Berani Sehat

Setyaningsih

KESEHATAN itu sebagian dari pengajaran. Majalah anak bulanan yang terbit di Ende, Flores, Kunang-kunang (Agustus, 1975), mewartakan “Cacing yang Berbahaya”. Cacing di tanah memberi gizi pada tetumbuhan, tapi cacing seukuran hanya 1 cm di usus manusia mampu menyerap gizi yang diperlukan tubuh. Redaksi memilih narasi daripada penjelasan kepada pembaca anak-anak, “Di halaman rumah di suatu kampung, anak-anak sedang bermain. Anak-anak ini tidak bersepatu. Mereka main dengan tanah. Anak-anak kecil merangkak di tanah. Bahkan, ada yang makan tanah. Di sana ada juga babi yang berkeliaran. Selain babi ada juga hewan lain: sapi, kambing. Anak-anak asyik bermain. Sebentar ibu memanggil mereka karena makanan sudah siap. Anak-anak makan dengan lahapnya. Mereka menyuap nasi dengan tangan. Tangan itu bekas main tanah dan tidak dicuci sebelum makan. Ada yang mencuci, tapi tidak bersih. Kotoran masih banyak di sela-sela kuku.”

Penggambaran situasi ini lekat dengan kebiasaan anak bermain di luar. Latar perdesaan menegaskan inilah wilayah paling rentan dan penting untuk melawan kekotoran sekaligus mendatangan modernitas yang salah satunya diwakili oleh kebersihan. Modernitas selalu mendukung kebersihan-kesehatan; sabun cuci tangan, pasta gigi, kebiasaan menggosok gigi, kamar mandi, sepatu, tenaga kesehatan, obat, makanan sehat. Hal ini searah dengan misi negara menyehatkan raga dan jiwa warga negaranya.

Modernitas harus membunuh cacing dalam tubuh, “Udin, Tika, Marno, Mia, dan kawan-kawan mereka tentu tidak senang bahwa banyak cacing hidup dalam usus mereka. Mereka pergi ke dokter, dan dokter memberi mereka obat cacing. Obat itu mereka minum. Sekarang cacing yang tidak senang. Obat itu membuat mereka mabuk mabuk dan akhirnya matilah mereka. Setelah cacing-cacing itu mati, anak-anak bertambah nafsu makannya.” Pencegahan dalam bentuk mengenakan alas kaki, buang air di kamar mandi, mencuci tangan dengan akurat, atau menjaga makanan dengan baik lebih diserukan daripada pengobatan.

Buku pelajaran juga mengisi hari-hari anak mengenal kebersihan demi kesehatan. Anjuran ini searah dengan kemerdekaan bangsa untuk bebas dari penyakit. Di buku bacaan bahasa Indonesia untuk murid kelas 3 sekolah rakyat berjudul Batjaan Bahasaku (1957) garapan S. Sastrawinata dan B.M. Nur terbitan W. Versluys N.V. Penulis mencontohkan efek jajan di warung. Orangtua sering menyebutnya jajan sembarangan. Diceritakan sepulang sekolah, Amir menjenguk Topo yang sakit. Dokter sudah datang mengobati. Amir juga bercerita di sekolah menjelaskan tentang lalat, binatang pembawa penyakit. Sakit membuat Topo bersikap, “Besok akan kubuat pemukul lalat, Mir. Dan aku tidak mau membeli penganan lagi diwarung jang kotor.”

Setelah kemerdekaan, sejumlah prakarsa dimulai untuk kesehatan masyarakat. Vivek Neelakantan membabar persoalan ini melalui buku Memelihara Jiwa-Raga Bangsa (2019). Infrastruktur kesehatan Indonesia antara tahun 1942-1949 memang hancur karena perang. Sebelumnya, pemerintah Jepang sangat menyadari kesehatan yang buruk, terutama di kalangan buruh Jawa, menggagalkan keberhasilan politik dan ekonomi membentuk “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya”. Seruan kesehatan begitu digalakkan oleh Kantor Pusat Kesehatan Masyarakat (Eiseikyokutyo). Salah satunya kampanye “Djawa Sehat” untuk mencegah penyakit endemik; malaria dan frambusia (patek).

Pemerintah bersama agenda memajukan bangsa selalu memerangi penyakit dan kekotoran. Kotor itu membahayakan meski tetap memberi semarak komersial pada salah satu produk deterjen. Anak-anak pasti menjadi sasaran. Berani kotor itu baik. Berani bersih itu lebih baik.


Setyaningsih, kritikus Sastra.

Hati-hati di Jalan!

Setyaningsih

HIDUP itu tentang (memilih) jalan. Ada jalan yang terlihat, seperti jalan yang biasa dilewati menuju sekolah, rumah teman, pasar, kantor, atau rumah ibadah. Tentu, jalan tidak selalu lurus dan halus. Terkadang, ada lubang mengagetkan, krikil atau tebaran pasir halus, atau kubangan air dadakan. Waktu melekati jalan tertentu dengan aneka perasaan; sepi, horor, waswas, takut, ataupun lega. Jalan tidak terlihat terkait dengan sikap, moralitas, atau keputusan. Melalui jalan fisik atau jalan nonfisik, setiap orang belajar mencapai tujuan meski harus tersesat dulu.

Majalah Ceria, 16-31 Mei 1986, memuat puisi “Jalan” garapan Lilis Winarni dan Edi Siswanto (SMPN IV Wonogiri). Cerap tiga bait puisi, Telapak-telapak kaki telanjang/ menginjak daya tuk/ menyingkirkannya/ selain waspada dan waspada/ Aku berusaha…/ cari jalan lain/ tapi, di sana kutemukan duri-duri bertebaran/ sekali lagi waspada dan waspada/ Kucari jalan lain/ tapi…/ jalan itu berlumut teramat licin/ sekali lagi aku waspada dan/ waspada… Puisi tumbuh di masa remaja yang karib dengan penemuan diri, kebimbangan, rasa waswas sekaligus penasaran. Diksi ‘duri’ dan ‘licin’ menganalogikan rintangan dan emosi untuk mengatasinya. Meski puisi terkesan lirih dan melankolis, upaya menempuhi jalan itu mengantarkan pada kelegaan dan makna, Akhirnya aku kembali…/ kupandang jalan yang sudah/ kulalui/ dengan pandangan penuh arti. Jalan mengabarkan peralihan dari masa anak ke masa remaja.

Nuansa riang ada di puisi “Terang Bulan di Desa” (Nusantaraku: Puisi Anak-anak, 1993) garapan Suyono H.R. dan Steve K. Secara tersurat tidak ada diksi jalan. Namun, mengemas peristiwa ragawi anak-anak untuk melangkah, menyusuri jalan, dan pulang. Terbayang jalanan desa tak beraspal, jalan tanah dikelilingi rumput, dan pohon-pohon menaungi. Jalan terlihat aman dan mudah, tapi anak harus tetap berhati-hati, Bila bulan telah meninggi/ mereka satu-satu melangkah pergi/ pulang dengan hati riang/ besok harus masuk sekolah/ siangnya harus pergi ke sawah. Di sini, jalan tampak ramah anak nyaris tanpa peringatan ‘ramah anak’ atau ‘hati-hati, banyak anak-anak’.

Penulis serial Lima Sekawan, Enid Blyton, menulis puisi “Bunga Poppy” (Bisikan Anak-anak, 2021). Dimulai dari jalan, terbuka jalan kepada alam, sains, dan keindahan. Puisi ini merangkul pengalaman universal untuk mengagumi alam sekitar, Menyusuri jalan setapak di belakang rumah/ Bukit kecil akan kau daki,/ Dan di atas kedua sisinya/ Akan ada musim panas—/ Ladang jagung yang melambai-lambai dalam tiupan/ angin,/ Di mana bunga-bunga poppy menggoyangkan kepala/ mereka

Sejak kebahasaan dan material, jalan menentukan bagaimana kehidupan dibentuk. Bagi kemajuan, jalan adalah infrastruktur untuk perhubungan geografis, ekonomis, dan politis. Jalan biasanya mengiringi pertumbuhan kota. Jalan serta bangunan megah yang mengiringi boleh dikagumi, tapi juga lebih diwaspadai. Pengajaran tertib berlalu-lintas dilakukan. Anak-anak tidak bisa seenaknya berlari apalagi bermain. Semakin dewasa, mereka semakin sadar jalan sebagai wilayah pertarungan merebut ruang dan waktu. Ingat istilah ‘tua di jalan’. Melewati jalan berarti tabah pada kemacetan, bertahan di tengah kompetisi dan kesendirian, menghindari kriminalitas, ataupun saling berdemokrasi sebagai sesama pengguna jalan.

Jalan itu wilayah untuk menadahi harmoni dan konflik lewat pelbagai peristiwa. Melintasi jalan berarti melintasi kehidupan. Berdiri di satu sisi jalan dan menatap ujung yang tidak tampak ibarat panggilan pada pengembaraan imajiner. Para belia pengguna jalan secara tidak langsung belajar menjadi pelintas kehidupan. Jalan itu amat dekat dengan keseharian: kebutuhan, kepentingan, dan empati—terjadi penempaan sosial dan spiritual.


Setyaningsih, kritikus sastra

Guru

Setyaningsih

TIGA puisi guru dimuat di majalah Ceria, 1-15 Mei 1986. Puisi tampak bersambung dengan slogan majalah: Cerita, Ilmu, & Akhlak. Persepsi tokoh guru tentu dibentuk oleh sekolah. Negara mengutus guru untuk menjadi “orangtua kedua” setelah ibu dan bapak di rumah. Puisi-puisi guru yang ditulis anak tidak terlalu mengalami banyak perubahan berarti terutama dalam kebahasaan. Guru diingat karena berjasa dan diucapi terima kasih pada akhirnya.

Begini puisi “Guruku” oleh Tien Amriyah (SD Brebes VIII, Brebes), Kukenang jasamu/ kuingat nasehatmu/ kubayangkan senyummu/ kurenungkan bentakanmu/ Guruku…./ kini kita telah berpisah/ tapi aku tetap ingat padamu/ dan maaf/ aku hanya dapat mengucap/ dan berdoa/ terimakasih/ lindungilah Guruku, ya Tuhan. Puisi nyaris tidak memiliki cerita, kecuali kesimpulan atas kenangan. Nasihat, senyum, dan bentakan dianggap cukup untuk diwartakan kepada pembawa. Peristiwa apa pun yang dikisarinya, cukup menjadi hak milik penulis.

Ada guru yang disukai karena cara mengajar asyik, baik saat menjelaskan, suka memberi kuis yang menantang. Murid mengingat cara guru bicara, berjalan, memberi renungan di upacara. Benda-benda yang melekat pada sosok guru juga diingat; pena di saku, jam tangan, sepeda onthel, sepatu, tas, atau kacamata. Namun, hal-hal ini jarang masuk puisi. Puisi lebih merekam apa yang tidak terlihat dibanding apa yang terlihat. Guru berarti sifat, bukan sikap tubuh atau kebendaan.

Seperti ini puisi “Guru” garapan Rokhinah (Kelas VI SDN Gondang II Cepiring, Kendal), Hembusan angin di pagi hari/ menambah kesejukan di hari ini/ bersama kau berangkat/ mengabdi/ pada negeri kelahiran ini/ Hati tulus, ikhlas dan suci/ walau hujan deras mengalir/ walau panas membakar tubuh/ semua menambah tekadmu/ Dirimu adalah insan yang/ terpuji/ dalam ketulusan hati/ dan kau adalah pahlawan/ tanpa tersemat tanda jasa/ dan tetap kukenang dalam/ hidupku.

Guru itu tulus, ikhlas, suci, punya tekad, dan terpuji. Sifat-sifat yang menegaskan pernyataan “kau adalah pahlawan”. Puisi masih belum ada cerita meski dalam kenangan penulis banyak cerita berguru dan bersekolah. Guru mungkin lupa mengajari anak merasa bebas mengungkap cerita.

Aku teringat anak-anak dan seorang guru perempuan bernama Bu Oishi dalam novel Dua Belas Pasang Mata (Sakae Tsuboi, 2013). Di suatu desa nelayan pada 1928, bahkan Bu Oishi menjadi cerita bagi penduduk desa karena ia berani naik sepeda. “Dunia benar-benar sudah berubah. Guru perempuan naik sepeda! Bisa-bisa dia dianggap kelewat modern.” Bagi anak-anak, Bu Oishi mengisi kebahagiaan di tengah kemiskinan dan tata hidup mengunggulkan anak laki-laki. Ia mengajak anak-anak bernyanyi, berjalan di pantai, makan mi, piknik, dan berfoto. Ketika Bu Oishi tidak muncul di sekolah karena sakit, anak-anak bertekad berjalan berkilo-kilo menuju rumahnya. Sandal jerami anak-anak itu sampai putus. Anak-anak berani memiliki impian karena Bu Oishi.

Bagi anak-anak, Bu Oishi mengisi kebahagiaan di tengah kemiskinan dan tata hidup mengunggulkan anak laki-laki. Ia mengajak anak-anak bernyanyi, berjalan di pantai, makan mi, piknik, dan berfoto.

Guru menjadikan seseorang sebagai murid yang mengingat banyak hal. Suatu saat, bergiliran murid itu akan menjadi guru. Murid selalu ingat guru meski guru tidak lagi dimiliki karena batas ruang, waktu, dan sikap. Murid memang tidak selamanya bisa menjadi murid. Ia menjadi guru dengan tetap belajar seperti murid. 


Setyaningsih, kritikus sastra

Berkenalan dengan Majalah Sahabat

Setyaningsih

MASA kanak merayakan persahabat dengan majalah. Majalah berkumpul di sudut rumah sebagai kawan, dinantikan kehadiran tiap edisi, dipertukarkan humor atau ceritanya antar teman. Ada perawatan ingatan atas tokoh, pembabakan peristiwa, kuis, atau rubrik dan penulis kesayangan. Barangkali hingga dewasa, pembayangkan huruf-huruf yang membawa berkelana pada pembentukan mentalitas, religiusitas, intelektualitas tidak kabur dan terkubur.

Pada tahun 80-an, anak-anak Indonesia terutama dari kalangan Muslim, dihibur oleh kehadiran majalah Sahabat yang digarap oleh Media Sahabat dengan pimpinan umum Ramlan Mardjoned dan pimpinan redaksi Johar Arifin. Majalah terbit atas rekomendasi Kementerian Agama Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam (1979). Penamaan majalah kemungkinan diambil dari cara menyebut orang-orang terdekat dan terpercaya Nabi Muhammad: para sahabat. Majalah sempat mengisi bacaan masa kanak meski sepertinya tidak setenar majalah anak yang ada saat itu, seperti Kuntjung, Kawanku, Bimba, Tomtom, Ananda, atau Bobo.

Keislaman majalah Sahabat tidak ditunjukkan secara akut. Bahkan di sampul depan tidak tertera keterangan pasti majalah memang diperuntukkan bagi kalangan Muslim. Keislaman ditunjukkan lewat sapaan “Assalamualaikum” dan awalan “Bismillah” di beberapa rubrik “Surat-surat Sahabat”. Di halaman lain, rubrik cerita bergambar “Keluarga Fajar”, cerita tentang pahlawan Islam, rubrik “Belajar Agama” dan “Bahasa Arab”, serta sajak-sajak religius cukup mewakili majalah merepresentasikan Islam. Cerita pendek lebih bertema umum seputar moralitas keseharian. Ilustrasi majalah pun tervisual selayaknya majalah umum tanpa perlu menghilangkan wajah seperti yang menggejala di bacaan-bacaan anak mutakhir.

Di Sahabat edisi 100 (30 Juni 1984), dimuat surat kiriman anak bernama U. Rusyad di SDN Kubangpari Banjarsari, Ciamis Selatan yang kegirangan berteman dengan Sahabat. Dia menulis, “Assalamu’alaikum, Oom Daktur yang ganteng! Majalah Sahabat, walaupun agar tersendat-sendat datangnya di rumahku, tapi aku dengan adik selalu berebutan kalau majalah tersebut sudah tiba di rumah. Sehingga kadang-kadang majalahnya menjadi sobek, aku tertarik dengan isi/ceritanya, sedang adikku senang dengan Keluarga Fajarnya.” Gara-gara rebutan inilah, Rusyad mengusulkan hal yang logis bagi dirinya, tapi belum tentu bagi pembaca lain, “Usul bagaimana kalau cerita keluarga Fajar ditiadakan dan ditambah dengan cerita-cerita yang menarik, masa aku harus selalu mengalah terus-terus kepada adikku. Sekian mohon Oom daktur memperhatikannya.” Wah, bagaimana Om Redaktur?

Pengalaman pertemuan seorang anak dengan bertemu Islam disajikan di Sahabat edisi no. 59. Anak perempuan berumur 9 tahun bernama Lina terpukau dengan Islam karena magis suara mengaji. Lina mengaku terpukau dengan Islam karena suara mengaji dari radio dan pergaulan dengan teman-teman di sekolah. Ibu Lina pun mengalami pengalaman spiritual saat mendengar azan. Di sini, bisa diduga suara (beragama) yang masih merdu dan lembut. Suara adalah perjumpaan religius, bukan menyulut sengketa seperti akhir-akhir ini saat azan masjid-masjid berlomba paling keras. Takbir justru menandai superioritas kelompok paling otoritatif membela Tuhan. Padahal, bukankah Tuhan Maha Mendengar.

Di sini, bisa diduga suara (beragama) yang masih merdu dan lembut. Suara adalah perjumpaan religius, bukan menyulut sengketa seperti akhir-akhir ini saat azan masjid-masjid berlomba paling keras. Takbir justru menandai superioritas kelompok paling otoritatif membela Tuhan. Padahal, bukankah Tuhan Maha Mendengar.

Puisi-puisi para penyair cilik di halaman Sahabat membawa paduan ketemaan religiusitas, keakuan, dan alam nan permai. Tema alam sepertinya belum menemukan keusangan sampai tahun 80-an saat Indonesia terus membangun dan lebih berorientasi ke kekotaan. Di Sahabat edisi 72 (15-31 Maret 1983), kita bisa menyimak puisi sederhana berjudul “Rumput-rumput” kiriman Faisal Barawas yang duduk di kelas 6 SD Irsyad Bogor. Puisi tidak memiliki pada tendensi prestasi atau kesalehan. Puisi cukup menjelmakan suatu yang sepele tapi sebenarnya penting bagi kita. Begini, Rumput-rumput hijau/ Membentang menyelimuti tanah/ Ketika kuhampiri/ Ia tersenyum ramah/ Dan menyuruhku duduk di atasnya.

Ajakan kepada kebaikan dan peribadatan pun menjadi puisi yang berpesan. Puisi garapan Yusrini, murid kelas 2 SDN I Muara Enim Sumbar, berjudul “Wahai Kawan” mengajak tidak melupakan salat. Meski baru kelas II, Yusrini tampaknya terpengaruh diksi guru agama atau orangtua yang agak terdengar galak dan seram. Yusrini sudah mafhum menggunakan istilah “tersiksa” dan “terkutuk”. Hal ini sangat lumrah mengingat pendidikan agama di masa kecil memang sangat ditentukan oleh orangtua atau guru. 

Beginilah bunyi puisi Yusrini, Marilah kita bersama-sama mengerjakan shalat/ Dan marilah kita bersama-sama/ menghindari perbuatan yang tidak baik./ Wahai kawan/ Gunakanlah hidupmu untuk kebaikan/ Jangan digunakan untuk kejahatan/ Wahai kawan/ Sorga tempat ummat yang beriman/ dan takwa kepada-Nya/ Dan api neraka tempat ummat/ tersiksa dan terkutuk. Sajak hadir sebagai ruang ekspresi pada keimanan.

Nasib majalah Sahabat tidak sampai berumur panjang, tapi majalah berhasil membawa misi literasi sekaligus berperan dalam pembentukan keagamaan diri. Demi merevolusi cara agama agar tidak radikal dan mengada-ada, anak-anak masih perlu halaman-halaman bacaan yang menyenangkan, tidak konservatif, toleran, dan lucu yang religius. 


Setyaningsih, kritikus sastra.

Mengingat S.K. Trimurti

Setyaningsih

GAGASAN kepahlawanan tokoh yang sering diajarkan itu tampak sederhana dan terasa lumrah. Ada kemerdekaan dan orang-orang yang berupaya secara fisik ataupun diplomatik untuk mengusahakan. “Mengenal” orang-orang ini tentunya tidak seperti bertemu orang-orang yang (juga) penting dalam masa kanak; tukang cilok, penjual jajanan, guru, tetangga, atau bahkan pahlawan super dari Amerika.

Bagi anak Indonesia, pahlawan diajarkan melalui buku sejarah dan visualitas pada dinding ruang kelas. Misalnya selama 6 tahun duduk di sekolah dasar, aku sering berjumpa foto Ki Hadjar Dewantara. Ia cenderung serius. Aku pun tidak bergaya menundukkan kepala ketika lewat di sampingnya. Di waktu-waktu tertentu, aku memandangi wajahnya seolah berharap diberi lebih banyak cerita. Justru setelah jauh meninggalkan ruang kelas, cerita-cerita kecil terjumpai seperti Ki Hadjar dan keluarga bersantap bakmi usai pelantikan menjadi Menteri Pengajaran Republik Indonesia.

Pahlawan cenderung dijelaskan daripada diceritakan. Majalah Kawanku, 18-24 Februari 1983 memuat profil tokoh perempuan kelahiran Boyolali 1912—Surastri Karma Trimurti. Kawanku menulis, “Trimurti dikenal sebagai wartawati yang sering keluar masuk penjara karena tulisannya yang tajam. Majalah yang didirikannya selalu dinilai kurang baik oleh Pemerintah Hindia Belanda. Biar demikian wanita yang satu ini selalu saja mendirikan majalah lain yang baru.”

S.K. Trimurti termasuk perempuan yang dibiografikan bukan dalam status istri pejuang, tapi benar-benar mengawali kontribusi kebangsaan sebagai perempuan. Esai tentang sosoknya berjudul “Hidupku sebagai Wartawan Pejuang” dihimpun dalam Wartawan Berkisah (1974). Soebagijo I.N mengawali kepenulisan biografi dengan judul S.K. Trimurti, Wanita Pengabdi Bangsa (Gunung Agung, 1982). Ipong Jazimah menyusun buku biografi S.K. Trimurti, Pejuang Perempuan Indonesia (Kompas, 2016).

Ipong membabar perjalanan hidup yang serba cerdas dan nekat. Tahun 1935, bersama Sri Panggihan, Trimurti nekat mendirikan Pengurus Besar Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI). Mereka lebih dulu aktif di organisasi Rukun Wanita, Budi Utomo, dan Partindo. Ongkos hidup dan berorganisasi diusahakan dari kerja membatik. Majalah Pesat didirikan oleh Trimurti, diongkosi dari hasil menjual tempat tidur besi.

Mereka lebih dulu aktif di organisasi Rukun Wanita, Budi Utomo, dan Partindo. Ongkos hidup dan berorganisasi diusahakan dari kerja membatik. Majalah Pesat didirikan oleh Trimurti, diongkosi dari hasil menjual tempat tidur besi.

S.K. Trimurti (tampak belakang) terekam dalam foto legendaris pengibaran Merah-Putih pada 17 Agustus 1945. Kecakapan berpidato dan menulis berasal melalui Sukarno. Tulisan pertama Trimurti dimuat di Fikiran Rakjat. Sebelum pindah ke Yogyakarta, Trimurti sempat merintis majalah berbahasa Jawa, Bedug, bersama teman-teman Solo. Majalah tidak panjang umur dan diganti berbahasa Indonesia Terompet. Pada 1975, Trimurti masih merintis majalah filsafat dan mental spiritual Mawas Diri.

Kawanku terasa ingin menampilkan S.K. Trimurti sebagai tokoh perempuan yang keren dan berdikari. Perempuan yang juga Menteri Perburuhan RI pertama ini ibarat perigi untuk membaca nasionalisme, kemanusiaan, emansipasi, diplomasi kebangsaan, dan HAM. Cerap paragraf pamungkas dari Kawanku, “Oleh Pemerintah dikirim ke negara-negara Eropa, dan menghadiri kongres-kongres Wanita Internasional di luar negeri. Ada pun jabatan yang pernah diduduki ialah Anggota Dewan Nasional, Anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS dan anggota Perintis Kemerdekaan Indonesia. Selain itu S.K. Trimurti yang kini telah berusia 71 tahun ini pernah menerima tiga bintang serta surat tanda penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia.”   


Setyaningsih, kritikus sastra tinggal di Boyolali

Waras

Bandung Mawardi

HARI-HARI sering hujan. Raga-raga mudah berubah. Pagi kadang hujan. Sore dan malam sering hujan. Raga berperistiwa di luar rumah berurusan hujan. Raga memang dibungkus busana dan jas hujan. Raga masih terkena basah. Dingin pun terasa. Raga bisa sakit.

Sekian hari lalu, melihat raga-raga sakit. Sekian orang demam. Tubuh-tubuh itu merasakan tak enak. Demam menghentikan kebiasaan keseharian. Raga tak mampu menjawab hari-hari berhujan. Obat masuk tubuh. Doa-doa diucapkan demi sembuh. Raga di ranjang. Raga selalu berada di rumah, terlindung dari hujan dan dingin seliweran di luar.

Suara-suara terdengar. Sekian orang batu-batuk. Mulut-mulut itu mengabarkan derita ditanggungkan. Batuk bukan lagu merdu. Batuk-batuk diproduksi sekian orang sulit menjadi orkestra. Suara-suara seperti siksa bila malam dan dini hari. Batuk itu membuat raga kelelahan. Ada kegagalan atau kesalahan menjawab musim dengan makanan atau minuman telanjur dikonsumsi.

Suara pelengkap adalah pilek. Hidung-hidung memberi suara. Telinga kita tak ingin mendengar orang pilek. Penghindaran agak sulit bila penderita pilek adalah orang-orang serumah. Hari-hari dengan pilek mengakibatkan suara saat ngomong turut berubah. Kita mendengar ada bindeng. Suara aneh dibandingkan hujan deras atau gerimis. Obat mungkin dipilih untuk menghentikan batuk dan pilek.

Orang-orang ingin waras saja selama hari-hari berhujan. Mereka makan dan minum seperti biasa tapi menghindari “ini” dan “itu”. Raga saat keluar rumah diusahakan terlindungi, tak mengharuskan hujan-hujanan. Tubuh bergerak mencipta kehangatan dan keluwesan. Pilihan menikmati minuman hangat agak memberi ketenangan. Hangat meladeni dingin-dingin terasakan saat hujan-hujan.

Waras, kata dan kondisi menjadikan orang-orang terus bisa belajar dan bekerja. Segala peristiwa bisa diselenggarakan dengan lancar tanpa ada lungkrah, suara aneh, dan ketergantungan obat. Orang mau waras setiap hari, bukan mau obat setiap hari. 

Pada masa lalu, waras itu masuk dalam kerja besar negara-bangsa. Indonesia menginginkan sehat. Jutaan orang diharapkan waras. Pihak penerbit Panjebar Semangat sebagai penerus dari seruan-seruan Soetomo mengadakan buku seri “Watjan Rakjat: Rakjat Sehat Negara Kuat”. Buku tipis dengan kertas koran dihadirkan untuk para pembaca berbahasa Jawa. Buku itu berjudul Bagas Kuwarasan (1952) susunan R Soemodirdjo.

Imam Supardi selaku penggerak Panjebar Semangat memberi sambutan untuk buku mengajak orang-orang waras: “Nanging kahanan ing bab kuwarasan rakjat isih njedihake, isih akeh banget rakjat kang ora ngerti tjara-tjarane urip kang sehat, pratikele ngupakara kuwarasan: malah saka orang ngertine mau, ora kurang-kurang kang dadi kurban, anemahi sangsara utawa tiwas.” Waras itu urusan negara melalui pelbagai program. Usaha untuk waras membutuhkan pendidikan-pengajaran dan anggaran besar. Anggaran bukan melulu untuk obat-obat tapi kesadaran hidup sehat.

R Soemodirdjo mengingatkan: “Awak kang kuwarasan iku adjine gede banget. Kang akeh wong iku durung krasa utawa rumangsa, jen durung ketaman lelara kang rekasa. Jen wis tau kena lelara kang rekasa, lagi krasa jen kuwarasaning awak iku gede banget adjine.” Hiduplah dengawan waras! Hindarilah sengsara gara-gara sakit! Kita mungkin perlu tanda seru agar raga bergerak memastikan terus sehat. Kita sadar makanan dan minuman menunjang waras, bukan justru kemanjaan atau kenikmatan malah mengantarkan sakit.

Masa demi masa, pelajaran waras itu berubah. Kita mengandaikan ada masalah-masalah baku meski sadar tatanan zaman berubah. Orang-orang masih mengharuskan mengerti ada hal-hal mengakibatkan atau mempercepat sakit. Kita salah mengerti atau gagal dalam tindakan untuk terus waras. Hujan tak harus bersalah. Kini, hujan-hujan masih turun memberi suara-suara bagi kita berharapan waras. Kita tak ingin ada suara batuk, pilek, atau ratapan demam. Waras itu baik dan membahagiakan. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Satwa

Bandung Mawardi

SEJAK lama, kita dikenalkan istilah klasik dan puitis: margasatwa. Murid-murid SD bisa mengucapkan ulang. Empat huruf a memudahkan pengucapan. Mulut bocah tidak bergantian mengucapkan huruf vokal berbeda. Pengucapan itu semudah pula dengan sebutan tempat ada di pinggiran Solo: TSTJ. Orang-orang mengucap satu kata belakang saja. Dua huruf di depan TJ mudah diucap tapi jarang teringat: taman satwa. Hal terpenting taman itu memiliki satwa, belum terlalu mementingkan tanaman. Ingat taman, ingat satwa.

Kita kembali ke masalah margasatwa. Di majalah Kawanku edisi September 1974, ada tulisan Slamet Soeseno berjudul “Kera Putih”. Para pembaca perlahan ingat bila Slamet Soeseno memang penulis paling rajin menggarap tema satwa di majalah Kawanku dan Intisari. Ia pun menulis buku-buku cerita mengenai binatang atau satwa. Kehadiran tulisan di Kawanku disponsori oleh Pertamina. Bocah-bocah masa lalu mungkin belum mengerti Pertamina. Guru atau orangtua berhak menjelaskan untuk membuat bocah mengerti Pertamina menentukan nasib Indonesia dalam transportasi, industri, memasak, dan lain-lain. 

Nah, logo Pertamina adalah satwa. Logo itu mungkin membenarkan Pertamina menjadi sponsor dalam seri tulisan “Alam Margasatwa” dibuat oleh Slamet Soeseno. Bocah-bocah membaca majalah dipahamkan dengan “Alam Margasatwa” meski ada keinginan untuk memudahkan dengan “Dunia Margasatwa”. Masalah penggunaan diksi “alam” dan “dunia” kadang sulit dijelaskan secara kebahasaan. Sulit hampir sama dengan sebutan tempat di Solo: taman satwa.

Slamet Suseno bercerita kera putih bersumber dari negeri pemilik epos-epos: India. Kita membaca saja: “… yang sampai sekarang pun disegani oleh orang-orang Hindu di India selatan. Sebab, menurut dongeng-dongeng sahibul hikayat, raja kera itu dulu pernah berjasa memberantas kebatilan yang tidak berhak dan menegakkan keadilan yang berhak. Yaitu menolong raja bernama Sri Rama, merebut kembali Dewi Sinta dari tangan raja raksasa Dasamuka, yang tidak bermuka dua saja, tapi sepuluh.”

Di Jawa, kita pernah mendengar lagu berjudul “Anoman Obong”. Lagu berlirik bahasa Jawa bersumber Ramayana. Lagu pernah kondang: Anoman si kethek putih/ Sowan paman, Sinto dijak mulih/ Konangan Indrajit lan patih/ Ning Anoman ora wedi getih// E, lhadalah, Alengko diobong/ Togog Mbilung wao podho pating domblong/ Omah gedhe podho dadi areng/ Dasamuka dadi gereng-gereng. Dulu, bocah-bocah ikut bersenandung sambil mengimajinasikan keberanian kethek putih. Mereka bisa melihat pula di televisi atau panggung pertunjukan untuk mengetahui polah kethek putih. Mereka mengagumi Anoman.

Keampuhan kera putih seperti dijelaskan Slamet Soeseno: “Bagi kera-kera itu, sulur dan batang tanaman menjalar dalam hutan adalah tangga ubin yang licin, sedang batang pohon biasa adalah jalan aspal yang lurus. Tapi yang paling menakjubkan ialah kemampuannya memanjat mundur. Tukang sulap mana di dunia ini yang bisa begitu?” Bocah merasa kagum, lucu, dan penasaran dengan kesaktian kera putih. Hal itu biasa diwujudkan dengan keinginan bocah-bocah mengenakan busana Anoman bila diajak turut dalam panggung seni. Bocah suka menonton pentas seni kadang memilih berfoto bersama Anoman.

Pada masa 1970-an, bocah-bocah diiinginkan terbiasa menggunakan sebutan satwa, sebelum mereka memilih gampang dengan sebutan binatang atau hewan. Pada masa berbeda, buku-buku pelajaran, majalah, dan acara di televisi mengenalkan sebutan fauna. Bocah-bocah memiliki tambahan kata meski kadang agak membedakan citarasa makna. 

Penerbitan buku-buku masa lalu masih mencantumkan margasatwa atau satwa. Pencantuman itu berubah dalam industri penerbitan buku dan pembuatan tulisan-tulisan di media cetak. Kita ingat ada sekian penerjemah novel gubahan George Orwell berjudul Animal Farm. Di terjemahan bahasa Indonesia, judul bisa menjadi Binatangisme. Kita meragu bila diterjemahkan Satwaisme atau Hewanisme atau Faunanisme.

Buku-buku bacaan anak perlahan memilih “binatang” dalam sodoran cerita-cerita memikat. Kita ajukan contoh buku berjudul Kumpulan Dongeng Binatang diceritakan kembali Anne-Marie Dalmais. Buku laris dan berpengaruh terbitan Gramedia, 1981. Buku bila dijuduli Kumpulan Dongeng Satwa mungkin membingungkan bagi bocah-bocah. Buku itu terjemahan dari bahasa Belanda, pernah digemari bocah-bocah di Indonesia. Kini, buku edisi lama itu sudah dicari dan harga mahal: ratusan ribu rupiah.

Kini, kita kangen sebutan satwa. Orang-orang mulai jarang mengucap satwa. Sekian tahun lagi, kata itu mungkin menghilang dari kamus. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Penamaan

Bandung Mawardi

NAMA sudah dipikirkan sebelum pernikahan. Kebijakan milik orang-orang terlalu berpikiran serius tapi pengharapan besar. Ia masih lajang. Ia belum menikah tapi nama menjadi urusan penting. Hari demi hari, nama itu memperoleh pembenaran melalui kamus, film, pengajian, lagu, iklan, mitos, sepak bola, dan lain-lain. Konon, pembuatan nama ingin berbeda dari miliaran orang di dunia.

Pada saat menikah, nama tetap dipikirkan bagi keturunan bakal diperoleh melalui doa dan ikhtiar. Memikirkan nama tak lagi sendirian. Ada pihak “baru” dalam penetapan atau perubahan. Obrolan mungkin menjadikan nama itu penting ketimbang hal-hal berurusan kehamilan dan persalinan. Pembuatan nama membuat bahagia. Hari-hari berlalu, nama itu diinginkan sungguh-sungguh termiliki oleh manusia terlahir di dunia.

Nama ada duluan sebelum manusia. Situasi itu berlaku pada masa sekarang. Kita melupakan kaget atau polemik. Nama untuk anak menjadi pemikiran setelah ada pemberitaan, penerbitan buku-buku nama, percakapan keluarga, atau kemonceran artis-artis baru. Dulu, nama-nama dipikirkan mengacu sejarah keluarga, ruang sosial-kultural untuk hidup bersama, atau pancaran iman-takwa di keseharian. 

Keranjingan tema nama sempat diramaikan dengan buku-buku memuat daftar nama dan makna. Di toko buku, orang mudah membeli buku mengenai nama. Ada ratusan atau ribuan pilihan dalam menentukan nama. Pelbagai referensi dimuat dalam buku: agama, adat, kebangsaan, dan lain-lain. Sekian buku-buku nama malah terjemahan memiliki pendasaran sedang menjadi panduan bagi jutaan orang di dunia. 

Nama terberikan dan tersahkan menentukan si pemilik dalam daftar presensi, pergaulan sosial, pembentukan identitas, pembuktian keimanan, dan selera ideologis. Nama-nama tak lagi mematuhi kaidah-kaidah diritualkan seperti dilakukan para leluhur. Tata cara berubah meski menimbulkan perdebatan-perdebatan. Nama-nama dimiliki orang-orang Indonesia menjadi selebrasi global setelah sejarah dan tatanan hidup mutakhir memperkenankan beragam bahasa digunakan bersamaan.

Pada abad XXI, ilmu nama tak serumit masa lalu. Pengetahuan dan konsekuensi penamaan dengan acuan-acuan baru. Ritual agak berkurang. Pengumuman nama-nama mulai mencipta selera-selera kebaruan terpengaruh pamrih-pamrih kepuasan, senang, atau keumuman. Argumenasi memang dibuatkan tapi jarang berakar dan terceritakan berkesinambungan.

Dulu, ada penerbitan buku berjudul Nama-Nama Indonesia susunan Ki Hadiwidjana. Buku kecil terbitan Spring, Jogjakarta, 1968. Buku pernah menjadi sumber pengetahuan bagi orang-orang memerlukan “kebenaran” dan pertanggungjawaban makna. Pihak penerbit menjelaskan maksud pemberian nama: “Diperoleh nama-nama jang sedap, enak didengar. Diperoleh nama-nama jang sesuai dengan harapan orang tua. Diperoleh nama-nama jang baik artinja dan sesuai dengan kepribadian Indonesia.” Kalimat terakhir itu keseriusan. Negara diakui penting dan berpengaruh bagi orang-orang berpikiran nama. Konon, nama itu kepribadian Indonesia. Kita menganggap itu perkara terlalu besar. 

Ki Hadiwidjana menerangkan hakikat pemberian nama: “Selamat sempurna tak kurang suatu apa. Mendapat kebahagiaan dan kemuliaan dalam hidupnja. Mendjadi orang jang baik-baik, berdjasa dan berbakti kepada masjarakat, memenuhi tugas atau panggilan Tuhan dialam dunia ini.” Hakikat itu berubah pada abad XXI. Buku berjudul Nama-Nama Indonesia kedaluwarsa tergantikan sumber-sumber bukan buku tapi pencarian melalui internet atau pengamatan atas media-media mutakhir. Ajakan ada kepribadian Indonesia masih terdengar tapi lirih. Kemauan dan pamrih orang-orang memberi anak dalam pergaulan global memungkan perjumpaan hal-hal sakral dan profan. Penamaan tak sekolot masa lalu. Nama menjadi pengumuman “kebingungan” bagi orang-orang ingin menemukan pendasaran referensi dan akibat masa depan. Nama-nama rawan tak “bersejarah” tapi kejuatan-kejutan sesaat membasi. Begitu.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Sekilas Ibu Soed

Setyaningsih

TOKOH itu seorang pencipta lagu anak, Saridjah Bintang Soedibjo atau karib dikenal Ibu Soed. Tulisan panjang di majalah Kawanku, 29 April-5 Mei 1983, menulis Ibu Soed sebagai pelopor pengarang lagu anak-anak, pelopor sandiwara dan operate, penekun seni batik tradisional, dan pelopor batik modern. Pemerintah RI pernah menganugerahi penghargaan sebagai “Perintis dalam Penciptaan Lagu Anak-anak Indonesia” pada 12 Agustus 1969.  Memunculkan ketokohan Ibu Soed di masa pembangunan seperti membuka jeda bahwa tokoh-tokoh “berjasa” bagi perjalanan keindonesiaan dan kebangsaan tidak sepenuhnya ditentukan oleh tokoh-tokoh dari kalangan militer.

Seperti juga banyak dialami para kaum bumiputera di awal abad ke-20, Ibu Soed juga mendapat semangat bermusik dan pendidikan modern dari orangtua angkat berkulit putih, F. Kramer. Saat itu, F. Kramer berkedudukan sebagai Jaksa Tinggi Sukabumi. Di masa-masa sulit tahun 1952, usai kecelakaan pesawat dialami suami, Bintang Soedibjo, Ibu Soed tertolong oleh batik. Kawanku bercerita, “Ia membatik sendiri dan menjualnya pada para ibu. Bahkan, Presiden Soekarno pun pernah tertarik dan mendorong usaha ini. Ia diberi tempat di Hotel Indonesia dan di dekat Istana untuk memamerkan hasil batiknya itu kepada para turis dan tamu negara. […] Ia pernah melawat ke Jerman Barat sebagai anggota Misi Kebudayaan Seni Batik Indonesia.”   

Pilihan tema-tema lagu Ibu Soed ingin merekam dunia anak yang sederhana, “Harus mampu mengabadikan keindahan alam, hewan/binatang dalam kata-kata yang berbentuk lagu. Selain itu juga harus mampu menerjemahkan harapan, keinginan/impian anak dan tingkah laku mereka ke dalam nyanyian.” Lagu-lagu Ibu Soed mengalihkan anak-anak dari keras situasi politik.

Lagu-lagu Ibu Soed mengalihkan anak-anak dari keras situasi politik.

Tahun 1927, menjadi kali pertama Ibu Soed menciptakan lagu dan setahun kemudian, V.O.R.O (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep) memutar lagu-lagu ciptaan Ibu Soed. Misalnya lagu “Bila Sekolah Usai” dekat dengan emosi dan gerak anak (Lasmidjah Hardi, Sumbangshiku bagi Pertiwi (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran) Buku I: 1982). Ibu Soed mengatakan, “Sesungguhnya lewat lagu anak-anak dapat belajar apa saja. Belajar mengenal keindahan alam, sekolah, orangtua, hewan kesayangan, bunga atau lainnya. Kesadaran untuk mencintai alam, Tuhan, orang tua, nusa dan bangsa, dapat diajarkan lewat nyanyian.”

Setelah kemerdekaan, lagu-lagu Ibu Soed dihimpun dalam buku legendaris Ketilang (1953). Lagu-lagu bertema kecil keseharian merekonsiliasi anak dari keras dunia. Buku ini terus mengalami cetak ulang, salah satunya oleh penerbit Gramedia (1979-1982). Lagu-lagu di antaranya berjudul; “Lagu Gembira”, “Menanam Jagung”, “Burung Ketilang”, “Berkibarlah Benderaku”, “Dirgahayu Indonesia”. Pada banyak lagu-lagu anak berdiksi riang gembira, tetap ada lagu bertema kebangsaan tanpa nuansa patriotik yang terlalu berlebihan. Lagu “Menanam Jagung” mungkin masih bisa diakrabi telinga-telinga hari ini.

Lagu ini sepertinya mampu melintasi tiga zaman: semangat kedaulatan pangan pascakemerdekaan, swasembada pangan Orde Baru, dan kini urban farming dari pekarangan rumah. Cerap, Ayo kawan-kawan kita bersama/ Menanam jagung di kebun kita/ Ambil cangkulmu/ Ambil pangkurmu/ Kita bekerja tak jemu-jemu/ Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam/ Tanahnya longgar jagung kutanam.


Setyaningsih, kritikus sastra

Tetap (Lari) ke Pantai

Setyaningsih

MAJALAH Kawanku, 23-29 November 1985, mendatangan perhelatan seru dunia di pantai berjudul “Mengukir di Pasir: Dibuat Sangat Indah Lalu Dibiarkan Hancur”. Terutama di Barat, kegemaran membentuk bentuk-bentuk dari pasir sangat lumrah. Berwisata ke pantai selalu memiliki maksud keceh air dan keceh pasir. Anak-anak diajak menunaikan urusan yang sangat penuh upaya sekaligus kerelaan ini. 

Membentuk pasir telah menjadi agenda internasional: “Dalam sebuah kontes membuat patung pasir (mengukir pasir) di Pantai Cannon, Oregon, mampu menarik 20.000 penggemar ke kota itu setiap musim panas. Sekitar 700 peserta mulai pagi-pagi benar. Mereka boleh menggarap pasir menjadi bentuk sesuka hati mereka. Namun, mereka harus bekerja cepat. Penilaian akan dilakukan paling lambat 6 jam setelah pekerjaan dimulai.” Waktu lomba berkait dengan gelombang pasang siang hari. Alam menentukan waktu akurat untuk berlomba.

Di tempat lain, dampak dari lomba terlihat begitu baik dan berwawasan lingkungan—menyinggung dua tempat piknik paling penting di muka bumi: pantai dan kebun binatang. Begini: “Kontes mengukir pasir lainnya diadakan di Ala Moana Beach Park, Hawaii. Para seniman pasir hanya boleh membuat binatang. Para pemenang hadiah pertama setiap kategori akan menjadi orang tua angkat bagi seekor binatang di Kebun Binatang Honohulu. Salah satu sponsor konon akan menyumbang dana untuk memberi makan binatang-binatang yang diasuh tersebut. Nama-nama pemenang akan dipancang di kebun binatang tersebut.” Abaikan dua kata ‘tersebut’ di dua kalimat terakhir! Di Indonesia, membentuk pasir sepertinya belum jadi perlombaan akbar. Dasar orang darat, melihat pantai pasti langsung ingin keceh, ciblon, dan slulup

Di Indonesia, membentuk pasir sepertinya belum jadi perlombaan akbar. Dasar orang darat, melihat pasti langsung ingin keceh, ciblon, dan slulup.

Awal-awal wisata dirintis di masa Indonesia setelah kemerdekaan, kedekatan dengan alam mengasah naluri mencinta alam dan kebangsaan. Orang-orang diajak mencintai negeri dengan romantis daripada militeris. Ingat buku Melantjong di Indonesia (PT Rio, 1957) susunan Poerbo Ngr. Buku memuat banyak tema dari beberapa penulis—dari warung sampai kesenian lokal. Sekretaris Jendral Kementerian RI saat itu, M. Harjoto, mengatakan: “Guna mempertebal rasa tjinta tanah air perlu kita mengetahui hal-ihwal jang serba bagus, serba indah dan serba baik dari tanah air kita. Pemandangan jang indah permai ditepi laut, dipegunungan dan dilembah ngarai. Bangunan adat kebiasaan, adat-istiadat dan lembaga adat jang menggambarkan keluhuran budi-pekerti tinggi didalam tata-tjara hidup dikota maupun didesa-desa. Hasil kebudajaan, kesenian, kesusastraan jang menggambarkan kemadjuan alam fikiran bangsa Indonesia didjaman kuna maupun sekarang.”

Film Kulari ke Pantai (Riri Riza, 2018) menunjukkan cara termutakhir manusia modern menghadapi pantai. Pantai adalah tujuan setelah mengalami peristiwa di darat: berkendara dengan mobil, makan kuliner khas setempat, mampir homestay, menyusuri Bromo, bertengkar dengan sepupu. Sam, tokoh utama yang tumbuh di Rote, tampil sebagai anak yang tumbuh di sekitar pantai. Sam harus merampungkan tantangan bepergian dengan ibu dan Happy, sepupu paling menyebalkan, demi menampakkan kaki di pantai (lagi) bersama peselancar idola, Kailani Johnson. Seolah yang khas dari film (keluarga) Indonesia, rekonsiliasi hubungan-perasaan antaranggota keluarga akhirnya harus terjadi di pantai. 

Jadi tidak salah saat Rangga di film Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002) menempuh penemuan dan pencarian mental dengan cara membikin puisi gabut dan melo ihwal pantai. Kapan-kapan Rangga harus belajar bahwa ke pantai itu bertamasya agar hati riang dan pemerintah pun senang.


Setyaningsih, kritikus sastra