Ujung Waktu

Anggrahenny Putri

KELAHIRAN yang ditunggu-tunggu telah datang. Seorang bayi dilahirkan oleh ibunya. Kerabat bersuka cita. Terkirim ucapan selamat berbentuk tulisan melalui pesan singkat. Sementara, rumah tiba-tiba ribut suara bayi merah menangis. Tamu tak peduli kebutuhan ibu beristirahat, memulihkan diri usai bersalin. Saudari dari jauh bertamu membawa bungkusan kado besar tak terbungkus karena tak muat masuk tas plastik sekalipun. Ialah kakak dari sang ayah bayi. Sepasang suami istri pantas dipanggil pakdhe-budhe, mengingat garis keturunannya. Enggan menyandang gelar pak gedhe dan bu gedhe, mereka berdua memilih dipanggil ayah-bunda atau om-tante dengan alasan panggilan pak gedhe dan bu gedhe teruntuk ia yang tua seperti pakdhe-budhe kerabat lain. Tua bukan kebanggaan. Menolak tua!

Menganggap muda idaman. Renta menjadi ketakutan dan sungguh-sungguh tak ingin. Menjadikan penyebutan muda sebagai kata andalan bagi pengiklan. “Hai, sobat yang kece dan masih merasa jadi kawula muda, jangan ketinggalan dong…” seolah Chiki saat beriklan di majalah Hai, 14-20 April 1987, mengetahui jika semua orang ingin muda. Ajakannya pada kawula muda mengunyah chips, makanan ringan pada kebiasaan wajib bahagia. Ini ditunjukkan melalui seusai kalimat ajakan yang berlanjut: “Pastikan Ultra Chips mendampingimu di saat hura-hura, atau di saat santai kapan saja.” Muda artinya tentang kesenangan. Tak dapat hura-hura dan bersantai saat muda, sungguh nelangsa. Itulah mengapa kebanyakan orang ingin muda dan bersenang-senang. Tak siap menanggung beban menjadi menua itu kepastian kecuali dicegat kematian terlebih dahulu.

Kunci kehidupan bertujuan pada kebahagiaan. Bahagia yang didasari oleh kepemilikan. Mulai kepemilikan terhadap harta benda, kepemilikan terhadap manusia lain. Pasangan yang termiliki, sejumlah anak yang berhasil dikuasai. Kehilangan beda dan badan lain merupakan musibah besar. Tumpuan kebahagiaan terhadap barang dan wujud titipan dari-Nya. Mudah saja tercerabut saat Tuhan sedang menghendakinya. Kebahagiaan lalu bergeser maknanya, pada hal-hal kecil. Katanya, bahagia itu sederhana. Padahal kebahagian saat menerima gaji di awal bulan ada tenaga dan kepayahan sebulan sebelumnya. Saat menikmati masakan lezat menggugah selera ada tangan yang terpercik minyak. Kebahagiaan ibu yang anaknya bertambah berat badannya sebelumnya ada tangisan ibu yang kalut kesulitan menyusui anaknya yang masih baru lahir. Ada jerih payah. Selalu!

Nyatanya kesenangan memang perlu diusahakan, berbagai cara dilakukan. Terpantau pada kebutuhan akan kesenangan maka penjerat keuntungan sebesar-besarnya pun tak habis akal. Kemudahan diberikan. Berbagai alat, sistem dibuat untuk memudahkan manusia. Sedekat mungkin manusia di dekatkan dengan kebutuhannya. Serba mudah, serba gampang! Manusia tinggal bekerja dan bekerja. Membanting tulang dan melakukan apapun demi tercapainya kebahagiaan. Hingga akhirnya kebahagiaan melihat burung-burung terbang dan berkicau tak lagi terlihat indah, karena bahagia telah menjadi kebanggaan bolak balik dapat menaiki burung besi keliling negeri. Tempe gorengan ibu tak lagi menghangatkan hati dan menciptakan kenangan pada masa berkumpul dengan keluarga, melainkan kehangatan pada daging tebal yang dipanggil oleh seorang chef serta berfoto bersama kawan dan mendapatkan “like” pada status sosial medianya. Bukan lagi siapa, apa, dan bagaimana tapi berapa dan berapa.

Berusia muda maupun tua tak ada beda. Muda dan tua ingin berkecukupan. Sedangkan usia berujung waktu. Banyaknya usia terhitung dari tahun ke tahun, namun ketetapan berakhir di satuan, belasan atau puluh-puluh masih menjadi rahasia milik-Nya. Bahkan tubuhnya sendiri punya bukan miliknya sendiri. Lalai pada pertanyaan besar tujuan ia lahirkan lalu dimatikan. Semena-mena pada anugerah hidup bukanlah kebijaksanaan menempuh perjalanan ujung waktu.


Anggrahenny Putri, Penulis tinggal di Semarang

Setelah (Salah) Tafsir

Bandung Mawardi

RENUNGAN bisa memicu ribut. Di Indonesia, renungan diumumkan di majalah itu masalah. Renungan dikutip dari Kahlil Gibran. Kutipan dimaksudkan majalah Tempo dan Matari Advertising mengajak para pembaca merenung mengenai orangtua dan anak. Ajakan ditampilkan di majalah Tempo, 3 Juni 1978. Sehalaman penuh, memuat foto ibu-anak dan larik-larik gubahan Kahlil Gibran (1883-1931). Para penikmat sastra sudah mengenali dan membaca buku-buku Kahlil Gibran dalam bahasa Inggris atau terjemahan bahasa Indonesia. Pujangga asal Lebanon bermukim di Amerika itu menggubah sastra terbaca di dunia dalam beragam bahasa. Ia pun melukis. Di Indonesia, Kahlil Gibran dikagumi dan ditiru. Pada masa 1990-an, jumlah pembaca terus meningkat untuk merenungkan masalah iman, asmara, politik, keluarga, alam, dan lain-lain.

“Dan seorang wanita yang mendekap anaknya berkata,” pembuka dalam renungan tersaji di Tempo. Pembuat ajakan renungan tak mengira bakal berurusan dengan aparat. Kutipan dianggap bertentangan dengan Pancasila atau kepribadian Indonesia. Kita simak gubahan Kahlil Gibran: “Puteramu bukanlah puteramu. Mereka adalah putera-puteri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka datang melalui kamu tapi tidak dari kamu. Dan sungguh pun bersamamu mereka bukanlah milikmu.” Pihak aparat mengaku paham hukum menafsirkan kutipan dengan nalar-ideologis. Larik-larik itu tak cocok dengan seruan tema keluarga dari pemerintah. Mereka menginginkan pembentukan keluarga mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menunjang pembangunan nasional. Sekian hari setelah pemuatan renungan, publik mendapat debat seru dari pelbagai pihak. Kita mengingat bila Kahlil Gibran pernah bermasalah di Indonesia gara-gara salah (arah) tafsir.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Terduduk di Salon

Marhamah Aljufri

URUSAN pembangunan membuat macet di jalan. Bapak dan ibu mengantar anak sekolah dan orang berangkat pagi hari menyiapkan bekal dan sabar. Konon, menggali tanah digalakkan di pinggiran jalan demi kemajuan. Galian memakan waktu berhari-hari bahkan minggu-minggu sebab ada batu, akar, pipa pecah, hujan, dan bekuan uang. Galian lancar, orang senang, pekerja riang.

Kita ingin tertawa dan bernostalgia dengan kata galian di iklan. Selain galian membikin macet dan menaikkan tensi darah di jalan, kita ingat toko-toko jamu memasang gambar berjudul galian. Macam-macam galian bersoal jamu: galian putri, galian singset, galian rapet, galian montok, dan galian parem. Galian berkhasiat jamu selalu bagi perempuan.

Dipikir-pikir, kata galian putri beraroma bahasa Jawa. Judul iklan “Djamu Galian Putri” tertulis di atas sebuah gambar perempuan (Minggu Pagi, 3 November 1957). Kita terheran-heran, jamu bersanding perempuan bukan pribumi. Perempuan berambut gaya Barat melirik manja tersenyum pada kita. Oh! Senyum dan tatapan sungguh mempesona. Kita kesulitan menangkap kebiasaan perempuan minum jamu bukan pribumi.

Usaha iklan setelah gambar terasa hambar. Permainan berlanjut pada kata-kata: “Untuk gadis dan perempuan muda guna menjegarkan badan, menghilangkan kelesuan, melangsingkan tubuh, membikin paras muka bersinar terang, awet muda dan memeliharakan kecantikan badan.” Jamu digadang untuk para putri agar cantik, segar, tak lesu, langsing, muka bersinar, awet muda, dan terpelihara. Kata putri alami tak lagi milik anak perempuan raja. Jamu teruntuk gadis dan perempuan muda, tua tidak termasuk. 

Iklan menulis huruf dalam ejaan lampau: tj untuk c, dj untuk j, j untuk y. Kelampauan itu dari Iboe di Surabaja. Ibu memang sosok selalu ingat anak perempuan dan memberi jamu. Anak perempuan kenal betul jamu masih pahit. Minum jamu diikuti tarikan mulut meringis dan serapah pahit.

Dunia jamu kian ditinggal gadis. Gadis-gadis masuk salon aestetik tak meringis pahit. Mereka percaya salon mengubah rupa dan badan dengan teknologi. Teknologi tak usah ditelan. Diusap-usap dan berkilauan jadinya kulit. Gadis-gadis terduduk antre di salon. Mereka meninggalkan rayuan galian.


Marhamah Aljufri, penulis tinggal di Pasuruan

Jawaban dan Menawan

BOCAH bertambah usia ingin bertambah pengetahuan. Bapak dan ibu wajib menjawab bocah untuk penasaran apa saja. Dinding dan kertas sudah digambari. Tangan si bocah corat-coret berharap ingin menjadi huruf atau angka. Buku dan alat tulis membimbing bocah menemukan dan merasakan keajaiban-keajaiban. Hari demi hari, bocah berharap bapak dan ibu membuat keputusan-keputusan terpenting. Di rumah, bocah terus bermain tapi mulai berakal. Orangtua kadang bingung dalam memahami akal dan imajinasi bocah. Mulut si bocah mengucap apa-apa menandakan pemenuhan hak-hak belajar tapi tetap bermain dalam kegembiraan. Di majalah Kawanku edisi 21-27 Februari 1986, orangtua dibujuk oleh Gramedia: “Bila anak anda mulai menginjak usia tiga tahun … Apa yang akan anda lakukan agar ia cerdas seperti ayahnya dan cerdik melebihi ibunya.”

Jawaban: membelilah buku-buku terbitan Gramedia. Dulu, buku itu jawaban. Pembeli dan pengguna buku adalah keluarga-keluarga kelas menengah-atas. Buku-buku anak jarang murah. Kemampuan membeli disempurnakan dengan mengajarkan demi mencapai misi-misi. Buku itu perlu. Kita simak: “Pada usia itu anak anda mulai suka bertanya. Ada saja yang ditanyakan anak anda mulai pintar! pengetahuannya akan bertambah dengan pesat bila anda secara teratur memperkenalkan alam sekitar kehidupan kita ini melalui buku-buku yang indah dan menawan hati. Mulai dari nama benda apa saja yang sering kita temui di jalan, pasar, pantai, stasiun, hutan, sekolah, dan tempat kerja.” Buku-buku dibeli dan menghuni rumah. Bocah diajak pintar dengan buku-buku tipis ramai gambar dan mengandung pesona dari kata-kata. Dulu, buku masih jawaban. Kini, keluarga-keluarga bisa meragukan.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Sekilas Mandi

Anggrahenny Putri

TAK setiap hari harus berkeramas. Cukuplah sehari sekali badan diguyur air seluruhnya. Dan tugas menyabun merata sebadan hanya sekali waktu saja. Mandi dianggap tak penting. Bukan hal prinsip yang menjadi kewajiban sehari-hari. Yang prinsip adalah menjaga kebersihan. Badan tak begitu berkeringat, seharian dalam ruangan berpendingin, baju masih ringan dikenakan tak keberatan keringat. Cuaca di luar rumah sedang berpihak pada tubuh. Matahari seharian malu-malu. Langit mengabu sepanjang hari, mengandung hujan. Cuaca dan kebiasaan membuat alasan tak mandi menguat. Sehari sekali sekadar terlihat pantas di hadapan penduduk rumah tangga. Badan senantiasa terasa bersih.

Berbeda dengan kebiasaan yang menguat, Joan Tanamal, penyanyi lagu anak yang lagunya selalu dinyanyikan bapak dan ibu dahulu agar anak bersemangat mandi. Joan Tanamal suka mandi. Lagunya yang berjudul “Mandi Pagi” memiliki lirik: Mandi pagi kalau biasa/ sejuk dingin tidak terasa/ sore hari kalau tak mandi/ badan lesu main tak mau. Masalah mandi pagi bukan pada dinginnya air dan udara tapi pada masalah bangun pagi yang telanjur kesiangan, waktu yang serba tergesa-gesa dan tak terbiasa saja. Sedangkan masalah pada mandi sore justru ada pada keasikan bermain yang enggan terganggu. 

Perkara mandi yang menyulitkan ibu dan anak. Setiap hari ibu berkutat pada omelan pada anak untuk segera mandi. Tak pernah bosan walau ia lelah hatinya, tapi tanggung jawab sebagai ibu penjaga kebersihan harus ia tunaikan setiap hari. Anakpun juga tak pernah bosan menunda perintah ibu, memancing omelan keluar. Telinga pengang menjadi kebal akan omelan. Ibu hanya mengomel tak sepenuhnya mengawal perintah. Anak mengenali celah tempat ia akan berdalih. 

“Mandi!”

“Sabunan, gosok gigi dan keramas biar rambutmu tak apek!”

Begitulah setiap hari ibu berkata. Padahal keramas tak perlu setiap hari menurut anak. Akan banyak air yang digunakan jika berkeramas. Padahal, air lebih baik digunakan untuk bermain saat sedang mandi. Ibu pun tak tiap hari keramas menggunakan shampo. Ibu sibuk mengerjakan ini dan itu. Kecepatannya mengerjakan semua yang diperlukan anak dan suami sehingga membuatnya lupa berkaca dan mematut diri. Rambutnya berantakan luput disisir, tergerai hanya saat selesai berkeramas. Setelah kering kembali ia jepit rambut. Meredakan gerah di depan kompor. 

Ibu punya solusi! Menurut ibu, iklan shampo itu membantu masalahnya yang jarang bersisir. Iklan shampo dengan pameran rambut bintangnya yang hitam, berkilat dan tambah bersih. Sejak dahulu, begitulah iklan shampo untuk ibu keramas. Seperti pada iklan Sunslik yang termuat dalam majalah Sarinah, 26 September 1988. Tampak perempuan pada eranya, berambut mengembang dan hitam berkilat-kilat. Dengan gamblang menggunakan huruf kapital, Sunslik berpesan: “MILIKI KEMILAU ALAMI…”. Ibu mempercayakan kemilaunya pada shampo. Setelah berkeramas, ia akan berkilau lebih menawan. Padahal, hatinya penuh kemilau kesabaran mengurusi mandi dan mandi. 

Kemilau hati ibu tersadari saat anak jauh mengejar impian. Melalui kerinduan pada rasa nyaman setelah mandi. Ibu jauh menjadi lebih berharga, ibu dekat tak dipedulikan. Memerlukan asahan lewat kesalahan sebagai orangtua yang terus berlangsung agar kemilaunya sempurna. Alami tentu saja karena melewati kesedihan dan kekhawatiran pada anaknya. Yang selalu ia lakukan setiap hari berharap bermuara pada masa depan dan kebagiaan anak. Kemilau ada pada setiap bagian ibu. Tersedia begitu saja. Imbalan dari Pencipta untuk pengorbanan selamanya.

Masih terpaku pada yang menempel di tubuh yang terlihat. Melihat baju tak keruan, rambut tak tersisir sudah membuat orang enggan mendekat. Menilai dengan mata tapi dimasukkan ke hati. Terlebih, penilaian diri juga ditularkan pada kawan lain untuk bersekutu. Begitu tampak karya, orang semacam tadi yang terkaget-kaget tak percaya. Penampil memang membutuhkan kekuatan tubuhnya berbicara pada khalayak tanpa bersuara. Citra dalam diri tercipta pada kemasan. Bobot isi pada dalam diri bukan menjadi hal utama. Penilaian orang lain menjadi keharusan. Kemudian gaya hidup menjadi naik kelas, walau kantong tetap kempis seperti biasa. Berlomba mendapatkan apresiasi dari sekitar, menjadi paling ulung. Lelahnya tak terkira, mengejar kenikmatan dipuja-puji. Secuplik hati masih berontak, namun kenyamanan terlalu molek untuk ditinggalkan. 

Sedemikan banyak yang berpendapat serupa. Sebagian lagi berbalik pada pendulum yang berbeda. Hidup pada ayunan paling kanan dan kiri. Saling silang pendapat pada tujuannya masing-masing. Seperti mandi yang tergambarkan pada ibu dan anak. Letak tujuan mandi tak jelas. Butuh keseimbangan agar bijak menentukan tujuan mandi agar tak sekadar penampilan. Menaati aturan mandi agar badan yang bersih mendukung jiwa yang pulih. Persoalan mandi yang terencana dan terlaksana bagi kebaikan jiwa dan raga.


Anggrahenny Putri, penulis tinggal di Semarang 

Pencuci (Belum) Sempurna

KEPUTUSAN menikah anggaplah mudah. Pengertian dan peran sebagai suami dan istri anggaplah agak sulit mufakat. Sulit-sulit nanti bertambah saat memiliki momongan. Sulit berupa omongan. Sulit itu tindakan. Sulit adalah peristiwa. Sulit untuk menang dan kalah. Nah, sulit itu mencuci. Perempuan sah menjadi istri memulai hari-hari awal dengan mencuci baju berdua. Peristiwa mencuci menimbulkan pemandangan dan cerita dari keluarga atau teman bila istri mengerti peran. Bukti itu bakti. Mencuci untuk kasih, setia, dan tanggung jawab. Suami mulai mendapat pesan dan anjuran dalam mengenakan pakaian. Baju atau celana sudah dianggap kotor jangan terlalu lama di centhelan. Undang-undang mencuci dibuat dan diberlakukan. Istri ingin suami mengenakan pakaian bersih, lembut, dan wangi. 

Jatah cucian terus bertambah bila memiliki anak. Istri mungkin bersumpah ingin menjadi pencuci teladan sepanjang masa. Ia ingin mutlak berurusan dengan cucian, menghendaki suami menjadi lelaki bekerja atau leha-leha. Ilmu mencuci terus dipelajari. Informasi demi informasi diperoleh dalam pergaulan sesama perempuan. Pencuci teladan pun terbujuk iklan-iklan. Mencuci makin ribet. Sekian hal diharapkan ada dalam mencuci, tak seperti mencuci pada masa lalu. Masa demi masa, iklan-iklan bertema mencuci menginginkan ada tambahan-tambahan. Keluarga-keluarga di Indonesia tak dibiarkan mencuci biasa-biasa saja. Di majalah Femina, 16-22 Februari 1995, para pencuci mendapat pasal baru: “Tuang, larutkan, rendam. Mudahnya menciptakan kenyamanan untuk seisi keluarga.” Para pencuci diharapkan patuh dan menjawab dengan Comfort, setelah dibuat bingung: “Tahukah anda bahwa kemeja yang dicuci dengan deterjen bermutu belum tentu nyaman dipakai?” Oh, pencuci dituduh melakukan kesalahan dan tak mencuci secara sempurna. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Minumlah!

Marhamah Aljufri

KITA masih terpukau laga pebulutangkis membanggakan bangsa dan anak-anak, Susi Susanti. Namanya layak untuk selalu dikenang mengangkat nama Indonesia dengan prestasi tingkat internasional. Susi Susanti selalu teristimewakan dalam hati orang-orang. Sebab Susi, anak-anak merengek meminta raket pada bapak dan ibu. Pagi dan sore, anak-anak memegang raket ikut berlaga di gang, halaman sekolah, teras rumah. Mereka berkeringat, terbentur, jatuh, dan tertawa dengan raket di tangannya.

Susi Susanti tidak sedang “bertanding” memegang kaleng susu terpasang di majalah Kartini, 10-23 Desember 1990. Ahai! Tatapan Susi tengah tersenyum menukik pada seorang anak. Tangan kirinya menunjuk kaleng dan melirik. Anak perempuan sebelah kanan Susi tersenyum manis dan memegang segelas susu. Anak manis rambutnya berkilau pasti terawat baik. Dengan rambut berponi, anak bercerita harapan: “Kalau ingin sukses seperti Kakak, Sasti harus giat belajar, tekun berlatih, dan minum Susu Bubuk Bendera tiap hari, seperti yang Kak Susi lakukan sejak kecil.” Anak ingin sukses tirulah Susi!

Kita membaca kalimat di atas sesendok penuh susu bubuk: “Sesendok Susu Bubuk Bendera lebih lengkap vitamin A, B1, C, D, protein, mineral dan lemak susu asli dibandingkan susu bubuk lain.” Susu sedang mencoba membandingkan dirinya dengan temannya. Orang terpercayakan kalimat tanpa bisa menghitung jumlah lebih lengkap. Pembuktian terlanjur tak dihiraukan. Kalimat-kalimat diperkuat dengan pengakuan: “Tanpa bahan pengawet”. 

Iklan repot menjalin hubungan dengan prestasi. Selalu diingini itu pretasi. Jarang dijumpai orang tidak ingin prestasi. Biasa saja tidak ada diiklan. Mengukuhkan prestasi, susu bersanding dengan piring. Menu terasa enak sekali: nasi, pisang, ikan goreng, tempe goreng dan sayur menggoda liur. Slogan empat sehat lima sempurna dipatutkan dengan segelas susu. Pematutan belum kekinian. Slogan makan sehat berubah karena zaman dan penelitian.

Kita menatap gambar teringat prestasi dalam olah raga diraih dengan makan, keringat, dan tekun berlatih. Kepercayaan terlalu kuat karena berlatih. Pemandangan berlatih tertunjukkan di lapangan, halaman rumah dan gedung olah raga. Berlatih dan makanan yang sehat membuat anak gembira dan yakin. Tanpa berlatih, prestasi itu mustahil!


Marhamah Aljufri, Penulis tinggal di Pasuruan

Mandilah!

HARI-HARI hujan, bocah-bocah ingin basah tanpa larangan dan kemarahan. Hujan! Hujan! Hujan! Bocah-bocah lekas meninggalkan rumah, memberi tubuh untuk tetesan air berharap deras. Di halaman atau jalan, mereka hujan-hujanan sambil teriak, menari, dan bersenandung. Hujan-hujanan tak memerlukan seragam atau upacara resmi. Bocah dan hujan bermesraan. Mereka pantang dingin dan capek. Bocah-bocah menjadi pemilik hujan, belum perlu berpuisi atau berfilsafat. Hujan-hujanan itu girang ingin berulang dan berulang. Setiap hari hujan, mereka mungkin ikhlas hujan-hujanan asal bumi dan langit belum bosan.

Bocah-bocah ingin mendapat puncak pemaknaan hujan-hujanan kadang sedih. Mereka tinggal di kota sulit mencari tanah. Keinginan bermain di lumpur tak terwujud. Mereka berada di atas aspal atau tempat-tempat keras bersemen. Mereka rindu tanah basah. Mereka ingin melihat lumpur. Tubuh-tubuh ingin kotor. Tubuh merindukan persekutuan tanah dan air. Mereka berjatuhan, berbaring, bermain bola, atau tangan melempar lumpur segenggam. Rindu (sudah) terlarang di kota-kota tak bertanah. Nah, bocah-bocah di desa masih mengetahui lumpur bakal  mengotori celana dan baju. Tubuh mereka pun kotor dan bertanah. Senang! Mereka pulang dan mandi. Di majalah Femina, 15-28 Oktober 1990, bocah-bocah dianjurkan mandi menggunakan Lifebuoy. Sabun mandi “berteman” dengan hujan. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Selalu Kecap

PEDAGANG keliling menjajakan beragam makanan. Di pinggir jalan, pedagang menawarkan kenikmatan untuk anak-anak. Pedagang-pedagang itu berbekal kecap bila berjualan cilok atau penthol. Kecap dimaui anak-anak. Mereka jajan merasakan kenikmatan dengan kecap. Anak-anak berani biasa menambahkan saus pedas atau sambal. Kecap digunakan dalam jajanan memberi warna bikin ngiler. Aliran atau tetesan kecap makin membuat anak-anak bernafsu makan. Anak-anak tahu rasa kecap itu manis. Jajan cilok atau penthol dicampur kecap membuat hari-hari mereka bertambah manis.

Di rumah, anak-anak ingin selalu ada kecap. Ibu membuat macam-macam masakan mengandung kecap. Anak-anak kadang ingin kecap untuk tambahan atau kesempurnaan. Oseng-oseng menggunakan kecap. Anak kadang minta dibuatkan tahu dan tempe bacem, tentu pakai kecap. Makan soto olahan ibu dirasa nikmat bila pakai kecap. Anak-anak ingin serba kecap saat makan di rumah. Jari-jari mereka bisa digunakan untuk mendapatkan kecap. Lidah menjilat kecap merasakan nikmat. Di rumah, anak-anak melihat kecap dalam plastik, botol beling, atau botol plastik. Kecap paling diingkan dengan rasa manis.

Di majalah Kartini, 8-21 Oktober 1984, iklan memperlihatkan pembuatan kecap di pabrik. Botol-botol kecap bergerak dalam olahan dan pengemasan dijamin bersih dan sehat. Kecap bermerek ABC itu diumumkan bertaraf internasional, berarti digunakan oleh orang-orang di pelbagai negara. Pembaca juga melihat foto bahan-bahan pembuatan kecap: kedelai dan gula jawa. Ada tambahan sedikit pengetahuan bagi pembaca mengetahui pembuatan dan penggunaan kecap. Iklan itu menantang: “Belilah kecap ABC dan bandingkanlah dengan kecap lainnya.” Keluarga-keluarga Indonesia menjadi manis dengan kecap-kecap. Ada keluarga memilih ABC, Bango, Lombok Gandaria, dan lain-lain. Mereka tetap saja keluarga kecap.


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Bertambah Kata

BAHASA Indonesia sedang bertumbuh. Di sekolah-sekolah, pelajaran bahasa Indonesia dimaksudkan menjadikan murid-murid makin mengerti Indonesia. Mereka tak mudah menggunakan bahasa Indonesia dalam omongan dan tulisan. Konon, bahasa itu masih muda meski sudah disumpahkan pada 1928. Murid-murid memerlukan sokongan dan restu untuk mendalami bahasa Indonesia dalam suasana revolusi. Di sekolah, mereka mungkin serius belajar tapi berbeda situasi saat berada di rumah atau kampung. Obrolan di rumah belum tentu berbahasa Indonesia. Bermain bersama teman di kampung tak menjamin menjadi cara memahirkan bahasa Indonesia. Mereka mungkin malah berbahasa ibu atau berbahasa Indonesia asal-asalan saja. 

Pada masa 1950-an, murid-murid diajak bergembira dan penasaran dengan bahasa Indonesia. Mereka membaca majalah dan menambahi daftar kata. Kamus disusun perlahan melalui rubrik “Kamus Kami” rutin dimuat dalam majalah Kunang-Kunang terbitan Balai Pustaka. Para pembaca mengirimkan surat, pihak redaksi memberi jawaban atas pengertian sekian kata. Di majalah Kunang-Kunang edisi 25 September 1951, para pembaca belajar kata dan arti: “ekonomi = adjaran untuk mentjapai kesedjahteraan, keblinger = pandai tapi teperdaja, revolusioner = bersifat tjepat serentak , dogma = taklid, firasah = ketjakapan mengetahui (meramalkan) sesuatu dengan melihat keadaan.” Murid-murid menambahi pengetahuan bahasa Indonesia saat Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan WJS Poerwadarminta belum terbit. Indonesia saat itu bertumbuh dengan buku-buku pelajaran dan kamus-kamus belum lengkap. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.