengharap hujan dan cikru yang bersedih. Di batas Jatisrana, bersiap meninggalkan anaknya, Sokawati terkesiap melihat anaknya tiba-tiba berubah rupawan. Namun, ketika Sokawati menimangnya lagi, kembali anaknya sebagai raksasa. Sokawati tersadar, jelek atau tampan, anak itu tetap anaknya. Setelah anaknya terlelap dengan susuan terakhir, Sokawati menyiapkan alas tidur untuknya dari daun-daun campaka.

Episode 25: Sebagai kenang-kenangan, Sokawati merangkaikan bunga campaka sebagai kalung penghias leher anaknya. Oleh kilatan cahaya, kalung bunga itu menjadi butiran mutiara. Dengan itu Sokawati meninggalkan anaknya, di luar hutan Jatisrana, dan terus mendengar tangis anaknya dari jauh yang diantarkan jati dan cemara. Setibanya di pertapaan Jatisrana, hubungan suami istri itu menjadi dingin akibat kepedihan Sokawati. Swandagni didera perasaan bersalah telah membuat istrinya berduka, namun juga merasa benar telah membuang buah dosa. Sokawati lambat laun  melayu, dan berpulang dalam keadaan nelangsa.

Episode 26: Meskipun surga sudah di depan mata, namun Sokawati belum bisa memasukinya. Ia mesti menunggu di alam pangrantunan. Oleh kebaikan para dewa, ia diperbolehkan turun ke bumi, ke hutan Jatirasa, untuk menemui anaknya yang dibuangnya di hutan. Maka, tergelarlah peristiwa sebagaimana dikisahkan pada bagian awal. Ibu dan raksasa bajang saling memuaskan rindu. Sang ibu lega melihat kalung mutiara campaka masih ada. Ia memohon ampunan putranya. Sang putra menemukan makna kerinduan yang selama ini tak dipahaminya. Kutilang dan kepodang turut meramaikan suasana di tengah kegembiraan binatang hutan.

Episode 27: Sokawati dan anaknya mandi bersama di telaga Sulendra di hutan Jatirasa. Saat telanjang, Sokawati merasakan kejujuran dirinya sebagaimana alam telanjang dalam keindahannya. Raksasa bajang mengagumi keindahan ibunya. Sokawati mandi di pancuran yang mengingatkannya saat upacara mitoni di Jatisrana. Sambil mendekap anaknya ke dadanya, ia membayangkan apakah sang putralah yang mewujud dalam buah kelapa yang mendatangkan kenikmatan baginya saat itu? Ia menyadari pada diri anaknyalah tersimpan kecantikannya, sehingga ketika anaknya ia buang, kecantikannya pun hilang.

Episode 28: Semalaman Sokawati bercerita pada anaknya tentang derita batinnya setelah diminta sang suami untuk membuangnya ke hutan. Ia merasa sangat bersalah dan mempertanyakan untuk apa lagi hidup ketika anaknya mesti mati. Suaminya menghiburnya dan memintanya mempedulikan anaknya yang masih ada, yang tampan rupawan. Sokawati makin sedih karena suaminya masih saja pilih kasih, membuatnya teringat pada anaknya yang dibuang. Derita ini harus dilaluinya, setelah kenikmatan ia rasakan. Swandagni bermaksud memberi nama anaknya yang tampan, mendorong Sokawati melakukan yang sama pada anaknya yang berwujud raksasa.

Ruang Anak Bajang (3)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan di harian KOMPAS

Tujuh-episode ketiga:

Begawan Swandagni pulang ketika kandungan istrinya mencapai tujuh bulan. Ia menceritakan pada istrinya pengalaman mencari pisang emas, lalu mempersiapkan upacara mitoni. Rangkaian upacara mereka lakukan sebagai permohonan pada para dewa agar kandungan Sokawati selamat hingga kelahirannya. Upacara mitoni ini meliputi siraman air dari tujuh sumber yang ditaburi bunga tujuh rupa, bermakna penyucian ibu dari segala noda. Di tengah siraman, Sokawati merasakan air upacara yang ditumpangi niat manusia tidak lagi menyegarkannya. Maka ia pun mengulangi siraman di bawah pancuran buluh bambu kesayangannya. Setelah istrinya mentas, Swandagni melanjutkan upacara dengan sehelai janur yang melambangkan ikatan duniawi yang merugikan ibu dan calon bayi. Ia pun memutus ikatan itu agar si bayi dan ibunya terbebas dari belenggu keinginan buruk. Berikutnya adalah perlambang untuk jenis kelamin bayi yang diinginkan, melalui dua butir kelapa bergambar Batara Kamajaya yang menyiratkan bayi lelaki, dan Dewi Ratih yang menyimbolkan perempuan. Swandagni, di luar kesadarannya, memilih kelapa bergambar Batara Kamajaya. Namun, Sokawati tetep menginginkan kelapa lain bergambar Dewi Ratih. Puncak upacara adalah Sokawati menyantap pisang emas idamannya yang telah diperoleh suaminya dengan perjuangan. Suaminya mengingatkan Sokawati akan pesan Dewi Luhwati. Sokawati pun memakan pisang itu sekaligus buah dan kulitnya. Manis dan sepat rasanya membuat Sokawati merenungkan kelahiran dan kematian. Usai upacara, Swandangi melanjutkan pemujaan di sanggarnya, sedangkan Sokawati kembali ke pancuran untuk mandi bersama kelapa bergambar Dewi Ratih.

Waktu berlalu hingga tiba saatnya Sokawati melahirkan. Mereka dianugerahi sepasang kembar lelaki yang sangat berlainan wujudnya. Yang satu bayi manusia yang tampan rupawan, sedangkan lainnya bayi raksasa yang sangat mengerikan. Sokawati mulanya menolak bayi raksasa sebagai anaknya. Namun, tangisan sang bayi menyadarkannya bahwa kedua bayi itu adalah anak-anaknya. Sementara suaminya tetap tidak bisa menerima bahwa anaknya berwujud raksasa, dan menuduhnya sebagai noda. Swandagni bahkan menyudutkan Sokawati yang dianggapnya telah menyeretnya ke tengah dosa dengan nafsu berahinya.

Tema: pengakuan (melalui upacara) makhluk lemah pada Kuasa Yang Maha, kelahiran dan kematian, penerimaan dan penolakan atas nafsu

Karakter: Begawan Swandagni, Dewi Sokawati, sepasang bayi kembar

Lokasi peristiwa: pertapaan Jatisrana, pancuran buluh bambu di kompleks pertapaan

Kutipan terpilih:

“Kekhawatiran memang akan selalu datang sebagai godaan, bila kau sedang memimpikan kebahagiaan.” (Eps. 15)

“Belum tentu air upacara itu suci, karena bisa saja air itu tercampur dengan hasrat manusia yang belum tentu murni dan suci.” (Eps. 16)

Tiba-tiba ia merasa hatinya harus menerima, kelahiran itu tak ubahnya kematian. (Eps. 18)

 “Buah cinta selalu indah. Tapi tak pernah kita tahu dan bisa memastikan wujud dan rupa buah cinta itu. Jika jelek, ia tetap indah karena ia adalah buah cinta.” (Eps. 20)

Justru dalam kegelapan itu, ia tak melihat adanya yang jelek atau yang baik. Kegelapan itu ada, seperti terang juga ada. (Eps. 21)

Ia sadar, kendati hidup kependetaannya memuncak tinggi, tak mungkinlah sebagai manusia ia bisa seluruhnya mengalami raganirmukta, pembebasan dari nafsu. (Eps. 21)

Glosari: mitoni, sentong, emban, cantrik, pengaron, janur, titah, memaras, (burung) walik, ragabahni, mangsa kasanga, kirana, kinaragan, raganirmukta, ragawarsa

Episode 15: Pada istrinya, Swandagni menceritakan pengalamannya mencari pisang emas. Sokawati kembali mengungkapkan penyesalannya telah meminta idamannya yang sulit ditemukan. Swandagni menenangkannya dan menyuruhnya beristirahat agar esok siap untuk upacara mitoni. Sokawati bermimpi buruk dan membangunkan suaminya. Swandagni menenangkannya, dan mengingatkan itulah perlunya upacara, memohon para dewa menjauhkan bala dan memberikan keselamatan pada calon jabang bayi. Sokawati memandangi pisang emas yang dikelilingi kepodang kuning emas yang ingin mematukinya, seraya memikirkan makna idamannya ini. Ia gelisah, tak yakin dengan mimpinya yang mencampur keindahan dengan malapetaka. Paginya ia mandi di pancuran buluh bambu kesukaannya dan bersiap-siap melakoni upacara yang dipimpin sendiri oleh suaminya.

Episode 16: Sokawati dan Swandagni melaksanakan upacara mitoni. Swandagni memulainya dengan berdoa dan mewejang tentang cinta yang melahirkan harapan nan suci, sambil menyiramkan air dari tujuh sumber dan ditaburi bunga tujuh warna sebagai simbol penyucian. Anehnya, Sokawati tidak merasakan kesegaran dari air upacara ini. Menurutnya air pancuran buluh bambu masih lebih segar, hingga ia meminta izin suaminya untuk mengulangi mandi di tempat itu. Sambil mandi ia memikirkan penyebab air upacara tidak terasa segar, apakah mungkin karena sudah dinodai hasrat manusia yang belum tentu suci, berbeda dari air pancuran. Ia bermain-main di pancuran ditemani kicau prenjak. Suaminya mengingatkannya untuk segera mentas dan melanjutkan upacara. Swandagni mengelus-eluskan sebutir telur ke perut istrinya sambil mendoakan sang jabang bayi melengkapi kehidupan jagat raya, lalu menetaskannya dengan permohonan kelancaran persalinannya kelak.

Episode 17: Swandagni melanjutkan mitoni dengan mengikatkan sehelai janur di perut istrinya. Ia lalu memutuskan ikatan itu dengan harapan sirnanya ikatan (berupa keinginan-keinginan buruk) yang membelenggu sang ibu. Swandangi lalu menanyai istrinya tentang jenis kelamin jabang bayi yang diinginkannya. Istrinya ingin anak lelaki agar bisa melindunginya. Swandangi mengambil dua butir kelapa, yang masing-masing bergambar Batara Kamajaya dan Dewi Ratih, sebagai simbol jenis kelamin calon jabang bayi. Dengan ritual tertentu, akhirnya ia, di luar kesadarannya, memilih butir kelapa bergambar Batara Kamajaya. Swandangi sangat senang. Sementara Sokawati yang selama itu mengalami penglihatan munculnya cahaya hitam dan putih dari kedua kelapa, yang kemudian memasukinya, menegur suaminya agar memilih kedua-duanya. Tak menghiraukan keberatan sang istri, Swandagni memaras kelapa pilihannya dan memberikan airnya pada istrinya untuk diminum. Sokawati memaksa untuk tetap menyimpan kelapa bergambar Dewi Ratih, betapapun suaminya tidak memahaminya.

Episode 18: Sokawati dan Swandagni tiba di puncak upacara, yaitu menyantap pisang emas idaman sang calon jabang bayi. Pisang emas di ujung tumpeng diambil Swandangi dan diserahkannya pada sang istri. Keduanya sempat terkenang pada malam penuh gairah di pelataran Jatisrana. Swandangi mengendalikan gairahnya, dan mengingatkan istrinya untuk menjalankan pesan Luhwati. Sokawati memakan sekaligus buah dan kulit pisang emas sambil merasakan ia bagaikan dipaksa menelan terang dan gelap sekalian. Kicau riang kutilang dan tangis sedih walik menemaninya mengunyah manis dan sepat, laksana kelahiran dan kematian. Pengalaman batin ini tak bisa dibagikan Sokawati pada suaminya. Suaminya tampak lega melihatnya menghabiskan pisang emas sesuai pesan Dewi Luhwati.

Episode 19: Usai upacara, Swandagni meneruskan doanya dengan pemujaan di sanggar pemujaan, memohon para dewa mengabulkan seluruh harapan sepanjang upacara. Sokawati, yang diminta beristirahat oleh sang suami, kembali ke pancuran buluh bambu kesayangan untuk sekali lagi mandi, merasakan kesegaran air. Ia menggendong kelapa bergambar Dewi Ratih yang tak dipilih suaminya. Ia mandi di bawah pancuran sambil mendekapkan kelapa itu ke buah dadanya dan merasakan kenikmatan ragahbahni, api berahi, hingga pecah kulit kelapa itu dan menyiramkan airnya ke tubuh Sokawati. Setelah puas, ia pun pulang ke pedepokan.

Episode 20: Bulan kesembilan yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Proses persalinan yang menyakitkan itu ditanggung Sokawati dengan tabah dan sabar, membuat iri suaminya yang tegang, kaku, dan memberontak. Kelihatannya Swandagnilah yang menenangkan istrinya di tengah perjuangan, namun sebenarnya Sokawati yang membantu sang suami menyingkirkan perasaan khawatirnya. Bersamaan Sokawati mendapatkan penglihatan sepasang golek kencana keemasan berwarna hitam dan putih menghilang ke dalam rahimnya, seperti saat mencapai puncak bercinta dengan sang suami, lahirlah anaknya. Anaknya kembar sepasang lelaki, yang satu bayi manusia biasa yang tampan, dan yang lain bayi raksasa yang jelek.

Episode 21: Sokawati seketika menolak anaknya yang berwujud raksasa. Namun, demi mendengar tangisnya, ia pun luluh dan memeluknya erat. Perasaan damai dari kehangatan yang ditularkan jabang bayi menyadarkan Sokawati. Persis bersamaan itu, Swandagni tak mempercayai bahwa anaknya adalah raksasa buruk rupa. Swandagni menganggap anaknya yang buruk rupa lahir dari kenodaan, bukan kesucian. Belum cukup puas, ia menuduh istrinyalah yang membawakan noda itu, membuatnya bernafsu, saat malam terang bulan di pelataran Jatisrana. Malam itu ia sadar nafsu adalah bagian dari cintanya pada sang istri. Namun, menghadapi bayi raksasa, ia serta-merta mengingkarinya.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra

Ruang Anak Bajang (2)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan di harian KOMPAS

Tujuh episode kedua:

Begawan Swandagni dan Dewi Sokawati terbawa perasaan dan pemikiran tentang cinta dan nafsu hingga keduanya pun bercinta. Pergulatan batin ini terus membayangi. Sementara Dewi Sokawati telah menyerahkan diri utuh-utuh pada keberadaan nafsu berahinya, suaminya masih menyimpan kerisauan tak berujung. Padahal, justru di puncak kepasrahannya itu, Sokawati menyaksikan bagaimana sepasang golek kencana memasuki tubuhnya.

Kandungan Sokawati memasuki bulan ketiga ketika ia mulai mengidam. Meskipun berat, karena tahu idamannya ini sungguh mustahil ditemukan, ia toh menyampaikan pada suaminya bahwa sang bakal jabang bayi minta pisang emas. Dengan semangat seorang suami yang sangat mencintai istri dan mendambakan keturunan, Swandagni bertekad menemukan pisang emas itu. Ia sempat kehilangan arah saat memulai perjalanan. Dipandu berkas cahaya dari kejauhan, ia sampai di puncak gunung yang sangat indah. Dewi Luhwati, penjaga tempat itu atas perintah Batara Guru, memberi tahunya bahwa ia sampai di Gunung Taranggana Sekar. Luhwati membimbingnya menemukan pisang emas, dan memberi pesan khusus cara memakannya, yang harus sekaligus buah dan kulitnya. Setelah berjanji untuk memenuhi pesan itu, Swandagni pulang, tanpa sempat berterima kasih pada Luhwati.

Swandagni sampai di pertapaan Jatisrana ketika kandungan istrinya menginjak tujuh bulan. Lamanya perpisahan menempatkan kerinduan keduanya di puncak tertinggi dan mendesak mereka untuk memuaskannya. Pasutri itu pun bercinta sehangat sebelumnya.

Tema: cinta versus nafsu, penerimaan atas berahi, pencarian hasrat, kegigihan dan keberserahdirian

Karakter: Begawan Swandagni, Dewi Sokawati, Dewi Luhwati,

Lokasi peristiwa: pertapaan Jatisrana, Gunung Taranggana Sekar

Kutipan terpilih:

“Cinta mempunyai mata yang lebih terang daripada mata kita.” (Eps. 9)

Glosari: rara melayu, jaras (cahaya), clumpring-clumpring, (burung) cucur

Episode 8: Pergumulan fisik dan batin pasutri Begawan Swandagni dengan Dewi Sokawati. Di antara perbuatan cinta asmara, keduanya saling mempertanyakan hakikat kotor versus suci, terang versus gelap, cinta versus berahi. Mereka menyadari tak akan sampai ke puncak seandainya bukan berkat berahi, yang dalam penglihatan Sokawati berwujud sepasang golek kencana memasuki tubuhnya. Justru melalui berahilah cinta mereka berbuah keindahan lain. Namun demikian, Swandagni masih menyimpan suatu penyesalan.

Episode 9: Sokawati memberitahu suaminya bahwa ia mengandung. Sukacita Swandagni dirayakan kicauan kepodang. Menginjak bulan ketiga kehamilannya, Sokawati menyampaikan pada suaminya bahwa ia mengidam pisang emas yang bercahaya. Ia menyampaikannya dengan berat hati karena tahu bahwa untuk menemukannya adalah hal yang nyaris mustahil.  

Episode 10: Malam sebelum Swandagni berangkat mencari pisang emas idaman Sokawati, keduanya bercinta lagi sehangat sebelumnya. Paginya Swandagni berpamitan, dan dilepas dengan begitu berat oleh Sokawati yang merasa bersalah karena menyulitkan sang suami.  

Episode 11: Swandagni memulai perjalanan dengan keraguan menentukan arah pencarian. Desa dan hutan dilewatinya tanpa hasil. Kelelahan badan mengganggu pikirannya, bolehkah keinginan istrinya dilupakan saja? Suatu malam saat beristirahat dalam galau, tadahasih menghiburnya dengan mengantarkan suara sang istri yang menyemangati. Putus asanya hilang, malam menjadi terang oleh jaras cahaya yang muncul dari bumi ke arah langit. Mengikuti sumber terang itu, Swandagni tiba di kaki gunung saat matahari muncul. Ia tiba di puncaknya sore. Namun begitu ia tak bisa menemukan sumber terang itu. Dinasihati suatu suara, ia membersihkan hati dan pikiran untuk bisa menemukan yang ia cari-cari.

Episode 12: Swandagni tiba di Gunung Taranggana Sekar dan ditemui Dewi Luhwati, utusan Batara Guru untuk menjaga tempat itu. Dengan meminjam bintang-bintang sebagai matanya, Swandagni dapat menemukan pohon pisang emas yang dia cari-cari. Hanya ada sebuah pisang di pohon itu. Dewi Luhwati berpesan pada Swandagni agar istrinya makan pisang itu utuh-utuh, sekulit-kulitnya.

Episode 13: Swandagni bersiap-siap memetik buah pisang dari pohonnya yang tak seberapa tinggi. Tapi ia selalu gagal, pohon itu terus meninggi. Dewi Luhwati menasihatinya agar ia merendahkan dan memasrahkan diri pada kekayaan pohon pisang itu. Setelah mengosongkan diri dan menerima segenap kekayaan pohon pisang, Swandagni mendengar pohon itu berbicara padanya, mengingatkan agar ia dan istri memenuhi pesan Luhwati agar pohon itu bisa mati. Setelah berhasil memetik buah pisang emas, Luhwati menghilang, tempat sekitarnya menjadi kosong. Ia menuruni gunung saat fajar dan bergegas pulang dengan kerinduan mencekam.

Episode 14: Sokawati gelisah menanti suaminya pulang. Ia terus merasa bersalah telah meminta sesuatu yang sulit dipenuhi. Namun ia selalu mendapat pembenaran bahwa anak dalam kandungannyalah yang meminta itu. Usia kandungannya menjelang tujuh bulan. Suatu malam ketika bintang dan bulan bersinar terang, suaminya pulang. Ia pun melepaskan rindunya yang dibarengi dengan gairah berahi. Mereka bercinta ditemani suara cucur. Seusainya, Swandagni menyampaikan bahwa ia berhasil membawa pisang emas idaman sang istri, sambil mengingatkan bahwa usia kandungannya memasuki bulan ketujuh.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra, tinggal di Surabaya

Ruang Anak Bajang (1)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan di harian KOMPAS

Introduksi

Ruang Anak Bajang lapang membentang. Dua puluh satu hari perjalanan tertinggal di belakang. Masih ada empat purnama yang segera datang. Melangkah, berlari, terbang, berenang, tak bisa lagi ia dikekang. Tak juga oleh sang pengarang, yang seakan hanya comblang, pelantarnya dari tempat remang-remang ke ajang gamblang.

Untuk apa kita repot-repot mengikuti tingkah polahnya? Sepenting itukah nilai perjalanannya untuk kita cermati? Apa yang kita pertaruhkan jika begitu saja melupakannya, berlalu, dan menjalankan tugas sehari-hari seperti yang sudah-sudah?

Berkesenian – termasuk di dalamnya bersastra – telanjur melekat pada kehidupan makhluk berakal budi, alias manusia. Seribu satu alasan mudah dicarikan dari berbagai tulisan populer maupun ilmiah tentang motif dan perlunya berkesenian. Salah satu yang mewakili, mungkin, sebagaimana dilontarkan John Keating, guru bahasa dan sastra Inggris dalam film “Dead Poets Society” (1989): “Kedokteran, hukum, bisnis, teknik, ini merupakan pencarian mulia, dan diperlukan untuk menopang kehidupan. Tapi puisi, keindahan, romansa, asmara, untuk inilah kita hidup.”

Memang Anak Bajang Mengayun Bulan baru mulai. Namun, mempertimbangkan susastra serupa oleh penulis yang sama, yaitu Anak Bajang Menggiring Angin (Sindhunata, 1981) yang buku novelnya sudah dicetak ulang kedua belas tahun ini – hingga boleh diartikan setiap kemunculannnya selalu disambut hangat oleh penikmat sastra – tentu karya yang berikutnya pantas mendapatkan perhatian kita. Kalaupun dari situ tidak kita temukan alasan untuk meneruskan hidup, setidaknya kita dapat sejenak melepas penat sehari-hari dengan bersenang-senang bersama si anak bajang.

Trivia

  1. Anak Bajang Mengayun Bulan terbit pertama sebagai cerita bersambung harian di koran KOMPAS mulai Senin Legi, 27 September 2021.
  2. Anak Bajang Mengayun Bulan (ABMB) bukan kelanjutan dari Anak Bajang Menggiring Angin (ABMA) yang terbit pertama sebagai cerita bersambung mingguan di koran KOMPAS sepanjang tahun 1981.
  3. Anak Bajang Mengayun Bulan diangkat dari lakon Sumantri Ngenger, dengan tokoh cerita sepasang saudara, Sukrasana dan Sumantri. Sedangkan Anak Bajang Menggiring Angin dari epos Ramayana yang berlakon sepasang kekasih, Sinta dan Rama.
  4. Sumantri Ngenger berlatar waktu mendahului Ramayana, dengan dua karakter yang muncul di kedua wiracarita ini, yaitu Rahwana dan Resi Ramabargawa. Maka, kalaupun perlu memberikan posisi pada kedua cerita (ABMA dan ABMB), mungkin boleh dikatakan ABMB prekuel bagi ABMA yang malah duluan lahir.
  5. Secara literal, bajang berarti kerdil, bersinonim juga dengan katai. Dalam KBBI daring (diakses 16 Oktober 2021), kata bajang punya dua arti, yaitu: (1) hantu yang berkuku panjang, yang menurut kepercayaan sebagian masyarakat, suka mengganggu anak-anak dan wanita hamil, dan (2) tangkai padi yang kecil, biasanya tumbuh tidak sama tinggi dengan tangkai padi yang lain, walaupun umurnya sama. Dalam astronomi dikenal bintang bajang putih atau bintang katai putih, yang merujuk pada ukurannya yang kecil, jika dibandingkan bintang raksasa.
  6. Istilah “anak bajang” pada cerita ABMA dan ABMB mengacu pada Suluk Bocah Bajang. Suluk adalah lagu, kidung atau tembang yang dilantunkan oleh dalang untuk menggambarkan keadaan atau suasana yang terjadi dalam pakeliran. (id.quora.com) Pakeliran adalah semua bunyi vokal maupun instrumen yang dipergunakan untuk mendukung suasana yang ingin dibangun dalam pementasan wayang. (id.wikipedia.org)
  7. Suluk Bocah Bajang berlirik: bocah bajang nggiring angin, anewu banyu segoro, ngon ingone kebo dhungkul, sa sisih sapi gumarang. Artinya: anak bajang menggiring angin, menguras air samudra, berkawan kerbau bodoh dan sapi pintar. Maknanya: Dalam jagad wayang, anak bajang dipersonifikasi sebagai anak cacat (kerdil). Namun, di balik ketidaksempurnaannya, ia punya kemauan yang luar biasa kuat (untuk menguras isi samudra/pengetahuan). Dalam diri si anak bajang ada kebodohan (kerbau) sekaligus kepintaran dan keberanian (sapi gumarang). (aksara.com)
  8. ABMA yang terbit di KOMPAS sepanjang 1981 kemudian dibukukan perdana pada 1983. Adakah ABMB akan menjalani takdir serupa?

Resume per tujuh hari pemuatan di KOMPAS

Tujuh episode pertama:

Seorang raksasa bajang tinggal sebatang kara di hutan Jatirasa. Mestinya ia kesepian karena tak ada yang sejenisnya di hutan ini. Apalagi penampilan wajah dan badannya sangat mengerikan, tak tampak keindahan sedikit pun. Namun, nyatanya ia menemukan kehangatan keluarga dari binatang-binatang hutan. Mereka tidak keberatan dengan keburukan fisiknya dan hanya merasakan kebaikan hatinya. Sepanjang matahari bersinar ia dan anak-anak binatang bermain-main menjelajahi hutan, dan pulan ke sarang masing-masing jelang petang. Hingga suatu malam terang bulan, raksasa bajang enggan masuk ke gua rumahnya karena mendadak dicekam kesepian yang menyakitkan. Benar saja, cahaya bulan ternyata mengantarkan sesosok perempuan yang darinya ia dapat meluapkan kerinduan pada seorang ibu. Perempuan itu pun mengaku bahwa ia adalah ibunya.

Cerita beralih ke pertapaan Jatisrana di kaki gunung Jatimuka. Di situ tinggal seorang begawan bernama Swandagni yang ahli bertapa, bersama dengan istrinya yang cantik jelita, Dewi Sokawati. Di balik ketenteraman hidup, mereka merasa belum sempurna, yaitu tiadanya anak sebagai keturunan mereka. Mereka berdua mengkhayalkan kehadiran seorang anak yang akan menyemarakkan rumah. Di tengah keindahan alam pertapaan, mereka terbawa perasaan dan percakapan mengenai cinta dan nafsu.

Tema: kesunyian yang mengundang perenungan jati diri, kerinduan yang segera dipenuhi, cinta dan nafsu

Kutipan terpilih: “Selama ini kita melihat bulan sebagai terang. Kita tak mau melihat, bulan adalah bagian dari kegelapan. Tidakkah bulan bisa terang hanya karena ia berada dalam kegelapan?” (Begawan Swandagni pada Dewi Sokawati, episode 7)

Glosari: kalangkyang, tadahasih, cataka, sendaren, (me)lantam, renjana

Episode 1: Deskripsi hutan Jatirasa. Deskripsi raksasa bajang (badan kecil, kulit hitam, gigi beringgit, taring tajam keluar, hidung mengguntung, dahi menggantung, mata membelalak, leher cekak, rambut merah dan jarang, kaki pendek, punggung bungkuk sabut, pantat menggerumuk mangkuk, perut buncit). Penampilan buruk raksasa bajang tidak meninggalkan kesan pada penghuni hutan, semua hewan dan tumbuhan mencintainya. Hutan yang mestinya seram dan menakutkan ternyata damai dan indah. Anak-anak binatang akrab dan senang ditemani raksasa bajang untuk bermain sepanjang hari. Induk-induknya pun percaya pada raksasa bajang. Raksasa bajang serta anak-anak binatang bersenda gurau, berkejaran, berenang di telaga. Tanaman-tanaman turut bergembira. Jelang petang mereka pulang, diiringi raksasa bajang yang menggenggam batang daun kelapa mirip lidi jantan bercahaya.

Episode 2: Raksasa bajang pulang ke guanya, berpisah dengan anak-anak hewan yang pulang ke induknya masing-masing. Gua anak bajang terletak di tebing tinggi dengan sungai mengalir deras di bawahnya. Malam terang bulan mendorong raksasa bajang tetap di luar gua. Ia merasa hampa seorang diri, ditemani suara kalangkyang yang tajam meratapkan kerinduan mendalam. Setelah bersuka ria seharian, kesunyian malam mencekamnya. Perenungan raksasa bajang tentang makna kegelapan, kesepian, tapi juga kehangatan dan harapan. Aneka bunga mewarnai perasaannya.

Episode 3: Perasaan raksasa bajang disergap kesepian yang mengerikan. Ia sedih tak bisa menolong jiwanya yang merana berduka karena hidup sebatang kara. Kesedihannya ditemani suara tadahasih. Renungan raksasa bajang akan kesendiriannya selama ini yang sekarang mulai mengganggu kedamaiannya. Pertanyaan-pertanyaan raksasa bajang pada alam tak menemukan jawab. Namun, kegelapan malah mengajaknya menari. Kegelapanlah yang ternyata memandikannya, menyucikannya, menimangnya, menyelimuti, dan menghangatkannya.

Episode 4: Raksasa bajang dihibur terang bulan yang mempercantik bunga-bunga di sekitarnya. Ternyata cahaya bulan ini mengantarkan sesosok perempuan yang langsung memeluknya erat-erat. Kerinduan raksasa bajang seakan terbayar. Kicau cataka burung musim penghujan mewarnai kebahagiaan raksasa bajang. Perempuan itu menangis. Namun, raksasa bajang belum mengenalnya meskipun bisa merasakannya. Saat raksasa bajang menyusu pada perempuan itu barulah ia tahu bahwa ia sedang menyusu pada ibunya.

Episode 5: Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai ibu raksasa bajang. Keduanya berkomunikasi dengan bahasa masing-masing namun dapat saling merasakan. Ketika hari terang, para anak binatang yang menjemput raksasa bajang di rumahnya pun keheranan melihat sahabatnya berkasih-kasihan dengan seorang perempuan. Mereka berdua terus memuaskan kerinduan satu sama lain hingga semua mengerti bahasa yang digunakan. Ungkapan perempuan itu mengandung penyesalan, yang sekaligus membuka kisah sebelum pertemuan ini terjadi.

Episode 6: Deskripsi pertapaan Jatisrana di kaki gunung Jatimuka, tempat tinggal Begawan Swandagni dan istrinya, Dewi Sokawati. Keluh kesah Dewi Sokawati yang merasa keperempuanannya belum sempurna. Di balik kehidupan tenteram mereka masih ada keinginan yang belum mewujud, yaitu keturunan. Mereka berdua mengkhayalkan kehadiran anak yang pasti akan meramaikan hidup mereka.

Episode 7: Percakapan suami istri, Begawan Swandagni dengan Dewi Sokawati, mengenai terang dan gelap, kesucian dan asmara, sebagaimana cinta dan nafsu.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra, tinggal di Surabaya