Sosok Ibu

Yunie Sutanto

SAMPUL buku nan unik menarik mata. Terlihat cahaya dari ambang jendela memasuki sebuah ruangan. Ada mainan kuda kayu di dekat jendela tersebut. Sepertinya ruangan ini adalah kamar anak. Terdapat sebuah stempel kehormatan di halaman kover buku yang semakin memantapkan hati untuk memiliki dan menikmati buku ini. Stempel kehormatan berisi keterangan bahwa buku kumpulan puisi Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi ini memenangi juara tiga dalam sayembara manuskrip buku puisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 2015. Kembali penikmat buku termanjakan matanya oleh berbagai tampilan gambar yang disajkan oleh sang desainer buku, Roy Wisnu.  Di halaman i nampak gambar bagian atas jendela kamar, lalu gambar laci dari jarak dekat di halaman 10 dan gambar sudut ruangan di halaman 45. Gambar-gambar ini disajikan bukan tanpa makna oleh Roy Wisnu. Secara visual inilah yang nampak dalam kemonotonan tugas sehari-hari seorang ibu yang seharian di rumah. Setiap sudut ruangan yang membisu tak bersuara menjadi teman setia sang ibu. Gambar-gambar ini berbicara mewakili rasa sepi yang menerpa keseharian ibu yang di rumah mengurusi anak-anaknya. Tanpa teman haha hihi, tanpa kehidupan sosial yang dulu dimiliki sebelum mempunyai anak. Rasa sepi terasa lebih menyakitkan jika hari-hari dilalui tanpa dukungan emosional dari orang-orang terdekat. Hanya tugas dan tanggung jawab mengurusi anak dan rumah tangga yang terus mendera tanpa pernah ada kata rehat. Menjadi ibu tanpa ada helper itu melelahkan secara holistik. Lelah fisik, lelah mental dan lelah emosional. 

Rasa sepi terasa lebih menyakitkan jika hari-hari dilalui tanpa dukungan emosional dari orang-orang terdekat. Hanya tugas dan taggung jawab mengurusi anak dan rumah tangga yang terus mendera tanpa pernah ada kata rehat. Menjadi ibu tanpa ada helper itu melelahkan secara holistik. Lelah fisik, lelah mental, dan lelah emosional.

Dalam bait pertama puisi berjudul “Dua Aku” terungkap manisnya kejutan saat menjadi seorang ibu: /Ketika kau keluar dari tubuhku/ada makhluk lain yang masuk menggantikanmu/aku, yang tak pernah orang kenal apalagi kau/aku, yang tak pernah aku kenal tapi menjadi aku karena kau/ (Cyntha Hariadi, 2016:71). Bait ini memberitakan dua pribadi yang terlahir! Bayi yang baru lahir itu dan si ibu baru. Saat si anak kelak berulangtahun, saat itu pulalah si ibu merayakan hari jadinya sebagai seorang ibu. “Selamat ulang tahun yang pertama, Nak”, demikian pengabadian momen ulang tahun dalam buku scrapbook. Ucapan yang sama tertera pula di kue ulang tahun. Tak lupa dibidik dalam foto dan kalimat yang sama menjadi unggahan takarir di media sosial. Dalam hati kecil si ibu, nuraninya pun memberi selamat pada dirinya. Selamat hari jadi sebagai ibu. Happy first year of motherhood. Setiap tahun lilin-lilin yang ditiup bertambah. Setiap tahun sang ibu pun makin bertumbuh dalam perjalanan sebagai ibu.

   /Besok pagi/wajah ini tidak akan sama lagi/ setiap pagi berpuluh-puluh tahun berikutnya/ wajah ini tidak akan sama dan ada lagi/. Demikian penggalan bait puisi berjudul “Wajah Ini” di halaman 73. Setiap hari anak-anak bertumbuh. Dengan kesadaran ini, sebetulnya tidak ada hari yang sama persis. Kasih Tuhan selalu baru setiap pagi, demikian pula perjalanan ibu dalam membesarkan anak-anaknya di rumah. Selalu baru setiap hari, tak pernah sama. Rasa monoton dari rutinitas  tergantikan sukacita merayakan setiap pencapaian-pencapain kecil yang teramati. Puputnya tali pusat. Celoteh pertama. Senyum pertama yang terbidik kamera. Langkah kaki pertama. Gigi pertama yang tumbuh. Gigi pertama yang tanggal. Haid pertama. Sang ibu pun bukan wanita yang sama lagi.  Dalam sekolah kehidupan, menjadi orang tua adalah sebuah kehormatan. Kurikulum menjadi orang tua mungkin saja berat dipelajari, seringkali sarat dengan ujian dadakan, namun anugerah besar-Nya menyertai para orang tua yang memilih untuk menjalankan perannya.

Menjadi ibu bukan akhir dari kehidupan seorang wanita. Menjadi ibu justru tahapan agung dalam kehidupan seorang wanita. Jangan memandang sebelah mata ibu yang mengasuh dan membesarkan anaknya di rumah. Wanita yang memilih melewatkan kesempatan-kesempatan berkarir di luar rumah bukanlah sedang menyia-nyiakan diri. Bukankah dengan berfunhgsinya peran ibu itu anak-anak akan terhindar dari miskin secara emosional. Kantong emosi anak-anak yang kekurangan kasih ibu itu kering dan kosong. Mereka mencari dan terus mencari pengganti kehampaan itu dalam hal-hal lain yang (sayangnya!) tak akan bisa menggantikan kehadiran ibu dalam masa tumbuh kembangnya. Tak usah heran jika anak-anak masa kini itu marak dengan masalah emosional di masa dewasanya kelak. Mengapa demikian? Tidak hadirnya sosok ibu yang mendulangkah? Ibu masa kini justru dituntut berlari dari kemonotonan mendulang kasih demi mendekap kehidupan karir. Jabatan di kantor yang sebetulnya bisa tergantikan orang lain menjadi pilihan demi kenyamanan finansial. Padahal posisinya sebagai ibu di hati anak-anak di rumah tak tergantikan. Teringat kaleng biskuit Kong Guan sebagai cermin realitas sosial. Jikalau sosok ayah dimaafkan karena menghilang dalam biskuit kaleng yang legendaris itu, semata karena memang adalah tugas “agung”nya untuk mencari nafkah, lantas apakah kaleng biskuit masa kini pun harus kehilangan sosok ibu? Seruan hati sepi para bocah kini ternyata tak cuma merindukan ketidakhadiran sosok ayah, namun bocah masa kini pun kehilangan sosok ibu. Where have all the fathers gone? Menjadi pertanyaan zaman lampau. Yang kekinian adalah: Where have all the mothers gone? Demi penghasilan dari dua kepala, pertanyaan ini pun terangkum apik: Where have all the parents gone?

Jangan kaget jika kita menuai generasi yang anti otoritas, sebab anak-anak terbiasa dibesarkan sejak dini tanpa sosok otoritas yang hadir!

Pikiran pun membayangkan potret sosial dalam imaji kaleng biskuit yang dimutahirkan mengikuti zaman. Dua anak yang sedang makan biskuit sembari ditemani gawai menjadi ikon biskuit kaleng itu jikalau hendak  menyuarakan potret keluarga masa kini. Gawai (sedihnya!) telah menjadi pendamping tumbuh kembang anak-anak generasi Z. Walau tak bisa dipungkiri bahwa anak-anak zaman now masih membutuhkan para ibu yang mendulang. Anak-anak butuh kehadiran sosok ibu mereka di tahun-tahun usia emas.  Mengutip Molly Wigard dalam Terapi Bagi Ibu Yang Sibuk: Cintailah anak-anakmu. Karena cintalah yang berarti dan bertahan lama. (Wigard,2004: 38). Menjadi ibu yang seharian mengurusi anak-anak dan keluarganya adalah kemewahan yang tak dimiliki banyak wanita. Bersyukurlah jika kenikmatan ini termiliki dalam genggamanmu. Rumahmu bukanlah penjara tubuhmu, berada di rumah bersama anak-anak adalah suatu kenikmatan dan anugerah. Setiap sudut rumah punya cerita kasih sayang yang terukir di hati anak-anak. Pertanyaannya adalah: Siapa yang sedang mengukir di hati anak-anak itu? Tulisan ini ditutup dengan mengutip Harold B Lee  bahwa The most important work you and I will ever do will be within the walls of our own homes. Kiranya keluarga-keluarga tak kehilangan sosok ibu yang mendulang, dan biarkan anak-anak itu berlari.


Yunie Sutanto, @agendaiburumahtangga @agendasekolahrumah

Di Balik Senyum Ibu

Yulia Loekito

 Dalam linimasa dan sosial media kita melihat potret ibu dan bayi-bayi. Potret mengabarkan kelahiran, potret bisa juga memamerkan. Kadang kematian bayi-bayi yang gugur dalam kandungan juga diumumkan. Di sana kita juga tak jarang menyaksikan unggahan-unggahan foto tumbuh kembang anak-anak. Kebanyakan foto-foto dihiasi senyum atau tawa, walau ada pula unggahan-unggahan foto menunjukkan perjuangan keluarga dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Ibu-ibu dalam potret masa kini biasanya tersenyum. Berbeda dengan foto-foto dari masa lalu, kita jarang menemukan senyum.

Kita penasaran apa yang terjadi di balik foto-foto ibu penuh senyuman. Sandra Palupi dalam buku Serapah Ibu—Kumpulan Cerpen dan Puisi (2011) menggubah satu puisi menjawab penasaran. Kita serap: Belum selesai, masa nifas/butuh berhelai asa nafas/biar senyum ini panjang/dan selalu lapang/demi jaga anugerah/kedatangan bayi merah. Puisi tampak berkisah tentang bahagia ibu baru menimang bayi merah. Puisi bisa jadi jawaban terbentuknya senyum-senyum dalam foto. Tapi kita juga menyerap sebait beban dalam kalimat-kalimat. Kita tambah penasaran.

 Pada suatu masa aku pernah menggendong bayiku dengan muram, sangat muram walau aku mengunggah foto penuh senyum dan kalimat indah di linimasa. Ibu menjalani hari-hari tersiksa, pikiran penuh monster ketakutan yang punya kemampuan jadi raksasa hanya dengan satu pemicu kecil saja, seperti gagal membuat bubur untuk bayi. Bubur gosong bisa jadi sumber air mata yang tumpah ruah tak berkesudahan. Ibu terbelenggu perasaan-perasaan aneh tak masuk di akal.

Kita melanjutkan membaca puisi berjudul “Perempuan Bergelar Ibu”: Temani aku/kau yang memilih terpisah ranjang/karena tangisnya rusak mimpi-mimpi panjang/ dan segala gerak buatmu menceracau/Belai, jiwaku belailah/Daya dilubangi lelah, dihantui takut akan lalai. Baris-baris kalimat menyiratkan bahagia mulai surut, diganti lelah dan takut. Memang begitulah keadaan banyak ibu di balik potret-potret penuh senyum. Sekonyong-konyong peran baru tersemat padanya dengan berbagai tuntutan. Tuntutan bisa berasal dari luar dirinya, bisa pula dari dalam dirinya sendiri. Ibu-ibu berbekal macam-macam pengetahuan justru tak luput perkara tuntut-menuntut dari dalam diri.

Tuntutan bisa berasal dari luar dirinya, bisa pula dari dalam dirinya sendiri. Ibu-ibu berbekal macam-macam pengetahuan justru tak luput perkara tuntut-menuntut dari dalam diri.

Di sisi yang lain, pengetahuan bisa membuat ibu mengantisipasi banyak hal. Hal-hal buruk yang tak diharapkan tentunya. Pemahaman bisa jadi dorongan atau justru jadi pemicu kekhawatiran. Kita buka buku Misteri Jiwa dan Perilaku tulisan Inu Wicaksana (2018). Buku bercerita tentang sketsa kasus-kasus psikiatri. Orang-orang dengan gangguan jiwa. Di sana kita menemukan penjelasan-penjelasan tentang ibu. Kita simak, “Pemuda itu, sebagai anak bungsu, harus tumbuh sendiri karena bapaknya, yang bekerja sebagai sopir, jarang berada di rumah. Banyaknya stressor kehidupan yang harus dihadapi sendiri menjadi pencetus timbulnya gangguan jiwa berat. Setiap kali mondok di RSJ, pemuda itu terkenang dengan perhatian dan kasih sayang ibunya yang tak cukup didapatkannya. Namun, masa-masa bersama ibu menjadi kenangan indah baginya.” Peran ibu diterangkan dalam banyak literatur itu sentral, sangat penting. Perempuan bisa menganggapnya anugerah atau beban, bahkan pada saat bersamaan.

Kita baca kelanjutan penjelasan tentang hubungan si pemuda penderita gangguan jiwa berat dengan figur ibu. “Kasih sayang dengan figur ibu, basic trust, kemudian terputus lima tahun, sambung lagi beberapa tahun. Pada saat dia membutuhkan pujian, dukungan, perhatian untuk berkembang, kasih sayang itu hilang lagi. Jadilah ia seperti ini.” Di luar kuasanya, ibu dalam sketsa yang harus pergi ke luar negeri untuk bekerja menghidupi keluarga, menjadi sebab-musabab si anak terguncang jiwanya kelak di masa remajanya. Ibu beruntung tak harus menyaksikannya karena sudah tutup usia. Oh!

Kita lanjut membaca deret-deret puisi Sandra Palupi. Gelar ini sungguh berbeban/Ibu yang keibuan/Begitu tegar dan kukuh/asing dan membunuh/Tak mampu kukejar pagi/yang pergi/Tak mampu kutolak petang/yang datang/Aduh. Bagi beberapa orang gelar ibu mendatangkan beban, bisa jadi teramat berat. Memojokkannya dalam hari-hari muram alih-alih hari-hari penuh syukur dan suka cita akibat berkat kedatangan bayi. Decak heran barangkali cibiran mungkin saja ditelannya mentah-mentah dengan label tak mampu mengelola kondisi emosionalnya. Tapi Sandra Palupi tak mencibir. Kita baca baris akhir puisinya. Berhadapan dengan waktu/nyatanya aku/sekedar manusia. Kewajaran sebagai manusia lemah diakui Sandra Palupi dalam puisi, menjadi silih akan beban-beban terangkut oleh gelar Ibu.

Kesan berbeda kita maknai ketika mendengar lagu Bunda-nya Melly Goeslow. Lagu sangat enak di telinga bercerita tentang Ibu dari sudut pandang anak. Kata mereka diriku s’lalu dimanja/Kata mereka diriku slalu ditimang/Nada nada yang indah/S’lalu terurai darinya/Tangisan nakal dari bibirku/Takkan jadi deritanya/Tangan halus dan suci/T’lah mengangkat diri ini/Jiwa raga dan seluruh hidup/Rela dia berikan. Ibu tergambar sempurna, kuat juga suci. Lagu seperti potret ibu-ibu tersenyum, sementara di balik itu, sesungguhnya Ibu hanya berusaha bertahan, belajar menjadi lebih baik, dan menerima berbagai kelemahan-kelemahan diri. Barangkali dari situlah kekuatan itu didapatnya.


Yulia Loekito, pecinta buku anak.

http://lialoeferns.blogspot.co.id/

Depresi

Yunie Sutanto

Depresi tak pernah memilih: kaya miskin, muda tua, tampan buruk rupa, kurus gemuk, ekstrover introver, semua bisa mengalaminya. Bedanya adalah cara kita dalam mengalami depresi. (Regis Machdy, Loving The Wounded Soul, 2019)

BULAN Oktober diperingati sebagai bulan kesehatan mental. Tepatnya 10 Oktober setiap tahun seluruh dunia merayakan kesehatan mental.  Mens sana in corpore sano menjadi ungkapan Latin kuno yang menyuarakan bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Sehat itu holistik. Hubungan pikiran dan tubuh menjadi semakin terbukti oleh riset kekinian. Ternyata tak hanya fisik yang perlu dijaga agar sehat dan bebas penyakit, jiwa pun perlu diperhatikan agar waras dan bebas penyakit. Dalam budaya masyarakat Indonesia, stigma yang melekat pada penderita penyakit jiwa sangatlah negatif. Orang Indonesia merasa terhormat jika tubuhnya sakit dan berobat ke dokter, namun akan merasa sangat malu jika ketahuan sedang berobat ke dokter jiwa. Ada sanksi sosial yang masih berlaku secara tak tertulis bagi pengidap sakit jiwa. Orang pun memilih diam saat merasa jiwanya sakit. Berobat karena sakit jiwa dianggap tabu dan tak terhormat.

Regis Machdy sangat paham, dengan membagikan kisahnya mengalami depresi dalam buku Loving The Wounded Soul, ia harus siap menerima stigma dan hujatan khalayak. Stigma sebagai “orang depresi”, “cowo lemah”, “cari perhatian” dan bahkan “kurang ibadah”  tak menghentikannya untuk tetap membagikan kondisi batinnya yang depresi. Buku teranggap menarik dibaca dan dimiliki sebab ditulis oleh seorang mahasiswa jurusan S1 psikologi dan S2 jurusan kesehatan mental yang memahami sisi ilmiah kejiwaaan manusia. Dari sisi lain, penulis pun mengalami sendiri perjalanan berjuang keluar dari kondisi depresi. Istilah ilmiah yang bertaburan di halaman-halaman buku pun terimbangi curhat colongan tangan pertama dengan pembahasaan yang ringan dan membumi. Buku ini rasanya pas ternikmati sebagai bacaan santai. Keberanian Machdy menuturkan kisahnya di buku ini sangatlah menginspirasi! Satu orang penderita yang berani angkat suara ternyata memberikan keberanian pada penderita lain untuk juga bersuara! Edukasi publik dan kesadaran publik pun bisa semakin terbangun terkait kesehatan mental.

Satu orang penderita yang berani angkat suara ternyata memberikan keberanian pada penderita lain untuk juga bersuara! Edukasi publik dan kesadaran publik pun bisa semakin terbangun terkait kesehatan mental.

Penderita depresi seringkali terikat dengan kondisi pikiran kehilangan makna hidup. Orang depresi memiliki lensa negatif dalam memandang dunia.  Mereka seolah terpernjara dalam labirin pikiran negatif dan traumatis. Mereka sulit untuk move on dan let go. Respons mereka terhadap tekanan hidup lebih sensitif sehingga secara mental sangat rapuh. Dalam buku Mommy Brain disebutkan bahwa beberapa bentuk sindrom baby blues atau stres pascapersalinan mempengaruhi sampai 80% ibu baru dalam jam-jam atau hari-hari pertama setelah melahirkan. Sekitar 10% kaum ibu menderita depresi pascamelahirkan yang lebih ekstrem, yang berlangsung lebih lama dan lebih intens (Katherine Ellison,2011:29). Depresi itu tak pandang bulu, bisa menyerang siapa saja. Yang lebih mengerikan , si penderita pun acapkali tak mengetahui ia terjangkit. Tak heran depresi teranggap sebagai salah satu silent killer.

Depresi itu tak pandang bulu, bisa menyerang siapa saja. Yang lebih mengerikan, si penderita pun acapkali tak mengetahui ia terjangkit. Tak heran, depresi teranggap sebagai salah satu silent killer.

Berita selebritis yang bunuh diri karena ternyata diam-diam mengidap depresi sudah cukup marak menghiasi laman infotainment mancanegara. Beberapa di antaranya, Aktor Robin Williams, vokalis Linkin Park Chester Benington, penyanyi K-Pop Jong Hyun, dan Chef Anthony Bourdain. Menurut Regis Machdy, secara statistik perempuan memang lebih rentan mengalami depresi. Namun, penelitian selama 50 tahun membuktikan bahwa jumlah laki-laki bunuh diri lebih banyak dibandingkan perempuan. (2019: 77). Deretan nama tersebut mungkin tak disangka-sangka oleh publik sebagai para penderita depresi. Pria-pria macho yang sama sekali tidak terkesan lemah pun ternyata bisa terserang depresi. Mereka dikenal sukses secara karier dan tampak bahagia. Apa yang membuat mereka berada dalam lembah depresi? Tuntutan masyarakat agar pria tidak cengeng mungkin berperan. Pria tumbuh menekan sisi emosional dirinya dan cenderung tidak berbicara perihal perasaan. Saat ternyata mengalami depresi berlarut-larut pun, pria akan cenderung menutup diri dan  akhirnya terlambat ditangani. Bunuh diri menjadi tindakan yang dipilih sebagai jalan keluar.

Depresi itu salah satu penyakit yang tidak bisa diabaikan dan dianggap remeh. Beberapa penelitian menemukan bahwa pasien dengan gangguan depresi mayor mengalami penurunan volume hipokampus sebesar 8-19%. Oleh karena hipokampus adalah bagian otak yang terkait dengan memori, tak heran jika penderita depresi seringkali mengalami distorsi memori. Penderita hanya bisa mengingat hal-hal yang bersifat emosional. Memori dan emosi memanglah sangat berkaitan karena memori yang memiliki nuansa emosi akan memudahkan manusia dalam mengingat kembali. Penderita cenderung memutar ulang bagian memori yang berkaitan dengan emosi tertentu, seperti kehilangan orang yang dikasihi karena meninggal, trauma kecelakaan dan kejadian traumatis lainnya.

Bagaimana agar tidak terjebak dan tersesat dalam labirin depresi? Perlu tekad kuat untuk belajar terus dan mematahkan lingkaran pola pikir negatif yang memenjarakan jiwa seorang penderita depresi! Serotonin si hormon bahagia dianggap berpengaruh dalam menentukan kestabilan jiwa seseorang. Orang yang depresi ternyata memiliki kadar serotonin rendah dan pemberian antidepresan diharapkan memicu produksi serotonin. Kembali mengutip Machdy dalam halaman 141 buku ini: untuk penggunaan jangka pendek, antidepresan memang mambantu orang yang mengalami depresi (hanya depresi, bukan bipolar, borderline personality, schizoid personality, dll). Namun, untuk benar-benar pulih dari depresi dibutuhkan terapi dengan psikolog dan membantu diri sendiri dengan  membaca buku-buku self-help. Hanya bergantung pada obat antidepresan semata tak menjamin bebas dari kambuhnya depresi. Salah satu buku self-help yang melatih detoks pikiran selama 21 hari untuk memutuskan rantai pikiran salah adalah Switch On your Brain, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Aktifkan Otak Anda karya Dr. Caroline Leaf. Banyak pola pikir beracun yang harus dibuang dari cara berpikir kita. Terus melatih diri untuk lebih terbuka dan sehat secara emosional akan menjadi benteng pertahanan terhadap muncul dan kambuhnya depresi. Memiliki kelompok kecil sahabat-sahabat yang bersedia untuk saling berbagi cerita tanpa penghakiman adalah suatu harta tak ternilai. Tak perlu ribuan “teman” di Facebook, cukup beberapa sahabat sejati yang menerima diri kita apa adanya. Itulah obat depresi yang manjur.

Memiliki kelompok kecil sahabat-sahabat yang bersedia untuk saling berbagi cerita tanpa penghakiman adalah suatu harta tak ternilai. Tak perlu ribuan “teman” di Facebook, cukup beberapa sahabat sejati yang menerima diri kita apa adanya. Itulah obat depresi yang manjur.

Adanya keterkaitan antara depresi dan kesehatan mikroba di usus juga tak bisa diabaikan begitu saja. Sistem pencernaan kita adalah otak kedua demikian kata Michael Gershom dalam The Second Brain. Mengapa demikian? Selain mengatur imunitas, ternyata bakteri baik di dalam saluran pencernaan manusia merupakan pemasok 95% serotonin dalam tubuh! Serotonin, si hormon bahagia, ternyata dipasok oleh kawanan bakteri baik yang disebut juga probiotik di dalam saluran cerna. Manusia zaman kuno memang lebih bijak soal urusan makanan. Makanan fermentasi seperti tempe, kimchi, sauekraut, kombucha , yoghurt, acar  dan masih banyak lagi ternyata mengandung prebiotik tinggi yang menjadi makanan para bakteri baik dalam usus. Jadi, keterkaitan tubuh dan pikiran memang erat. Sejak dahulu kala, makanan kita menentukan sehatnya tubuh dan jiwa kita. Pilihan ada di tangan kita untuk menjaga tubuh seprima mungkin selagi masih hidup. Pilihlah kehidupan, bukan kematian!


Yunie Sutanto, ibu dua anak yang suka menulis

 @agendasekolahrumah @agendaiburumahtangga

Novel dan Nostalgia Bahasa

Yulia Loekito

BARU-BARU ini, Randu (10 tahun) nyerocos terus ngajak ngobrol tentang istilah-istilah ajaib—bagi telinga mamanya—yang baru ia pelajari. 

“Mah, tau nggak apa itu GG?” 

“Hah! Apa itu?” 

“GG itu artinya good game. Itu buat nyindir antargamer gitu, lho. Kalau mau memuji gamer lain itu bilangnya GGWP,  good game well played, ” begitu jelasnya panjang lebar berapi-api. Randu mengungkapkan betapa senangnya ia bisa paham arti istilah-istilah yang sering digunakan para gamer itu. 

Walah, mama melongo takjub sekaligus berusaha mencerna. Mama sudah agak terbiasa dengan istilah pro, yang berarti sudah jago mainnya atau noob, yang berarti masih amatiran. Istilah-istilah itu sering dipakai Randu dan anak-anak lain waktu ngobrol tentang game daring. Tapi, GG dan GGWP itu sama sekali baru. Kira-kira proses serupa dirasakan mama beberapa tahun lalu saat menerima kata-kata kepo, baper, dan sejenisnya. Sampai akhirnya cukup fasih menggunakannya saat ngobrol dengan yang lebih muda. 

Eh! Tapi, mama sering keceplosan ngomong kata-kata yang igunakan genarasi 90-an: kece, mejeng, atau ngeceng. Kalau sudah begitu, giliran Randu atau teman-teman yang lebih muda bengong dan minta penjelasan. Di saat-saat seperti itu pecahlah tawa dengan komentar standar: “Nah, ketahuan umurnya, kan!” Bahasa bisa jadi penanda generasi-generasi. 

Kita jadi kangen saat membaca novel berjudul Vanya Kenduri Karet (1994) gubahan Hilman dan A Mahendra. Vanya  tak sepopuler Lupus atau Olga tapi tak kalah gokil dan bikin ngakak. Sayang sekali, kalau buku Vanya belum pernah terbaca. Buku patut masuk daftar nostalgia bermakna pencipta senyum dan gelak tawa. Generasi 90-an pasti cengar-cengir senang waktu membaca kata-kata dalam novel. Kita nikmati: “’Kamu, Dan? Mau bela-belain ke Taman Lalu Lintas buat ngecengin bayi?’ tanya Vanya terbelalak.” Dan ini: “Setelah itu Dani sibuk memberikan pengumuman ke seluruh anak kos mengenai rencana ngeceng massal di Taman Lalu Lintas. Tentu saja cewek-cewek centil itu langsung berteriak-teriak histeris kayak mau jumpak Michael Jackon.” 

Hari ini kita lebih sering mendengar kata nongkrong atau nongki dibanding ngeceng atau mejeng. Juga kata imut atau kiyowo—dari bahasa Korea—lebih sering terdengar daripada centil. Ah! Begitu dinamisnya bahasa, selain penanda, bahasa juga bisa jadi jembatan nostalgia yang magis. Oh, lha! Tentu bukan cuma itu. Bahasa tentu sangat bisa jadi tombol mesin waktu melacak sejarah. Kita simak lagi kutipan seolah ringan dari Vanya: “Tiba-tiba matanya berbinar-binar gembira setelah meneliti kalimat yang dibuat Vanya ternyata nggak diberi titik. Mulailah dia berkhotbah panjang-lebar mengenai titik. Yus Badudu aja lewat!” 

Aha! Yus Badudu disebut dalam novel. Kita jadi ingat betapa besarnya kiprah JS Badudu dalam sejarah bahasa Indoesia. Dalam majalah Intisari terbitan 1980-an, JS Badudu tak pernah absen menulis rubrik Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Selain bicara soal kosakata, kalimat yang benar, JS Badudu juga menulis tentang asal-usul kata serta pendapatmya tentang itu. Kita serap tulisannya pada majalah Intisari terbitan Juni 1985: “Bahasa Indonesia dewasa ini tidak lagi sama benar dengan bahasa Melayu asalnya. Banyak perubahan yang terjadi di dalam bahasa itu dibandingkan dengan bahasa asalnya. Jika diteliti kamus bahasa Indonesia yang ada dewasa ini kemudia kita hitung berapa jumlah kata yang asli Melayu dan berapa jumlah kata yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing, mungkin kita akan terkejut bila mengetahui bahwa jumlahnya mungkin sudah berbanding 1:1 dan jumlah kata yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa  asing makin lama akan bertambah besar, sedangkan dari bahasa Melayu boleh dikatakan tidak bertambah lagi.”  Wuih! Ya, memang benar begitu. Setidaknya, hari ini kita menjadi saksi betapa kosakata dan pemakaiannya berkembang begitu rupa dengan berbagai macam konsekuensi dan kerumitannya. Kita tak menyangka satu kalimat tentang Yus Badudu dalam novel Vanya bisa jadi pemantik berbagai pemikiran, kesadaran tentang dinamika bahasa, juga nostalgianya. 

Hanyut dibawa nostalgia oleh tulisan Hilman dan A Mahendra dalam Vanya, kita jadi tergoda menilik buku Generasi 90-an susunan Marchella FP ( 2015). Dalam buku yang memang dibuat untuk tujuan nostalgia kaum 90-an itu kita juga menemukan nostalgia bahasa. Kita baca: “Di era ini banyak tercipta bahasa dan becandaan yang sering dipake buat komunikasi sehari-hari, mungkin beberapanya sisa bawaan generasi 80-an. Misalnya aja yang diselip huruf ‘OK’ semacem Bokap, Nyokap, Boil, Spokat, dkk.” Juga ada ada daftar pendek Singkatan dan Becandaan 90-an  yang bikin generasi 90-an pembaca Lupus, Olga, dan Vanya senyam-senyum nggak karuan. “Dapat salam dari Eda …! Eca siapa?! E … ca … pedeh …’” atau “’Ah dasar Bimoli’ (Bibir Monyong 5 centi).” 

“Hayo, Randu! Mama juga lumayan ‘kan! Walaupun baru berkenalan dengan GG, GGWP juga OP (Over Power), koleksi kosakata mama lebih bervariasi dari kosakata gamer-mu.” Kalau mama bilang begini, mungkin Randu hanya akan mengangkat alis sebentar, lalu berlalu pergi sambil bilang, “Ah, Mama ini ….”   


Yulia Loekito, penulis tinggal di Jogjakarta

Masa Lalu, Tragedi …

Yunie Sutanto

Kembali kepada Kapiten Nie Hoe Kong yang bernasib malang. Sebetulnya Nie Hoe Kong menjadi beken dalam sejarah kapiten Cina di Batavia justru karena kejadian “pembantaian Cina” tersebut. Pemerintahan VOC menganggap Nie Hoe Kong bertanggung jawab atas kejadian yang menghebohkan seantero negeri. (B Hoetink, Nie Hoe Kong: Kapiten Tionghoa di Betawie dalem Tahon 1740,  2007)

BUKU ini membawa pembaca melintas masa ke Batavia abad ke-18. Di halaman 11, terlihat dua buah gambar yang bisa membawa pembaca melintas masa. Gambar di bagian atas tampak pemandangan dari laut kota Batavia pada 1726, beberapa tahun sebelum terjadinya peristiwa berdarah Oktober 1740. Gunung Gede dan Gunung Salak terlihat jelas dari pelabuhan dengan mata telanjang menyerupai gambar latar kota Batavia. 

Foto amatir dari kamera HP  yang diunggah seorang netizen di Jakarta juga menampilkan dua gunung ini, masih terlihat berdiri menjadi latar belakang kota Jakarta. Masih bisa dilihat dengan mata telanjang walau harus dari ketinggian, itu di wilayah Jakarta Pusat. Jika dari pelabuhan, niscaya dua gunung tak tampak, tertutup gedung-gedung tinggi yang sudah memenuhi Jakarta. Foto beredar di grup-grup WA warga penghuni apartemen. Foto diambil dari ketinggian lantai 20 balkon apartemen di area Kemayoran yang menghadap ke selatan. Dua gunung ini tetap agung berdiri, seolah menjadi saksi bisu yang terus menyaksikan perkembangan kota yang Jakarta dari abad ke abad. 

Gambar di bagian bawah melukiskan kehidupan masyarakat Cina di Batavia pada abad ke-18 . Buku kecil ini diterjemahkan dari artikel berbahasa Belanda ke dalam bahasa Melayu oleh Liem Koen Hian untuk membeberkan peristiwa 1740. Pembaca diajak memiliki pengalaman membaca sebuah buku dalam ejaan kuno yang (ternyata!) memiliki kenikmatannya tersendiri. 

Jabatan kapiten bukanlah jabatan enteng. Souw Beng Kong, yang dikenal sebagai orang Cina pertama di Batavia yang beroleh gelar Kapiten Cina, contohnya. Berkat kemampuan gaulnya, ia menjadi sahabat baik Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Makamnya di Gang Taruna, Kampung Mangga Dua pun masih dijadikan tempat ziarah hingga hari ini. Syarat menjadi kapiten adalah serupa dengan syarat menjadi wedana pada abad ke-18 yakni harus kuat secara materi, bisa bergaul multikultural dan memiliki latar belakang keluarga yang disegani golongannya. 

Phoa Beng Goan, kapiten kedua Tionghoa pun tercatat sebagai pembangun sodetan kali Ciliwung yang hingga kini masih terlihat ada di Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Jabatan kapiten teranggap bergengsi sebagai kepala golongannya. Setiap golongan memiliki kapitennya masing-masing. Cara ini memang salah satu bagian dari dijalankannya politik divide et impera oleh Belanda. Masa itu penduduk Batavia dikelompok-kelompokkan menurut ras dan golongannya. Ada kapiten mewakili suku Arab, pribumi dan Portugis. Tempat bermukim pun diatur sesuai golongannya oleh pemerintah Belanda. Tak heran jika hingga kini masih tersisa jejak peninggalannya berupa Kampung Arab di kawasan Condet dan Kampung Portugis di kawasan Tugu. Pecinan ada di kawasan Glodok dan Mangga Dua. Cara memecah-mecah rakyat jajahan ini terbukti ampuh bagi penjajah. 

Tak heran jika hingga kini masih tersisa jejak peninggalannya berupa Kampung Arab di kawasan Condet dan Kampung Portugis di kawasan Tugu. Pecinan ada di kawasan Glodok dan Mangga Dua. Cara memecah-mecah rakyat jajahan ini terbukti ampuh bagi penjajah.

Di antara 21 kapiten yang pernah menjabat di Batavia, nasib Nie Hoe Kong paling tragis. Tragedi kerusuhan dan pembantaian berdarah orang Cina di bulan Oktober 1740 terjadi di masa jabatannya. Ia pun dianggap bertanggung jawab sebagai kepala suku dari orang Cina. Nie Hoe Kong adalah putra sulung Letnan Ni Locko. Ia dilahirkan di Betawi sekitar tahun 1710, menjadikannya sebagai seorang peranakan Tionghoa di Nusantara. Ia menduduki jabatan kapiten, 11 September 1736, hanya empat tahun sebelum peristiwa pembantaian.  

Adanya pertemuan gelap para pemberontak di ladang miliknya di daerah Bekasi serta keterlibatan kakak iparnya dalam pemberontakan yang coba dilakukan para kaum Tionghoa memberatkan tuduhan padanya. Padahal, yuridiksinya sebagai opsir Tionghoa hanya dalam tembok kota, bukan di luar tembok kota. Jika para pemberontak Tionghoa tinggal di luar tembok kota, tentunya bukan berada dalam wewenang sang kapiten. Nie Hoe Kong dan para Tionghoa yang dibantai di dalam tembok kota menjadi tumbal amarah khalayak. Ibarat peribahasa yang mengatakan karena nila setitik maka rusak susu sebelanga. Ulah beberapa penjahat Tionghoa membuat semua warga Tionghoa terkena dampaknya. 

Meski Nie Hoe Kong ditangkap dan disiksa berat, ia tetap menolak mengaku terlibat dalam perkara tersebut. B Hoetink, penulis artilel yang dibukukan ini, memang pernah bertugas sebagai pejabat Kompeni yang menangani urusan Cina di Hindia Belanda. Hoetink menuliskan betapa pengadilan atas Nie Hoe Kong berjalan amat bertele-tele. Tiga tahun persidangan barulah keputusan pengadilan keluar. Terbaca di halaman viii bahwa pada 22 Mei 1744, ia dijatuhi hukuman buang (deportasi) ke Sri Langka. Hukuman buang selama 25 tahun tersebut dianggap sangat terhina bagi seorang mantan kapiten. Harta yang disita darinya pun dikembalikan setelah dikurangi ongkos pengadilan sebesar 16,000 real. 

Keberatan diajukan oleh Nie Hoe Kong didengarkan dan hukuman buang pun dipindah ke Ambon. Anak dan istrinya diperbolehkan ikut ke Ambon. Banyak pula orang Tionghoa yang rela ikut bersamanya dalam pembuangan ke Ambon. Pada tanggal 12 Februari 1745, dengan kapal “de Pallas” mereka berangkat menuju pembuangan. Tak lama dalam pembuangan, tepatnya 25 Desember 1746, Nie Hoe Kong meninggal. Tidak jelas dimana letak makamnya ataukah abunya hingga hari ini.


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta

Yang Membaca

Yunie Sutanto

PADA 1940, terbit buku tentang membaca.  Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan PT Indonesia Publishing, 2007. Gus Dur menuliskan kata pengantar dari buku tersebut. Buku berjudul How To Read A  Book: The Classical Guide to Intelligent Reading susunan Mortimer J. Adler dan Charles van Doren menjadi buku yang kita diperlukan karena memampukan kita mendalami berbagai masalah secara berimbang, demikian penjelasan Gus Dur. 

Mengapa seorang pembaca kelas berat macam Gus Dur bisa merekomendasikan sebuah buku tentang membaca terbitan tahun 1940? Buku lawas masihkah relevan? Kita dibawa untuk bertanya-tanya apa isi buku tersebut. Kita bisa saja berpikiran buku tersebut sejenis buku babon tentang membaca. Tentunya bukan tentang cara mengajar mengeja untuk anak prasekolah. Mungkinkah dalam buku tersimpan jurus sakti, bagaimana cara membaca yang baik dan benar? Rasa heran bertambah karena buku dilaporkan terus bertahan di puncak tangga buku laris nasional di Amerika Serikat selama lebih dari setahun sejak pertama kali diterbitkan. Buku pun terus dicetak ulang hingga hari ini dalam berbagai bentuk cetakan dan diterjemahkan dalam pelbagai bahasa. 

Jika kita berpikiran memberantas buta huruf itu bisa mengentaskan kebodohan, pandangan ini sepertinya hanya seperempat benar. Banyak pelajar yang cakap mengeja dan membaca dengan fasih tetapi (ternyata) gagal memaknainya. Jim Trelease dalam The Read-Aloud Handbook (2017) menuliskan bahwa membaca adalah jantungnya pendidikan. Pengetahuan dari hampir semua mata pelajaran di sekolah mengalir dari membaca. Masalahnya, sekalipun seseorang mungkin tahu cara teknis membaca, tapi apakah ia sudah membaca dengan baik dan benar? Pengetahuan tidak berbanding lurus dengan pemahaman. Banyak siswa mengalami kesulitan belajar di sekolah dasar dan menengah karena mereka tidak bisa menangkap intisari sebuah tulisan. Murid harus mampu membaca soal cerita dalam pelajaran matematika untuk bisa memahaminya, kemudian menganalisis dan mengerjakannya. Ada banyak tahapan membaca yang harus dikuasai di sini.

Menurut Adler dan Van Doren, ada empat level membaca: membaca dasar, membaca inspeksional, membaca analitis, dan membaca sintopikal.  Jika melihat kasus siswa yang berkesulitan belajar, umumnya mereka bisa membaca tahap dasar tapi level membacanya  berhenti di tahap membaca inspeksional saja. Diperlukan tahap analitis untuk sampai pada memaknai bacaan. Keterampilan membaca analitis inilah yang harus diasah agar pemahaman kita bisa meningkat dari buku-buku yang dibaca. Tentunya kita sering mendengar celetukan: “Sudah lupa karena ilmunya sudah dibalikin ke gurunya.” Itu canda para siswa seusai ujian jika ditanya perihal materi ujian bersangkutan. Memang demikianlah, jika kita membaca hanya demi lulus ujian. Kita rugi besar karena kehilangan kesempatan memaknai lebih dalam dan kehilangan kenikmatan dari membaca itu sendiri. 

Membaca yang baik bukanlah pembaca pasif yang sekadar menikmati saja sebuah buku. Tidak ada yang salah dengan menikmati sebuah buku fiksi untuk tujuan hiburan. Namun untuk mendapatkan pemahaman dari buku-buku yang kita baca, butuh upaya lebih. Terbaca dalam halaman 421, Adler dan Van Doren menuliskan: “Membaca dengan baik, yang berarti membaca secara aktif, bukan hanya berguna dalam membaca, ia juga bukan sekadar cara meningkatkan pekerjaan atau karier kita. Ia juga berfungsi menjaga pikiran kita tetap hidup dan bertumbuh!” Pikiran yang terus membaca dan terus belajar ternyata memperpanjang usia. Rasa tak berdaya yang kerap menjadi sumber stres para pensiunan dan kaum lanjut usia ternyata tidak menyerang mereka yang terus belajar sepanjang hidup. Orang-orang terus belajar ini membaca dan bertumbuh dalam pikiran mereka. Semangat hidup untuk membaca dan mempelajari hal-hal baru membuat mereka tetap menemukan arti hidup di usia yang tak lagi produktif. Jim Trelease pun menuliskan dalam The Read-Aloud Handbook: “Membaca adalah sabuk umur panjang…. Para peneliti Alzheimer menemukan sesuatu yang mereka sebut efek kekebalan tubuh dari pengalaman membaca sejak kecil dan pengembangan kosakata.” Ternyata, rahasia berumur panjang itu tak jauh dan tak mahal. Hanya sejauh buku!

Ternyata, rahasia berumur panjang itu tak jauh dan tak mahal. Hanya sejauh buku!

Membaca adalah sebuah aktivitas sehingga rasanya mustahil bagi seorang pembaca untuk tidak aktif menggunakan mata dan pikirannya. Sesungguhnya membaca pasif itu tidak mungkin terjadi. Yang ada hanyalah si pembaca saja yang kurang aktif dalam membaca. Semakin baik seseorang membaca, ia akan lebih menuntut kepada dirinya sendiri dan kepada teks yang ia baca. Ia akan semakin meningkat dalam pemahamannya akan konteks bacaan dan semakin bisa merelasikan dengan berbagai hal yang sudah ia ketahui. Sebuah buku menjadi keharusan untuk termiliki di rak jika buku itu menimbulkan keinginan pembaca untuk terus kembali mengunjunginya. Buku susunan Adler dan Van Doren ini merupakan salah satu  buku yang membuat kaum pembaca akan terus bertanya.


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta 

Tak Sia-sia

Yulia Loekito

Ada banyak orang di dunia ini yang hidup hanya ikut saja arus gerakan yang mendorongnya ke kanan atau ke kiri karena hal itu paling mudah dilakukan dan tidak memerlukan banyak tenaga. Keberanian untuk menentukan sikap dan tidak mengikuti arus adalah modal utama untuk menjadi seimbang. Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh mana kamu bisa bergerak untuk tidak malah menjadi penyebab ketidakseimbangan baru.”  (BB Triatmoko, Antara Kabut dan Tanah Basah, 2005)

BARU-BARU ini seorang penatua dari tempat ibadah memberi nasihat pada seorang anak. Isi nasihatnya standar: “Rajin belajar dan rajin berdoa.” Rajin belajar biasanya berhubungan dengan masa depan. Kalau dipanjangkan, rajin belajar itu supaya pintar, sekolah tinggi, dan mendapat pekerjaan bagus, supaya masa depan kelak bahagia. Rajin berdoa biasanya berhubungan dengan kesalehan, jauh dari dosa dan api neraka. Demikianlah arus kehidupan—umumnya urban—mengalir. 

Arus itu menarik manusia-manusia untuk hanyut dengan dalih agar tak celaka. Manusia berpedoman nasihat dan mengikuti arus tanpa memperhatikan ke mana arahnya. Umumnya dengan pola: sekolah, bekerja, berkeluarga, mengumpulkan uang, punya rumah, punya kendaraan, menikahkan anak, dan menjadi tua. Kejanggalan-kejanggalan muncul dalam berjalannya pola. Bekerja bisa dianggap sarana mengumpulkan rezeki material semata. Proses pengenalan dan penemuan diri seringnya terabaikan bahkan terlupakan, berakibat hidup sia-sia belaka disadari menjelang sakratul maut. Tak heran Rama Bargawa, brahmana yang dipilih Dewabrata menjadi gurunya, berkomentar tajam tentang Bupati Danureja yang culas: “’Percuma kamu lakukan itu. Orang-orang seperti bupati itu adalah orang-orang yang sudah membusuk dari dalam. Kalau tanaman sudah membusuk, tidak ada gunanya diberi pupuk atau diairi lagi. Satu-satunya cara adalah mencabut sampai akarnya dan dibuang.’” 

Manusia hidup mengikuti arus berisiko pula mengabaikan hal-hal sederhana, hal-hal kecil menurut pemahaman kolektif. Hal-hal tak menunjang kesejahteraan hidup secara material, kenaikan jabatan, atau pencapaian keluarga biasanya dianggap remeh. Memasak, mencuci baju, atau membuatkan segelas teh untuk anak-anak di rumah seringnya dianggap kegiatan tak terlalu berguna dibanding menyelesaikan pekerjaan di kantor atau membuat karya untuk dipublikasikan. Untuk anak-anak, orangtua mengutamakan sekolah, belajar pelajaran sekolah, atau ilmu pengetahuan. Kesadaran anak-anak untuk ikut menjaga kebersihan rumah, memperhatikan lingkungan, memperhatikan cicak makan laron, sering dinomor sekiankan setelah PR, tugas, atau ulangan dari sekolah. Ah! Maukah kita mengakui kalau kita memang hanyut terbawa arus? Seberapa banyak dan dalam manusia memiliki kesadaran? 

Untuk anak-anak, orangtua mengutamakan sekolah, belajar pelajaran sekolah, atau ilmu pengetahuan. Kesadaran anak-anak untuk ikut menjaga kebersihan rumah, memperhatikan lingkungan, memperhatikan cicak makan laron, sering dinomorsekiankan setelah PR, tugas, atau ulangan dari sekolah. Ah! Maukah kita mengakui kalau kita memang hanyut terbawa arus? Seberapa banyak dan dalam manusia memiliki kesadaran?

Pengenalan dan penemuan diri, kesadaran, perutusan ditemukan bukan dalam balutan agama. Berbagai macam keutamaan dapat diserap dari berbagai macam sari-sari ajaran. Kisah Dewabrata diambil dari epos pewayangan dengan latar belakang Hindu, dalam buku ini justru dituturkan dalam balutan ajaran Budhisme. Penuturnya sendiri berlatar belakang Nasrani. Kemudian ditemukan hal-hal sederhana yang justru dalam arus hidup sehari-hari luput dari penghayatan manusia-manusia beriman. Kita serap: “Di dalam kehidupan ini sebuah jiwa hanya perlu untuk belajar mengenal siapa dirinya sesungguhnya, dan dengan itu menemukan untuk apa dia hadir pada tempat dan waktu tertentu ini ….  Beberapa tahun berlalu tanpa terasa. Selama itu Dewabrata berlatih untuk mengenali siapa dirinya sesungguhnya. Dia berdamai dengan masa lalunya. Dia menerima kelemahan dan keterbatasan dalam dirinya.” 

Tak diceritakan Dewabrata menapaki jenjang karirnya untuk jadi Raja Astinapura, tapi pengembaraannya menemukan bunga utpala biru perlambang cinta. Kehidupan tak sejalan dengan arus hidup manusia pada umumnya, tak ditemui kemapanan jasmani di sana, justru kesulitan-kesulitan dan duka. Segala macam kewajaran dipertanyakan. Selain para rohaniwan atau filsuf atau bahkan orang-orang dengan nasib yang dianggap buruk berbalut nestapa, seberapa banyak dari kita hidup di masa kini, secara sadar mencoba menemukan diri dan mencari tahu untuk apa kita ada hari ini? Sungguhkah rajin belajar dan rajin berdoa itu rumus yang paling tepat? 

Salah satu kisah dalam buku Doa Sang Katak 1 (Anthony de Mello, SJ, 1990) bercerita tentang seorang ahli bedah di Wina yang mengajari mahasiswanya dua hal penting: bebas rasa muak dan kemampuan mengamati. Si ahli bedah mencelupkan jari ke dalam cairan memuakkan dan menjilatnya. Para mahasiswa mengikutinya. Paragraf terakhir kisah berisi komentar si ahli bedah: “’Saudara-saudara kuucapkan selamat, karena lulus ujian pertama. Tetapi sayang, belum yang kedua, sebab tidak satu pun dari kalian memperhatikan, bahwa jari yang kujilat tadi bukan jari yang kumasukkan dalam cairan.’” Kebanyakan, manusia-manusia memang tak punya maksud-maksud buruk pada awalnya. Namun, belenggu arus yang mengikatnya sering juga bisa mengurangi kemampuan mereka mengamati, sehingga waton anut grubyuk tanpa banyak pikir. Pikiran juga banyak terpusat pada “hal-hal besar” yang semu dibanding hal-hal sederhana tapi nyata. 

Kebanyakan, manusia-manusia memang tak punya maksud-maksud buruk pada awalnya. Namun, belenggu arus yang mengikatnya sering juga bisa mengurangi kemampuan mereka mengamati, sehingga waton anut grubyuk tanpa banyak pikir. Pikiran juga banyak terpusat pada “hal-hal besar” yang semu dibanding hal-hal sederhana tapi nyata.

Ah! Kita semua mengambang di aliran yang sama. Hanya saja kita boleh memilih mau hanyut ikut arus begitu saja atau tidak. Tak ada salahnya, tak ada ruginya setiap waktu kita menepi untuk duduk sejenak, mengamati, melakukan hal-hal sederhana dengan penuh ikhlas dan gembira, sehingga ketika arus jadi deras karena banjir bandang kita tidak kebingungan lalu hanyut. Dengan begitu, perjalanan ini tidak sia-sia bila kelak telah mencapai ujungnya. 


Yulia Loekito, Penulis tinggal di Jogjakarta

Terpikat dan Terwujud

Bandung Mawardi

IA terpikat filsafat. Pikiran lekas mengembara dan “nakal”. Ia telah mengerti dan paham Aristoteles. Hari-hari di rumah digunakan untuk membuat lelucon murahan dan mencipta penghiburan dengan filsafat. Semula, kehadiran di filsafat adalah pelajaran untuk laki-laki, bukan perempuan. Ia terpikat saja, terseret jauh.

Bocah perempuan bernama Alesandra Gilani mudah mengucap nama-nama pemikir. Ia mengingat sekian pemikiran untuk dikagumi. Tokoh-tokoh dari masa silam berdatangan. Perkenalan-perkenalan di rumah, belum di sekolah. Si bocah memang mengerti perhitungan nasib: tak mudah direstui bersekolah atau mengikuti petunjuk-petunjuk diberikan para filosof dalam mengerti dunia. Ia di rumah saja berdalih kepantasan akibat kolot-kolot tersisa di peradaban Barat.

Ia masih beruntung. Bapak mencari nafkah dari membuat duplikat atau salinan buku-buku penting. Di Italia, buku-buku masih terbatas. Orang-orang memerlukan bacaan. Institusi-institusi menginginkan koleksi bermutu dan terbaik. Di rumah, bapak memiliki ruang dalam membuat salinan buku-buku beragam tema: terpenting dan menghasilkan rezeki. Di situ, ada pekerjaan-pekerjaan sulit dan berisiko dalam menjadikan salinan tampak terhormat. Otoritas dan uang menentukan kehadiran buku dan pembuatan salinan. Tata cara kerja berkaitan dengan universitas, gereja, pemerintah, keluarga, dan lain-lain.

Buku-buku atau salinan terbaca. Bocah itu bertumbuh dengan kata-kata dan pameran ilustrasi dalam buku. Ia makin mengerti tapi ingin melihat dan merasakan dunia di luar rumah. Ia mengikuti kakak (Nicco) berkuda dan mengembara di hutan agak jauh dari rumah. Petualangan berbeda dari rimba kata. “Tidak heran kau menganggap Aristoteles membosankan!” kata Alessandra kepada Nicco. Ketakjuban mewujud: “Mengapa harus membaca untuk belajar, saat seluruh dunia membetangkan keajaiban di kaki kita?” Ia terpikat pohon, binatang, air, tanah, batu, dan lain-lain. Di luar buku, dunia itu pesona.

Kita sedang menikmati cerita gubahan Barbara Quick berjudul A Golde Web (2011). Novel mencipta tawa ketimbang getir-getir sebagai drama. Kita tertawa atas tindakan-tindakan demi pengetahuan. Ikhtiar besar memiliki kepahaman kedokteran, terutama anatomi. Sejak bocah, Alessandra telanjur mengenali para ilmuwan dan memuja pengetahuan.

Di Eropa, para ilmuwan bermunculan saat dipengaruhi bacaan-bacaan diterjemahkan kalangan Arab. Kitab-kitab lama terbaca lagi melalui penerjemahan-penerjemahan. Alessandar berada dalam lakon gerakan ide dan buku-buku bersebaran di pelbagai negeri akibat misi besar penerjemahan. Para pendamba ilmu makin mengerti segala derita dan capaian. “Ilmuwan telah mengalami cukup penderitaan akibat pendirian kuat kosmopolitan mereka dan khalayak ramai secara perlahan-lahan telah belajar menjadi toleran terhadap mereka,” tulis H Margenau dan David Bergamini dalam buku berjudul Ilmuwan (1980). Pada suatu masa, ilmuwan dikutuk berdalih agama atau Tuhan. Ilmuwan pun ternantikan memiliki keajaiban-keajaiban setelah takdir-takdir dunia perlahan terbuka dan terbaca. 

Pada masa menjelang dewasa, Alessandra menjadi tanda seru bagi ibu (tiri). Ia tetap ingin dalam kasih bapak dan saudara-saudar. Keinginan makin jelas. Perintah untuk menikah diladeni dengan siasat pergi ke biara, kabur menuju Bologna. Di sana, ia bertaruh untuk studi kedokteran. Diri sebagai perempuan berubah penampilan menjadi lelaki. Barat masih kolot. Ia mengerti dan bermain risiko dengan “kelelakian” buatan demi ilmu dan penghindaran tanda seru dari keluarga.

Di Bologna, Alessandar berubah menjadi Sandro. Ia berkumpul dengan para mahasiswa dan menekuni buku-buku sulit. Ia tampil sebagai sosok pintar dengan misteri-misteri perlahan terkuak. Ia ingin berurusan dengan tubuh manusia. Di tangan ada pisau, ia membedah dan mempelajari beragam hal: kecil dan besar. Ia ingin mengerti anatomi dalam hari-hari studi kedokteran memerlukan duit, kekuatan, dan keberuntungan. 

Pada hari agak murung, Alessandra dalam sengketa tuduhan dan pengaharapan: “Peremuan diciptakan terakhir, setelah semua hewan dan Adam sendiri. Mengapa Tuhan melakukan itu jika Dia bermaksud menciptakan perempuan sebagai sosok yang lebih rendah? Jika memang begitu, mengapa Dia tidak menciptakan perempuan tepat setelah hewan-hewan dan sebelum Adam? Alessandra duduk di sana, dalam keremangan gereja, dikelilingi roh-roh mati yang terkubur. Dia tahu, dia harus melawan seluruh kekuatan di Bumi agar bisa mencapai cita-citanya dengan kemampuan dan ambisi yang Tuhan karuniakan kepadanya.” Pilihan studi kedokteran makin melawan kolot dan keberanian menjadikan Eropa bergolak oleh perempuan.

“Eropa pada pertengahan abad XIV merupakan benua dirundung keputusasaan,” tulis Russel V Lee dan Sarel Eimerl dalam buku berjudul Dokter (1982). Eropa ingin kemajuan dalam ilmu kedokteran. Eropa tak mau lagi menderita oleh wabah-wabah. Eropa ingin para dokter membawa kabar baik. Situasi itu menjadi studi kedokteran terlalu serius, memunculkan gagasan-gagasan besar di pusat-pusat kota dalam melawan pikiran-pikiran kolot bertema kesehatan dan keselamatan. 

Dokter menjadi sosok idaman selain mendapat kecaman-kecaman. Di buku berjudul Dokter, terbaca: “Pada abad XIX, waktu abad kedokteran ilmiah baru mulai, dokter khas waktu itu adalah dokter pribadi dalam arti ini. Ia mengobati pasien dari segala umur dan memperhatikan pasien itu dengan segala penderitaannya. Ia membantu persalinan, membetulkan tulang patah, mengobati gondong dan penyakit jantung, serta menjalankan operasi besar, misal pengambilan usus buntu. Ia menjadi sahabat dan penasihat.” Pada suatu masa, Alessandra bergerak di jalan berikhtiar kesembuhan manusia dan mengerti anatomi. Ia dalam dilema-dilema tapi mengerti takdir ditanggungkan dalam pengetahuan dan peran untuk dunia. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Oleh Sebab Itu, Bertamu…

Yulia Loekito

Tanpa seorang pun tamu yang datang, Ongga merasa terputus dari kehidupan manusia lain. Dalam satu hal memang dia merasa senang dan bebas tanpa ada tamu yangmengganggu, tidak ada lagi beban pikiran atau perasaan yang ditanggung. Tapi, pada sisi lain, keinginan-keinginan untuk mengetahui segalanya tak dapat lagi terpenuhi. (Wisran Hadi, Tamu, 1996)

TOK TOK TOK. Kulonuwun. Permisi. 

Pintu-pintu rumah sering diketuk, salam sering diucapkan dan ditanggapi dengan gembira, gerutu, bahkan marah atau sedih. Rumah-rumah dulu banyak tidak berpagar. Kalaupun berpagar, pagar tanaman. Perjumpaan-perjumpaan terjadi di dalam rumah. Perjumpaan dengan tamu-tamu. Tamu bisa teman, keluarga, rekan kerja, perangkat desa, atau tukang kredit. Orang-orang datang saling berkunjung dan bertamu, belum saling menelepon walaupun sekali waktu berkirim surat atau telegram.

Dalam ingatan kanak-kanakku, ketika tamu datang, seisi rumah bergerak. Sebagian menemui tamu, sebagian menyiapkan suguhan. Minuman hangat paling sering disuguhkan, teh atau kopi. Tentu saja beserta aturan-aturannya. Ujung sendok tak boleh terdengar berdenting menyentuh gelas kaca saat mempersiapkan minuman. Katanya, kalau tamu mendengarnya, mereka akan tersinggung seolah diusir supaya segera pulang. Ora ilok! Kata orang tua begitu. 

Tamu-tamu datang membawa berita, pesan, bisa juga persoalan. Orang-orang berinteraksi, bersosialisasi, mencari jalan keluar, menjaga hubungan dalam kegiatan bertamu. Namun, zaman bergulir silih berganti. Masa kini, dolan itu biasanya bukan dolan ke rumah teman, tapi janjian di suatu tempat. Restoran atau kafe, bahkan tempat wisata bisa jadi tempat bertemu. Walau sama-sama bertemu tapi peristiwa bukanlah bertamu. Bertamu berarti ada tuan rumah dan tamu. Ada melayani dan dilayani. Ada tepa slira atau sebaliknya. Ada proses yang berbeda dan makna yang berbeda dengan peristiwa-peristiwa perjumpaan yang terjadi hari ini. 

Tokoh Ongga dalam buku Tamu (1996) yang dikisahkan Wisran Hadi mengalami segunung peristiwa menerima tamu. Tamu-tamu adalah kaum keluarganya, sebab Ongga seharusnya adalah kepala kaum adat suku Guci di Minang. Ongga memilih untuk tidak menerima waris menjadi kepala kaum adat demi menghindari berbagai macam persoalan pelik dalam kaumnya. Namun, pilihan Ongga tak membuatnya lepas dari persoalan-persoalan—dari perebutan tanah pusaka, perceraian, pembunuhan, sampai hal-hal gaib—silih berganti bertandang ke rumah Ongga lewat para tamu. Ongga tetap jadi tokoh yang dituakan. 

Peristiwa-peristiwa tamu dan bertamu dalam cerita mengaduk emosi dan penasaran. Pelik, ruwet, dan misterius. Puncaknya, ketika Said—adik Ongga—berhasil membujuk dan meyakinkan kaum keluarga mereka untuk berhenti “mengganggu” Ongga demi pertolongan menyelesaikan berbagai macam persoalan mereka, Ongga justru merasa sepi dan hampa. Wah! Bukankah itu yang diinginkan Ongga saat menolak jadi penerus kepala kaum? Justru ketika keinginannya terkabul, saat itulah ia menyadari betapa ia merindukan hubungan dengan manusia lain walau di dalamnya banyak kerusuhan, caci maki, perselisihan, dan perdebatan. 

Oh! Kita kembali ke hari ini. Sungguhkah kita benar-benar hidup? Sungguhkah kita benar-benar berhubungan dengan manusia-manusia lain? Bagaimana rasanya hidup kita? Berisikah? Hampakah? Sepi? Ramai? Apakah ketukan notifikasi dari berbagai aplikasi di telepon pintar bisa menggantikan ketukan di pintu rumah? Apakah perjumpaan-perjumpaan di dunia maya dapat menggantikan salam, pelukan, tatapan mata, intonasi suara dan ekspresi wajah? Apakah kita menyadari ada hal-hal yang hilang? Atau tidak menyadari apapun? 

Apakah ketukan notifikasi dari berbagai aplikasi di telepon pintar bisa menggantikan ketukan di pintu rumah? Apakah perjumpaan-perjumpaan di dunia maya dapat menggantikan salam, pelukan, atatap mata, intonasi suara dan ekspresi wajah? Apakah kita menyadari ada hal-hal yang hilang? Atau tidak menyadari apapun?

Kepekaan, kejujuran, kepolosan barangkali banyak berubah sejak peristiwa-peristiwa bertamu jadi semakin jarang, digantikan kecurigaan dan manipulasi. Manusia membutuhkan peristiwa-peristiwa itu dalam perjalanan hidupnya, demi menemukan dan menyadari bermacam hal seperti pengendalian diri, tepa slira, atau sekedar menjadi manusia yang manusiawi. 

Peristiwa bertamu membentuk sejarah dan pola hidup masyarakat, menjadi penanda pula tentang bagaimana manusia berkomunikasi, bernegosiasi. Kita buka novel Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (2015) gubahan Y.B. Mangunwijaya. Kita menemukan: “Loema-Dara yang mengintip mereka dari dapur melihat rombongan itu datang dari galangan perahu, dan lekas-lekas memanggil dua anaknya membersihkan o halu. Tikar-tikar hias lekas-lekas diambilnya dari ruang dalam dan sebelum para tamu itu sampai pada jarak sepuluh langkah dari o halu, ruang serambi gua sudah ditinggal serba bersih dan cukup tidak memalukan. Telah disiapkan kotak-kotak sirihnya, sedangkan guci berisi arak o daluku telah diperiksa juga dan dipilih yang enak.” O halu  adalah bahasa Tobelo yang digunakan oleh suku Tobelo tinggal di Halmahera, kepulauan Maluku. Latar cerita akhir 1500-an sampai awal 1600-an. O halu berarti bangsal seperti pendapa terbuka, tetapi panjang, pusat pertemuan desa/kampung, tempat orang-orang Tobelo Kao makan petang bersama. Ruang terbaca mirip pendapa di Jawa. Manusia itu memang hidup berkelompok butuh tempat untuk berinteraksi. O halu juga jadi tempat untuk menjamu tamu. Kehadiran tamu membuat tuan rumah membuat persiapan-persiapan: membersihkan tempat, menyiapkan suguhan. Kelak, tamu juga akan menyampaikan umpan balik pada tuan rumah tentang bagaimana mereka diterima dan diperlakukan. Peristiwa-peristiwa disaksikan anak-anak dari generasi berikutnya lalu dicontoh, diperbaiki, dimodifikasi, dan diwarisi. 

Peristiwa bertamu juga bisa mengundang celetuk, celoteh, komentar yang diikuti dengan obrolan. Kita menemukannya pada sketsa Umar Kayam dalam buku Mangan Ora Mangan Kumpul (1995). Suatu sore, ada tamu nyentrik datang ke rumah Pak Ageng. Saking nyentriknya, Mr. Rigen, sang rewang tak sanggup menahan diri untuk tidak berceloteh berkomentar. Tamu adalah Pakde Sosro dari tokoh Ageng. Kita simak celoteh Mr. Rigen: “’Lho, penampilan dan sikapnya itu, to, Pak. Datang-datang salam keras-keras. Rahayu, rahayu. Waras, waras. Lha, kan bengong saya, Pak. Terus bajunya itu hem dikeluarkan, kedodoran, ditulisi Ki Urip Prasodjo. Katanya beliau masih pakde Bapak. Langsung mundhut dahar. Karena melihat lauknya cuma oseng-oseng kacang, tempe, sama sayur asem, beliau mundhut diceplokkan telur dua biji ….’” 

Komentar seperti dicelotehkan Mr. Rigen dalam sketsa tentu mendatangkan obrolan-obrolan, penjelasan, analisa-analisa, dan tentu saja cerita. Dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa itulah yang merekatkan hubungan antarmanusia, keluarga, teman, atau tetangga. Dari obrolan kita juga mengenal watak, pemaknaan dan serba-serbi hidup untuk ditiru, dicontoh, atau malah dihindari. 

Tokoh Ongga menemukan semuanya dari berbagai macam peristiwa bersama tamu-tamunya. Bersama Reno, istrinya, setiap malam sebelum tidur ia punya kesempatan mengobrolkannya, mencari jalan keluar, mencari akar penyebab masalah, mencari penerimaan diri. Semua terjadi berkat kedatangan tamu-tamu. Ketika akhirnya tamu-tamu berhenti berkunjung, Reno sang istri memberi saran dengan mesra, “’Jika tak ada tamu yang datang, kenapa Ongga tak bertamu ke rumah-Nya.’” Kedatangan atau nihilnya tamu ternyata juga bisa jadi pengingat akan Tuhan.


Yulia Loekito, penulis mengikut di Kaum Senin, tinggal di Jogjakarta

Sate Belum Kiamat!

Yulia Loekito

Ini adalah salah satu lagi bukti bahwa masakan Minang tidak bersifat provinsial, melainkan terroir. Yang disebut sate padang saja hadir dalam tiga versi: Padangpanjang, Pariaman, dan Danguang-danguang.”  (Bondang Winarno, Mak Nyus:100 Makanan Tradisional Indonesia, 2013)

PENGALAMAN dan pengetahuan orang akan sate itu beraneka rupa. Bagi sebagian orang, ingatan akan sate bertaut erat dengan Madura. Sate terdeskripsikan dengan kumis, kaos bergaris merah hitam, dan celana kain hitam. Sate ayam itu Madura! Begitu pula diingat oleh lidahku yang telanjur kepincut sate ayam Madura, sejak bocah. Sate ayam Ponorogo terasa kurang sreg di lidah, walau ketebalan irisan daging ayamnya serupa sate ayam Madura. Bumbu kacang sate Ponorogo yang kukenal itu biasanya lebih halus daripada sate Madura. Bukan tidak enak, tapi memang lidah lebih nyaman dengan rasa dan tekstur bumbu kacang yang sudah dikenal lebih dahulu. 

Sate mampir silih berganti dalam biografi banyak orang. Sate hadir dalam banyak peristiwa: dolan, pacaran, kawinan, ulang tahun, jagongan, atau sekadar sendirian sambil merenungi nasib. Kita berpikir dan mengalami sate dalam hal cita rasa dan peristiwa. Sedikit berbeda, Bondan Winarno memiliki pengalaman rasa sate yang lebih beragam baik secara cita rasa atau budaya. 

Bagi kebanyakan orang bertempat tinggal di Pulau Jawa, sate Padang itu tampak seragam. Daging sapi dan kuah kuning tua menuju oranye kental. Tak banyak orang tahu kalau sate Padang itu masih punya klasifikasi lagi. Bondan Winarno menjelaskan: “Sate laweh kuahnya berwarna jingga karena memakai banyak cabai dan pedas. Sate padangpanjang kuahnya berwarna kuning (dari kunyit) dan tidak seberapa pedas. Sedangkan sate danguang-danguang (dari desa Danguang-danguang, sekitar 30 kilometer dari Payakumbuh), memakai kuah yang sama dengan sate laweh yang lebih pedas. Sate danguang-danguang juga istimewa karena daging satenya dilumuri serundeng kelapa, sehingga lebih gurih teksturnya unik.” Tak salah pula kalau Pak Bondan mengatakan di bagian pengantar buku: “Satu bangsa, berjuta cita rasa!”

Ragam karakteristik lokal berbagai-bagai masakan Nusantara tentu tak lepas dari keanekaragaman hayati daerah asalnya, karakteristik budaya masyarakatnya. Lha! Cuma dari satu jenis makanan saja—si sate ini—kita tahu beragam cara mengolah bahan pangan. Olahan tentu berasal dari warisan turun-temurun yang bila ditelusur tentu bermuara pada suatu riwayat. Kuah santan kental, balutan serundeng kepala, cipratan minyak kelapa saat pembakaran sate membuat kita menduga kelapa memang banyak tersedia di sana, sehingga masyarakat banyak menggunakannya untuk membuat olahan makanan. Kita makin paham alam adalah salah satu pembentuk budaya. 

Berjalan meniti jembatan sate, kita juga bisa bertandang ke masa lalu, menelusur pengaruh kolonial dan etnis-etnis penghuni tanah nusantara ini. Kita buka buku Risjsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870 – 1942 garapan Fadly Rahman (2016). Di sana, kita juga menemukan sate. Kita baca: “Hidangan dari daging babi yang masuk dalam hidangan rijsttafel adalah pengaruh Tionghoa. Pengolahannya bisa sebagai sate—daging babi dipotong dadu kemudian ditusuk dengan bambu lalu dibakar. Hidangan ini merupakan perpaduan kuliner Pribumi dan Tionghoa.” 

Rupa-rupanya kelas sosial masyarakat diciptakan oleh pemerintah kolonial yang menempatkan warga Tionghoa jadi warga kelas dua, setingkat di atas bumiputera bisa pula mengangkat derajat hidangan satenya. Ya, dugaan jenaka saja. Hidangan sate yang terpilih naik ke atas meja makan rijsttafel yang bergengsi itu adalah milik hidangan Tionghoa walau berpadu dengan kuliner pribumi. Kita boleh saja menduga-duga, kenapa bukan sate ayam berbumbu kacang atau sate kambing atau sate lilit yang dipilih bersanding dengan bistik atau semur, masakan khas Eropa itu. Walaupun sayur lodeh, sayur asem, dan aneka rupa jenis sambel tentu saja dipuja-puji. 

Sate, oh, sate! Tak pernah tamat riwayatmu. Tak cukup ragam jenisnya, perannya dalam sejarah dan kelas sosial, sate pun bisa dihubungkan dengan kepercayaan. Kita temukan dalam buku Upaboga di Indonesia: Ensiklopedia Pangan dan Kumpulan Resep (Suryatini N. Ganie, 2003) dalam entri tentang satai: “Tusuk satai mempunyai arti simbolis yang berhubungan dengan rasa sakit jika tertusuk-tusuk satai. Ada kepercayaan bahwa rumah yang terletak pada jalan yang berbentuk ‘T’, artinya jalan tersebut langsung menusuk ke pintu masuk utama rumah, lebih baik dihindari. Mereka yang percaya berpendapat bahwa tusukan jalan yang dinamakan tusuk satai akan menyakiti seisi rumah.” 

Tak sekadar memberi pengalaman cita rasa lidah, menandai kondisi alam dan karakteristik lokal daerah asal ragam jenis sate tertentu, menandai sejarah pendudukan atau kelas-kelas sosial, sate juga membangun sistem kepercayaan. Ingatan ini juga termasuk yang dikonfirmasi sebagai kebenaran oleh pikiranku, akibat pengalaman mengamati pendapat orang-orang di sekitarku tentang rumah tusuk sate sepanjang lebih dari separuh rentang hidup yang sudah empat dasawarsa. Tak kusangka, begitu intimnya kita bergaul dengan sate. 

Ups! Pembicaraan tentang sate ini jadi terlalu seriyes, membuat Randu (10 tahun) dan Eda  (8 tahun) terbengong-bengong melihat dan mendengar ibunya ngomnyang tentang sate dalam buku-buku. Mereka ingin enteng. Ibu bertanya: “Kenapa sih kamu suka sate?” Jawab masing-masing dari mereka dengan nada datar dan sedikit heran: “Karena enak.” Terbahak, ibu mengamini: “Ya, iya ya!”

Sate itu tetap santapan lezat yang sesekali mampir menggembirakan lidah. Sate juga secara sederhana tetap santapan enak walau jadi tenar sehingga mampir dalam berita-berita di koran. Seperti terbaca di Jawa Pos, Senin, 18 Oktober 2021: “Di kalangan pecinta kuliner Semarangan, Sate Mbak Tun tersohor berkat olahan daging kambingnya. Karena hanya buka pada hari pasaran Wage dan Legi, Sate Mbak Tun tidak pernah sepi pengunjung. ‘Rasa dan bumbunya khas. Sulit ditemukan di tempat lain,’ kata Christiyarsih.” 

Sate, belum tamat riwayatmu. Boleh sesekali kita berpikiran ini dan itu, belajar masa kini dan masa lalu. Tapi kita juga bisa tetap sederhana dan enteng mengingat: sate itu enak! Kata Pak Bondan Winarno: “Mak nyus!” 


Yulia Loekito, penulis tinggal di Jogjakarta