Makanan Kota vs Makanan Desa

Indri Kristanti

DI kota, makanan terbiasa mendatangi pembeli. Paling banyak menjajakan dengan gerobak yang didorong manusia penjual, meski ada juga yang mengendarai sepeda ataupun sepeda motor. Sebagai penanda dan tetenger jenis makanan yang dijajakan, bunyi-bunyi dihasilkan dari piranti yang berbeda.

Suara wajan besar dipukul susuk itu martabak asin.

Pukulan wajan kecil itu nasi goreng babat.

Kentongan dipukul itu mie Surabaya.

Ketukan sendok di mangkok itu soto ayam di pagi hari.

Suara tinggi seperti peluit, dihasilkan dari uap yang melewati cerobong bambu itu putu bumbung.

Penjual berteriak “Ngiiiin!” itu buah potong sedang lewat.

Sekarang, aneka rekaman suara dan lagu dijadikan pengganti suara, agar penjual tak perlu kehabisan suara karena terus menerus berteriak. Dari rekaman yang terdengar sudah dapat dipastikan jenis makanan yang dijual “Sari Roti. Roti Sari Roti.”, “Susu murni Nasional.”,”Tahu bulat, digoreng di mobil, lima ratusan, halal.”, “Gungdog. Jagung digodog.”

Manusia kota termanjakan, tanpa perlu melintas pagar,  aneka makanan langsung mendatangi hanya dengan lambaian tangan atau seruan “Mas!” Kebiasaan terus berlanjut, kemudahan demi kemudahan mewarnai kehidupan manusia kota yang sebagian besar juga penghuni kantoran. Dengan bantuan gawai, aplikasi memuat ratusan menu makanan dan minuman dari berbagai tempat. Penjual makanan tak perlu menyewa ruko di lokasi strategis. Bertempat di pelosok kampung pun tak masalah, pengemudi bisa mencari lewat posisi titik yang tertanda pada peta aplikasi. Menu-menu dipesan dan langsung dibayar melalui aplikasi. Dalam waktu singkat, abang ojek sudah nongol di depan pintu sambil membawakan makanan yang terpesan sesuai aplikasi. Kemudahan melahirkan kecanduan. Kepraktisan dan kecepatan menjadi alasan untuk terus-menerus menggunakan aplikasi. Godaan-godaan promo dan harga diskon sayang bila tidak digunakan. Alhasil, dipesanlah menu tiga kali sehari lewat aplikasi. Kebutuhan makan tiap hari sudah terpenuhi, dapur dan memasak tak lagi jadi urgensi. Tapi kompor tetap saja tetap dibutuhkan untuk menghangatkan makanan dan pada tanggal-tanggal tua, memasak telor dan Indomie.

Manusia kota itu sibuk urus ini dan itu, sibuk mencari uang demi cicilan itu dan ini. Memasak itu ribet dan buang waktu. Orang kota pilih makan yang gampang dan cepat. Makanan cepat saji jelas jadi pilihan. Berbagai gerai makanan cepat saji lokal dan internasional menjamur di mana-mana. Menghadirkan sensasi rasa yang hampir sama, daging-daging berbalur tepung krispi dengan saus beda-beda rasa. Harga murah berarti ukuran daging kecil, tepungnya yang tebal. Harga mahal berarti sebaliknya, daging tebal dengan tepung tipis-tipis. Makanan cepat saji dikemas dalam kotak-kotak yang menarik, dilabeli aneka slogan mengundang. Agar makanan terasa lebih nikmat dan mengurangi sedikit perasaan berdosa karena tidak sempat memasak.

Perilaku membeli dan mengkonsumsi makanan matangan menentukan peralatan di rumah. Lemari es dan kompor, terkadang juga microwave jadi piranti yang wajib ada di tiap rumah. Alih-alih menyimpan sayur segar, lemari es penting untuk menyimpan masakan matang yang tidak tuntas dimakan, guna dipanaskan kembali esok hari. Sisa makanan eman kalau terbuang begitu saja. Kesegaran dan kesehatan tidak lagi menjadi prioritas, yang penting ada makanan masuk perut meski sudah berkali-kali dipanaskan.

Makanan di desa boleh dikatakan lebih segar dan sehat. Teringat pengalaman menginap di sebuah desa di Kulon Progo,  Yogyakarta. Desa masih dibilang jauh dari hingar bingar kota. Rumah masih berlantai tanah dan berdinding gedhek. Tuan rumah menyajikan berbagai menu sederhana bagi tamu. Meski hanya sayur sederhana, makanan terasa sangat segar dan nikmat.  Masakan dimasak dan disajikan pada hari yang sama karena rumah tidak berlemari es.  Menu tersaji, tiada hari tanpa olahan tempe dan tahu, entah dibacem atau digoreng atau dipindang. Beberapa sayur langsung dipanen dari halaman belakang rumah. Terdapat pohon-pohon singkong juga labu siam.  Buah labu siam langsung dipetik dari pohon, untuk posisi tinggi, nyonya pemilik rumah melemparkan sebuah batu tepat mengenai sasaran. Labu siam terjatuh dan langsung diolah menjadi masakan sayur yang lezat. Di samping rumah terdapat juga kambing dan ayam di kandang. Menu olahan ayam tersaji dari ayam yang mereka ternak sendiri. Tentu saja hanya di hari tertentu mereka akan menyembelih ayam yang sudah mereka rawat sekian lama. 

Di samping rumah terdapat juga kambing dan ayam di kandang. Menu olahan ayam tersaji dari ayam yang mereka ternak sendiri. Tentu saja hanya di hari tertentu mereka akan menyembelih ayam yang sudah mereka tawat sekian lama.

Dulu, gaya hidup kota belum mencemari desa. Alam sangat berperan dalam penyediaan makanan desa. Manusia desa mempelajari alam bertujuan menyimpan hasil bumi sehingga bisa diolah di kemudian hari.  Kita dapat membaca dalam Jawa Pos, 25 Juli 2021, menceritakan masyarakat Suku Dawan yang hidup di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara di  Nusa Tenggara Timur (NTT). Suku Dawan yang bermukim sangat lekat dengan tumbuh-tumbuhan, air, tanah, dan hutan. Mereka menyimpan hasil panen dalam sebuah rumah yang disebut uem bubu. “Uem bubu adalah rumah berbentuk bulat dengan atap kerucut. Atapnya terbuat dari alang-alang. Di loteng rumah, bahan-bahan pangan disimpan.”  Uem bubu itu lumbung penyimpan bahan memasak.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lumbung adalah tempat menyimpan hasil pertanian (umumnya padi), berbentuk rumah panggung dan berdinding anyaman bambu. Jadi melumbung dapat diartikan menyimpan hasil panen di dalam lumbung. Makanan tradisional yang mereka panen dari sekitar rumah kemudian disimpan di lumbung membuat kehidupan tidak tergantung kepada beras. Pembuatan makanan tradisional jauh lebih mudah dan bahannya mudah didapat. “Kacang, ubi, singkong, dan jagung tumbuh di sekitar rumah. Ada di kebun. Ada di hutan.”

Tradisi melumbung tidak hanya ditemukan pada Suku Dawan. “Setiap daerah di Indonesia dikenal melumbung. Tradisi yang juga menjadi cara untuk mempertahankan kesediaan pangan itu bisa dilakukan secara pribadi atau kelompok.” Bertukar-tukaran bahan alam dengan masyarakat sekitar menjadikan makanan lebih beragam. Bagi Suku Minang, lumbung tak ayal menjadi status sosial menunjukkan prestise, dibangun di halaman depan rumah gadang. Lain halnya, dengan masyarakat Karo, Sumatera Utara, menjadikan lumbung sebagai tempat kumpul-kumpul dan mengawasi bahan pangan simpanan bersama-sama. Lumbung itu bicara kekeluargaan dan kebersamaan.

Bagi Suku Minang, lumbung tak ayal menjadi status sosial menunjukkan prestise, dibangun di halaman depan rumah gadang. Lain halnya dengan masyarakat Karo, Sumatera Utara, menjadikan lumbung sebagai tempat kumpul-kumpul dan mengawasi bahan pangan simpanan bersama-sama. Lumbung itu bicara kekeluargaan dan kebersamaan.

Sayang, industrialisasi dan modernisasi ala kota jelas melunturkan tradisi melumbung di desa. Makanan instan dan cepat saji turut merambah desa-desa yang berdekatan dengan kota. Makin berkurang dan mahalnya lahan, turut mengikis ketersediaan lahan untuk pembangunan lumbung. Orang desa tidak mau dikata sebagai wong ‘ndeso. Melumbung dikatai sebagai tradisi usang dan ketinggalan jaman. Pembangunan rumah berdinding bata dan beton jelas tak terelakkan. Lahan-lahan perkebunan dan pertanian turut dikorbankan, lebih menghasilkan bila  dijual kepada pengembang untuk dijadikan hunian. Manusia desa pun turut tampil modern dengan  membeli lemari es dan microwave, tak ada lagi urgensi menyimpan makanan di lumbung. Kian hari manusia kota dan manusia desa semakin tak terbedakan. Mempunyai cara hidup yang sama dan makanan yang sama. Keseragaman menjadi buah kemajuan atau kemunduran?


Indri Kristanti, penulis, tinggal di Kudus

Semua Ibu Harus Bisa Memasak?

Iin Nuraini

SIAPA bilang semua ibu bisa memasak. Bagiku, memasak itu kegiatan yang luar biasa mengerikan. Kegiatan yang kulakoni dengan was-was dan mengakhirinya dengan penuh penyesalan. Dapur seperti medan perang bagiku.

Sejak kecil masakan mbah-uti  (nenek) selalu mengisi meja makan rumahku. Bapak dan Ibu sibuk, tak sempat memasak untuk anak-anak. Untuk sarapan, telur dadar menjadi andalanku dan kakak-kakak.

Kemampuan memasak ibuku itu ternyata juga payah. Lebih enak masakan Bapak. “Gen” ibu yang gak bisa masak itu menurun padaku. Sesekali, jika ingin sayur kesukaannya, Bapak pasti mengajak aku ikut meracik bumbu. Sayur kesukaan bapak adalah sayur bobor plus sambel terasi. Jadi, untuk masalah sambal-menyambal aku sudah terbiasa. Tapi entah kenapa, setiap masak sayur, rasanya gak ngalor-gak ngidul.  Padahal bumbu yang kusiapkan sudah lengkap-kap.

Jadi, untuk masalah sambal-menyambal aku sudah terbiasa. Tapi entah kenapa, setiap masak sayur, rasanya gak ngalor gak ngidul. Padahal bumbu yang kusiapkan sudah lengkap-kap.

Setelah menikah, uthek-uthek di dapur itu sering lebih membuatku trauma daripada sakitnya melahirkan ketiga anakku. Ketika awal menikah, memasak seperti kewajiban bagiku. Tapi, setiap kali melihat masakanku yang tersaji di meja tidak tersentuh, hati ini rasanya sakit luar biasa. Karena ibu mertuaku pandai memasak, aku jadi mengerti bahwa masakanku tak ada rasanya. Dan benar, kekecewaan demi kekecewaan menjadikanku berucap janji bahwa aku tak akan mau lagi memasak di rumah. Selamanya.

Namun herannya, aku justru sangat suka melihat tayangan TV tentang masak-memasak. Entah Master Chef atau petualangan si Gundul. Bahkan di Youtube tak jarang aku mencari menu-menu yang belum pernah aku lihat cara membuatnya.

Kedua anakku yang SMP ternyata suka masak-memasak. Mereka mencari-cari menu masakan di Youtube. Setiap kali Ramadhan tiba, mereka gemar mencoba resep masakan baru yang simple dan menarik. Maka, kalau malam hari terdengar suara kluthak-kluthek, itu sudah pasti anak-anakku yang sedang sibuk di dapur. Biasanya, ketika aku masih di kantor, mereka akan berpesan kepadaku membelikan bahan-bahan masakan untuk dimasak saat buka atau malam hari.

Suatu kali, aku mengambil buku Bondang Winarno di rak untuk pesanan seorang pelanggan. Spontan anak sulungku bilang, “Buuuuk … Jangan dijual. Sayang … ‘Kan buku itu cocok untuk Ibuk yang gak bisa memasak”. Mak jleb rasanya di hati. Dan aku mengiyakan anakku dengan senyum getir.

Akhirnya, buku tebal itu tak jadi aku jual. Kusimpan sendiri dan kadang kubuka halaman demi halaman karena mungkin suatu saat nanti aku punya wangsit sampai bisa memasak persis seperti di menu itu.

Dan ternyata, semangat dan imajinasi memasak di dapur itu hanya bertahan sesaat karena paling pol aku akan memasakkan nasi goreng simpel tanpa kecap kesukaan ala anakku bungsu. Hanya nasi, bumbu seadanya dan telur. Menu nasi yang paling ia doyani meski kadang ia akan berteriak, “Ibuk….lidahku terbakar, lidahku terbakar”.

“Loh…kan enggak pedes, Dek”

“Endak ….tapinya, ini-ini asiiinnn banget”

Ya, begitulah kemudian aku akan menyalahkan garam itu yang tak mau merata dan cuma terasa di satu tempat saja.

“Apa yang salah dengan tanganku?” Dan kakak langsung menyambar dengan komentarnya yang memotivasiku, “Ibuk … Menyerah saja!”

Hikmah di balik itu semua, anak-anakku tidak rewel perihal makanan. Mereka bisa mandiri dan tidak tergantung dengan Ibunya. Suami juga paham sekali dan tidak pernah mempermasalahkan perihal masakan. Yang penting di rumah tidak kehabisan beras dan telur saja semua sudah cukup. Dan, nasehat yang paling bijak untuk anak muda pra-nikah adalah pelajaran memasak dahulu. Yang lain, urusan belakangan. Tangan dan lidah harus dilatih terlebih dahulu dan dibiasakan. Tak apa jika tak bisa memasak, asal jangan kebangetan.


Iin Nuraini, guru dan koki wanna be, tinggal di Pajang.

Permen di Film dan Gulali di Kenangan 

Indri K.

DI Kompas 11 Oktober 2021, kita membaca berita berjudul “Drama Korea dan Diaspora Produk Indonesia”.  Berita membahas sebuah produk Indonesia justru melakukan promosi melalui drama produksi Korea Selatan. Memang tak dipungkiri, Korea Selatan berhasil menguasai  dunia lewat dunia hiburan. Mulai grup K-Pop hingga drama Korea. Ekspansi mereka semakin sukses akibat meningkatnya film-film yang dipasarkan lewat layanan streaming di masa pandemi. Penonton tidak perlu lagi membeli DVD atau berlangganan televisi kabel yang jam-jam menontonnya tidak fleksibel. Asal ada jaringan internet, segala macam hiburan dapat dihadirkan lewat gawai ataupun televisi pintar.

Tingginya pasar juga diiringi semakin kencangnya mereka memproduksi drama. Bila dihitung kasar, dalam setahun mereka bisa memproduksi sekitar 60-70 judul drama, tidak termasuk produksi film layar lebar. Netflix merupakan salah satu layanan streaming yang membuat “drakor” semakin mengglobal. Beberapa “drakor” dan film Korea berhasil menduduki 10 besar peringkat dunia, yang tercatat sekitar 190 negara. Meski untuk drakor, tidak semua negara ber-Netflix membeli hak tayangnya.  Salah satu perusahaan di Indonesia, PT Mayora Indah Tbk., melihat peluang ini dengan memasarkan produk permen kopi mereka, Kopiko. Beberapa  judul drama yang pernah menampilkan iklan Kopiko: Vincenzo, Mine dan Hometown Cha Cha Cha.  

Artikel menambahkan, promosi sejenis ini disebut sebagai ekonomi kreatif: “… sebenarnya sektor ekonomi kreatif telah tumbuh cukup lama. Namun, baru sekitar lima tahun terakhir pelaku industri makanan-minuman memanfaatkannya untuk meningkatkan pasar di dalam dan luar negeri.”  Salah satu kreativitasnya dengan cara menampilkan produk yang dipromosikan lewat PPL (iklan yang sengaja ditampilkan dalam sebuah adegan, biasanya tidak terlalu mencolok). Adegan biasa hanya berlangsung beberapa detik, ditambah sedikit dialog dari aktor. Misal: “Hmm… setelah memakan permen ini  aku langsung merasa segar.” atau “Kita sudah tidak sempat ngopi, coba ini saja.” Kalimat diucapkan sambil menyodorkan sebungkus permen Kopiko kepada rekannya. 

Meski hanya ditampilkan beberapa detik, harga yang ditawarkan termasuk  fantastis. Untuk 4 kali kemunculan dalam sebuah serial drama popular, butuh menganggarkan dana sekitar lima miliar rupiah. Jika harga sebungkus Kopiko kemasan blister sekitar dua puluh lima ribu rupiah maka bisa dihitung berapa bungkus yang dibutuhkan agar sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Bagi perusahaan pengiklan, bisa saja hal ini lebih menguntungkan karena saat penonton memutar kembali adegan drama tersebut maka produk mereka juga turut ditampilkan ulang. Berbeda dengan mempromosikan suatu produk lewat tayangan televisi konvensional, iklan ditampilkan terpisah dari film utama dan tidak dapat diputar ulang.  

Lagi-lagi, Korea kembali mempopulerkan dan membuat sejenis permen jadul mereka mendunia lewat tayangan “drakor” berjudul Squid Game yang merupakan produksi Netflix. Dalam drama, Dalgona dijadikan sebagai salah satu subjek permainan yang menentukan hidup mati pesertanya. Peserta diharuskan memotong Dalgona sesuai bentuk yang mereka pilih dengan sebatang jarum. Ada empat pilihan bentuk potongan: lingkaran, segitiga, bintang, dan payung. Para penonton di luar Korea turut penasaran, membuat mereka mencari resep dan berusaha membuat Dalgona-nya sendiri. 

Kita dapat membacanya di Kompas edisi 29 Oktober 2021, “Adalah Dalgona atau ppopgi, permen Korea berbahan dasar gula dan soda kue yang dibuat pasca-Perang Korea (1950-1953). Waktu itu, permen yang dijajakan di kaki lima ini merupakan jajanan alternatif bagi anak-anak yang sebelumnya terbiasa mendapatkan permen cokelat dari tentara Amerika.” Kekuatan ekonomi kreatif mereka, tidak hanya berhasil memviralkan suatu adegan drama tapi juga menghidupkan kembali kenangan akan sebuah jajanan yang mungkin sudah banyak dilupakan masyarakat. Dalgona membuktikan lewat pemikiran dan penyajian yang kreatif sebuah produk klasik bisa kembali dihadirkan, tanpa kehilangan sejarah dan esensi yang menopangnya.

Sebenarnya tak jauh berbeda dengan Dalgona, anak-anak SD pada masa 1980-an juga akrab dengan jajanan kaki lima yang sama-sama berbahan dasar gula. Kita menyebutnya, gulali.  Biasanya, bapak penjual gulali memakai kotakan kayu yang dipikul. Di dalam kotakan, terdapat loyang berisi adonan gulali berwarna merah yang dipanasi. Tujuan pemanasan supaya adonan tersebut dapat dibentuk sesuai kreativitas bapak penjual. Harga sebatang gulali bentuk sederhana masih sekitar dua puluh lima rupiah. Biasa, saat membeli, pelangganlah yang memilih bentuk cetakan yang mereka inginkan. Cetakan dibuat dari kayu yang diukir hingga bermotif menyerupai bunga atau bola. Cara kerjanya mirip  stempel segel, bulatan adonan yang masih hangat dipencet ke cetakan hingga motif yang ada pada cetakan tercetak di gulali, kemudian diberi tusuk bambu agar dapat dipegang seperti permen loli. 

Gulali berongga juga bisa dihasilkan dengan cetakan yang berpasangan, seperti berbentuk jagung. Adonan yang masih hangat diletakan di dalam cetakan berpasangan yang ditangkupkan. Adonan tadi diberi selang untuk tiupan masuknya udara sehingga adonan bisa mengembang dan tepiannya tercetak bentuk sesuai cetakan. Tanpa cetakan, penjual dapat membentuk burung yang bisa ditiup, berbunyi seperti peluit. Rongga “peluit” dibuat dari kawat yang dipanaskan. Penjual dapat membentuk pita yang indah. Tentu saja bentuk gulali sangat bergantung dari ide dan kreativitas tangan sang penjual.  

Munculnya permen-permen modern dalam kemasan tentu saja punya andil mendepak gulali dari jajanan kaki lima. Ditambah, proses pembuatan gulali dinilai kurang higienis karena langsung menggunakan tangan dari penjual, menyebabkan permen ini semakin terlupakan. Meski sudah tergolong langka, kita terkadang masih bisa menemukan dijual di tempat keramaian. Namun dalam kondisi sudah berbentuk dan terbungkus.  Penyajian siap saji seperti ini tentu saja mengurangi keunikannya yang pada mulanya merupakan sebuah atraksi dari penjualnya. Kita boleh berharap, mungkin saja suatu saat ada pihak yang dapat kembali menaikan derajat gulali “jadul”lewat ekonomi kreatif. 

Permen memang tergolong produk kecil, sepele dan harganya relatif murah. Namun siapa sangka, dengan penggarapan yang tepat dan dikemas dengan apik, permen dapat mendunia yang turut menopang tradisi dan sejarah.  


Indri K., penulis tinggal di Kudus

Ibu, Anak, Arsitektur

Agita Y

“Pak Wijaya, arsitek itu sebenarnya siapa?” tanya Alvin penuh antusias.

“Alvin, arsitek adalah orang yang ahli dalam mendesain bangunan, interior, taman dan segala sesuatu yang terkait dengan dunia arsitektur,” jawab Pak Wijaya menerangkan.

“Arsitektur itu sendiri apa Dik Wijaya?” tanya ayah menimpali.

“Arsitektur adalah seni merancang bangunan. Dalam artian luas, arsitektur mencakup: merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari yang umum yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, lansekap/ taman hingga yang khusus yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk,” jawab Pak Wijaya.

DIALOG di atas merupakan pembicaraan antara 3 tokoh dalam cerita arsitektur anak berjudul Cita-citaku Menjadi Seorang Arsitek (2019) garapan Dwi Cahyo Putrarumawan. Mungkin ini semacam buku pengetahuan atau pengenalan profesi arsitek yang dibungkus dalam cerita. Sayangnya, jika dilihat gambar sampulnya “kurang anak-anak”. Padahal, tokoh utamanya anak kelas 5 SD bernama Alvin. Alvin dikisahkan punya minat dan bakat yang bagus untuk menjadi arsitek, terlihat dari kemampuan menggambar rumah yang diamati oleh ibu dan ayahnya sehingga ayah pun mengajak Alvin menemui Pak Wijaya: seorang kenalan ayah yang berprofesi sebagai arsitek agar Alvin bisa belajar langsung dari sumbernya. 

Percakapan awal yang saya pilih di atas mungkin bisa lebih diikuti oleh anak usia SD besar (4-6). Isi dalam novel pun bahasanya cukup rumit dan terlalu banyak data menurut saya meskipun maksudnya baik untuk pengenalan profesi. Maka, saya belum membacakan kisah tersebut kepada Gara, anak saya yang baru duduk di kelas 2 SD. Saat Gara suatu hari bertanya apa itu arsitek, saya hanya menjawab orang yang bisa atau punya pekerjaan mendesain dan merancang bangunan. 

Pertanyaan Gara tentang arsitek bukanlah pertanyaan tiba-tiba. Sebelumnya, saya sebagai ibunya yang lebih sering bersama dengannya cukup lama mengamati kesukaan Gara membuat rancangan rumah atau bangunan lainnya dari mainan-mainan yang dimilikinya. Mulai dari lego atau pasang-pasangan berbagai bentuk, balok-balok kayu natural maupun warna-warni dengan aneka bentuk, stik rangkai, dan mainan lainnya. Rancangan yang dibuatnya sering sangat imajinatif dan unik hingga saya sendiri sering terpana dengan karyanya. Dia juga sering bertanya, saya ingin dibuatkan bangunan apa. Lalu, saya sebutkan kamar tidur, perpustakaan, dan sebagainya. Kemudian Gara akan membuatkannya untuk saya dan meminta penilaian. Saya sulit menilai bagus atau tidak karena salah-salah kata nanti malah kontraproduktif. Biasanya saya spesifik menyebutkan saya suka bagian ini atau itu. Saya suka caranya memilih warna dan betapa idenya sangat kreatif untuk anak seusianya. Waktu itu usia Gara 5 tahunan saat mulai tertarik membuat bangunan. 

Saya membuat dokumentasi karyanya juga dalam bentuk foto dan video. Selain merancang dari mainannya, Gara juga sering membuat gambar rumah dan semacam peta atau denah. Saat usia TK, Gara juga sering minta dibuatkan labirin tantangan di kertas. 

Setelah saya mendalami apa yang saya amati, tiba-tiba saya teringat saudara sepupu jauh saya di Jakarta yang berprofesi sebagai arsitek profesional saat ini. Saya teringat waktu kecil kami bermain bersama. Sepupu saya suka bermain balok-balok kayu dan menggambar rumah juga. Saya sangat suka rancangannya karena unik bagi saya. Lalu, saya menarik benang merah: “Oh iya, kebiasaan di waktu kecil ternyata bisa menjadi petunjuk orang tua mengasah bakat dan minat anak.” Kenangan akan sepupu saya yang selalu menjadi juara kelas itu memberikan pencerahan atas apa yang harus saya lakukan. 

Maka saya mulai memperkenalkan istilah arsitek kepada Gara di usianya yang sudah 7 tahun ini. Dokumentasi tetap saya lakukan sambil memberikan dorongan semangat. Sebenarnya kadang kesal juga dengan sikap Gara, sebab waktu yang digunakan untuk membuat karya bangunannya bisa lama sekali, memakan waktu makan, waktu minum, dan waktu belajar hal lainnya. Gara terlalu asyik sehingga memaksa ibunya menjadi galak dan mengomel. Kadang harus mengambil sementara mainannya agar dia mau berhenti. Sebab, kesehatan fisik pun patut mendapat perhatian di usia pertumbuhannya. Jika dibiarkan, sampai tengah malam pun Gara kuat melakoninya. Gara paling fokus dan konsisten dalam kegiatan ini, tak seperti aktivitas lainnya.

Gara terlalu asyik sehingga memaksa ibunya menjadi galak dan mengomel. Kadang harus mengambil sementara mainannya agar dia mau berhenti. Sebab, kesehatan fisik pun patut mendapat perhatian di usia pertumbuhannya. Jika dibiarkan, sampai tengah malam pun Gara kuat melakoninya. Gara paling fokus dan konsisten dalam kegiatan ini, tak seperti aktivitas lainnya.

Karena saya ingin mendampingi Gara agar lebih terampil dan punya pengetahuan yang lebih baik seputar arsitektur (sebab saya sangat tidak paham), maka saya mencari berbagai informasi apakah ada sekolah atau kursus seputar arsitektur untuk anak: adakah buku-buku arsitektur khusus untuk anak. Saya akhirnya menemukan berbagai sumber. Ternyata sudah ada kursus arsitektur anak tapi bukan di Jogja. Lalu, buku-buku arsitektur untuk anak juga ada, saya dapat di salah satu lokapasar: Seri Arsitektur untuk Anak-Anak (1986) susunan Ir. Setyo Soetiadji. Saya lihat deskripsi dan foto produknya, sepertinya sangat menarik isinya. Saya merasa perlu membelinya, karena harganya pun tak terlalu mahal, sekitar 60 ribuan untuk dapat keenam bukunya.

Saya pun membeli buku itu. Memang lawas terlihat dari halaman kertasnya yang sudah berwarna kecoklatan di bagian pinggir dan mudah sobek jika tak hati-hati membuka halamannya. Namun setelah saya baca keseluruhan serinya, ternyata buku ini cukup ringan bahasanya untuk Gara, mudah dipahami dan seolah sang penulis sedang berbincang langsung dengan para pembaca cilik yang tertarik arsitektur. Saya belum menemukan buku tandingan untuk mengantar anak memahami arsitektur. Memang sudah ada buku anak yang berusaha mengenalkan profesi arsitek, namun penulisnya kemungkinan besar bukanlah arsitek. Sebut saja salah satu buku anak karya Stella Ernes yang berjudul Aku Ingin Menjadi Arsitek (2017). Dari segi isi dan ilustrasi, buku ini cukup lengkap dan mudah dipahami, membantu anak-anak untuk mengenal profesi arsitek. Ada lagi buku anak garapan Meilany berjudul Cita-Citaku Menjadi Arsitek (2009). Buku ini meskipun banyak gambar dan berwarna, tapi kalimatnya banyak dan huruf kecil-kecil, lebih sesuai untuk anak SD besar.

Setelah membaca dua buku seri, saya melihat ada perubahan dalam cara Gara membuat bangunan dengan legonya. Gara mulai mempraktikkan pembangunan bertahap, mulai dari membuat lantainya, memasang tiang penyangga baru meletakkan atap, persis seperti yang dituliskan di buku. Saya juga mengajak Gara melihat-lihat rumah di sekitar tempat tinggal kami di desa. Meskipun desa, tapi banyak rumah sudah modern seperti di kota. Kami berjalan-jalan sambil mengamati dan membandingkan, mengingat model atap yang sudah dijelaskan. 

Bermain lego, menggambar bangunan, belajar arsitektur sejak kecil, belajar budaya berkota, bukan semata-mata berharap anak saya menjadi arsitek masa depan. Tentu doa tetap dipanjatkan agar impian menjadi kenyataan. Namun, ada hal yang lebih penting dari itu. Ternyata kaitan dari semua pengetahuan ini nantinya dapat berguna saat anak-anak dewasa: menyadari sebuah masyarakat membangun kebersamaan. Anak-anak juga bisa menjadi lebih peka dan mempertanyakan sesuatu. Perubahan terjadi di kota dan timbul masalah yang menumpuk. Mereka tidak harus selalu menjadi arsitek dulu untuk paham.


Agita Y., Ibu menulis di Kaum Senin, tinggal di Jogjakar

Minuman Lawasan

Uun Nurcahyanti

MINUMAN mendekatkan kesadaran ekologis manusia dengan lingkungan hidupnya. Hewan dan tumbuhan adalah semesta kitab yang sah saja untuk dieja. Perilaku fermentatif alamiah beberapa serangga dan burung diadaptasi  menjelma minuman berkhasiat. Perilaku burung rakun, kelelawar, lebah dan kupu-kupu yang menyadap kandungan alkohol dari bebijian, bunga, getah tumbuhan dan buah menjadi dasar sistem fermentasi minuman.

Fermentasi sebagai proses alamiah tetumbuhan ditiru dan dikembangkan manusia dengan tehnik sederhana, tapi menggunakan bahan yang lebih kompleks. Iklim tropis Nusantara menghasilkan berlimpahnya bahan baku bagi pembuatan minuman fermentasi. Empon-empon menghasilkan ragi sebagai biang. Pefermentasian atau bertuak merupakan suatu tradisi  yang telah berakar lama. Kekhasan tuak sebagai istilah kuno dari pelbagai minuman fermentasi masih lestari, dan bisa ditelusuri di seantero Indonesia.

Empon-empon menghasilkan ragi sebagai biang. Pefermentasian atau bertuak merupakan suatu tradisi yang telah berakar lama. Kekhasan tuak sebagai istilah kuno dari pelbagai minuman fermentasi masih lestari, dan bisa ditelusuri di seantero Indonesia.

Budidaya fermentasi minuman menjadi bagian pemuliaan tumbuhan pasca panen. Keberadaannya bisa dijenguk dalam beberapa prasasti dan kitab lawasan. Timbul Haryono dalam Inventarisasi Makanan dan Minuman dalam Sumber-Sumber Arkeologi Tertulis (1997) menyajikan teks dari Prasasti Taji yang bertanda waktu 901 M: “Parnnah ning tinadah weas kadus 57 hadangan 6 hayam 100 muang saprakaning asin-asin, deng asin kadiwas kawan, bilunlun, hantiga, rumahan, tuak…” (Hidangan berlimpah ini  dari 57 karung beras, 6 ekor kerbau, 100 ekor ayam, dan masakan yang diawetkan, yaitu dendeng, ikan kadiwas, ikan gurame, belungkung, rumahan, serta minuman tuak). Tuak dihidangkan menyertai makanan di ruang acara publik.

Penyebutan “tuak” menarasikan jenis minuman fermentasi sebagai tradisi perjamuan pada masa itu. Kehadiran minuman fermentasi pada upacara dan acara penting dalam masyarakat menandai adanya pemahaman mendalam yang spesifik dalam budaya agraris mengenai pemanfaatan tubuh tanaman. Nagarakretagama (1365) turut memberi kisah kehadiran minuman fermentatif sebagai menu utama perjamuan di masa imperium Majapahit: “Lwir ning panasura tan pagat mawantu twak nyu twak siwalan harak hana kilang brem mwang tampo” (Pelbagai minuman yang lezat mengalir tak henti-hentinya, ada tuak kelapa, tuak siwalan, arak, ada kilang, brem, dan tampo).

Keberagaman bahan  baku menyiratkan kompleksitas penuh gairah akan kreativitas dan pentingnya minuman dalam sajian makanan masyarakat bahari-agraris Nusantara. Kerumitan  bahan memperkaya khasanah nama minuman fermentatif. Tampo dan arak adalah nama dari bahan dasar beberasan seperti beras nasi dan beras ketan; tuak dari keluarga pepaleman seperti kelapa, aren, dan siwalan; sidhu dari tebu; badeg dari olahan pepaleman yang sudah dijadikan gula seperti gula jawa dan gula aren.

Minuman fermentasi seperti tuak atau apapun sebutannya dalam Nagarakretagama, dikatakan sebagai pelbagai minuman yang lezat, “lwir ning panasura”, yang bermakna berkhasiat bagi tubuh sehingga siap “nyat” dalam melakoni seluruh acara Pasewakan Agung yang tengah diselenggarakan. Bukan sekadar kesenangan atau “panasuka”, untuk mabuk-mabukan yang akhirnya hilang kesadaran diri, dan membuat upacara berantakan.

Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara (2016) mengatakan bahwa seperti halnya bahan adiktif semisal sirih dan tembakau. Pada masa klasik ragam minuman fermentasi erat kaitan fungsinya sebagai kesejahteraan fisik. Tubuh butuh senantiasa segar, bugar, dan sigap karena banyaknya tamu yang harus dilayani dalam setiap upacara besar kerajaan. Permusyawarahan yang menjadi pratana khas kerajaan dan kasultanan nusantara, serta datang masembah untuk sinau kedhawuhan membutuhkan ketahanan fisik luar biasa. Hidangan perjamuan tentu harus menopang seluruh penyelenggara dan tetamu atau peserta agar tetap bugar. Tentu, kuncinya adalah minuman yang berkhasiat. Buah, sayur, bunga, akar, dan biji-bijian diolah dalam teknik fermentasi dan dihidangkan bersama air segar nan bersih dengan kandungan mineral tinggi yang tersedia melimpah serta bisa diakses dimanapun para tamu berada. 

Minuman fermentasi dalam kitab lawasan merupakan “minuman lezat” penuh daya hidup. Seperti halnya sari bunga yang disadap lebah dan kupu-kupu, lantas membuat mereka menjalankan lakon hidupnya pada semesta penyerbukan demi lestarinya Bumi. 


Uun Nurcahyanti, penulis tinggal di Pare, Kediri

Ibu Menamakan Momo

 Kartika Wijayanti

Momo: Kisah ajaib mengenai gerombolan pencuri waktu dan seorang anak kecil, yang mengembalikan waktu yang hilang dicuri kepada umat manusia. Sebuah roman dongeng.

Yang bisa dilakukan Momo kecil dengan lebih baik dibandingkan siapa pun adalah: mendengarkan. Itu bukan sesuatu yang istimewa, begitu mungkin pendapat para pembaca, semua orang bisa mendengarkan. 

Tetapi pendapat itu keliru. Hanya sedikit orang yang sanggup mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dan kemampuan Momo mendengarkan benar-benar tanpa tandingan. 

(Michael Ende, Momo, 2005) 

MOMO, Momo, Momo. Tujuh tahun lalu, nama itu saya ucapkan berulang-ulang. Berulang-ulang saya buka buku itu. Saya baca larik-larik yang ada di dalamnya. Sesekali, saya tercenung. Lalu, saya memandang gadis kecil yang tertidur di samping saya ini. Momo, begitu akhirnya saya memanggil gadis kecil itu. Tujuh tahun lalu, saya memutuskan untuk memanggil gadis kecil itu dengan Momo karena saya terpesona dengan Momo si gadis kecil di dalam cerita yang ditulis oleh Michael Ende, yang berjudul sama dengan nama karakter cerita.

Momo kecil dalam cerita itu berjuang mengembalikan waktu yang dicuri oleh gerombolan Tuan Kelabu. Ia dibantu oleh teman-temannya dan seekor kura-kura untuk melawan gerombolan Tuan Kelabu. Perjuangan gadis kecil itu yang membuatnya terkagum-kagum dan terpesona dan memutuskan untuk memakai nama gadis kecil itu untuk gadis kecil yang ia lahirkan. 

Nama adalah sebuah harapan. Nama, pengharapan akan masa depan, baik bagi si bocah ataupun untuk orangtuanya. Doa orangtua ada di sepanjang langkah anak. Iwan Fals dalam lagunya Galang Rambu Anarki menuliskan: Galang Rambu Anarki…/ cepatlah besar matahariku/ menangis yang keras janganlah ragu/ tinjulah congkaknya dunia, buah hatiku/ doa kami di nadimu. 

Doa orangtua ada dalam nama yang diberikan untuk anak. Tidak ada orangtua yang berharap hal yang buruk untuk anaknya. Demikian pula dengan saya. Saya berharap gadis kecil ini, Momo, mampu bertumbuh menjadi gadis kecil pemberani seperti Momo dalam novel. Saya berharap Momo kelak mampu menjadi manusia dewasa yang bijaksana, welas asih, dan migunani tumraping liyan. Terlalu berlebihankah harapannya? Terlalu muluk-mulukkah? Bukankah doa seorang ibu adalah sesuatu yang sangat mulia? 

Kadang saya ragu, apakah saya sudah memberikan nama yang tepat untuk gadis kecil itu. Bagaimana jika suatu saat nanti, Momo bertanya kepada saya mengapa ia diberi nama Momo? Sebenarnya sudah, ketika ia menginjak usia lima tahun. Mengapa bukan nama lainnya seperti Endang, Retno, Santi, atau Linda? Mengapa bukan nama yang umum seperti teman-teman bermainnya? Ia ingin namanya Eli. Lalu, ketika saya bilang Eli itu nama mamut di film Ice Age 2, ia baru diam. Ibu menang! 

Saya kemudian teringat kisah dalam novel The Namesake (Jhumpa Lahiri, 2003) dan film yang berjudul sama yang disutradarai oleh Mira Nair (2006). Gogol, seorang laki-laki diaspora India di Amerika Serikat. Ia dilahirkan dari pasangan suami istri dari keluarga Bengali, Ashoke dan Ashima yang pindah dari Kalkuta ke New York dan menetap di sana. Persoalan muncul ketika akhirnya Gogol mempertanyakan mengapa ia diberi nama Gogol oleh ayahnya. Menurut Gogol, namanya itu adalah nama yang tidak umum, dan ia malu dengan nama itu. 

Ashoke menjelaskan bahwa Gogol adalah nama yang diambil dari Nikolai Gogol, penulis Rusia. Dan secara pribadi, Ashoke berhutang budi pada Nikolai Gogol secara tidak langsung. Semasa masih di Kalkuta, Ashoke mengalami kecelakaan dan saat itu lembaran dari kumpulan Nikolai Gogol-lah yang menyelamatkannya. Ia menggunakan lembaran kertas itu untuk menarik perhatian para penolong karena ia sudah tidak mampu lagi bergerak karena mengalami kecelakaan parah. 

Singkat cerita, ia menamai anak pertamanya dengan Gogol dan nama itu yang melekat seumur hidup Gogol dan membentuk identitasnya. Persoalan identitas dan budaya kemudian muncul di sana. 

Apalah arti sebuah nama? Mengapa perlu repot-repot dan ribet untuk dipikirkan? Toh, hanya nama? Mungkin bagi sebagian besar orang memang kenapa sih harus repot? Tetapi, bagi sebagian besar yang lain nama itu representasi doa dan harapan. Pemilihan nama diyakini sebagai penggambaran yang dalam atas representasi diri seseorang dan membentuk identitasnya (Moordiati, Saat Orang Jawa Memberi Nama: Studi Nama di Tahun 1950 – 2000, 2015). 

Untuk saya, nama itu sangat penting. Nama itu harus bermakna dalam dan merupakan representasi diri si empunya nama. Itu eksistensi diri! Untuk itulah, saya memilih nama yang bermakna untuk gadis kecil saya. Supaya representasi nama yang disandangnya juga melekat dan menjadi merasuk ke dalam dirinya. 

Citra diri Momo dalam novel adalah pemberani, periang, sangat suka berteman, jujur, adil, penuh belas kasih dan representasi segala karakter baik itulah yang ingin saya tanamkan dan masukkan ke dalam diri Momo. Wujud doa, harapan, dan identitas.   

Pada masyarakat Jawa tempo dulu, kelahiran dan pemberian nama seorang bayi disertai juga dengan slametan brokohan (Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, 1994). Dan, keluarga Jawa pada zaman dulu, khususnya pada keluarga petani, biasanya memberikan nama yang singkat pada anaknya. Pendek saja cukup. Ora apik yen jeneng kedhuwuren! Bikin sakit, nggak kuat nanti anaknya. Nanti harus diruwat, diubah namanya. 

Menurut studi Moordiati, dalam dua puluh terakhir, gelombang perubahan dalam pemberian nama dalam masyarakat Jawa semakin kentara. Banyak anak dari etnis Jawa yang tidak lagi memakai nama bernuansa Jawa tetapi lebih mengikuti tren yang ada. 

Sekarang memang tidak akan ditemukan lagi nama anak Jawa dengan nama Ponidi, Sariyem, Wakijan, Legimin yang merujuk kepada nama-nama hari pasaran di penanggalan Jawa. Orangtua saya contohnya, tidak menamai saya dengan nama Legiyah meski saya lahir di Selasa Legi. Saya yakin orang tua saya tidak tega menamai saya dengan nama itu. Untuk masyarakat petani zaman dulu mungkin nama itu cukup diterima dan sesuai dengan golongan sosialnya. Tetapi, di era saya lahir di 1980an, agaknya orangtua memiliki harapan lebih kepada anaknya. 

Pun di era milenial sekarang ini, dengan banyaknya pengaruh kebudayaan di luar budaya Jawa dan Indonesia, nama menjadi semakin berkembang. Semakin modern dan semakin keren, mungkin tetapi memang nilai kejawaannya semakin meluntur. 

Sampai di sini saya tercenung, mengerutkan kening dan berpikir. Lalu bagaimana dengan anak saya ini? Namanya Momo, bukan nama yang mencerminkan nama Jawa atau Indonesia. Lebih berkesan sebagai nama Jepang. Itupun nama panggilan, nama aslinya ada lagi dan kisahnya jauh lebih panjang. Mungkin lain kali saya akan tuliskan. 

Saya kemudian teringat Gogol. Akankah Momo juga menolak namanya? Sejauh yang saya tanamkan kepada Momo sampai sekarang, dia bisa menerima (dengan logika anak-anak, tentunya) mengenai nama panggilannya itu. Entah, jika kelak dewasa nanti. Saya harus bersiap untuk itu. Tapi, tetap saja saya bahagia memberikan nama Momo kepadanya.  


Kartika Wijayanti, Ibu dengan 3 anak (Momo, Ponyo, dan Tae). Bergabung di Kaum Senin. Tinggal di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. 

Bersyukur

Bhellinda I Santoso

SEBUAH kisah nyata yang menyentuh diri kita, yang berdasarkan apa yang kita alami sendiri atau cerita sahabat atau orang lain sangatlah membekas di hati dan pikiran. Terkadang, lewat kisah-kisah seperti inilah kita dikuatkan dalam menjalani hari-hari yang berat. Sebab, kita tidak berjalan sendiri, masih ada sanak saudara. Dan, ada orang lain yang memikul beban jauh lebih berat dari beban hidup kita. 

Seperti cerita dari Lina, yang dengan berat hati menuju ke bank untuk mencairkan deposito terakhirnya karena membayar hutang. Dengan tubuh lunglai dan memberat, Lina harus mengikhlaskan simpanan uang terakhirnya. Tapi, dia harus ikhlas, seikhlasnya. Semua demi keluarga karena uang bisa dicari. 

Dalam kemelut hidupnya, tiba-tiba ada seorang sahabat yang mengirimkan pesan lewat Whatsapp: “Lin, aku pesen pepes bandeng 4 ya, frozen, dikirim ke alamatku, ya, uangku transfer.” Seperti tanaman kering yang tiba-tiba disiram oleh air yang segar. Walau tidak banyak, tetapi berita itu sungguh membuat Lina menarik senyumnya. Bersyukur. Lina pun teringat sebuah lagu yang menghangatkan jiwanya 

Seperti pelangi, sehabis hujan

Itulah janji setiamu Tuhan

Di balik dukaku, telah menanti

Harta yang tak ternilai dan abadi

Dibukanyalah buku berjudul Hadiah Terindah berhiaskan gambar-gambar Kim Donghwa.  Buku yang sudah lama ingin dibacanya, tapi tak kunjung jua. 

Dibukanya buku itu. Beberapa waktu kemudian, Lina larut dalam lamunan bersama buku. Di awal buku, dikisahkan seorang ayah yang ingin mengajak keluarganya untuk menonton sirkus. Ayah ini mempunyai delapan anak. Jadi kalau mau membeli tiket seharusnya 2 orang dewasa dan 8 anak-anak. Sesampainya di loket, ternyata uangnya kurang. 

Ada seoarang bapak dan anaknya yang sedang mengantre di belakangnya. Bapak itu melihat kejadian yang menggelisahkan di depannya. Sehingga, sengajalah bapak dengan anak satu menjatuhkan uangnya. Berkatalah dirinya kepada bapak dengan anak delapan:  “Maaf, uang kamu jatuh.” Ia berkata sambil mengedipkan mata. 

Betapa bersukacitanya bapak anak delapan tadi mendapatkan bantuan dari orang yang tidak dikenalnya. Sambil berlinang air mata,  bapak anak delapan mengucapkan banyak terima kasih: “Uang ini sangat berarti bagi saya dan keluarga saya.” 

Ayah itu tahu masalah yang dihadapinya. Ia tidak ingin minta bantuan, tetapi yang pasti ia sangat menghargai bantuan tersebut dalam situasi yang menyedihkan, sekaligus memalukan.

Secara tidak sadar, air mata ikut mengalir di kedua pipi Lina. Posisinya yang sama dengan ayah anak delapan tadi. Benar janji Tuhan. Amin. Tuhan dapat menolongnya lewat tangan-tangan di luar prediksinya. 

Tiba-tiba, ada panggilan Whatsapp di gawainya. Panggilan mengabarkan ia mendapatkan rezeki dari penjualan madu di media sosial. Di hati, ia bersenandung bersyukur kepada Tuhan. Hadiah terindah selalu diberikan-Nya. Pada setiap kesusahan, ada jawaban yang terindah.


Bhellinda I Santoso, ibu tergabung di Jemaah Selasa, tinggal di Kudus 

Madu (Tak) Selalu Manis

Indri K

TERLIHAT di Jawa Pos, 6 September 2021, sebuah foto pembudi daya lebah sedang mengambil sarang madu yang dihasilkan lebah apis cerana. Di bawah foto, tertulis huruf tebal:  “Belum Bisa Penuhi Pasar Dalam Negeri”. Keterangan  hanya sepotong, memuat data dari Asosiasi Perlebahan Indonesia: permintaan madu tanah air mencakup 150 ribu ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 50% masih dipasok dari luar negeri.  

Data membuat kaget melihat banyaknya madu yang dibutuhkan rakyat Indonesia. Cairan manis lengket dan pliket  itu dicari banyak orang, entah suka atau butuh. Indonesia belum sanggup mencukupi permintaan pasar, penyedia madu masih perlu membeli 75 ribu ton madu dari negara lain. 

Kebiasaan mengonsumsi madu dari lebah sudah ada sejak dulu kala. Madu ditemui dalam kitab-kitab suci dan kisah sejarah. Rasa manis tak sengaja ditemukan, manis itu nikmat, membuat lidah tergoda dan menggugah selera. Manusia  saat itu jelas belum berkutat dengan penemuan tebu dan gula. Dunia masih dikuasai manisnya madu. Manusia minum madu bukan sekedar rasa manis, dia juga berharap agar tubuh terhindar dari penyakit. Madu bukan minuman pokok, tapi menjadi kelatahan bagi penyuka manis dan merindukan sehat. 

Bicara madu, berarti bicara lebah. Dalam buku berjudul Lebah Paman Wawan (1977) garapan Darmawan Tjokrokusumo, kita dapat membaca kisah para peternak lebah.  Seekor lebah harus terbang sejauh 2 km dari sarangnya. Bukan hanya sekali dua kali, tapi bolak balik pulang pergi, demi menghasilkan beberapa tetes madu.  Umur mereka hanya sekitar 10 minggu.  Madu baru bisa dipanen setelah 3-4 bulan.  

Jadi bisa dibayangkan betapa banyaknya koloni lebah yang harus bekerja dan berkorban demi mengisi sebotol madu bagi manusia. Keadilan tidak berpihak pada lebah. Mereka yang bekerja rekoso, manusia tinggal enak-enakan menuai dan menikmati. Lamanya proses koloni lebah menghasilkan madu menjadikan keterbatasan madu yang dihasilkan membuat tingginya harga madu. Agar lebih terjangkau,  madu dijual dalam bentuk kemasan-kemasan kecil.  

Keadilan tidak berpihak pada lebah. Mereka yang bekerja rekoso, manusia tinggal enak-enakan menuai dan menikmati. Lamanya proses koloni lebah menghasilkan madu menjadikan keterbatasan madu yang dihasilkan membuat tingginya harga madu.

Keragaman cara menikmati madu tergantung kebutuhan. Ada yang suka mencampurnya dengan air, teh hangat atau susu hangat. Ada yang mengoleskan pada roti sebagai sarapan atau cemilan. Ada yang suka menyantap langsung dari suapan sendok. Ada yang lebih suka mengemut langsung dari bungkusnya,  disesap-sesap sampai habis. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai tombo akibat pahitnya jamu. 

Kita melihat di majalah Sarinah, 23 November-6 Desember 1987, sebuah iklan jamu tapi menawarkan madu: “Apa pun jamunya… pasti lebih nikmat, lebih berkhasiat dengan Madu Rasa.” Dilampiri gambar-gambar kemasan madu disandingkan dengan cangkir berisi jamu adukan pegel linu, sehat wanita, sehat pria, terlambat bulan hingga jamu remaja. 

Mengherankan, pada kemasan madu juga tertulis logo “jamu”. Kita tidak mengenal madu sebagai jamu. Keduanya jelas  jauh berbeda. Jamu itu pahit dan madu itu manis. Mungkin karena perusahaan jamu yang memproduksi madu, maka semua disamaratakan, menjadikan madu sebagai keluarga jamu.  

Orang minum jamu takut merasakan pahit meski pahitnya jamu tidak sepahit beban hidup. Madu dijadikan penyelimur dan penawar kepahitan.  Lewat iklan, pembaca memikirkan minum jamu tidak takut pahit lagi dan tetap sehat jika menambahkan madu sebagai campuran pelengkap. 

Melekatnya madu pada benak manusia, tidak hanya sebagai konsumsi, tapi juga meramaikan dunia asmara. Kita akrab dengan istilah honey moon yang dibahasa Indonesiakan “bulan madu”. Sebuah istilah yang ditujukan pada pasangan yang baru menikah supaya membangun keintiman di bulan-bulan awal pernikahan. Bulan madu identik dengan melancong berdua ke suatu tempat yang jauh dari hingar bingar. Menjadikan momen berdua sebagai ajang bersenang-senang, mengenal satu sama lain agar hubungan lebih lengket dan manis  bagaikan madu. Meski mungkin sebagian pasangan justru ada yang mengalami malapetaka saat berbulan madu hingga menyanyikan lagu “Madu dan Racun” seperti dibawakan Arie Wibowo. Bertanya-tanya, madukah atau racunkah yang disimpan oleh pasangannya. Menikah mengharapkan manisnya madu, ternyata getirnya racun yang diterima. 

Para wanita setelah menikah resah jika mendengar “madu”.  Ah, mereka tidak ingin hidup dimadu, tidak ingin diduakan!  “Permaduan” mendatangkan mimpi buruk bagi mereka. Terlalu percaya janji semanis madu hanya mendatangkan nasib sepahit racun.


Indri K., penulis tinggal di Kudus

Bunda Maria dan Biografi Ibu

Imaniar Christy

AKU selalu iri melihat temanku yang dipeluk ibunya. Sebetulnya, mamaku selalu ingin memelukku tapi aku menepisnya. Perasaan itu tumbuh seiring keyakinanku bahwa aku anak papa. Deklarasi itu selalu aku ucapkan di depan keluarga besar atau di depan setiap orang yang bilang wajahku mirip mama. Pemikiran itu baru berubah saat aku menjadi ibu. Terkutuklah aku!

Sebelum aku resmi menjadi ibu, aku pernah bertengkar hebat dengan mamaku. Aku memiliki pacar seorang muslim dan hubungan kami ditentang mama karena aku Kristen. Tapi kalau aku ingat-ingat lagi, aku rasa bukan hanya karena agama mama menentang hubunganku dengan pacarku itu. 

Aku ingat dari kecil mama memang selalu melarang apapun yang aku inginkan. Tidak boleh bermain dengan anak laki-laki, memanjat pohon, main kotor-kotor, hujan-hujanan, sepedaan sampai jauh. Singkat kata, sebetulnya ia ingin aku di rumah. Sebaliknya, keinginannya adalah kewajibanku. Menyisir rambut, cantik, kalem! Itu yang ia inginkan.

Tak tahan di rumah dan dikekang, aku lebih suka sekolah. Dari kecil, aku merengek ingin sekolah. Usia 5 tahun aku sudah lulus TK dan ditolak untuk mengulang belajar di TK meskipun mamaku terus memohon pada kepala sekolah. 

Terpaksa orangtuaku memasukkan aku di SD. Aku sangat ingat peristiwa bagaimana aku mencari SD yang mau menerimaku. Perbandingannya adalah saat ini aku sudah punya anak kelas 2 SD. Bagaimana aku bisa melupakan peristiwa itu? Sebab, itu berlangsung beberapa hari. Aku dites membaca, menulis, dan menyanyi oleh guru yang berbeda, lebih dari 5 sekolah. Semuanya menolakku meskipun aku bisa dalam tes. Aturan waktu itu, sekolah negeri hanya menerima siswa dengan usia 6 tahun. Di Pati, sekolah swasta jarang.

Aku dites membaca, menulis, dan menyanyi oleh guru yang berbeda, lebih dari 5 sekolah. Semuanya menolakku meskipun aku bisa dalam tes.

Keputusasaan orangtuaku dan kegigihanku merengek ingin sekolah membawaku menjadi siswa di SD Kanisius. Satu-satunya sekolah yang mau menerimaku. Ya, aku yang Kristen bersekolah di SD Katolik. Haleluya!

Di SD Kanisius membuatku belajar sedari kecil tentang perbedaan kelas sosial, rasisme, dan intoleransi agama. Sama seperti sekolah swasta lain yang memang mengutamakan pendidikan agama di dalamnya, pasti ada kesepakatan dengan orangtua yang menyekolahkan anaknya di sana: anak mereka akan dididik sesuai agama yang digunakan sekolah. Jadi, aku yang Kristen dan beberapa temanku yang Islam harus mengikuti tata cara Katolik. Teman-temanku mayoritas anak orang kaya karena orangtua mereka punya toko-toko yang laris di Pati dan mayoritas keturunan Tionghoa. 

Awal aku menjadi siswa kelas 1, yang aku ingat aku tidak punya teman. Mereka seperti sudah saling mengenal bahkan di hari pertama sekolah. Ada yang sudah mengenal kerena satu gereja, satu TK Kanisius, toko mereka bersebelahan, tinggal di kawasan Pecinan, atau orangtua mereka memiliki usaha di bidang yang sama. Sementara, aku yang lulusan TK Bhayangkari, berbeda gereja, dan tinggal di perumnas tidak mengenal satu pun dari mereka. Bahkan, aku minder untuk berusaha membaur dengan mereka. 

Peralatan yang mereka bawa ke sekolah sangat bagus dan mereka terlihat bersinar di mataku. Aku kerap malu dengan sepatu, tas, dan tempat pensil yang aku pakai meskipun sama-sama baru. Jelas tidak sekeren dengan model sepatu, tas, atau tempat pensil mereka! Aku pernah merengek ke orangtua untuk membeli seperti yang dimiliki teman-temanku. Tapi apadaya, orangtuaku hanya PNS biasa yang gajinya hanya untuk bertahan membayar berbagai macam cicilan. Kira-kira begitu. Aku bertahan dan lama-lama teman-temanku melihatku juga. Aku yang senang bercerita dan bersemangat di kelas membuatku diakui juga untuk bisa berteman dengan mereka meskipun aku tidak kaya, Jawa, dan Kristen. 

Aku bertahan dan lama-lama teman-temanku melihatku juga. Aku yang senang bercerita dan bersemangat di kelas membuatku diakui juga untuk bisa berteman dengan mereka meskipun aku tidak kaya, Jawa, dan Kristen.

Guru-guru di Kanisus sangat ramah. Mereka ramah karena meneladani Kristus. Aku meyakini itu hingga kini. Guru di kelas kerap bercerita tentang orang-orang suci (Santo dan Santa). Kisah mereka luar biasa, dan kemudian teman-temanku bilang kelak ingin dibaptis dewasa dengan nama-nama itu. Sampai di rumah, aku bilang pada orangtuaku bila aku juga ingin menambahkan nama Cecilia di depan namaku jika aku menerima baptis saat aku dewasa. Tapi, kata orangtuaku, di Kristen tidak ada nama baptis yang ditambahkan. Santa Cecilia, seorang yang menjaga kesucian tubuhnya dan martir yang luar biasa keimanannya. Memang kalau aku pikirkan sekarang, jelas aku tidak layak dengan nama itu.

Tumbuh di SD Kanisus membuatku merasa dekat dengan ibu. Aku memanggilnya Bunda Maria. Berbeda dengan mama, Bunda Maria selalu menenangkan. Di Kristen, aku hanya mengenalnya sebagai Maria ibu Yesus. Di Katolik, aku bisa menyebut Bunda, lebih dekat rasanya. Setiap pulang sekolah, kami selalu diajak berdoa Salam Maria. Doa Salam Maria hanya ada di Katolik dan aku sangat menyukai doa itu: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.”

Aku betah berlama-lama menatap patung Bunda Maria yang menggendong bayi Yesus. Raut wajahnya begitu damai, menenangkan, dan membuatku ingin ada didekapannya. Aku begitu terobsesi dengan Bunda Maria. Aku ingin menjadi anaknya yang paling baik dan penurut. Tetapi, aku kerap gagal dan membuat mamaku marah akan semua sikapku. Aku berpikir jika Bunda Maria dapat berbicara langsung padaku apakah ia akan marah seperti mamaku jika aku salah? Pembacaan Lukas 2:19 yang aku dengar saat di gereja melegakanku: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” Aku yakin tidak akan mendapatkan omelan dari Bunda Maria atas semua sikapku.      

Sebelum aku resmi menikah dan menjadi ibu, pertengkaran hebat dengan mamaku membawa pada ingatan raut wajah patung Bunda Maria yang ada di SD. Aku berusaha mencari ketenangan di balik ingatanku itu saat aku berhadapan dengan wajah mamaku yang marah: tahu hubunganku dengan pacarku yang berbeda agama itu masih terus berlanjut. Mamaku marah sambil mengucapkan doa “serapah”. Ia mendoakan aku benar-benar menikah dan merasakan sulitnya perbedaan agama dalam pernikahan. Aku diam tak membantah. Mama lalu mengakhirnya dengan doa, semoga anakku memiliki sifat yang sama sepertiku supaya aku tahu rasanya menjadi dirinya. Duh, Bunda Maria, doakanlah aku yang berdosa ini. Aku anggap doa mama menjadi restu untuk langkahku menjadi istri dan ibu.


Imaniar Christy, penulis tinggal di Semarang

Perkataan dan Jajan Pasar

Uun Nurcahyanti

JAJAN pasar mengasuh bahasa di pasar tradisional. Kegembiraan turut belanja ke pasar bukan hanya karena jajanan.
Hari masih sangat pagi kala beragam jajanan tersaji menunggu pembeli di Pasar Kembang, Solo. Seluruhnya memiliki nama.

Simbahku adalah manusia unik yang bisa sangat merepotkan bila berurusan dengan jajanan. Kedatangan simbah selalu kami sambut antusias. Cerita zaman kumpeni dan Jepang tak pernah membuat jemu. Keseruan semakin bertambah saat simbah mulai mengajak jalan-jalan ke Pasar Kembang, Solo. 

Apa pasal? Simbahku selalu menanyakan nama jajanan yang hendak dibeli atau dicicipi. Dan ajaib, semua jajan pasar memiliki nama yang saling berbeda, membentuk khasanah kosakata tersendiri. Sejak itu aku tertarik untuk  ikut mengamati dan menjelajahi dunia nama jajan pasar bila diajak berbelanja.

Roti goreng adalah nama jajanan yang akrab di telinga kita hari ini. Dijual di pasar maupun kedai gerobak yang memenuhi sore di tepi-tepi jalan. Roti goreng mengartikan berbagai bentuk dan rasa dari varian jajanan ini. Dalam khasanah jajanan pasar di masa kecilku, roti goreng yang manis disebut gembukan. Bentuknya kotak layaknya bantal sofa. Gembukan berbentuk bantal ini seperti roti  goreng pada umumnya, dengan rasa manis khas di bagian atas. Ini jajan pasar favoritku. Gembukan dikenal kaum milenial dan viral dengan nama odading.

Roti goreng dengan rasa gurih berbentuk berbeda, yaitu sedikit memanjang seperti guling  yang ditumpuk sehingga bisa disobek. Roti goreng model ini biasanya dimakan dengan kuah pedas atau sambal, disebut janggelut. Saat ini lebih populer dengan istilah cakue.

Roti goreng juga memiliki isian. Ada yang berupa kacang hijau berbentuk sedikit pipih. Namanya sering dijadikan guyonan karena terdengar saru, yaitu pikbo. Kepanjangan dari “tempik kebo” atau kelamin kerbau betina. Sementara bila isian berupa pisang cacah, balutan tepung dibuat pipih dan membungkus irisan pisang dengan model lonjong agak besar. Nama yang kukenali dari panganan ini juga saru untuk dilisankan, yaitu “peli jaran”, atau kelamin kuda jantan. Nama yang aduhai, ya?

Selain kacang hijau, gula merah juga kerap dijadikan isian jajanan. Salah satu panganan yang berisi gula jawa adalah tape goreng. Kami menamainya rondo royal. Rondo adalah janda. Penamaan ini, kata simbahku, mengacu pada bahan yang dipakai yaitu tapai. Tapai dibuat dengan metode peragian: dari singkong rebus yang difermentasi. Artinya, bisa dikatakan singkong tersebut dibuat  kadaluwarsa, melewati batas masa santap secara normal, dan kata rondo dianggap pas  digunakan untuk simbolisasi tapai. Nama panganan bisa berhistori sosio kultural. Tape yang sudah berasa manis ini diberi isian gula jawa  yang juga manis gurih lalu digoreng dengan tepung. Dalam istilah Jawa ‘dikemuli glepung’. Diselimuti tepung. Jadi terasa benar royalnya, berlebih-lebihan rasa manisnya.

Nama panganan bisa berhistori sosio kultural. Tape yang sudah berasa manis ini diberi isian gula jawa yang juga manis gurih lalu digoreng dengan tepung. Dalam istilah JAwa “dikemuli glepung”. Diselimuti tepung. Jadi terasa benar royalnya, berlebih-lebihan rasa manisnya.

Gula jawa juga menjadi isian jajanan dari singkong yang tak dibuat tapai dulu. Singkong cukup diparut, diisi gula jawa lalu digoreng. Panganan ini bernama klenyem. Model lain pengolahan singkong goreng isi gula jawa adalah dengan merebus singkong terlebih dahulu. Setelah matang, singkong dihaluskan, diisi gula jawa, dibentuk lonjong, lalu digoreng berbalur tepung tipis saja. Namanya jemblem. Di beberapa pasar lain, jemblem kadang tanpa isian gula jawa. Metode ini digunakan juga untuk ubi jalar. Makanan kecil dari rebusan ubi jalar yang dihaluskan lantas digoreng dikenal dengan nama timus.

Isi panganan tak hanya memberi berkah nama, namun juga bentuk khas. Ini terutama terjadi pada beragam gorengan berkulit yang terbuat dari tepung terigu. Nama terasa baru dan berbaju kota, bahkan impor. Nama tak lagi menunjukkan rasa Jawa dan desa. Pastel merupakan nama makanan kecil dengan isian rogut yang gurih, yaitu olahan wortel dengan mentega dan telur berbumbu merica serta bawang putih. Bentuk pastel setengah lingkaran seperti busur panah dengan pilinan khas di pinggirannya. Rogut biasanya ditemani irisan tipis telur ayam. Jajanan mahal dan mewah di masa kecilku. Resoles adalah nama panganan berisi makaroni dan ayam cacah, kadang dicampur wortel halus. Biasanya kulitnya lebih tebal dan agak bervolume. Resoles biasanya dibalur tepung roti diluarnya karena bentuknya silinder mirip dengan sosis goreng. Sementara sosis goreng berisi olahan ayam cacah dengan rasa manis gurih. Penganan berbentuk serupa adalah lumpia. Bedanya, lumpia sedikit lebih kecil dari sosis goreng.

Lumpia adalah nama panganan khas Semarang dengan isian utama rebung dengan campuran ayam atau udang. Dulu penjual lumpia hanya kujumpai di pintu masuk swalayan Sami Luwes di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Lumpia disajikan dengan saus bawang yang rasanya sangat khas. Jajan berkulit tepung ini sebenarnya bukan jajan pasar karena habitat aslinya adalah toko panganan dan pasar modern, yang dulu disebut departemen store. Namun, kreativitas peracik jajan pasar memungkinkan makanan bergengsi ini masuk ke pasar tradisional. Tentu saja ragam isian tak lagi mengikuti pakem sesuai dengan nama awal panganan. Resoles bisa berisi kecambah, pastel berisi bihun, lumpia berisi wortel dan daun bawang. Suka-suka peraciknya. Hanya bentuk jajanan yang dipertahankan agar tetap sah dengan nama lama yang sudah dikenali pembeli.

Pasar bukan sekadar tempat ramai tempat membeli bahan pangan serta penganan saja. Pasar adalah kamus pangan(an).


Uun Nurcahyanti, penulis tinggal di Pare, Kediri.